CULTURAL
Masayouu: Perang Melawan Roh dan Ketidakseimbangan Relasi Manusia-Alam Semesta

11 Februari 2026
“Jika Kabasaran merepresentasikan perang fisik melawan musuh yang nyata, Masayouu justru berbicara tentang perang yang jauh lebih sepi dari rentetan bunyi pedang besi. Ia merupakan perang melawan roh-roh jahat, gangguan supranatural serta ketidakseimbangan relasi antara manusia dan alam semesta.”
Penulis: Hendra Mokorowu
DALAM kebudayaan Minahasa, terdapat berbagai instrumen seni budaya. Mulai dari tarian tradisi, nyanyian, syair, alat musik hingga beragam ritus sakral. Organ tari-tarian, misalnya tarian perang bukan hal asing dalam peradaban suku Minahasa di jazirah utara Selebes. Masyarakat luas mengenalnya sebagai tarian Kabasaran, Kawasaran atau Sakalele. Nama yang berbeda sesuai dengan praktik dan pemahaman sub-etnis masing-masing.
Agak berbeda dengan tarian perang di bagian selatan Gunung Soputan. Di wilayah Tombatu, masih tersimpan satu tradisi tarian perang yang jarang terdengar, yakni Masayouu. Tarian milik subetnis Toundanouw-Tonsawang (orang dari air-orang gemar membantu) ini bukan sebuah variasi, tapi diyakini sebagai bentuk yang lebih tua dari tari perang buah komodifikasi yang sering terlihat di panggung pertunjukkan hari ini.
Sejarah Masayouu diperkirakan telah eksis, jauh sebelum manusia di Tanah Toar Lumimu’ut mengenal zaman perunggu dan besi. Keyakinan ini tercorak jelas dari bentuk asli atributnya, yang merujuk ke zaman “lebih tua”. Tidak satu pun unsur Masayouu terbuat dari logam. Pakaian dari kulit kayu tertentu, senjata hingga ornamen terkecilnya justru berasal dari benda-benda yang pernah hidup di alam, tidak juga kain. Dari hewan hasil buruan dan tumbuhan yang diyakini sebagai media komunikasi dengan Sang Pencipta. Musik pengiring, yaitu olioli (seruling tradisional) dan tetekolen (alat musik pukul dari bambu). Sebuah tradisi yang dijaga turun-temurun sejak masa lampau.
Masyarakat Toundanouw-Tonsawang menganggap Masayouu bukan sekadar seni gerak tubuh, melainkan implementasi bahasa tua. Kata masayouu merupakan frasa tua dalam bahasa Toundanouw, yang memiliki pengertian dan makna moro’ i hi’iwelilahen (memotong atau menyingkirkan roh jahat) atau mapeas i ta’pia (memangkas atau menumpas kekuatan buruk/jahat).
Praktisi budaya Toundanouw-Tonsawang, Tonaas Semuel Pangemanan, memperkirakan tari perang Masayouu sudah ada sejak ribuan tahun lalu di tanah Malesung. Namun kemudian lebih terkenal dan berakar melalui peristiwa besar, masih di masa lampau. Alkisah, hiduplah seorang nawo’ (leluhur) sakti bernama Laowaraney. Di masanya, terjadi mendo anggoronggang (kemarau berkepanjangan) selama sembilan tahun. Danau besar di selatan Soputan yang kala itu bernama Luah (danau) I (milik dari) Toundanouw, terdampak parah. Airnya menyusut drastis dan tersisa di bagian terdalam. Kemudian hanya membentuk seperti kolam-kolam kecil yang biasa disebut papa’an (tempat pembudidayaan ikan secara tradisional).
Sisa air itulah yang kemudian menjadi sumber kehidupan manusia kala itu. Semua orang pada masa itu mengambil air di satu titik danau bernama a pape’daralen. Disebut demikian karena banyak yang menimba di situ. Berselang beberapa waktu kemudian, malapetaka mulai terjadi. Orang-orang yang menimba air di sana satu per satu meninggal dunia. Mereka pergi mengambil air, tetapi tak pernah kembali ke rumah. Hal ini memunculkan tanya bagi para leluhur di masa itu.
“Banyak orang yang datang menimba air mengalami kematian di situ juga. Tidak diketahui siapa yang membunuh mereka,” tutur Pangemanan.
Para leluhur kemudian melakukan po’dawatenem (pengamatan secara batin). Dari sanalah terungkap bahwa di sumber air itu berkeliaran hi’iwelilahen (roh gelap dengan rupa menyeramkan yang kemudian disimpulkan sebagai setan). Beberapa orang penimba yang bisa melihat langsung keberadaan makhluk tersebut, berhasil melolosakan diri dari jeratan kematian hi’iwelilahen. Kabar itu sampai kepada Laowaraney. Ia lalu berkumpul bersama para leluhur lainnya untuk merencanakan perlawanan.
Namun perlawanan pertama gagal. Laowaraney ternyata tak kuasa bertatapan langsung dengan para hi’iwelilahen. Mata menjadi sumber kelemahan manusia. Berdasarkan pengalamannya itu, Laowaraney mendapatkan ilham, ia harus menyerupai musuh. Ia pun menciptakan kaca’iba (topeng yang membuat wajahnya tampak seperti paras roh jahat). Dengan penghalang mata itu, para kanalu mengira Laowaraney dan leluhur lainnya merupakan rekan sesama mereka.
Perlawanan kembali dilakukan, tetapi Laowaraney merasa masih belum cukup kuat. Hingga akhirnya nawo’ Manepal berkata, ia akan meniup olioli (seruling tradisional Toundanouw). Saat Manepal meniup olioli, bunyinya membuat para hi’iwelilahen mendenging dan melemah. Di saat itulah Laowaraney menyerang. Satu per satu roh gelap berhasil ditumpas. Setelah peristiwa itu, Luah i Toundanouw kemudian berganti nama menjadi Danau Bulilin.
“Ange luah likelikesen im buling (danau ini telah dikelilingi sesuatu bayangan/roh gelap). Bulilin berarti pernah dikuasai kekuatan gelap atau jahat,” ungkap Sem, panggilan akrab Pangemanan.
Sebagai penanda kemenangan maka dijadikanlah tarian perang Masayouu sebagai pengingat perjuangan leluhur. Seluruh perkakas yang digunakan para leluhur saat melawan setan menjadi atribut utama tarian ini. Laowaraney menggunakan tinomboya (tombak mahusar). Leluhur lainnya memegang pahu’tulan (tombak awi’na), sulawey (pedang bercabang yang digenggam terbalik berfungsi sebagai perisai, tapi sifatnya menyerang) dan powahi’. Semua senjata berbahan kayu bahi’ (bagian paling keras pada batang pohon enau tua). Bahkan pakaian perang yang bahanya dari kulit kayu diyakini mampu membuat roh jahat gentar hanya dengan melihatnya.
Masayouu tidak bisa dilepaskan dari olioli. Menurut Pangemanan, tanpa bunyi seruling ini, penari Masayouu saat melakukan masae (gerakan perang) akan menjadi lemah, seolah tak mendapat izin dari leluhur. Sebab itu, Masayouu seharusnya selalu ditarikan dengan iringan olioli, sebagaimana yang terjadi pada peristiwa sakral di masa lampau itu, Laowaraney berhadap-hadapan dengan roh hi’iwelilahen.
Kebudayaan tarian perang Masayouu sempat hilang ratusan tahun dari peredaran kehidupan masyarakat Toundanouw-Tonsawang. Kondisi itu terjadi ketika masuknya ajaran Kekristenan di Tanah Toar Lumimu’ut pada zaman kolonialisme. Catatan Johan Frederik Riedel dalam buku Een Levensbeeld Uit De Minahasa Op Celebes (1874) menuliskan, Kekristenan masuk ke daratan Tanah Malesung, dibawa Riedel dan Scwharz pada Mei 1831.
Meski demikian, ingatan tentang warisan budaya ini tetap berakar dalam memori beberapa orang yang masih memilih memegang teguh tugas sebagai penjaga batas peradaban. Misalnya, Tonaas Sem Pangemanan bersama kakak-adiknya. Sehingga, berkat ketekunannya dan petunjuk dari leluhur, Tonaas Sem pada 2015, memberanikan diri untuk menghidupkan kembali tarian perang Masayouu.
Sekitar tahun 1980-an, kakak dari Tonaas Sem yang juga praktisi budaya Toundanouw-Tonsawang, yaitu Nikodemus Pangemanan berusaha mencatat tata cara tarian perang Masayouu. Tetapi belum diberi petunjuk leluhur. Kira-kira tahun 2013, ia kembali berupaya menuliskannya ulang. Namun belum sempat rampung, dirinya mangkat. Beberapa waktu kemudian, pendokumentasian pun bisa dilakukan Tonaas Sem secara rinci. Bukan asal mencatat, tapi prosesnya melalui ritual dan petunjuk leluhur lewat mendengarkan ulang suara masa lalu.
“Masayouu ini bukan soal kebanggaan semata karena ini milik kita. Bukan pula karena sudah dipertontonkan sampai ke luar daerah lalu kelihatan bagus. Melainkan menjaga dan merawatnya yang terpenting. Sayangnya, banyak orang kita sendiri tidak mau lagi mengikuti dan mempelajarinya,” kata Pangemanan dengan nada risau.
Namun demikian, dia meyakini Masayouu kini mampu berdiri sebagai pengingat. Seolah ingin memberi kesadaran bahwa tarian perang ini bukan hanya seni belaka. Melainkan memori kolektif, perlawanan dan doa yang terus bergerak dari masa ketika manusia, alam dan roh masih berdialog dalam satu bahasa yang sama, hingga saat ini.

Luther, Tonaas Sem dan penulis.
Tarian Penakluk Roh, Jejak Perang Tua Sebelum Manusia Saling Bertempur
Masayouu kerap dipersepsikan sebagai tarian dengan wajah-wajah menyeramkan. Padahal, dalam sejarahnya, ada maksud baik di balik Masayouu yang tampil demikian. Ketika tarian ini kembali dihidupkan pada awal 2015 oleh Tonaas Sem Pangemanan, seluruh pemain memang menggunakan topeng. Topeng ini bukan sekadar atribut, melainkan bagian dari pakem tradisi. Di masa awal kebangkitan itu, Tonaas Sem bertindak sebagai mahusar (pemimpin tarian Masayouu).
Pernah, tarian perang Masayouu diikutsertakan dalam lomba Kabasaran gelaran Pria Kaum Bapa (PKB) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) tahun 2016, tapi topeng-topeng tersebut diminta untuk dilepas. Sebuah keputusan yang jika ditilik dari sisi sejarah, justru menyimpang dari nilai-nilai historisnya. Sebab Masayouu sejatinya memang ditarikan dengan memakai topeng, sebagaimana leluhur memeragakannya dalam kehidupan mereka di masa lalu.
Masayouu bukan sekadar tarian perang. Ia berangkat dari ritual. Sebelum memasuki peperangan, leluhur Minahasa pada umumnya selalu, lebih dulu berdoa melalui upacara khusus. Apalagi yang dihadapi bukan manusia, melainkan hi’iwelilahen (setan, roh jahat yang diyakini mengganggu kehidupan manusia). Lantaran itulah setiap gerakan tarian dalam Masayouu memiliki aturan dan makna yang sakral.
Urutan gerakannya jelas dan tidak bisa sembarangan. Ada masa’angan, posisi saling berhadap-hadapan. Lalu masusutan, saat para penari mulai saling mendekati. Disusul suma’ang kasehe’, menghadap ke arah musuh. Hingga akhirnya matiho’an, fase peperangan. Semua gerakan itu mengikuti irama tetekolen yang cepat dan menghentak, membakar semangat dan menggambarkan situasi perang yang sesungguhnya.
Gerak Masayouu memang dikenal cepat. Laju ketukan tetekolen memacu adrenalin. Seirama, olioli pun ditiup kencang karena dalam peperangan tidak ada ruang untuk menjadi lamban. Sesudah ketika perang usai dan kemenangan diraih, suasana berubah. Kemenangan melahirkan keramaian, kegembiraan dan rasa syukur. Di fase inilah iringan tetekolen diketuk pelan dan olioli ditiup dengan tempo menurun. Ritme musik melambat dan gerakan tarian pun menjadi lebih tenang. Ini sebagai simbol sukacita setelah konflik berakhir.
Menariknya, Masayouu diyakini sudah ada jauh sebelum peristiwa nawo’ Laowaraney dan nawo’ Manepal bersama para leluhur lainnya berperang melawan roh jahat di Bulilin. Laowaraney dan Manepal sejatinya hanya mempraktikkan tradisi tua yang telah dilakukan leluhur mereka sebelumnya. Itu di masa lebih lampau, ketika manusia masih berhadapan dengan roh-roh gelap. Meski demikian, saat Masayouu ditarikan oleh Laowaraney dan Manepal, gerakannya belum sepenuhnya mencerminkan “bentuk asli” yang khas. Sebabnya, ketika keduanya pertama kali melawan roh gelap di wilayah perairan Toundanouw, mereka sempat gagal.
Dalam istilah lain, Masayouu juga dikenal dengan berbagai sebutan, yaitu mahusar, masae, kacai’ba, hingga cakalele. Semua istilah itu memiliki benang merah makna yang sama, yakni sebagai pembuka jalan bagi manusia. Tarian ini dilakukan ketika membuka lahan pertanian, menentukan wilayah perburuan atau memasuki ruang hidup baru yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Ini alasannya, Masayouu dapat dikatakan sebagai tarian yang jauh lebih tua dibandingkan tari perang antarmanusia. Musuhnya bukan sesama manusia atau suku lain, melainkan roh jahat. Ini menandai fase awal sejarah, ketika peperangan masih terjadi antara manusia dan dunia tak kasatmata. Era di mana sebelum konflik antarmanusia dan antarwilayah terjadi. Masayouu merupakan rekaman ingatan kolektif tentang bagaimana leluhur Minahasa memahami dunia, ancaman dan cara bertahan hidup. Sebuah tarian yang lahir dari spiritualitas, ritual dan keberanian menghadapi sesuatu invisible.
Perjuangan Tarian Perang Leluhur Melawan Lupa
Tarian Masayouu kaureure tou katare. Artinya, Masayouu sejatinya tarian perang mula-mula orang pertama. Perkataan ini menyembul dari tuturan tou muda Tondanouw-Tonsawang, Luther Rondonuwu. Kalimat ini bukan hanya bermakna sebagai pembuka. Di sini ada penegasan identitas sebuah warisan budaya tua milik sub-etnis Toundanouw-Tonsawang. Namun ironisnya, upaya pelestarian tarian Masayouu justru menghadapi tantangan terbesar, bukan dari luar. Tetapi dari dalam, yakni orang-orang keturunan Toundanouw-Tonsawang sendiri.
Digambarkan, di tahun 2025 sangat jelas, jarak antara generasi muda dengan kebudayaan leluhurnya kian terasa menjauh. Semangat berbudaya lokal yang kembali mekar pada 2015 lalu seakan terkikis. Minat dan kepedulian terhadap seni tradisi Masayouu terus menipis. Banyak anak muda justru lebih tertarik pada tarian perang Kabasaran yang begitu populer di Minahasa. Apalagi, dengan perlengkapan senjata tajamnya berupa pedang dan tombak yang terbuat dari logam.
“Sementara, tarian perang Masayouu hanya menggunakan senjata berupa kayu atau bahi’, yang selalu dianggap ‘kurang gagah’ dan tidak menantang,” tutur Luther.
Di balik itu, nilai-nilai luhur adat Toundanouw-Tonsawang sejak masuknya Kekristenan hingga hari ini sering kali distigma secara negatif. Berbeda dengan sub-etnis Minahasa lain yang relatif lebih terbuka, di wilayah Toundanouw-Tonsawang, pandangan keagamaan kerap menjadi penghalang. Tidak sedikit tokoh agama yang mendoktrin umat dengan anggapan bahwa keterlibatan dalam tarian Masayouu identiknya mempraktikkan ilmu negatif atau penyembahan berhala.
“Stigma negatif inilah yang secara perlahan meminggirkan Masayouu dari ruang sosial masyarakatnya sendiri,” lirih penggerak budaya Toundanouw-Tonsawang ini.

Bangkit dari Kesederhanaan
Tahun 2015 memang menjadi titik awal kebangkitan tarian Masayouu. Melalui inisiatif seorang Tonaas Sem, para penari mulai dibentuk kembali. Di masa awal masih penuh dengan keterbatasan, tapi tak menjadi penghalang. Kostum anggota Masayouu hanya dibuat dari kertas semen bekas, sementara topeng dirangkai dari kardus.
Seiring waktu berjalan, pakaian Masayouu kemudian dibuat mendekati “bentuk aslinya” di masa lampau. Berbahan kulit kayu yang dijahit menggunakan tali dari pohon se’e i talun (pisang hutan). Semua bahan tersebut, menurut Luther, diperoleh Pangemanan berdasarkan petunjuk leluhur, sebuah laku budaya yang masih dijaga kelompok kecil dalam tradisi Toundanouw-Tonsawang.
Di masa nawo’ Laowaraney, Masayouu bahkan tidak mengenal tambur dari kulit hewan. Iringan musik hanya berasal dari suara tiupan olioli dan bunyi dinding perahu sederhana yang ditabuh (menyerupai bunyi tetekolen). Sebuah jejak kreativitas leluhur dalam keterbatasan. Namun di era kekinian, instrumental alat musik, meski ditambah dengan menggunakan tambur, tidak lagi menjadi sebuah kendala.
“Dalam struktur tarian Masayouu, terdapat dua penokohan utama, yakni mahusar adalah pemimpin dan awi’na sebagai pengikut. Jumlah penari sembilan orang, satu mahusar dan delapan awi’na. Tarian ini diiringi oleh empat penabuh tambur (seharusnya tetekolen) dan satu peniup olioli,” jelas Luther.
Sebelum tarian dimulai, dilakukan ritual pembuka yang sederhana namun sarat makna. Diawali dengan ritual bondis (doa permohonan kepada Yang Maha Kuasa), seluruh pelakon Masayouu kemudian dimandikan dengan sopi oleh balian (pemimpin ritual) atau seorang tonaas. Setelah itu, komando pertama untuk memanggil awi’na dikumandangkan mahusar dengan lantang, “Pahasa suru raho baraney (seluruh keturunan ksatria pemberani) Toundanouw!” Kemudian menyerukan semangat, hosiowo’ (permohonan akan kekuatan) serta pemanggilan nama leluhur di empat penjuru mata angin.
Keempat leluhur penjaga penjuru alam yang dipanggil, yaitu dari utara nawo’ Tambanas, selatan nawo’ Ta’kumilala, timur nawo’ Laowaraney dan barat nawo’ Otoninendo. Selanjutnya, para awi’na membentuk lingkaran dengan mahusar berada di tengah, sebuah simbol perlindungan terhadap pemimpin tarian sekaligus pusat kekuatan ritual.
Usai rangkaian prosesi awal dilakukan dengan khidmat, barulah mengalun suguhan empat gerakan perang, yakni masa’angan, masusutan, suma’ang kasehe’ dan matiho’an. Gerakan perang yang menyala, menggambarkan kisah keberanian Laowaraney dan kawan-kawan di masa lalu. Setiap kali bermasayouu, tata cara ini mesti selalu dijaga dan dilakukan. Baik ketika dipentaskan sebagai ritual adat maupun saat ditampilkan ke hadapan publik. Sebab, di sanalah Masayouu berdiri sebagai tarian yang tidak hanya ditonton, tetapi diyakini, dijalani dan dihormati.
Di fase awal kebangkitannya, tarian Masayouu dimainkan beberapa orang dengan diiringi tiupan olioli dan tabuhan tambur (semestinya tetekolen). Kala itu, Tonaas Sem bertindak sebagai mahusar, sekaligus peniup olioli. Lakon awi’na, dimainkan Eki Poludu, Jhonly Poludu, Leo Malinggas, Jusak Tampomuri, Iwan Koyong, Michael Tiow, Luther Rondonuwu, Novi Momuat, Gigo Koyong dan Evans Koyong. Sebagai penabuh tambur, Vani Poludu, Dan Tuda, Wengs Pangemanan, Wel Mokolomban, Jhonly Boseke dan Otniel Poludu.

Tarian Pemanggil Jiwa dan Penjaga Batas Kehidupan
Masayouu dalam ingatan tou Toundanouw-Tonsawang bukan sekadar pertunjukan tarian kebudayaan. Ia adalah ritus sakral yang hidup dan bekerja di ruang-ruang sepi antara dunia manusia dan alam roh. Tarian ini juga dapat dipersembahkan ketika terjadi kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa. Terutama jika diyakini ada gangguan mistis dalam perjalanan.
Dalam peristiwa semacam itu, balian bisa saja turun langsung memimpin ritual di lokasi terjadinya kecelakaan. Jiwa orang yang meninggal dipanggil pulang, didoakan agar dapat menuju ke kaholano’an (dunia setelah kematian yang dianggap sebagai tempat tinggal jiwa abadi). Sebaliknya, roh jahat yang diyakini menjadi penyebab kecelakaan diusir pulang ke tempatnya agar tidak lagi mengganggu kehidupan manusia.
“Masayouu juga berperan penting dalam ritual tuma’bang indo’ong (pembersihan kampung). Dalam prosesi ini, tarian Masayouu diarak mengelilingi perkampungan hingga menuju ke pekuburan,” tutur Luther.
Berkeliling kampung dan berakhir di pekuburan, maknanya jelas. Mengusir sekaligus mengantar roh-roh jahat menuju tempatnya. Di dalam ritual ini tersirat sebuah perjanjian kosmis, manusia memiliki ruang hidupnya sendiri, demikian pula roh jahat. Karena itulah, pekuburan di wilayah suku Toundanouw-Tonsawang umumnya terletak di sipat (perbatasan) antar kampung. Menurut Luther, penataan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah antisipasi spiritual.
“Jika terjadi hal-hal yang dianggap ganjil, tarian Masayouu akan dimainkan. Misalnya kecelakaan terjadi di tete (jembatan) Kawah. Ritual dilanjutkan dengan tarian Masayouu, dilakukan mulai dari tete Kawah, mengelilingi kampung lalu berakhir di pekuburan bagian utara, yaitu di Tombatu Dua,” kata Luther yang juga pegiat tradisi Masayouu.

Terpanggil Menjaga Warisan Budaya Leluhur dan Pengalaman Transendental
Ketertarikan Luther bermula dari rasa penasaran saat pertama kali melihat langsung penampilan Masayouu pada Desember 2015. Rasa itu kian menguat ketika ia menyaksikan ulang Masayouu dalam perayaan Hari Persatuan PKB GMIM yang dipusatkan di gereja Iwekahalesan Betelen, pada 20 Mei 2016 lalu. Tak lama berselang, ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan langsung di bawah bimbingan Tonaas Sem. Penampilan perdananya sebagai penari Masayouu dilakoninya pada pernikahan Hendra Poluan dan Chintia Kumesan, Juni 2016 di Tombatu Tiga.
“Masayouu bukan tarian yang bisa dimainkan setengah hati. Setiap penari dituntut serius, yakin dan menyatu dengan ketukan serta aba-aba. Jika tidak, gerakan tidak akan mengalir dan pasti kehilangan maknanya,” sebutnya.
Desember 2017 menjadi momentum penting karena terjadi estafet kepemimpinan dalam tarian Masayouu. Luther dipercaya mengemban peran sebagai mahusar. Ia kemudian bersama Tonaas Sem membuat gebrakan dengan menampilkan Masayouu berjalan sambil menari mengelilingi kampung dalam suasana perayaan Natal. Aksi ini menarik perhatian banyak anak muda. Imbasnya, ramai generasi baru ingin bergabung. Sebagian sekadar ikut meramaikan, yang lain serius ingin belajar dan melestarikan. Ada pula yang menjadikan Masayouu sebagai ruang ekspresi untuk meluapkan teriakan dan energi.
“Dari pengamatan saya, keterlibatan generasi muda dalam Masayouu memiliki motivasi beragam. Tidak selalu sejalan dengan esensi Masayouu itu sendiri,” nilainya.
Luther pun mengisahkan sejumlah pengalaman luar biasa saat melakukan Masayouu dengan penuh kesungguhan. Pernah suatu kali, tanpa ia sadari, tubuhnya menari seolah terangkat dan “terbang”. Ini sebuah kejadian yang justru diberitahukan oleh orang-orang di sekitar saat menyaksikan permainan Masayouu. Di momen lain, ia menari di luar kendali kesadarannya sendiri.
Pengalaman serupa ia rasakan hampir setiap kali mengikuti defile 17 Agustus. Menari Masayouu tanpa alas kaki di atas aspal yang membara tak pernah membuat telapak kakinya terasa panas. Baginya, semua itu bukan soal ilmu kebal, melainkan buah dari keseriusan, kepatuhan pada arahan tonaas dan penghormatan terhadap nilai-nilai tarian Masayouu.
“Persepsi sebagian generasi muda yang menganggap Masayouu sebagai jalan untuk memperoleh ilmu kekebalan adalah pemahaman keliru. Ini justru pandangan yang menyesatkan,” tegas Luther.
Ia masih memiliki secercah asa dalam menatap tantangan ekspansi budaya modern, ke depan semakin banyak generasi muda yang berminat melestarikan Masayouu. Tarian ini diharapkan tidak hanya hidup di wanua Tombatu. Tetapi bisa menyebar ke seluruh wilayah sub etnis Toundanouw-Tonsawang.
Cita-cita besarnya, Masayouu dapat masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Menjadi ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya lokal. Pemerintah daerah juga diharapkan bisa memberi perhatian lebih terhadap pengembangan kebudayaan yang kian tergerus arus budaya populer. Urgensinya, tidak lagi ada pandangan miring dari pihak gereja terhadap seni budaya tarian perang Masayouu.
Masayouu menurutnya, memang merepresentasikan kiprah leluhur dalam menghadapi roh kegelapan. Namun dalam tradisi Toundanouw-Tonsawang juga terdapat tarian perang fisik dengan penokohan nawo’ Kalengkongan. Tarian ini berkisah tentang perjuangan leluhur mempertahankan wilayah pertanian dan perburuan dari masuknya suku Mongondow. Ciri-cirinya, sudah menggunakan senjata logam besi dan kostum yang berbeda dari Masayouu.
“Menurut Tonaas Sem, tarian Masayouu juga bisa bermain di belakang, mengantarkan pasangan pengantin menuju ke peneguhan perkawinan. Atau bisa juga menari di barisan terdepan dalam iring-iringan jenazah ke ladang pekuburan. Maknanya sama, sebagai pembuka jalan sekaligus pembatas kehidupan,” pungkasnya.
Di tengah tantangan zaman, Masayouu tampak kini masih teguh berdiri di persimpangan. Antara dilupakan atau terus diperjuangkan. Selama masih ada orang-orang yang setia menari dengan keyakinan serta kesungguhan. Ini bukti bahwa tarian perang leluhur ini belum sepenuhnya hilang dan dilupakan. Hanya bersembunyi, tapi sebuah keniscayaan ia akan kian berani keluar dari ruang sunyi demi menyapa generasi pewaris.

Tim peneliti IAKN Manado dan BRIN saat melakukan riset di Tombatu.
Jejak Tua Peradaban dan Perang Melawan Yang Tak Kasat Mata
Di tengah dominasi tari Kabasaran yang begitu kuat melekat pada identitas Minahasa, ada satu tarian tua yang kerap disalahpahami. Bahkan nyaris tersisih, yakni tarian Masayouu. Banyak orang mengira Masayouu hanyalah versi lain dari Kabasaran. Ada juga, beberapa penari Masayouu merasa seperti terkebelakang sehingga mencoba menyamakannya demi mendapatkan pengakuan yang sama. Padahal, menurut Director Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat), Dr. Denni Pinontoan, M.Th., keduanya berdiri di landasan makna yang sangat berbeda.
Kesimpulan itu bukan datang dari pengamatan sepintas. Melalui dua kali penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di sub etnis Tondanouw-Tonsawang, Pinontoan mendapati, Masayouu bukan cuma sebagai pertunjukan tari. Melainkan sebagai bagian dari ritual, sejarah dan cara pandang kosmologis masyarakat Minahasa lama. Ia mendengar kisah-kisah tua, mengikuti tata cara ritual serta mengamati secara langsung kostum dan atribut yang dikenakan para penari Masayouu.
“Masayouu bukan Kabasaran. Jika Kabasaran merepresentasikan perang fisik melawan musuh yang nyata, Masayouu justru berbicara tentang perang yang jauh lebih sepi dari rentetan bunyi pedang besi. Ia merupakan perang melawan roh-roh jahat, gangguan supranatural serta ketidakseimbangan relasi antara manusia dan alam semesta,” tegas Pinontoan.
Masayouu hidup di dalam ritual. Ia hadir ketika kampung dilanda wabah, Gunung Soputan meletus, di kala masyarakat melakukan pembersihan kampung dan saat membuka musim tanam. Bahkan ketika terjadi kematian beruntun atau akibat kecelakaan. Dalam konteks ini, tarian bukan hiburan, melainkan bagian dari tata cara adat yang berfungsi memulihkan keseimbangan hidup.
Menurut dia, untuk memahami secara utuh, Masayouu harus dibaca berdampingan dengan ritual bondis untuk pengobatan tradisional yang bersifat holistik. Pengobatan, dalam pemahaman ini, tidak semata-mata menyembuhkan tubuh yang sakit, tetapi menata ulang relasi manusia dengan alam, roh penjaga hutan, gunung dan ruang hidup lainnya. Ketika terjadi bencana atau musibah, masyarakat tidak serta-merta menyalahkan alam. Melainkan bercermin, barangkali ada perjanjian yang dilanggar atau tata cara hidup telah terabaikan.
Pandangan semacam ini bukan hanya milik Tondanouw-Tonsawang, tapi Minahasa pada umumnya. Dia pula menemukan kemiripan kuat ketika melakukan riset soal ritual pengobatan di Bilalang, Bolaang Mongondow. Di sana dikenal ritual motayo (pengobatan kepada satu atau kelompok orang). Juga ritual monibi (pembersihan kampung). Pemimpin ritualnya adalah perempuan, yang disebut bolian, mirip dengan walian di wilayah sub etnis Tontemboan, Minahasa. Pola ini menunjukkan jejak kebudayaan tua yang melintasi batas etnis dan wilayah.
“Yang berubah mungkin kostumnya. Tapi nilai, struktur dan roh ritualnya masih sama,” sebutnya.
Masayouu, dalam pandangan ini, merupakan jejak dari masa ketika orang Minahasa meyakini bahwa alam semesta bukan benda mati. Gunung, hutan dan ruang hidup memiliki jiwa. Lantaran itu, hidup harus dijalani dengan kesadaran akan perjanjian awal saat leluhur melakukan tumani (membuka pemukiman). Ada izin yang diminta, terdapat juga kesepakatan yang harus dijaga.
Ketika kesepakatan itu dilanggar, konsekuensi terjadi, entah melalui gagal panen, wabah atau kematian beruntun. Leluhur melakukan ritual untuk menata kembali dunia. Sebenarnya hal ini bukan cuma berlaku di Toundanouw-Tonsawang, tapi juga bagi orang Minahasa pada umumnya, bahkan di banyak tempat di nusantara. Salah satu cara menghadapi konsekuensi tersebut adalah dengan “memasuki” dunia roh. Wajah digosok arang atau ditutupi topeng, hingga orang tak lagi dikenali sebagai manusia. Dalam Masayouu, praktik ini masih terlihat jelas.
Topeng menjadi elemen penting. Ia tak hanya berfungsi sekadar properti, melainkan alat transformasi. Dengan topeng, manusia menjadi “sekutu” bagi roh-roh, bukan lawan. Akademisi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado ini melihat pola serupa dalam tradisi Wolay di Tontemboan. Bahkan dalam ritual mahelur (memulai siklus baru) yang pernah berlaku luas di Minahasa, sebagaimana dicatat penginjil Nicolaas Philip Wilken (1813-1878) dan peneliti Barat lainnya.
“Bukan cuma suatu hal yang unik. Di balik Masayouu, banyak menyimpan tentang sejarah panjang. Tarian Masayouu ini merupakan jejak dari sejarah, tak hanya bagi Tondanouw-Tonsawang, tetapi juga keseluruhan Minahasa. Terintegrasi, apalagi banyak jejak persilangan Toundanouw-Tonsawang dengan etnis Minahasa yang lain,” simpul Pinontoan.
Menariknya, deskripsi kebiasaan adat istiadat tou Mahasa dalam catatan lama Robertus Padtbrugge di Beschrijving Der Zeden En Gewoonten Van De Bewoners Der Minahasa (1679) juga menyebut tarian perang di Minahasa. Sebelum dikenal dengan nama Kawasaran atau Kabasaran, penarinya menghitamkan wajah hingga sosok manusianya tak dikenali. Jika dalam perang fisik penyamaran dilakukan agar musuh tak mengenali, dalam perang supranatural, penyamaran dilakukan agar roh-roh melihat manusia sebagai bagian dari mereka.
Di titik inilah Masayouu menemukan kedudukannya yang paling dalam. Ia sebagai ritual pengusiran roh-roh jahat, sekaligus pengantaran mereka (roh jahat) kembali ke tempatnya. Tarian Masayouu merupakan jejak sejarah ritual atau praktik-praktik tradisi yang “sangat tua” di Toundanouw-Tonsawang. Sayangnya, Pinontoan melihat Masayouu kini hidup di ruang yang sempit. Apresiasi justru lebih banyak datang dari sanggar seni, bukan dari masyarakatnya. Harusnya, Masayouu diberi ruang oleh masyarakatnya sendiri. Apalagi, Masayouu menyimpan lapisan sejarah Panjang. Bukan hanya milik Tondanouw-Tonsawang, melainkan jejak peradaban Minahasa secara keseluruhan.
“Kita kehilangan banyak ritual. Yang tersisa tinggal Maengket dan lain-lain. Itu pun sudah dimodifikasi, bahkan dikomodifikasi. Kabasaran juga sudah banyak berubah. Masayouu adalah salah satu sedikit yang masih menyimpan jejak tua Minahasa,” tandas Pinontoan.
Masayouu bukan semata-mata seni tari-tarian. Ia adalah arsip hidup, tentang bagaimana leluhur Toundanouw-Tonsawang di Minahasa memahami dunia, merawat hubungan dengan alam dan menghadapi yang tak kasatmata. Layaknya semua arsip berharga, Masayouu membutuhkan ruang, perhatian dan keberanian untuk kembali dipahami. Bukan untuk dipertontonkan demi sebuah hiburan yang memuaskan belaka.














