Connect with us

CULTURAL

Kawalu Kinilow, Jejak Sejarah Dalam Ingatan Suara

Published

on

23 Februari 2026


“Lonceng tak sepenuhnya menggantikan getar emosional kawalu. Bunyi tambur itu punya karakter tersendiri. Suara khasnya lebih dalam, kian membumi, seakan keluar dari perut bumi Kinilow sendiri. Kawalu hampir menjadi kenangan, karena belum sepenuhnya mati. Ia hanya sembunyi di antara waktu, menunggu generasi pewaris yang direstui.”


Penulis: Hendra Mokorowu


MASIH segar di ingatan masyarakat Kinilow raya, kota Tomohon, tentang kisah nyata di masa lalu, ada suara yang bukan semata-mata berbunyi. Tidak hanya bunyi bahana dentuman kayu dan kulit yang bergetar. Selebihnya, ia sebagai penanda duka, alarm bahaya, sekaligus jejak sejarah yang mengikat warga Kinilow dalam satu kesadaran komunal. Bunyi itu berasal dari tambur besar berumur bernama kawalu.

Bagi tokoh masyarakat Kinilow, Alain Pusung, tambur dengan ukuran tinggi 100 sentimeter (cm) dan berdiameter 60 cm, merupakan wadah penyampaian bahasa khusus. Bahasa, sebuah Informasi penting yang dipahami tanpa perlu diucapkan. Wanua Kinilow sebagai kampung, tanah asal dan ruang hidup bersama ini, menjadi panggung utama di mana kawalu berbicara tanpa kata-kata.

“Tambur tua dinamakan kawalu. Difungsikan sebagai tanda ketika di wanua Kinilow ada kedukaan. Dahulunya, kawalu digunakan sebagai alarm di masa konflik Permesta atau tanda bahaya bencana alam,” tutur Pusung, Senin, 9 Februari 2026.

Tambur Penghitung Usia

Dalam tradisi lama, kawalu ditabuh sesuai umur orang yang meninggal dunia. Setiap ketukan dipisahkan jeda sekitar lima detik. Jika seorang warga wafat pada usia 80 tahun, maka tambur itu ditabuh 80 kali. Warga yang mendengar tak perlu bertanya-tanya berapa umur sanak yang berpulang. Dari jumlah ketukan, mereka tahu usia yang berpulang.

Ada satu pengecualian yang menyentuh, untuk anak-anak di bawah usia sepuluh tahun, kawalu ditabuh sepuluh kali. Sebuah ketentuan mencerminkan empati dan pemaknaan tersendiri atas kehidupan yang terlampau singkat.

Sang penabuh tidak sembarang memulai. Ia mengumpulkan batu-batu kecil sebelum menabuh. Setiap ketukan diwakili satu batu yang dipindahkan atau disisihkan, agar jumlahnya tak keliru. Tradisi ini sederhana, tapi sarat makna, yaitu ketelitian menjadi bentuk penghormatan terakhir kepada yang meninggal.

Kawalu tidak mengenal waktu. Siang, pagi, sore, malam, bahkan pada dini hari. Begitu ada warga Kinilow meninggal dunia di rumahnya, tambur itu langsung ditabuh. Namun jika seseorang wafat di rumah sakit, kawalu baru berbunyi ketika jenazah tiba di rumah duka. Bunyi itu menandai kepulangan seseorang ke pangkuan pertiwi.

Sebelum ada pengumuman resmi dari pemerintah desa ketika itu, masyarakat sudah lebih dahulu tahu dari karakter suara kawalu, bahwa ada kedukaan. Sesudahnya, lonceng gereja menyusul berbunyi. Bak digerakkan satu kesadaran kolektif, warga berdatangan, membantu mendirikan bangsal duka secara spontan. Tak perlu undangan. Kawalu ditabuh saja sudah cukup.

Kawalu berada di atas kantor kelurahan Kinilow Satu

Kawalu berada di atas kantor kelurahan Kinilow Satu

Tanda Duka dan Sinyal Bahaya

Fungsi kawalu tak berhenti pada kematian. Dalam masa konflik Perjuangan Rakyat Semesta  atau Permesta tahun 1957-1961, tambur ini ditabuh sebagai tanda bahaya. Ia menjadi alarm ketika situasi genting melanda. Kemudian, ketika Gunung Lokon menunjukkan tanda-tanda erupsi, kawalu kembali berbicara. Pada dua momentum ini kawalu dipukul kencang dengan suara keras dan ketukan yang banyak, bertalu-talu. Berbeda dengan ritme duka yang terukur dan berjarak.

