Connect with us

CULTURAL

Menelusuri Jejak-Jejak Peradaban Tou Minahasa

Published

on

25 Maret 2026


“Salah satu nama yang sering didengar dalam perjalanan kali ini adalah Gubernur H. V. Worang. Tou Minahasa yang satu ini barangkali adalah sosok yang kontroversial dan sebagai manusia memiliki banyak kekurangan. Namun, apa pun yang mau dikatakan masyarakat saat ini, tak bisa dibantah bahwa dia adalah salah satu orang Minahasa yang berjasa dalam upaya untuk menemukan dan menjaga situs-situs budaya tou Minahasa.”


Penulis : Rikson Karundeng


Ziarah Kultural, 8 Maret 2010

WAKTU telah menunjukkan lepas pukul 09.00 Wita. Porsi terakhir nasi goreng istimewa racikan chef Denni Pinontoan telah dituntaskan. Tim Mawale Movement: Greenhill Weol, Denni Pinontoan, Fredy Wowor, Bodewyn Talumewo, Frisky Tandayu, dan saya, dengan penuh semangat meninggalkan Steleng Mawale, di Bukit Inspirasi Tomohon. Kami akan memulai agenda ziarah bertajuk “Menelusuri Jejak-Jejak Peradaban Tou Minahasa“, Senin, 8 Maret 2010.

Ado minta maaf ta lat. Kita so pagi-pagi deri Pinabetengan, mar pas singgah pa Fredy di Sonder, tuama kote da asyik ba browsing di warnet. Sonder memang cuma kacili, mar warnet di mana-mana. Jadi nyaku bingo mo cari ka mana pa dia,” ujar Friski Tandayu dengan nada low khasnya dan ekspresi “rasa bagitu” model Tontemboan.

Ungkapan Frisky itu ditanggapi gelak tawa semua yang mendengarnya. Termasuk Fredy, yang tampak berusaha menawan tawa.

Cerita itu berlalu seiring berkurangnya tetesan bensin dari tiga kendaraan roda dua yang ditumpangi enam tuama penuh gairah. Benar-benar terasa sangat bersemangat.

Waruga Sang Legenda

Kendaraan dipacu ke arah barat. Sebelum mengisi bahan bakar di wanua (kampung) Woloan, kami menyempatkan diri untuk melihat dari dekat waruga (kubur batu Minahasa) dotu (leluhur) Sahiri Supit yang berdiri kokoh tepat di depan gedung Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Eben Heazer Woloan, Tomohon Barat.

“Dulu waktu ini greja da bangun tahun 1990-an, pernah ada rencana mo se pindah tu waruga. Mar, banya jemaat nda setuju, termasuk kita. Karna itu kan nyanda mengganggu apapun,” kata Om Poluan, sosok yang sehari-hari ditugaskan sebagai kostor di gereja ini.

Denni langsung menyambung. Ia mengisahkan sosok legendaris yang dimakamkan dalam waruga ini. Seorang pemimpin besar dan memiliki peran penting dalam sejarah tou Minahasa.

Dotu Sahiri Supit dialah Pacat Supit Sahiri Macex. Ia salah satu dari trio legendaris Minahasa, yang sangat terkenal di Minahasa pada akhir abad tujuh belas sampai abad delapan belas. Ya, trio Supit, Paat dan Lontoh,” terang Denni.

Menurutnya, nama trio legendaris itu bayak terekam dalam catatan para penulis di era Belanda serta dokumen-dokumen penting pemerintah Belanda.

“Mereka (Supit, Paat, Lontoh) sempat dipercayakan para Kepala Walak di Minahasa sebagai perantara dalam berkomunikasi dengan berbagai pihak, orang-orang luar Minahasa. Nama mereka sempat tercatat dalam Kontrak 10 September 1689 antara Minahasa dengan Belanda atau VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie),” jelasnya.

Denni mengaku punya bayak data dan informasi soal tiga pemimpin di daerah Tombulu-Minahasa itu. Ia pun memotong percakapan, sembari berjanji akan membagi informasi itu ke kami.

Mar depe cerita jelas tentang ini waruga nanti torang baca kong dikusikan di steleng. Soalnya kita pe mahasiswa bimbingan skripsi di Fakultas Teologi, UKIT, baru-baru da biking penelitian tentang waruga ini,” kata Denni sambil mengajak yang lain untuk segera melanjutkan perjalanan.

Jembatan Tua Wanua Sarani

Hari semakin siang, kendaraan pun kembali dipacu. Tiga puluh lima menit baru berlalu. Setelah melewati wanua Taratara, Ranotongkor, Lolah dan Lemo, kami mulai memasuki wanua Sarani Matani, wilayah kecamatan Tombariri.

Udara panas yang tak biasa dinikmati di dataran tinggi Tomohon, langsung terasa. Seakan membungkus erat seluruh tubuh, hingga memaksa kami untuk berhenti sejenak. Sekadar melepas lelah, sambil berusaha untuk menyesuaikan dengan kondisi alam pesisir pantai.

Jembatan tua yang diperkirakan dibangun sejak zaman Belanda yang terletak di ujung wanua Sarani Matani, menjadi pilihan untuk tempat beristirahat.  Membiarkan lima menit berlalu, sambil menatap dengan decak kagum jembatan kayu tua yang masih berdiri kokoh.

Dotu Pertama Wanua Sarani

Baru saja starter motor dihentakkan, belum tiga ratus meter terlampaui. Mesin kendaraan harus berhenti kembali tatkala mata Denni menangkap sebuah batu yang direspons otaknya sebagai sebuah waruga.

Ternyata benar, itu sebuah waruga. Sayang terkesan tidak pernah diindahkan, sehingga tumpukan pasir dan sampah yang ada di sekitarnya lebih mudah dikenali ketimbang waruga itu.

Kami pun berusaha mendapatkan informasi dari warga sekitar. Ada rasa penasaran, siapa sosok yang dimakamkan di waruga itu.

“Itu kwa waruga deri sebelah utara kampung, kong tahun 1990-an ada kase pindah di muka kantor Hukum Tua (Kepala Desa) ini,” kata Feri yang kebetulan sedang mencuci kendaraan roda dua di samping waruga tersebut.

Seperti dugaan kami, itu bukan waruga sosok biasa saja di masa lampau. Dalam ingatan masyarakat, ternyata itu waruga dotu tumani (leluhur yang membuka kampung pertama kali).

“Menurut cerita, waruga itu da kubur akang torang pe dotu yang pertama kali buka ini kampung. Torang so nda tau depe nama, mar ini waruga da kase pindah di sini supaya torang boleh mo inga trus pa dia yang ada jasa besar da buka ini kampung,” aku Feri.

Ternyata waruga itu sengaja dipindahkan ke depan kantor Hukum Tua, gedung tempat berkumpul masyarakat, karena maksud baik. Para tetua ingin menunjukkan rasa hormat kepada pemimpin mereka, pembuka jalan kehidupan bagi mereka di masa lampau.Ada rasa sedikit nyeri di kalbu yang mengiringi tanya. Apakah kesadaran itu masih ada pada generasi hari ini.

Waruga Dotu Lokon

Tak jauh dari Sarani Matani, kami singgah di wanua Ranowangko, Tombariri. Salah satu agenda yang terprogram di otak kami hari itu, menemukan parigi (sumur) Pingkan.

Hasrat itu kemudian mendorong untuk menelusuri lorong-lorong wanua itu. Berusaha bertanya kepada siapapun yang dijumpai.

Di salah satu lorong, mata kami terhenti pada sebuah waruga. Tampak jelas pada bagian atas makam itu telah dipoles dengan semen. Dan sepertinya ia telah berubah fungsi, dimanfaatkan sebagai “pampele” angin untuk dodika oleh pemilik kios makanan di tempat itu.

“Itu kwa waruga dotu Lokon. Salah satu yang bilang pa torang itu dotu Lokon punya, Gubernur Worang (Hein Victor Worang, Gubernur Sulawesi Utara tahun 1967-1978). Dia kan dulu ja kampetan. Dulu waruga ini pe model memang so bagitu, mar lantaran so ja ancor depe atas kong da tahang deng semen sadiki,” kata Om Yan Rengkung.

Ia pun mengungkap jika di lokasi tersebut dahulu memang terdapat sejumlah waruga, namun telah dipindahkan.

“Di seblah ini lei ada waruga mar waktu zaman Worang, dorang da se pindah di puncak Tasik Ria. Waktu itu, Gubernur Worang da tata samua ini waruga di sini. Dia lei yang biking kase bagus tu lokasi di parigi Pingkan yang ada di blakang sana,” terang Rengkung, sambil mengarahkan telunjuknya ke timur.

Informasi terakhir yang ia sampaikan langsung membuat kami terkejut sumringah. Parigi Pingkan yang memang sedang dicari ternyata sudah tak jauh dari waruga itu. Mata kami sudah bisa melihat lokasinya dengan jelas.

Membasuh Wajah di Parigi Pingkan

Om Yan pun langsung mengajak tim Mawale Movement untuk menuju lokasi Sumur Pingkan yang jaraknya hanya sekitar 30 meter dari waruga tersebut.

Ada banyak kisah terkait dotu Pingkan yang terekam dalam ingatan masyarakat sekitar. Mereka tau, leluhur itu lahir dan besar di daerah mereka. Sumur itu salah satu bukti.

“Menurut cerita, dotu Pingkan asli sini. Dulu waktu nona-nona, dia pernah setanang depe piso pusaka di sini. Waktu dia cabu, kaluar aer kong nda pernah brenti sampe skarang,” tutur Rengkung.

Sejauh ingatan mereka, sumur ini tak pernah kering dan selalu bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Biar musim panas panjang, deri dulu nda pernah brenti ini aer. Malahan ada orang-orang deri Tomohon ja datang ambe aer di sini kalu musim panas,” bebernya.

Om Yan juga menuturkan, beberapa bagian sumur yang tampak sudah dibetonisasi merupakan hasil penataan yang dilakukan Gubernur Worang.

“Tahun 1972, ini tampa lei Gubernur Worang da tata. Kebetulan kita salah satu pengerja waktu itu,” tutur Rengkung dengan raut wajah serius.

Saat hendak beranjak dari Sumur Pingkan, Greenhill melempar senyum sekaligus tanya ke saya, “Con, ngana da ba cuci muka tadi? Fredi, Kiki, Deni, Bode deng kita kwa da cuci muka. Soalnya, menurut cerita masyarakat, itu aer di parigi Pingkan ja biking vasung deng awet muda.”

Tanya itu langsung ku sambut dengan gurauan. Berusaha sedikit menepis panasnya sengatan matahari yang kian meninggi di atas kepala.

“He…he…he…Kita so nda cuci muka deri kalu mo cuci muka, kita somo lebe bahaya. So itu kita kurang da sebasah tu kapala supaya tu otak mo lebeh vasung,” jawabku.

Batu Sumanti Wanua Ranowangko

Berdasarkan informasi warga, kami pun beranjak kira-kira empat puluh meter dari Sumur Pingkan, ke arah selatan. Di tempat itu kami menyaksikan secara langsung Batu Sumanti yang sudah sering didiskusikan di forum Mawale Movement.

Menurut cerita, lima batu yang berdiri kokoh itu merupakan salah satu tempat ritual tou Minahasa zaman dulu. Menhir yang jelas dalam pengetahuan orang Minahasa adalah pusat spiritual di masa lampau.

Kawan Ivan Kaunang pernah menceritakan jika situs itu berdiri tepat di halaman rumah keluarganya. Warga sekitar membenarkan hal itu.

Mereka juga menuturkan, bangunan beton yang kini menutupi Batu Sumanti itu merupakan “sentuhan” di masa Gubernur Worang.

“Ini batu kwa so lama. Deri kita pe nenek tua lei so ada ini batu. Mar yang biking ini tampa kwa, Gubernur Worang,” kata Om Kaunang.

Posisinya dahulu tidak seperti sekarang. Watu Sumanti ini berada di belakang rumah sebelum ditata.

“Dulu ini di blakang pa torang pe rumah kong akhirnya tu rumah yang sepindah ka blakang,“ terangnya, sembari menjelaskan kalau tanah itu memang milik keluarga Kaunang sejak dahulu kala dan diwariskan turun-temurun ke anak-cucu.

Makam Pejuang Permesta

Waktu teleh menunjukkan pukul 12.30 Wita. Tim Mawale Movement memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi dan menuju ke Roong (kampung) Lelema, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan.

Saat berada di ujung sebelah selatan wanua Senduk, Bodewyn meminta untuk istirahat sejenak. Ia juga bermaksud hendak memperlihatkan puluhan makam pejuang Permesta yang terletak di samping jalan raya Trans Sulawesi ini.

Di jalur tersebut ternyata pernah menjadi medan pertempuran sengit antara “tentara pusat” dengan tentara Permesta. Makam-makam yang diam membisu di depan mata kami adalah saksi peristiwa itu.“Ini kubur ada tiga puluhan. De pe cerita, waktu tanggal 14 Februari tahun 1960, tentara Permesta menghadang konvoi tentara pusat di sepanjang jalur ini. Dalam pertempuran itu, banyak tentara pusat yang meninggal. Namun di pihak Permesta, ada tigapuluan korban,” jelas Bodewyn dengan gaya bertuturnya yang kalem namun meyakinkan.

Mereka yang dimakamkan di tempat itu merupakan satu kesatuan dalam batalyon yang sama.

Dorang ini satu batalyon. Lantaran di lokasi sini tu paling banya da korban akang, tu korban di beberapa tempat lain dorang kumpul kong kubur di sini,” terang Bodewyn.

Batu Menhir Lelema

Perjalanan terus berlanjut ke arah kecamatan Tumpaan. Sebelum memasuki roong Lelema, kami kembali berhenti sejenak di lokasi resting area yang dibangun pemerintah kabupaten Minahasa Selatan.

Sembari melepas lelah, menikmati menu makan siang berupa dua bungkus kue pia yang sempat dibeli Fredy di wanua Woloan.

“Sungguh besar kasih Opo Empung, sehingga kita boleh menikmati pia deng aer mineral ini siang,” kata Frisky dengan wajah yang tampak senang. Sepertinya itu cukup untuk mengganjal lapar di siang hari.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 Wita, saat kami menginjakkan kaki di roong Lelema. Tepat di ujung sebelah utara kampung, terdapat batu menhir yang berdiri tegak di persawahan masyarakat.

Setelah mengamati secara cermat dari dekat dan mendiskusikan soal batu yang sering dibicarakan sebagai “batu bertumbuh” itu, kami memutuskan untuk mencari tua-tua kampung agar bisa mengorek informasi lebih banyak mengenai keberadaan situs ini.

“Menurut cerita orang tua, batu itu sebenarnya berasal dari daerah Tombariri. Salah seorang dotu di sana pernah mengadakan sayembara, sapa yang boleh mo dapa angka itu batu, dia boleh kaweng deng tu dotu pe putri. Dan yang berhasil mengangkat batu itu torang pe dotu,” ujar Opa Festus Rompis, yang kami temui sedang mengerjakan sesuatu di depan rumahnya.

Dikisahkannya, keberhasilan leluhur mereka dalam perjuangan cinta di Tombariri itu terdokumentasi dalam sebuah syair. Syair yang akrab dilagukan orang Lelema.

“Ada lagu yang dikenal masyarakat yaitu lagu ‘Burung Putih di Laut Biru’. Lagu yang menceritakan tentang pesan torang pe dotu pa burung putih supaya kase tau di Lelema bahwa dia so berhasil angka itu batu kong dapa putri,” terangnya, sembari menegaskan keyakinannya bahwa tidak benar cerita orang kalau batu itu bertumbuh.

Ia memastikan jika batu itu merupakan pusat ritus leluhur merek di masa lampau.

“Jadi, ini batu sebenarnya batu Tumotowa. Ini Lelema depe cerita, tiga kali pindah tampa. Waktu tumani pertama kali di sini. Setelah itu pindah di daerah kobong pece skarang, di daerah kampung skarang. Mar, karna sering dapa gangguan deri ketang (kepiting), para dotu memutuskan untuk pindah lagi di daerah tenga kampung yang skarang,” tutur Opa Festus.

Menurutnya, penanda berdirinya Lelema saat pindah ketiga kalinya itu hingga kini masih ada.

Depe Batu Tumotowa katiga, skarang masih ada. Itu batu baku sei deng dua waruga yang menurut cerita adalah waruga dotu yang meninggal waktu perang melawan Mangindanau,” ungkap Opa Festus.

Lelema, Perang Minahasa Bolmong dan Perompak Mangindanau

Opa Festus Rompis menjelaskan, keberadaan kampung mereka  tak lepas dari peristiwa di masa lalu. Nama kampung mereka menggambarkan hal itu.

Dijelaskan, kata lelema itu sebenarnya berasal dari bahasa Tombulu, palemaan.  Kata itu artinya “tempat makan pinang”.

Dikisahkannya, dahulu sejak masa perang dengan para perompak Mangindanau, hingga era perang Minahasa dengan Bolaang Mongondow bergelora, daerah tersebut merupakan tempat persinggahan para dotu untuk beristirahat sambil makan pinang.

Mereka yang singgah dan beristirahat itu, ada yang akhirnya menetap. Makanya, daerah Lelema dihuni oleh turunan para dotu dari Toudano, Tombulu, termasuk Tontemboan yang lebih dahulu berada di wilayah itu.

Mengapa para dotu sering bertarung melawan para Mangindanau di wilayah ini? Menurut Opa Festus, dahulu sungai yang melewati roong Lelema adalah jalur masuk para Mangindanau ke daerah pegunungan Minahasa. Makanya mereka menjadikan Lelema sebagai daerah untuk menghadang musuh yang mengancam.

Salah satu bukti adalah dengan ditanaminya beberapa wilayah di sekitar sungai dengan tanaman bambu berduri yang dikenal masyarakat dengan bulu tutunean. Tanaman itu sengaja ditanam untuk menghambat perahu para Mangindanau.

“Dulu bulu tutunean memang ja pake mo melindungi kampung,” tandasnya.

Batu Tumotowa Lelema

Berdasarkan petunjuk yang diperoleh dari Opa Festus, pencaharian waruga dan batu Tumotowa yang katanya berada di tengah roong Lelema kini pun dilakukan. Waruga yang berjumlah dua buah dengan Batu Tomotowa dimaksud ternyata mudah ditemukan, karena tepat berada di samping jalan raya Trans Sulawesi.

Cerita-cerita soal situs ini pun dapat direkam dari tuturan masyarakat sekitar.

“Dulu katu ada Nenek Sorongan yang ja urus tu Tumotowa itu. Dia kwa kata dulu sering ja dapa mimpi kong dapa suru mo jaga tu batu. Karna kalu nda mo jaga, torang di Lelema mo susah dapa berkat deng gampang mo dapa macam-macam kesusahan. Mar tu nenek kwa so mati dua taong lalu,” kata Om Sinyo Mira, salah seorang warga yang tinggal di samping waruga-waruga tersebut.

Sementara, dua waruga yang berdiri berdampingan itu merupakan leluhur mereka yang dahulu berjuang untuk mempertahankan tanah mereka dari gangguan para perompak Mangindanow.

Waruga Dotu Pertama Roong Lelema

Tak jauh dari Batu Tumotowa dan waruga tersebut, berdiri juga sebuah waruga yang diyakini masyarakat sebagai leluhur yang mendirikan kampung mereka.

Kalu tu dotu yang sebadiri ini kampung, de pe waruga ada di seblah rumah sini. Tu dotu Mapaliey ini yang menurut cerita dia yang angka tu batu menhir di ujung Lelema,” terangnya.

Dari info Om Mira, kami kemudian melihat secara langsung waruga dotu Mapaliey yang letaknya hampir berhadapan dengan rumah tokoh Sulawesi Utara, Max Rembang.

Menurut cerita warga, dotu Mapaliey adalah sosok yang sakti nan gagah berani, pemimpin kelompok tou Minahasa yang pertama kali tumani di daerah Lelema. Dia juga dotu yang kemudian mendirikan roong Tumpaan kini.

Menikmati Keindahan Sungai dan Air Terjun Timbukar

Tak terasa, mentari semakin menghampiri pembaringannya di ufuk barat. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri ziarah kultural kali ini dan kembali ke steleng, di Tomohon. Jalur terdekat yang kemudian dipilih untuk menjadi jalan pulang adalah jalur Tangkuney, Timbukar, Tincep, Sonder, Tomohon.

Jalur ini memang paling dekat, namun merupakan jalur yang paling menantang untuk dilalui. Sebab, selain kondisi jalan yang sangat memprihatinkan, jalur ini juga terkenal dengan tanjakan yang berkelok-kelok dan himpitan dinding batu dengan jurang yang terjal.

Walaupun demikian, di jalur ini kami bisa menikmati keindahan air terjun Timbukar dan Tincep yang memang luar biasa namun belum dikelola dengan baik untuk dijadikan destinasi wisata.

Perjalanan pulang kian terasa ringan. Kami sedikit bergegas. Bukan karena hari hampir gelap, tapi nikmatnya kopi dan kukis apang sudah menanti di rumah Fredy Wowor, yang ada di Sonder.

Situs-situs yang dijumpai dalam ziarah kali ini barangkali hanyalah benda mati berwujud batu. Namun, seperti kata Fredy, itu adalah penanda tentang banyak hal mengenai tou Minahasa. Batu-batu dengan bentuk dan goresannya telah memberi gambaran bahwa jauh sebelum sekarang, tou Minahasa telah memiliki kebudayaan yang luar biasa.

Dari penanda-penanda inilah bisa ditemukan kisah-kisah heroik, keperkasaan, kecerdikan, serta kereligiusan tou Minahasa yang tak pernah dicatat dalam sejarah Indonesia dan kini mulai hilang dari memori si pemilik.

Salah satu nama yang sering didengar dalam perjalanan kali ini adalah Gubernur H. V. Worang. Tou Minahasa yang satu ini barangkali adalah sosok yang kontroversial dan sebagai manusia memiliki banyak kekurangan. Namun, apa pun yang mau dikatakan masyarakat saat ini, tak bisa dibantah bahwa dia adalah salah satu orang Minahasa yang berjasa dalam upaya untuk menemukan dan menjaga situs-situs budaya tou Minahasa.

Ini tentu berbeda dengan kepala daerah Sulawesi Utara lainnya yang terkesan lebih menyukai membangun situs-situs baru ketimbang menemukan, menjaga dan mengangkat situs-situs budaya yang pernah ada.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *