CULTURAL
Luah Derel: Filosofi Terbalik, Kisah Mistis dan Ruang Hidup

30 Januari 2026
“Di Tombatu, air bukan cuma soal irigasi. Tetapi, ada makna tentang hormat kepada leluhur, keseimbangan alam dan ikhtiar manusia yang berpijak pada adat budaya lokal.”
Penulis: Hendra Mokorowu
PENAMAAN tempat di wilayah Toundanouw-Tonsawang tidak ada yang kebetulan. Setiap nama pasti mengandung jejak sejarah, memori kolektif serta makna filosofis yang diwariskan turun-temurun. Nama-nama itu menjadi penanda hubungan manusia dengan alam, perang dan nilai hidup yang diyakini masyarakat setempat sejak masa lampau.
Misalkan Luah (Danau) Derel. Sebuah danau kecil yang terletak berdampingan dengan Danau Use’ban. Lokasinya sekitar satu kilometer di sebelah selatan wanua Tombatu. Untuk mencapainya, pengunjung akan menyusuri hamparan persawahan yang membentang luas, dengan deretan pohon kelapa tumbuh subur di setiap pematang. Lanskap ini menghadirkan keindahan alam yang tenang, tapi menyimpan kisah lama dan kini semakin jarang diceritakan.
Praktisi budaya Tonsawang, Nikodemus Pangemanan, yang akrab disapa Mawit menuturkan, penamaan Danau Derel berkaitan erat dengan sejarah kebudayaan Toudanouw. Nama yang dikenal masyarakat setempat, sebelum para penulis Belanda dan masyarakat dari sub etnis Minahasa yang lain menjulukinya Tou un Sawah (sebutan orang Tombulu), Tonsaban/Tonsawang (orang gemar saling membantu). Nama Derel itu bermula pada masa peperangan, ketika orang-orang Toudanouw mempertahankan wilayah pertanian dan perburuan mereka dari ekspansi kekuasaan Kerajaan Bolaang Mongondow (Bolmong).
Dilisankan Mawit, jauh sebelum kedatangan kolonialis di Minahasa, perang antar waraney Toundanouw dan bogani Bolmong telah berlangsung lama.
H.B. Palar mengutip berbagai sumber era Spanyol hingga Belanda, dan menulis dalam bukunya Wajah Lama Minahasa (2009), bangsa kolonial yang pertama datang adalah Spanyol. Sekitar bulan Oktober 1521, serombongan orang Spanyol dalam armada musafir samudera Ferdinand Magelhaens tiba di Tidore. Sebagian anggota armada ini memisahkan diri dan berlabuh di salah satu pantai Minahasa. Di era perang terbuka Minahasa dengan Spanyol tahun 1642, keterlibatan pasukan Kerajaan Bolaang Mongondow ikut disebutkan. Walau demikian, pertempuran demi pertempuran dengan para bogani telah terjadi sajak masa Spanyol mulai melakukan penetrasi ke jantung Minahasa.
J.G.F. Riedel dalam buku Aasaren Tuah Puhuhna ne Mahasa (1870) menuliskan lantaran peperangan keturunan Tou un Sawah (Tonsawang) dengan Bolmong, karena mereka tetap berupaya menjaga batas wilayah. Leluhur Tou un Sawah tetap memantau dengan waspada ke belakang, ke arah musuh, wilayah yang biasa menjadi pintu untuk menerobos masuk. Selain itu dalam perang tersebut, selain Tou un Sawah, ditulis juga dukungan bala bantuan waraney dari Pasan Bangko Ratahan dan Ponosakan Belang. Dalam catatan Riedel, apabila orang-orang Bolmong berhasil ditangkap, mereka dijadikan budak. Akan tetapi, mereka tetap diberi makan, bahkan disuapi makanan yang sama seperti apa yang dimakan para waraney.
Mawit pun meyakini, setiap tempat perseteruan waraney dan bogani pasti memiliki cerita yang diwariskan ke setiap generasi. Nama Danau Derel tak luput dari cerita rakyat. Menurutnya, di garis terdepan pertempuran, waraney (ksatria Toudanouw) berhadapan langsung dengan bogani (ksatria Kerajaan Bolmong). Dikisahkan, salah satu bogani memiliki kesaktian luar biasa. Senjata tajam tak mampu melukainya. Setiap tebasan pedang kehilangan daya keratnya. Para waraney pun kewalahan menghadapi lawan yang kebal terhadap mata pedang.
Dalam kondisi genting itulah, waraney Toundanouw-Tonsawang menggunakan “filosofi terbalik”. Tidak lagi mengandalkan ketajaman mata pedang, melainkan derena putow (punggung pedang) yang tumpul sebagai mata senjata. Dengan cara itu, serangan dilancarkan hingga akhirnya bogani sakti tersebut berhasil ditaklukkan di sebuah danau kecil.
“Mekurean silandua a luah. Tata’ben i te’belna ahi’i sia lina’an. Sumata’ injonai derena, mate ndom sia. Wa’ahom minjo i ngalan luah derel. (Keduanya bertempur di danau. Dipotong dengan mata pedang yang tajam tidak mempan. Namun ketika menggunakan punggung pedang, sang bogani akhirnya mati. Dari peristiwa itulah nama Danau Derel berasal),” tutur Mawit, Minggu, 4 November 2012.
Cerita soal Danau Derel bukan tentang peperangan belaka. Kisah ini memuat pesan filosofis tentang kecerdikan, kerendahan hati dan keberanian untuk berpikir melampaui kebiasaan. Sebuah pengingat bahwa dalam budaya Toundanouw-Tonsawang, kekuatan tidak selalu terletak pada yang paling tajam. Akan tetapi pada kebijaksanaan memahami makna di balik setiap tindakan.
Hingga kini, Danau Derel tetap menjadi saksi bisu. Menyimpan banyak cerita, termasuk tentang filosofi terbalik yang pernah menentukan nasib sebuah pertempuran. Konsep nama yang hidup abadi dalam ingatan masyarakat Toundanouw-Tonsawang. Meninggalkan jejak sejarah dan kebudayaan lokal yang penuh kebijaksanaan para leluhur.

Luah Derel, Tombatu.
Danau Derel dan Kisah-Kisah yang Menjaga Ingatan
Danau Derel selalu menyimpan cerita. Kabut tipis yang menggantung di atas air pagi hari, desiran dayung perahu kayu dan suara tepukan dedaunan pohon katu bak perlahan membangunkan alam dari tidurnya. Semuanya menjadi saksi bisu perjalanan hidup para nelayan yang menggantungkan hidupnya di danau itu. Semisal, para nelayan kakak beradik, yakni Ontiel Mokorowu, Frans Mokorowu dan Jonly Mokorowu. Ketiganya merupakan nelayan yang paling dekat dengan berbagai cerita tentang Luah Derel.
Senada dengan Mawit, Otniel Mokorowu yang kini telah menjalani masa tua, berusia 74 tahun pun mendeskripsikan kembali cerita tentang asal usul nama Danau Derel. Dalam ingatan para tetua, di masa lampau terjadi peperangan antara nawo’ (leluhur) Toundanouw-Tonsawang dan seorang bogani sakti dari Kerajaan Bolmong. Bogani itu ditangkap di wilayah perkebunan yang kini bernama Bendo, lalu dibawa ke danau. Bendo asal kata beinjo (diambil). Ketika tiba di danau, di sanalah tubuhnya pine’derelen (ditebas berkali-kali dengan derena putow yang tumpul), hingga tulang-belulangnya hancur. Dari peristiwa itulah nama Derel berasal.
Utu, panggilan akrab Ontniel, yang pada dekade 1980-1990-an lalu begitu akrab dengan pasang surut perjalanan kisah Danau Derel. Di masa mudanya, dirinya merupakan nelayan yang suka menggunakan alat-alat tangkap tradisional. Doleng (perangkap ikan dari bilah bambu) menjadi sahabat setianya. Dengan alat sederhana itu, ia pernah mengalami peristiwa yang hingga kini masih segar dalam ingatannya.
Kala itu, Minggu dini hari, sekitar pukul empat pagi, meski lonceng ibadah subuh di Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Immanuel Tombatu belum berbunyi, istrinya sudah membangunkan Utu. Sang istri merasa gelisah setelah mengalami mimpi yang baik dan mendesak Utu agar segera ke Danau Derel untuk memeriksa doleng. Biar hari masih gelap, Utu menuruti permintaan itu. Sekitar pukul lima dini hari, ia tiba di Danau Derel, menaiki perahu kecil, menyalakan sebatang rokok dan membiarkan asapnya terbawa angin pagi. Saat doleng diangkat, jantungnya berdetak kencang. Di dalam doleng ternyata terdapat sembilan ekor ikan mas. Rerata berbobot dua kilogram.
“Saya kaget, tapi senangnya bukan main. Aduh, ternyata ini yang disuruh-suruh istriku tadi. Sekalinya mimpi istriku itu benar,” kenangnya sambil tersenyum pada Sabtu, 24 Januari 2026, dengan tatapan mata seolah ia sedang kembali ke masa lalu.
Selain doleng, Utu juga mengenal baik teknik maleneg (merendam) toton warepes (senar panjang dengan banyak mata kail yang dirangkai dan dibentangkan dari tepi hingga ke tengah danau). Cara ini, menurutnya, sangat umum digunakan nelayan di Danau Derel sejak era 1980-an hingga kini. Akan tetapi, Danau Derel bukan hanya soal ikan dan hasil tangkapan. Danau ini juga menyimpan kisah-kisah ganjil yang bisa membuat orang merinding ketika mendengarnya.
Di awal 1990-an, saat menggunakan lolombo’ (jala lempar), Utu melihat riak air tak biasa di tengah danau. Tampak dari kejauhan ada ekor ikan mas dengan lebar perkiraanya setengah meter sedang bermain-main, muncul ke permukaan air. Penampakan ikan dengan ukuran yang tidak biasa ini membuatnya terkejut. Dia spontan berbicara seolah kepada sesama manusia.
“Kalau engkau ikan, akan kuambil. Tetapi kalau bukan ikan, menjauhlah. Sesaat kemudian saya melempar lolombo, namun saat diangkat, tak ada apa-apa. Ikan itu pun tak pernah muncul lagi,” kisahnya.
Tak lama berselang, peristiwa lebih menegangkan kembali terjadi. Hari itu, Sabtu sekitar pukul 10 pagi, Utu mengayuh perahu sambil membawa sosoroka (tombak tradisional). Di tengah danau, ia melihat sesuatu mengapung. Dari kejauhan, tampak seperti warna putih, bagian dalam batang pohon katu (sagu, red) yang terbelah. Setelah didekati, ternyata itu adalah seekor ikan kosili (belut) raksasa. Besarnya menyerupai batang pohon kelapa. Belut itu sedang mangendo (berjemur) dengan posisi terbalik, perut putihnya menghadap ke langit.
Dalam bahasa Tonsawang, Utu pun berbicara kepada makhluk itu, meminta kejelasan apakah yang dilihatnya benar ikan atau bukan. Usai memastikan, belut itu tetap diam. Bahkan setelah ia beristirahat dan menghabiskan sebatang rokok, keyakinannya kian bulat, itu benar seekor ikan. Sosoroka pun ditancapkan ke bagian perut belut raksasa. Perlawanan terjadi sangat hebat. Air danau menjadi keruh dan batang sosoroka yang terbuat dari bambu terbaik, patah hingga tiga bagian. Akhirnya, kosili raksasa itu lolos.
Minggu, besok harinya ada kegiatan gerejawi, pertemuan pria kaum bapa (PKB) GMIM, di desa Ranoketang. Dalam perjalanan, Utu mengalami kecelakaan di desa Silian. Sepeda motor yang ditumpanginya ditabrak sebuah mobil. Ia terpental dan mengalami luka berat di kepala dan kaki. Seorang temannya kemudian berkata, seandainya kosili itu berhasil diambil, mungkin nyawa Utu sudah melayang. Sebuah isyarat yang diyakini sebagian orang sebagai peringatan alam.
Tahun 2000, Utu kembali bertemu kosili besar. Kali ini berhasil ditangkap. Diameter kosili itu sekitar 20 sentimeter. Saat toton warepes ditarik, sempat ada perlawanan hingga arena (lendir belut) memenuhi permukaan air danau. Belut tersebut dibawa pulang, sebagian dijual. Ekornya ditempel di pintu dapur. Ekor belut kering itu kemudian diminta biang kampung untuk digunakan sebagai ramuan tradisional membantu persalinan. Filosofinya sederhana. Sebagaimana licinnya belut, demikian pula diharapkan lancarnya proses melahirkan.
Bagi Utu, Danau Derel juga erat dengan dunia mistis. Ia pernah menyaksikan air danau berubah menjadi hijau gelap. Menurut cerita turun-temurun, itu pertanda nawo’ sedang mencuci rambutnya. Banyak warga Tombatu menganggap peristiwa itu angker, tapi Utu melihatnya sebagai hal biasa. Ia meyakini leluhur yang berdiam di Danau Derel adalah sosok nenek moyang yang sering menampakkan diri dalam wujud perempuan kepada orang-orang tertentu.
Kini di masa tuanya, Utu tak lagi mencari ikan di danau. Meski demikian, kisah-kisahnya tetap mengalir seperti air Danau Derel itu sendiri. Cerita lisan itu selalu terjaga dalam ingatan kolektif orang-orang Toundanouw-Tonsawang hingga kini. Lewat serpihan tuturan ini, dirinya telah merawat budaya dan menghubungkan generasi kekinian dengan masa lalu.

Penulis bersama Otniel Mokorowu.
Tiang Kabut: Kesaksian Nelayan di Danau Derel
Malam hari bagi para nelayan di Danau Derel bukanlah waktu yang asing. Gelap, dingin dan suara alam sudah menjadi bagian dari irama hidup mereka. Meski demikian, ada saat-saat tertentu, danau memperlihatkan wajah yang berbeda. Penampakan parasnya membuat orang berhenti mendayung dan memilih diam. Pengalaman semacam itu pernah dialami Jonly Mokorowu, seorang nelayan yang saat ini masih serius menekuni jalan hidupnya pada perairan Danau Derel.
Suatu malam, Jonly pergi memeriksa toton warepes dan toton betundeh (kail yang ditancap pada tanah pinggiran danau). Dirinya memeriksa kail belut terpasang secara memanjang di danau maupun yang dipatok di pinggirannya. Ia mengayuh perahu perlahan, menyusuri permukaan air dalam keheningan malam. Kala itu tengah malam telah lewat ketika ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
Dari dalam air, kabut uap mulai muncul. Bukan kabut tipis seperti embun pagi, melainkan uap tebal yang jelas terlihat keluar dari permukaan danau. Menyerupai uap air yang sedang dipanaskan dan hampir mendidih. Seiring waktu, uap itu semakin banyak hingga menutupi hampir seluruh permukaan danau. Fenomena tersebut berlangsung lama, dari tengah malam hingga menjelang subuh.
Menurut Jonly, peristiwa semacam itu bukanlah hal baru. Sejak dulu hingga awal tahun 2026 ini, kabut uap seperti itu kerap ia lihat di Danau Derel. Satu hal yang membuat malam itu berbeda, yaitu perubahan bentuk kabut. Ketika angin mulai berembus, uap-uap yang menyebar perlahan berkumpul dan menyatu. Kabut yang tadinya memenuhi permukaan danau tiba-tiba terangkat dan membentuk satu jalur lurus ke atas. Persis seperti tiang awan yang menjulang dari air ke langit.
“Seluruh kabut di permukaan danau jadi satu dan naik lurus ke atas. Bentuknya seperti tiang awan,” tutur Jonly disusul tawa kecilnya menggelitik diri sendiri.
Pemandangan itu membuatnya terkejut. Dalam kepercayaan dan cerita yang hidup di tengah masyarakat sekitar Danau Derel, fenomena alam tak lazim sering dikaitkan dengan kehadiran kekuatan lain. Entah itu tanda dari alam, leluhur atau peristiwa yang berada di luar jangkauan nalar manusia.
Didorong rasa waspada dan naluri melindungi diri, Jonly secara spontan menghantamkan penggayung ke arah kumpulan uap tersebut. Bukan untuk melawan, melainkan sebagai bentuk pertahanan diri terhadap sesuatu yang terasa asing dan tak bisa dijelaskan. Selanjutnya dia memilih menghindari fenomena tiang awan. Pengalaman itu sangat segar dalam ingatannya.
Dalam masyarakat di sekitar Danau Derel, kisah-kisah semacam ini menjadi bagian dari pengetahuan bersama. Diceritakan dari mulut ke mulut, bukan untuk menakut-nakuti. Melainkan sebagai pengingat, danau bukan hanya ruang mencari nafkah. Tetapi, juga sebagai ruang hidup yang menyimpan kekuatan alam dan nilai budaya.
Di Danau Derel, alam tidak selalu berkomunikasi dengan bahasa yang bisa dimengerti. Tidak juga melulu melalui tanda-tanda atau suara-suara tertentu. Kepada orang tertentu, sinyalnya hadir lewat kabut yang menjelma menjadi tiang. Kabut seolah berdiri di antara air dan langit. Lantas menghilang sebelum fajar dan meninggalkan keheningan bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Penjaga Danau Menyamar Patola Raksasa
Dalam kesehariannya, Frans Mokorowu yang sangat bersahabat dengan Danau Derel, malam bukan hanya waktu untuk beristirahat. Malam pun menjadi ruang perjumpaan antara manusia dan alam dengan bentuknya yang tidak berpura-pura. Di Danau Derel, di bawah cahaya senter yang menembus gelap, Frans membaca tanda-tanda kehidupan. Ia merupakan nelayan yang paling lama menyusuri, bercengkrama dengan air, lumpur, angin, panas, hujan, bahkan siang dan malam danau itu. Puluhan tahun ia melakoni cara mencari ikan secara tradisional, yakni mengeraw (berburu di malam hari). Berbekal senter dan to’dah, tombak bermata tujuh atau sembilan yang menjadi alat utama dalam perburuannya.
Dalam perjalanan panjangnya sebagai nelayan, Frans mengalami banyak peristiwa yang ia yakini sebagai bagian dari hukum alam di Danau Derel. Ia kerap berhadapan langsung dengan seekor ular patola (piton) raksasa. Pertemuan pertama di era 1980-an, membuatnya terkejut. Diameter tubuh ular itu, menurut perkiraannya, sebesar batang pohon kelapa yang telah dewasa, bukan sudah tua. Tubuhnya melintang di pepohonan katu tepian danau, berdiam diri dan hampir menyatu dengan gelap malam.
Berbekal naluri nelayan dan pengetahuan budayanya, membuat Frans segera sadar. Ular tersebut bukanlah makhluk biasa. Ia pernah mencoba menangkapnya dengan cara adat, tapi tak pernah berhasil. Sejak saat itu, keyakinannya tumbuh, yang dihadapi bukan semata ular piton. Melainkan sosok patola penjaga danau yang menampakkan diri dalam rupa ular besar.
Anehnya, rasa takut perlahan berubah menjadi kebiasaan. Dalam kesehariannya, setiap kali mengeraw dan bertemu dengan piton raksasa itu, Frans tidak lagi panik. Malahan itu dijadikannya teman bercanda lantaran ular tersebut tak pernah menyerangnya, tidak pula menghalangi jalannya. Hal yang dilakukannya hanyalah berbicara, menyapa dengan bahasa Tonsawang. Sebagaimana ia berbicara kepada sesama makhluk yang mendiami ruang hidup bersama.
Dari pengalaman berulang itu, Frans memahami satu tanda penting. Jika saat menyusuri pohon katu di pinggir danau atau ketika berada di atas perahu lantas bertemu dengan piton raksasa itu, maka pencarian ikan malam itu dipastikan tidak akan membuahkan hasil. Pertemuan itu menjadi isyarat. Tanpa ragu, ia akan langsung pulang ke rumah, meninggalkan danau dalam gelap.
Keyakinan dirinya itu tidak terlahir dari ketakutan, tapi karena pengalaman panjang dan penghormatan terhadap tanda-tanda alam. Menurutnya, Danau Derel bukan hanya tempat mencari nafkah. Tetapi juga sebagai ruang hidup yang memiliki aturan sendiri. Aturan yang hanya bisa dipahami orang-orang sabar mendengar dan mau menghormati alam.
Ular piton raksasa itu terakhir kali menampakkan diri pada tahun 2019. Pasca Frans meninggal dunia pada medio Juli 2019, hingga 2026 ini, belum ada informasi, kepada siapa patola raksasa itu menampakkan diri. Kematian Frans seolah memutus komunikasi antara penjaga Danau Derel dengan masyarakat. Namun demikian, pengalaman mistis yang diceritakannya itu tetap hidup. Tentu sebagai pengingat bahwa di balik gelap malam dan air tenang, ada penjaga yang memastikan keseimbangan alam tetap terjaga.

Bersama Frans Lengkong (kaos putih) dan tokoh intelektual Tonsawang, Julius Tiow.
Masiri’ Antara Air, Adat dan Keteguhan Petani Tombatu
Untuk masyarakat petani di Tombatu, Luah Derel bukan danau semata-mata. Selain menjadi media penyambung antara manusia, alam dan leluhur, Luah Derel telah menjadi nadi bagi kehidupan masyarakat sekitar. Hal itu jelas tergambar saat musim kemarau panjang pada tahun 2021. Ketika itu, sawah-sawah padi terancam gagal panen. Tanah yang biasanya basah dan berlumpur subur, berubah menjadi lekang mengeras. Air menghilang, sementara padi telah memasuki fase mahuliai (mulai keluar buah), masa krusial ketika bulir mulai terbentuk.
Tokoh masyarakat Tombatu, Frans Lengkong yang juga merupakan petani padi, merasakan langsung ancaman itu. Sawah yang ia kelola hampir saja tak lagi memberikan harapan. Sebagian besar petani hanya bisa pasrah, menengadah ke langit, berharap hujan turun. Kemarau yang berkepanjangan waktu itu membuat harapan petani kian tipis. Kondisi ini pun semakin menghimpit cita-cita petani untuk panen agar keluarga masing-masing bisa makan.
Sebagai ketua salah satu kelompok tani (Poktan) di Tombatu, Lengkong memilih tidak tinggal diam. Ia melaporkan kondisi itu ke Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Tenggara. Saat ditanya kepala dinas, dari mana sumber air akan diambil untuk mengairi sawah, jawabannya tegas dan penuh keyakinan, air Danau Derel.
Usai melaporkan, di saat itu juga, Lengkong bersama tim dari dinas pertanian turun ke lokasi. Bukan cuma sawah miliknya yang ia pikirkan. Tetapi seluruh kawasan persawahan di Belu, Pala, hingga Tambuhus. Poktan yang dipimpinnya pun mengajukan permohonan peminjaman mesin pompa berukuran besar ke dinas pertanian. Permohonan itu disetujui. Mesin pompa pun segera dipindahkan ke tepi Danau Derel.
Sebelum air disedot, Lengkong melakukan satu hal penting, yaitu masiri’. Sebuah ritual sederhana untuk meminta permisi atau izin kepada alam dan leluhur. Di tepi danau, hanya dengan sebatang rokok dan sopi, ia menyampaikan dalam bahasa Tonsawang tentang maksudnya kepada nawo’ yang diyakini berdiam di Danau Derel dan Danau Use’ban. Niatnya bukan untuk mengeringkan danau, apalagi demi mengambil ikan. Tindakannya semata-mata untuk mengambil air agar padi dapat berbuah dan masyarakat bisa makan.
“Pahitulungeku we’ a nawo’ in Derel bo Useban, manga mahatampa biya’i. Awahem khamitahula mangawoyo metawoi-tawoi mesala’ kisit ahi’i kamitahula mahaiwi. Nde i mawelam panguma’an i hamitahula. Wangeleyeku, wa’in ahe wa’i i resohu moho a londolah make ange alat wa’ange. Ndo’o, sa keng hi’i mamua ange bekow, khuman asia hamitahula mangawoyo i khamotahula? Sumata’ wa’i iterusku, hi’i re nia’i wela’ku kong pangilaheiku nia’i luah, hi’is. Bati kamitahula werlu ahe. Wana sina’diakum bana leku’an hamotahula bo sa’baku homotahula. Wana mange kinawa ni poyo, ahem moho mbalina,” pinta Lengkong.
Artinya, “Saya minta bantuan kepada leluhur di Danau Derel dan Danau Useban, yang punya tempat ini. Sekarang ini, kami cucu-cucu telah bekerja, salah sedikit saja kami tidak bisa merasakan hasil panen. Ini lantaran lahan pertanian kami telah mengering. Saya meminta, air ini akan saya pindahkan ke sungai dengan memakai mesin. Kasihan, kalau padi tidak berbuah, kami cucu-cucu kalian akan makan apa? Tetapi saya tidak bermaksud mengeringkan danau dan mencari ikan-ikannya. Saat ini kami cucu-cucu hanya perlu air. Itu telah saya sediakan minuman dan rokok untuk leluhur. Haya itu yang mampu cucu sediakan. Tidak ada yang lain.”
Usai ritual itu, mesin pompa langsung dinyalakannya. Tak ada kendala. Namun aktivitas penyedotan air danau itu sempat menghebohkan warga. Beberapa orang tua bertanya dengan nada cemas, apakah Lengkong sudah meminta izin? Sebab dalam keyakinan masyarakat Tombatu, mengambil sesuatu dari alam tanpa permisi bisa berujung petaka. Lengkong menjawab dengan jujur, ia telah melakukan masiri’. Meski begitu, rasa penasaran para orang tua di kampung tetap muncul. Waktu telah berlalu, tapi Lengkong tetap sehat, kuat dan tak mengalami hal buruk apa pun.
“Tidak ada itu istilah kena karma kalau kita permisi. Selama penyedotan, saya bahkan sempat tidur malam di tepi danau. Tidak ada tanda alam marah. Dalam hal ini, saya akui Tuhan telah memberikan hikmah,” ujar Lengkong, salah satu tua-tua adat Tonsawang.
Air Danau Derel disedot menggunakan pipa berdiameter empat inci. Kemudian dialirkan ke Sungai Tiwalat yang saat itu telah mengering, melalui tiga pipa transmisi tiga inci. Proses ini berlangsung selama dua pekan. Mesin diistirahatkan dua jam setiap hari. Hasilnya, seluruh sawah di Belu, Pala dan Tambuhus kembali terairi dengan baik.
Menariknya, meski air disedot terus-menerus, air Danau Derel tampak tak berkurang secara signifikan. Permukaannya pun tak berubah. Rasa ingin tahu mendorong Lengkong melakukan pengukuran sendiri. Ia menyedot air selama 24 jam penuh, lalu mengukur ketinggian air sebelum dan sesudah. Hasilnya, hanya berkurang sekitar satu sentimeter. Secara kasat mata, danau tampak tetap sama. Berdasarkan perkiraannya, luas Danau Derel sekitar lima hektar.
Bagi Lengkong, ketahanan air Danau Derel juga berkaitan dengan kisah-kisah lama yang masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Konon, pada masa lampau, di sebelah timur danau terdapat hamparan sawah luas dari Butong hingga Mangalilan. Di utara, terbentang persawahan Pala dan Tambuhus. Semuanya, sama-sama membutuhkan suplai air. Di kedua wilayah persawahan itu memiliki leluhur yang kuat, yaitu nawo’ Assa di timur dan nawo’ Emor di utara.
Ada kisah, keduanya bertaruh siapa lebih dulu yang mampu mengalirkan air Danau Derel ke wilayah masing-masing. Ada perjanjian, jika Assa berhasil lebih dahulu, maka ia akan dikawinkan dengan Emor. Dengan semangat membara, Assa menggali bukit di sebelah timur danau. Namun sebelum galiannya itu mencapai permukaan air, Emor telah lebih dulu menembus bukit di utara, mengalirlah air hingga ke Tambuhus. Lokasi itu kini dikenal sebagai “Kaka’dan i Pono’datuah”. Perjanjian pun batal dan Assa gagal mewujudkan niatnya.
Cerita rakyat ini, seperti Danau Derel sendiri. Terus hidup mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Tombatu, air bukan cuma soal irigasi. Tetapi, ada makna tentang hormat kepada leluhur, keseimbangan alam dan ikhtiar manusia yang berpijak pada adat budaya lokal. Di tepi Danau Derel, Lengkong telah membuktikan, tradisi dan teknologi bisa berjalan beriringan. Selama ada niat baik dan sikap permisi kepada semesta, apa pun itu bisa dilakukan.