Ada keyakinan masyarakat Kinilow, alam memberi isyarat sebelum bencana. Hewan-hewan liar, mulai dari orang utan, babi hutan sampai ular piton, turun dari gunung. Atau juga, burung-burung terbang dari barat ke timur dalam jumlah tak biasa. Air di Zano Paso mendadak panas. Gempa bumi terjadi di luar siklus pergantian musim. Semua itu diyakini sebagai tanda-tanda erupsi Lokon.

Ketika tanda-tanda itu muncul, penabuh kawalu sudah bersiaga. Begitu bahaya nyata di depan mata, tambur ditabuh keras tanpa jeda panjang dan hitungan umur. Bunyi yang kencang menjadi simbol kedaruratan, sebuah sinyal peringatan agar warga waspada.

Kawalu bahkan memiliki peran simbolik dalam perpisahan tahun. Pada momen pergantian tahun, ia ditabuh seratus kali. Inilah sebuah penanda transisi waktu dalam bingkai tradisi lokal.

Tete’ Panjang Sang Pencipta Kawalu

Sejarah kawalu di wanua Kinilow tak lepas dari sosok legendaris, Jonathan Nangka. Figur yang dikenal dengan julukan “Tete’ Panjang”. Tingginya konon hampir mencapai tiga meter. Dialah pembuat sekaligus penabuh kawalu pada masanya. Diperkirakan, kawalu Kinilow mulai eksis digunakan sejak 1800-an. Pasca Tete Panjang meningal dunia, penabuh kawalu dilakoni beberapa warga yang telah ditentukan secara bergantian. Terakhir diketahui diperankan Om Lewik.

Cucu buyut Tete’ Panjang, Ansye Nangka (40) menuturkan, kakek buyutnya itulah yang membuat tambur yang kini masih bisa disaksikan di Kinilow. Kawalu terbuat dari pohon cempaka tua, kayu yang kuat dan bernilai tinggi. Sebelum menjadi tambur, pohon itu ditebang dan dipikul sendiri oleh Tete Panjang menuju pemukiman awal, lokasi yang kini dikenal sebagai area keluarga Nangka-Manopo.

Diduga, di sanalah titik tumani (awal membuka pemukiman), tempat awal berkembangnya orang-orang Kinilow dari Kinilow Tua. Dahulu, lokasi itu menjadi pusat ritus masyarakat. Namun seiring waktu, pertambahan penduduk dan kebutuhan lahan membuat kawasan itu tergusur. Jejak-jejak sakral memudar, tinggal cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Adelintje Manopo, cucu mantu Tete Panjang membenarkan. Kakeknya, Jonatan Nangka adalah pembuat kawalu. Tete Panjang disebut bukan sekadar pengrajin, melainkan penjaga makna. Di masa lalu, bahkan pemerintah desa pernah meminta agar kawalu dibawa ke kantor desa untuk digunakan sebagai penanda resmi kematian warga.

Ansye Nangka (kiri) dan Adelintje Manopo (kanan).

Ansye Nangka (kiri) dan Adelintje Manopo (kanan).

Perubahan dan Kevakuman

Karakter suara kawalu melekat erat pada memori kolektif orang-orang Kinilow. Dentumanya pada setiap ketukan memiliki arti. Tanda itu familiar di ingatan hingga kini. Dahulu, jumlah pukulan kawalu disesuaikan dengan berapa usia orang yang berpulang. Kecuali anak umur sepuluh tahun ke bawah, kawalu ditabuh sepuluh kali. Bentuk penghormatan khusus terhadap orang yang meninggal dunia di masa anak-anak.

Sekitar tahun 1900 ke atas, terjadi perubahan dalam tata ketukan untuk kedukaan. Jika sebelumnya, kalau yang mangkat berusia di atas sepuluh tahun, jumlah tabuhan mengikuti usia. Namun memasuki era milenium, tata cara penabuhan kawalu untuk duka mengalami transformasi menjadi tiga bagian. Anak di bawah sepuluh tahun, tetap diketuk sepuluh kali. Usia sebelas sampai 20 tahun, ditabuh sebanyak 25 kali. Sementara, 21 tahun ke atas, pengetukan kawalu disamakan, sebanyak 30 dentangan.

Tradisi ini memang menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi esensinya tetap. Kawalu adalah penanda bersama. Tambur ini terakhir digunakan secara aktif sebelum Kinilow dimekarkan menjadi dua kelurahan, tahun 2004. Menurut ingatan warga, sekitar 1995 menjadi masa terakhir kawalu Kinilow berbunyi. Kulitnya sobek, robek dimakan usia. Sejak itu, perannya digantikan penuh oleh lonceng gereja.

Namun bagi warga, lonceng tak sepenuhnya menggantikan getar emosional kawalu. Bunyi tambur itu punya karakter tersendiri. Suara khasnya lebih dalam, kian membumi, seakan keluar dari perut bumi Kinilow sendiri. Kawalu hampir menjadi kenangan, karena belum sepenuhnya mati. Ia hanya sembunyi di antara waktu, menunggu generasi pewaris yang direstui.

Tradisi yang Terbelunggu

Ada kerinduan untuk menghidupkan kembali kawalu. Tokoh masyarakat Kinilow raya, Jefry Montolalu, menyebut ada tersirat keinginan tua-tua kampung agar tradisi ini diteruskan. Persoalannya bukan sekadar memperbaiki atau mengganti kulit tambur. Ada hal penting yang harus dipatuhi, ketika kawalu digunakan ulang. Ketulusan dan kejujuran dentuman kawalu mesti tiba dalam diri seseorang generasi penabuh.

“Tidak sembarangan! Pernah ada seorang Tonaas Kabasaran mencoba memperbaikinya. Bahkan ada yang ingin menggunakannya untuk kepentingan seni budaya seperti tari maengket. Namun upaya itu ditolak, karena tidak direstui tua-tua kampung,” tutur Montolalu.

Masalah utamanya adalah ketiadaan lembaga adat resmi di Kinilow. Institusi kebudayaan yang berwenang menentukan siapa yang layak memperbaiki dan melanjutkan tradisi kawalu. Untuk memperbaikinya, apalagi menghidupkannya kembali, masyarakat merasa perlu menetapkan terlebih dahulu siapa kepala adat yang sah. Sebab, kawalu bukan benda seni atau properti budaya belaka. Ia adalah simbol otoritas adat, memori kolektif dan sistem komunikasi tradisional yang sakral.

Kawalu (tengah) diapit Alain Pusung dan Jeffry Montolalu.

Kawalu (tengah) diapit Alain Pusung dan Jeffry Montolalu.

Suara Kian Tersimpan

Kini, sekitar 30 tahun sudah kawalu terdiam. Kulit tambur robek, kayunya menua. Namun dalam ingatan masyarakat Kinilow raya, bunyinya masih hidup. Mereka masih bisa membedakan antara tabuhan duka dan tabuhan bahaya. Mereka masih ingat bagaimana, begitu bunyi itu terdengar, kaki-kaki bergegas menuju rumah duka. Tangan-tangan terulur mendirikan bangsal kesedihan dan hati-hati bersatu dalam solidaritas.

Kawalu itu detak keheningan yang pernah menjaga wanua Kinilow. Ia menghitung usia, memperingatkan bahaya, menandai waktu dan menyatukan warga dalam satu irama kebersamaan. Pertanyaannya kini bukan sebatas apakah tambur itu bisa diperbaiki. Tetapi, apakah Kinilow siap menetapkan kembali penjaga detaknya? Sebab, ketika kawalu berhenti berbunyi, sesungguhnya yang diuji bukan kulit dan kayunya. Melainkan ingatan dan keberanian sebuah kampung untuk merawat warisan jiwanya sendiri.

Kreativitas Orang Kinilow Zaman Lampau

Meski hari ini tak terdengar lagi, tapi dentang masa lalu sesungguhnya masih bergema di sudut wilayah dataran tinggi kaki Gunung Lokon. Jejak kebudayaan lama masih berdenyut pelan dalam wujud sebuah kawalu. Sebuah tambur tua yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana orang-orang Kinilow membangun sisten komunikasi, solidaritas, sekaligus identitas kultural masa silam. Tampak memang hanya alat pukul berbahan kayu sederhana. Namun di balik serat kayunya, tersimpan ingatan kolektif perjalanan kehidupan di sebuah kampung.

Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Dr. Ivan R.B. Kaunang, M.Hum., mengingatkan, benda budaya tak akan bermakna kalau tidak punya cerita. Tanpa narasi, kawalu hanya akan menjadi kayu lapuk yang termakan uzur. Pun kalau tidak dibuatkan narasi, ia akan ditelan usia atau tercerna alam. Lalu akhirnya tidak terwariskan ceritanya kepada generasi berikutnya. Sebab, yang memiliki cerita tentang kawalu hanya generasi-generasi lebih tua saja.

Pernyataan sejarawan Minahasa ini menegaskan satu hal penting. Sebuah alarm bagi kesadaran kolektif masyarakat Kinilow tentang kawalu sebagai memori sosial. Ia menyimpan kesepakatan bunyi, makna dan respons bersama dalam satu komunitas. Kebudayaan tidak saja hidup pada bentuk fisik, tapi juga dalam cerita.

Dalam kajian budaya, ada definisi yang sering dipakai, yaitu kebudayaan merupakan tanggapan aktif manusia terhadap diri dan lingkungannya. Dalam perspektif ini, tambur kawalu bukan alat bunyi saja. Tetapi sebuah jawaban kreatif masyarakat terhadap kebutuhan sistem komunikasi di masa lampau.

Diterawang dari fungsinya, tambur tidak jauh berbeda dengan tetengkoren (alat penanda bunyi tradisional Minahasa yang terbuat dari bambu). Bedanya, masyarakat Kinilow dahulu membuatnya dalam ukuran lebih besar. Di masa lalu, ketika kebisingan belum menguasai ruang hidup seperti kekinian, satu tabuhan kawalu barangkali mampu menjangkau seluruh kampung. Dentangnya khas dan maknanya telah disepakati bersama. Suaranya bisa sebagai tanda bahaya atau kabar duka ketika ada warga yang meninggal dunia.

“Jadi ini penanda simbolik. Itu sebuah produk budaya masyarakat yang kreatif terhadap lingkungan alam,” nilai Kaunang, Senin, 23 Februari 2026.

Di sinilah kawalu menjadi lebih dari sebuah artefak. Tambur ini adalah hasil dialog antara manusia dan alamnya. Ia merupakan simbol kohesi sosial, penanda yang menyatukan warga dalam satu sistem makna. Terbuat dari kayu yang tersedia di sekitar dan kulit diolah dengan kearifan lokal, maka lahirlah alat komunikasi komunal. Ketika terdengar bunyi kawalu dipukul, seluruh kampung memahami pesan yang tersirat tanpa perlu kata-kata. Sebuah komunikasi kolektif yang tumbuh dari kesepakatan budaya.Sejarah

Melihat kawalu dari dekat.

Melihat kawalu dari dekat.

Pelestarian dan Pendokumentasian Dinilai Penting

Namun demikian, waktu menjadi lawan yang tak dapat dihindari dan kerusakan merupakan keniscayaan. Kayu bisa lapuk, kulitnya mengering hingga robek dan ingatan manusia pun bisa pudar. Upaya pelestarian akhirnya jadi langkah mendesak. Ivan Kaunang menyarankan, tambur tua itu sebaiknya ditempatkan di galeri kelompok budaya atau komunitas adat. Bahkan bisa dibawa ke museum agar dirawat sebagai benda peninggalan sejarah identitas masyarakat Kinilow.

Kaunang mengusulkan sebuah langkah yang sederhana namun bermakna. Kawalu dimasukkan ke dalam kotak kaca seperti akuarium dan memajangnya di kantor kelurahan. Di sampingya terdapat keterangan naratif berupa sinopsis singkat yang bersumber dari cerita rakyat setempat. Sehingga, setiap orang yang melihatnya dapat memahami konteks sejarah dan budayanya. Generasi muda pun tidak terbatas melihat benda budaya, tapi mampu membaca maknanya.

Dokumentasi visual di era digital menjadi hal penting. Kawalu perlu diabadikan melalui dokumentasi fotografi. Jika suatu hari ia rusak total dimakan waktu, setidaknya jejak visualnya tetap hidup. Dalam bentuk foto, kawalu akan menjadi pengingat bahwa di Kinilow pernah ada sistem tanda yang lahir dari kreativitas lokal, sebuah bunyi bisa menyatukan masyarakat satu kampung.

Dengan demikian, merawat tambur kawalu berarti menjaga ingatan. Sebab, kebudayaan merupakan respons aktif manusia terhadap lingkungannya. Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsrat Manado ini, selama narasinya terus dituturkan dan diwariskan, tambur kawalu tidak lagi bersembunyi sampai terlupakan. Suara dentanganya pasti tiba dalam kesadaran sejarah dan budaya generasi berikutnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *