Connect with us

OPINI

Sang Manusia, Sang Saksi, Sang Nabi: Seorang Penyair di Haribaan-Nya

Published

on

22 Juli 2026


“Mungkinkah Tuhan sedang mengizinkan zaman ini mengajukan sebuah pertanyaan yang sudah terlalu lama kita hindari: apakah keindahan bahasa benar-benar merupakan inti dari puisi? Saya tidak sebegitu yakin.”


Penulis: Greenhill G. Weol (Penyair, Budayawan Minahasa)


 

“Kemuliaan-Mu menjelma fajar di ufuk langit,

Bintang-bintang menunduk dalam nyanyian yang sunyi.

Semesta mengangkat mazmur ke hadapan takhta-Mu,

Dan jiwaku hanyalah embun yang memantulkan cahaya-Mu.

Gunung-gunung berdiri bagai imam di hadapan-Mu,

Laut menghamparkan birunya sebagai permadani kasih.

Angin menggendong harum tanah yang Kau berkati,

Dan segala musim bersaksi: Engkaulah awal dan akhir.

Bila lidahku terdiam, batu pun akan bernyanyi;

Bila mataku terpejam, fajar tetap menyebut nama-Mu.

Sebab setiap helaan napas adalah mazmur yang tak selesai,

Dan seluruh ciptaan hidup hanya untuk memuliakan-Mu.”

Puisi ini indah, bukan? Jika kita menemukan puisi ini di halaman pembuka sebuah buku renungan atau mendengarnya dibacakan dalam sebuah lomba cipta dan baca puisi, maka kita akan mengangguk mengaminkan. Diksinya lembut. Metaforanya tidak berlebihan. Stanza-stanza ini menghadirkan langit, bintang, mazmur, dan kemuliaan Allah dengan cara yang terasa akrab bagi telinga orang beriman. Tidak sedikit pembaca yang mungkin akan berkata bahwa puisi itu berhasil mengangkat hati mereka lebih dekat kepada Tuhan.

Namun izinkan saya menyingkap sebuah rahasia: Puisi ini ditulis oleh kecerdasan buatan. Oleh AI. Oleh mesin.

Apa yang terjadi? Bagaimana satu informasi sederhana dapat mengubah cara kita membaca. Tidak ada satu kata pun yang berubah. Tidak ada metafora yang dihapus. Tidak ada irama yang diperbaiki. Namun tiba-tiba puisi itu terasa berbeda. Kita mulai bertanya-tanya, apakah keindahan itu sungguh lahir dari kedalaman, atau hanya hasil dari kemampuan sebuah mesin mengenali pola-pola bahasa yang selama berabad-abad dipakai manusia untuk berbicara tentang Allah.

Pertanyaan ini, menurut saya, jauh lebih penting daripada perdebatan apakah kecerdasan buatan akan menggantikan penyair. Sebab sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah masa depan sastra, melainkan pemahaman kita sendiri mengenai hakikat puisi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa puisi hanyalah “seni merangkai kata-kata indah”. Kita memuji penyair karena keahliannya memilih diksinya, metaforanya, atau kemampuannya menghadirkan irama yang memesona. Tanpa disadari, kita selama ini telah menempatkan bahasa seolah-olah sebagai pusat sebuah puisi. Lantas datanglah sebuah mesin yang mampu melakukan semua itu dalam hitungan detik.

Mungkinkah Tuhan sedang mengizinkan zaman ini mengajukan sebuah pertanyaan yang sudah terlalu lama kita hindari: apakah keindahan bahasa benar-benar merupakan inti dari puisi? Saya tidak sebegitu yakin.

Saya justru mulai percaya bahwa kecerdasan buatan sedang memurnikan cara kita memandang puisi. Ia memaksa kita menanggalkan kulitnya agar dapat menemukan dagingnya. Ia menunjukkan bahwa kata-kata, betapapun indahnya, hanyalah alat. Kata-kata bukan tujuan. Mereka adalah jendela, bukan pemandangan; perahu, bukan lautan; bejana, bukan air kehidupan yang dikandungnya.

Kitab Suci mengajarkan bahwa pada mulanya bukan tata bahasa yang menciptakan dunia, melainkan Firman. Dan Firman itu bukan sekadar rangkaian bunyi. Firman adalah Pribadi. Kata memperoleh kuasa bukan karena susunan hurufnya, melainkan karena siapa yang mengucapkannya. Allah berfirman, dan “jadilah terang”. Para nabi berbicara, dan bangsa-bangsa gemetar. Kristus berkata kepada Lazarus, “Keluarlah!”, dan seorang mati berjalan keluar dari kuburnya. Kata-kata memperoleh bobot karena kuasa kehidupan yang berdiri di belakangnya. Barangkali demikian pula dengan puisi.

Sebuah puisi tidak pernah lebih besar daripada kehidupan yang melahirkannya. Kata-kata dapat dipelajari, bahkan ditiru. Metafora dapat ditemukan di ribuan buku. Irama dapat dianalisis oleh algoritma. Namun tidak ada mesin apapun di kolong langit ini yang dapat mengalami pertobatan. Tidak ada algoritma yang dapat berlutut pada tengah malam karena nuraninya diguncang haru oleh kasih karunia. Tidak ada LLM -Large Language Model yang dapat berdiri dalam tangis di samping liang kubur seseorang yang dikasihinya, lalu pulang membawa dingin kesunyian yang kelak berubah ujudnya menjadi puisi.

Sebab sebelum menjadi penyair, seseorang harus terlebih dahulu menjadi manusia. Di sinilah panggilan penyair bermula. Ia bukan pertama-tama seorang “pengrajin bahasa”, melainkan seorang peziarah. Ia berjalan melalui dunia ini dengan mata yang terbuka dan hati yang bersedia dilukai. Ia menerima hidup sebagaimana adanya: dengan sukacita yang sederhana, dengan kehilangan yang tak terperikan, dengan doa-doa yang kadang dijawab dan kadang dibiarkan menggantung dalam keheningan. Semua pengalaman itu perlahan-lahan membentuk batinnya. Ketika akhirnya ia menulis, ia tidak sedang menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Ia hanya sedang melahirkan apa yang telah lama tumbuh dalam rahim jiwanya.

Karena itu, puisi yang sejati selalu membawa ruh kehidupan. Kita sering tidak dapat menjelaskan mengapa sebuah puisi terasa berjiwa sementara puisi lain, meskipun lebih indah secara teknis, terasa kosong. Mungkin jawabannya sederhana. Yang satu lahir dari seseorang yang pernah berjalan bersama penderitaan, sedangkan yang lain hanya lahir dari kecakapan menyusun keindahan kata dan runut kalimat. Dalam puisi, kita sesungguhnya tidak hanya membaca kata-kata. Kita sedang berjumpa dengan seorang manusia.

Namun manusia yang sejati tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Semakin dewasa seseorang, semakin ia belajar memperhatikan dunia di sekelilingnya. Ia mulai melihat hal-hal yang luput dari perhatian orang lain. Ia menyadari bahwa Tuhan lebih sering berbicara melalui hal-hal yang mundane -kecil dan sederhana- daripada melalui peristiwa-peristiwa yang gemuruh. Ia melihat seorang ibu yang merindu anaknya pulang, sebuah kursi gereja reot yang perlahan kehilangan jemaatnya, sebuah bahasa daerah yang tinggal di bibir para lansia, sebatang pohon yang ditebang tanpa seorang pun merasa kehilangan. Dunia dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa yang tampaknya begitu sepele, tetapi sesungguhnya inilah yang penting untuk diingat.

Di sinilah penyair menjadi seorang saksi. Kesaksian bukanlah terutama tentang kemampuan berbicara. Kesaksian adalah kesediaan untuk membuka mata dan melihat. Seorang saksi berdiri di hadapan kenyataan dan menolak membiarkannya tenggelam ke dalam lupa. Ia menyimpan dunia di dalam ingatannya, lalu mengembalikannya kepada sesama manusia dalam bentuk puisi. Itulah sebabnya puisi yang besar hampir selalu mengandung ingatan. Ia menjadi rumah bagi hal-hal yang tidak sempat dicatat oleh buku-buku megah sejarah.

Tetapi tentu seorang saksi tidak berhenti pada ingatan. Pada suatu saat ia akan berhadapan dengan pertanyaan yang tidak dapat dihindarinya: apa arti semua yang telah kulihat ini? Pertanyaan itulah yang perlahan mengubah saksi menjadi nabi. Dalam pengertian Alkitab, seorang nabi bukanlah seorang peramal masa depan. Nabi adalah seseorang yang telah begitu lama memandang dunia di hadapan Allah sehingga akhirnya ia pun mampu melihat dunia sebagaimana Allah melihatnya. Ia belajar membenci apa yang dibenci Allah dan mengasihi apa yang dikasihi-Nya. Ketika orang lain menyebut keserakahan sebagai kemajuan, nabi melihat penyembahan berhala di baliknya. Ketika orang lain menganggap kebisingan sebagai kehidupan, nabi mendengar jeritan jiwa-jiwa yang kesepian. Ketika orang lain sibuk menghitung keping-keping keuntungan, seorang nabi bertanya apakah manusia masih menyisa belas kasihan.

Karena itu, seorang nabi hampir selalu tampak sebagai seseorang yang asing pada zamannya. Sebab ia tidak berbicara untuk menyenangkan telinga, melainkan untuk membangunkan jiwa. Kata-katanya kadang tajam bak pedang, tetapi dari luka itu lahir dari kasih. Sebagaimana pisau seorang tabib melukai agar tubuh dapat disembuhkan, demikian pula perkataan seorang nabi melukai agar manusia dapat kembali melihat terang.

Saya percaya bahwa pada titik inilah puisi menemukan panggilannya yang paling luhur. Puisi bukan sekadar usaha membuat pembaca berkata, “Betapa indahnya kalimat ini.” Puisi adalah usaha membuat pembaca berhenti sejenak, mengangkat wajahnya, lalu berkata, “Aku tidak pernah melihat dunia seperti ini sebelumnya.” Ketika itu terjadi, penyair telah melakukan pekerjaan yang sejak dahulu dikerjakan para nabi. Ia tidak menciptakan dunia yang baru. Ia hanya mengkasatmatakan dunia yang selama ini tertutup oleh kebutaan, kesia-siaan, dan kelalaian kita.

Lalu dimanakah posisi kecerdasan buatan di tengah semuanya ini? Saya tidak melihatnya sebagai musuh. Saya justru melihatnya sebagai cermin. Ia memperlihatkan kepada kita bahwa keindahan bahasa dapat diproduksi. Metafora dapat dihasilkan. Gaya dapat ditiru. Tetapi justru karena itu, kita dipaksa mencari sesuatu yang lebih dalam daripada keindahan. Mesin raksasa AI dapat berbicara tentang kasih, tetapi ia tidak pernah mengasihi. Ia dapat menulis tentang pengampunan, tetapi ia tidak pernah meminta ampun. Ia dapat menyusun doa, tetapi ia tidak pernah menunggu dalam keheningan untuk mendengar jawaban Tuhan. Ia dapat menulis tentang salib, tetapi ia tidak pernah memikul salibnya sendiri. Ia dapat menggubah puisi tentang kemuliaan Allah, tetapi ia tidak pernah tersungkur ketika kemuliaan melingkupi kehidupan.

Semua itu bukan kekurangan kecerdasan buatan. Memang bukan itu hakikatnya. Ia diciptakan untuk mengolah bahasa, bukan untuk menjalani kehidupan. Kita, manusia, dipanggil untuk sesuatu yang berbeda. Manusia dipanggil untuk hidup di hadapan Allah.

Mungkin di situlah sebuah puisi mesti bermula. Bukan di meja tulis. Bukan di perpustakaan. Bahkan bukan di dalam permainan bahasa. Puisi bermula ketika seorang manusia berdiri di hadapan Penciptanya dengan mata yang terbuka terhadap dunia yang dipercayakan kepadanya. Sebelum penyair belajar mendengar tepuk tangan manusia, ia terlebih dahulu belajar mendengar bisikan Allah. Sebab hanya mereka yang hidup dalam keheningan di hadapan-Nya akan mengenali suara yang layak diucapkan kepada dunia. Ia menerima dunia itu sebagai anugerah, mengingatnya sebagai seorang saksi, lalu mengembalikannya kepada Allah dalam bentuk syukur, ratapan, pengakuan, dan pengharapan. Bukankah sebagian besar Mazmur lahir dengan cara seperti itu? Daud tidak sedang mencari metafora yang indah. Ia sedang membawa seluruh hidupnya ke hadapan Tuhan.

Barangkali itulah sebabnya puisi selalu memiliki sesuatu yang liturgis. Puisi yang sejati bukan sekadar karya sastra. Ia adalah persembahan. Ia mengangkat dunia yang rapuh ini ke hadapan Allah, sebagaimana imam mengangkat roti dan anggur di atas mezbah. Penyair menerima dunia, menguduskannya melalui perhatian yang penuh kasih, lalu mengembalikannya kepada Sang Pencipta dengan kata-kata yang jujur.

Setiap persembahan selalu mengandung dua gerak. Manusia menerima, lalu mengembalikan. Demikian pula penyair. Ia menerima dunia sebagai anugerah. Ia menerima hujan, ratapan, kegagalan, kelahiran, kematian, tawa anak-anak, dan doa-doa yang tak kunjung dijawab. Semuanya disimpan di dalam hati sebagaimana Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya. Lalu, ketika waktunya tiba, ia mengembalikan semuanya kepada Allah dalam bentuk puisi. Karena itu puisi bukanlah pelarian dari kenyataan. Ia adalah pengudusan atas kenyataan.

Jika demikian, maka masa depan puisi bukanlah perlombaan mengguratkan untaian diksi-diksi indah, sebab mesin-mesin modern telah melampaui kita dalam hal ini. Pun bukan tentang bagaimana melawan kecerdasan buatan. Perlawanan itu telah selesai sebelum dimulai. Mesin akan selalu lebih cepat, lebih produktif, dan sangat mungkin lebih indah. Namun yang tidak akan pernah dapat dilakukan mesin-mesin ini adalah menjadi manusia yang hidup di hadapan Allah.

Mungkin inilah panggilan penyair pada zaman ini: Jangan berlomba-lomba menulis serupa mesin.

Mari kita hidup sedemikian dekat dengan kasih-Nya sehingga ketika kata-kata akhirnya lahir dari pena kita, orang-orang bukan hanya menemukan keindahan di dalamnya, tetapi juga mengecap aroma kehidupan. Sebab penyair yang sejati bukanlah seorang pengrajin kata-kata, bukan hanya seorang pemburu metafora. Ia adalah seorang manusia yang belajar berjalan bersama Allah. Dari perjalanan itu lahirlah kesaksian. Dari kesaksian itu lahirlah nubuat. Dan dari nubuat itu, dunia diingatkan kembali bahwa kemuliaan Tuhan masih memenuhi bumi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *