Connect with us

ESTORIE

Kisah Lipan dan Konimpis, Asal-Usul Tareran hingga Rumoong Atas

Published

on

9 April 2026


“Beragam versi cerita tentang Tareran itu bukan persoalan tapi justru kekayaan yang harus kita terima. Karena dari setiap kisah itu tersimpan banyak nilai keminahasaan yang penting bagi generasi sekarang ini.”


Penulis : Happy Karundeng


DIKISAHKAN, Lipan dan Konimpis adalah dua orang kakak beradik yang tadinya hidup rukun, mesra dan sentosa. Lipan merupakan kakak dari Konimpis. Ia berperawakan tinggi besar dan kekar, berwajah kasar sesuai dengan perangainya dan suka berburuh. Konimpis berperawakan kecil, berkulit halus. Sifatnya manis, lembut, ramah, menawan hati, sopan serta hormat. Pekerjaannya adalah bertani.

Akibat perbedaan sifat khas yang mencolok antara keduanyan di masyarakat, maka sang kakak ditakuti dan lama-kelamaan sukar mendapat pengaruh dan dukungan. Sebaliknya, Konimpis yang ramah dan sopan sangat disegani. Melihat situasi itu, timbullah rasa iri sang kakak, dan ia bermaksud untuk menghabisi adiknya. Segala upaya dan tipu daya diaturnya.

Suatu ketika, di suatu tempat yang menurut Lipan adalah jalur lalu-lalang Konimpis. Lipan menunggu kesempatan terbaiknya membunuh Konimpis, adiknya. Ia bersembunyi dalam sebuah lubang pohon akel atau seho (enau) yang roboh. Tak berapa lama kemudian, Konimpis datang dalam keadaan lelah dan terengah-engah. Ia pun beristirahat di pohon akel, tempat persembunyian kakaknya. Tak sadar, batang pohon itu dipukul-pukul oleh Konimpis. Lipan yang bersembunyi di dalamnya terkejut dan malu, mengira bahwa Konimpis telah mengetahui rencananya. Ia pun keluar. Di tempat itu mereka bertengkar dan akhirnya mengangkat sumpah bahwa mulai saat itu mereka tidak bersaudara lagi, bahkan siap angkat perang, “taar-era”.

Tempat kakak-beradik itu mengangkat sumpah terletak di puncak pegunungan, sekitar 200 meter sebelah barat desa Rumoong Atas sekarang. “Taar-era” lama kelamaan menjadi “Tareran.”

Masyarakat yakin, pembuktian yang menunjukkan bahwa Lipan dan Konimpis pernah hidup di sana, di jembatan Tuunan sekarang (Kuala Memeak) ada tempat penyeberangan Lipan tanpa jembatan atau titian, yang dikenal dengan sebutan “Kopat i Lipan” (langkah lompat Lipan). Beberapa situs lain yang menyebut Lipan dan Konimpis di wilayah Teraran, menjadi ingatan dan bukti yang meyakinkan masyarakat setempat jika dua sosok itu benar-benar pernah ada dan mendiami wilayah mereka kini.

Kisah tentang Lipan dan Konimpis dikisahkan turun-temurun dan hidup dalam masyarakat Tareran hingga kini. Terutama masyarakat desa Rumoong Atas, Lansot, Wiau-Lapi dan Wuwuk. Pada tahun 1995, A.J. Wawointana mendokumentasikannya dalam buku berjudul Lipan dan Konimpis.

Tahun 1984, sejarah Tareran, Rumoong Atas, termasuk cerita Lipan dan Konimpis melalui sebuah seminar yang menghadirkan para tetua dan sejarawan. Tim pelaksana “Seminar dan Penulisan Sejarah Jemaat GMIM Rumoong Atas” kemudian mendokumentasikannya dalam buku Sejarah Jemaat Rumoong Atas.

Dikisahkan lebih lanjut dalam buku ini, di masa itu datang pula pengikut Konimpis ke wilayah Tareran kini. Mereka sudah mulai singgah di sana, yaitu dua orang perempuan yang bernama Mawole dan Manimporok. Saat singgah, kedua perempuan itu berteduh di bawah sebuah pohon besar nan rindang yang bernama pohon lowian (sejenis pohon beringin).

Sesudah itu datanglah tiga orang lelaki yang masing-masing memiliki kesaktian khusus. Pertama Sage (Seke’), sosok tonaas (pemimpin) yang punya keahlian memasang patok. Sebab saat itu tidak sembarang orang yang bisa memasang patok untuk pendirian sebuah pemukiman baru. Tugas itu harus dilakukan oleh tonaas yang memiliki kemampuan khusus untuk tugas itu.

Dotu (leluhur) yang kedua adalah Palandi (Pisek). Tonaas yang ahli memanggil burung (sumoring). Dengan cara meniru suara burung tertentu (soring), burung tersebut akan datang untuk menyampaikan bunyi. Bunyi tiap jenis burung dipercaya mempunyai arti tertentu, termasuk bunyi yang menandakan jika Kasuruan Wangko (Sang Khalik), alam semesta dan para leluhur merestui tempat itu didirikan sebuah pemukiman baru.

Dotu yang ketiga adalah Mamarimbing (Ma’abe). Tonaas yang punya keahlian membaca bunyi burung dan tahu apa artinya. Burung yang bisanya memberi tanda adalah burung wara’. Jenis burung “wara’ malam” disebut manguni. Sedangkan “wara’ siang” disebut wara’ i nendo. Ada juga burung lainnya seperti: titicak (burung srigunting), tangka lio-liowan (burung kuning) dan lain-lain. Tonaas Mamarimbing tahu arti dari kehadiran dan bunyi burung-burung tersebut.

Setelah mereka mendengar bunyi burung dan punya arti baik, maka Tonaas Sage memasang patok di bagian barat pohon Lowian yang dijadikan tempat berteduh. Itulah sebabnya pemukiman di sekitar pohon tersebut dinamakan Lowian (nama sebelum menjadi Rumoong Atas). Sebuah tempat yang berada di wilayah desa Rumoong Atas yang disebut Wale Ure (rumah tua).

Oleh sebab pohon lowian yang sangat rindang itu sulit ditembus cahaya matahari, maka mereka memindahkan patok sekaligus tempat perteduhannya di sebelah timur, guna mendapat cahaya matahari. Mereka menyebut tempat itu “Sendangan”, yaitu bagian barat desa Lansot yang berbatasan dengan desa Rumoong Atas sekarang. Tempat itu tetap disebut “Sendangan” sampai tahun 1950-an.

Bersamaan pada waktu itu datanglah orang lain yang ingin menetap di bawah pohon lowian. Mereka dipimpin dotu Moutang. Masa kedatangan mereka sekitar tahun 1625. Dotu inilah yang dipandang sebagai dotu desa Rumoong Atas.

Perubahan Nama Lowian Menjadi Rumoong Atas

Dalam buku Sejarah Jemaat Rumoong Atas ditulis, penghuni pemukiman yang dinamakan Lowian merupakan perpaduan penduduk yang datang lebih dahulu dari penduduk yang diperkirakan berasal dari jurusan Langowan, dengan rombongan dotu Moutang dari arah barat sekitar tahun 1625.

Seiring waktu, mereka semakin bertambah banyak. Orang yang datang bertambah banyak pada suatu tempat yang sudah didiami orang disebut rumoang. Pada masa itu, di sebelah timur sudah ada pemukiman yang disebut Lansot, yang ditempati sejak tahun 1560. Nama baru desa Lowian kemudian secara resmi diubah sebutannya menjadi “Rumoang”.

Pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 sampai 1945, pada papan nama desa tertulis Rumoon. Lama-kelamaan menjadi Rumoong. Nama Rumoong sendiri pada saat itu sudah ada dua, yaitu Rumoong yang ada di wilayah Tombasian atau Kecamatan Tombasian (Amurang) dan Rumoong yang sebelumnya disebut Lowian. Maka untuk membedakan keduanya, Rumoong yang dulunya Lowian kemudian disebut Rumoong Atas. Sengaja disebut demikian karena tempat yang dulunya Lowian berada di pegunungan, sedangkan Rumoong yang satunya yang berada di pesisir pantai di sebut Rumoong Bawah.

Dalam catatan sejarah, Rumoong Atas sendiri ditetapkan pemerintah, berdiri secara resmi menjadi desa yang otonom pada tahun 1840.

Nilai Historis dan Filosofis yang Tersimpan di Gunung Tareran

Nama seseorang atau nama sebuah tempat di Minahasa, memiliki arti khusus atau menyimpan sebuah makna, pesan hidup bagi tou (orang) Minahasa. Biasanya itu berhubungan dengan peristiwa tertentu atau “pengetahuan” leluhur.

Wilayah pegunungan Tareran yang kini berada di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan, bagi tou Minahasa juga menyimpan banyak kisah historis tentang heroisme tou Minahasa. Sejumlah nilai kultural warisan leluhur Minahasa dipercaya masyarakat, banyak yang terpatri di pegunungan ini, baik dalam situs, nama tempat dan sebagainya.

Desa-desa yang mengitari pegunungan Tareran ini dikenal dengan daerah kecamatan Tareran (Kemudian mekar menjadi dua kecamatan, bertambah kecamatan Sulta atau Suluun-Tareran tahun 2007). Bagi masyarakat Tareran, nama ini menyimpan makna historis maupun filosofis yang dalam.

Salah seorang tokoh masyarakat yang ada di desa Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Dolfie Karundeng menuturkan, kata tareran ini sendiri memiliki banyak versi dalam masyarakat Tareran.

“Memang banyak versi tentang arti kata Tareran. Ada yang bilang kata itu diambil dari cerita asal usul penduduk Tareran, Lipan dan Konimpis. Dalam versi ini diceritakan bahwa dua kakak beradik ini pernah berjanji di atas bukit di wilayah pegunungan Tareran, untuk tidak lagi berperang,” kata Karundeng, medio 2010.

Kisah itu terus diwariskan ke anak cucu bukan tanpa makna. Ada pesan khusus yang mau disampaikan para apo’ untuk para poyo’ (cucu) mereka.

“Pesan penting yang sangat teologis bagi generasi mereka kemudian, hingga kita saat ini, jangan lagi kita terlibat perang atau pertikaian,” ujar Karundeng yang dikenal sebagai salah satu dari beberapa tokoh penyusun Sejarah Desa Rumoong Atas.

Menurut Karundeng, pesan itulah yang kemudian dikenal dengan taar era. Dari kata taar era inilah muncul kata tareran. “Itu salah satu versi yang sempat saya dengar. Waktu penyusunan sejarah desa dulu, kita ada sebelas orang tokoh masyarakat yang mendiskusikan tentang cerita ini. Kita semua kemudian sampai pada keputusan bersama bahwa cerita itu harus diterima sebagi warisan dari leluhur, yang sudah diceritakan turun-temurun hingga ke telinga kita, melalui oma dan opa,” terangnya.

Versi yang lain yang diceritakan para tetua di Desa Rumoong Atas, wilayah pegunungan itu diberi nama Tareran karena dahulu di zaman Minahasa masih berperang dengan Kerajaan Mongondow, gunung itu salah satu benteng pertahanannya orang Minahasa.

Di satu masa, para tentara kerajaan Mongondow terus berupaya melakukan penetrasi ke wilayah pedalaman Minahasa. Wilayah pegunungan Tareran ini kemudian dijadikan benteng pertahanan untuk menghambat pasukan Mongondow masuk dari arah Selatan.

“Untuk menakuti orang-orang Mongondow yang masuk ke tanah kita, para waraney (ksatria) yang berjaga di wilayah ini sengaja mengumpulkan kepala-kepala musuh yang menjadi korban perang di wilayah Pinamorongan kini, kemudian menjejerkan di atas gunung,” ungkapnya.

Versi yang satu ini mengisahkan jika kata tareran berasal dari peristiwa sejarah yang pernah terjadi di masa perang Minahasa dengan Mongondow.

“Dari situ, gunung itu kemudian dikenal mereka dengan gunung nialeran atau gunung tempat da kase ba la’ler (jejer) akang kepala-kepala musuh. Versi ini menyimpan pesan tentang heroisme tou Tareran dalam usaha mempertahankan tanah dan adat kita,” jelas Karundeng.

Jadi menurutnya, jika dilihat dari versi yang kedua ini, kata tareran tidak ada hubungan dengan cerita Lipan dan Konimpis. Karundeng menegaskan, perbedaan versi cerita ini sesungguhnya bukan persoalan.

“Beragam versi cerita tentang Tareran itu bukan persoalan tapi justru kekayaan yang harus kita terima. Karena dari setiap kisah itu tersimpan banyak nilai keminahasaan yang penting bagi generasi sekarang ini,” tutur Karundeng.

Hal yang tak kalah penting adalah, sejarah ini mau mengingatkan tou Tareran agar mampu menjelaskan siapa dirinya, identitasnya.

“Tapi yang terutama juga, sebagai orang Tareran, kita harus bisa menjelaskan kepada orang lain ketika mereka bertanya, apa itu arti Tareran,” tandasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *