Connect with us

ESTORIE

Bisikan Maut Mite, Teror Tokei-tai dan Ladang Pembantaian Jepang di Sulut

Published

on

12 Januari 2026


“Mereka dipaksa bekerja tanpa makan yang cukup dan banyak yang meninggal di lokasi kerja karena kehabisan tenaga atau sakit. Tapi tak sedikit juga yang sengaja ditembak, ditusuk bayonet atau dipancung tentara Jepang di goa-goa yang mereka gali.”


Penulis: Rikson Karundeng


SEJARAH kelam telah digoreskan Jepang semanjak bercokol di jazirah utara Selebes. Penyiksaan, pemerkosaan, perampasan, pemaksaan dan berbagai bentuk kekejaman, diperagakan para serdadu negeri Matahari Terbit di depan mata para penduduk. Goa-goa Jepang di Manado dan sekitarnya serta landasan pesawat Mapanget adalah sebagian saksi bisu jerit derita dan tetesan darah rakyat, buah kerja “giliran”.

Kengerian yang diciptakan tentara Dai Nippon itu masih membekas di benak Nelly Manopo. Seorang saksi mata yang menyaksikan bagaimana anggota keluarganya direngut satu-persatu.

“Waktu itu saya masih sepuluh tahun. Tapi saya ingat betul bagimana kami dikumpulkan di sebuah tempat di Suluan (desa di kecamatan Tombulu, Minahasa). Hampir setiap malam ada masyarakat di tempat kami yang diambil tentara Jepang dan tak pernah kembali. Kami sangat takut ketika mendengar suara ‘potong bore’ dari mulut tentara Jepang,” tutur Manopo, Sabtu, 31 Agustus 2017.

Masih segar dalam ingatannya, bagaimana tentara Jepang menjemput sejumlah laki-laki, termasuk keluarganya, setiap tengah malam sambil membawa cangkul.

“Belakangan saya baru tahu, mereka disuruh menggali lubang sendiri kemudian dipancung atau ditembak tentara Jepang secara bergiliran di daerah Kumelembuai, Tomohon,” kata Manopo.

1942, Jepang menyerbu Indonesia melalui Tarakan dan Minahasa. F. S. Watuseke menulis dalam bukunya Sedjarah Minahasa (1968), di Minahasa Jepang mendarat di Manado dan Kema. Sementara, tentara payung mendarat di lapangan terbang Kalawiran.

Lebih rinci dijelaskan L. de Jong di Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog Volume 1 (1969). Menurutnya, invasi Jepang ke Hindia Belanda dimulai dengan pendaratan serempak di Minahasa dan Tarakan, Minggu, 11 Januari 1942, oleh brigade Sakagutsi yang berbasis di Davao, Filipina. Pendaratan itu didahului dengan menyerbu basis Angkatan Udara Belanda di Kalawiran dan pelabuhan amphibi di Tasuka, Kakas.

H.B. Palar menulis di buku Wajah Baru Minahasa (2009), peristiwa itu diabadikan dalam lirik sebuah lagu yang dinyanyikan anak-anak sekolah pada masa Jepang:

“Ada tujuh kapal berangkat dari Tanah Nippon
Berangkat dari Tanah Nippon menuju ke Minahasa;
Oleh karena kekuatan kapal-kapalnya
Kapalanya Blanda hancur di Tasuka, Nippon maju terus!”

Markas Tokei-tai di Manado (belakang Pengadilan Negeri Manado yang kini jadi Kantor Bawaslu Sulut).

Markas Tokei-tai di Manado (belakang Pengadilan Negeri Manado yang kini jadi Kantor Bawaslu Sulut).

Korban Mite serta Kekejaman Kampei-tai dan Tokei-tai

Pemerintahan militer Jepang di bawah Angkatan Laut atau Kaigun Jepang terkenal sangat lalim. Kampei-tai (Polisi Militer Angkatan Darat) dan Tokei-tai (Polisi Militer Angkatan Laut) adalah algojo-algojo yang sangat ditakuti. Korban mereka pada umumnya orang-orang yang didakwa oleh mite (kaki tangan, mata-mata Jepang yang merupakan orang setempat). Pada masa itu, di mana-mana terpampang pamflet-pamflet “Karena mulut badan binasa”.

Rakyat pada umumnya dihantui rasa takut mendalam. Proses eksekusi seseorang amat sadis. Setelah didera habis-habisan, sebelum kepalanya dipancung, korban disuruh gali liang lahatnya sendiri. Dua kata maut dari Kampei-tai dan Tokei-tai: “potong bore”.

Bisikan mata-mata Jepang merupakan bencana bagi masyarakat. Setiap orang bisa menjadi tertuduh memihak Belanda dan mendapat hukuman tanpa pengadilan. Info mata-mata Jepang benar-benar bisa berdampak pada penyiksaan hingga kehilangan nyawa.

Di zaman itu, manusia tak lebih dari sekadar binatang di mata tentara Jepang. Mereka dianggap beban yang hanya menghabiskan ransum.

“Perempuan itu diambil sesuka hati dan diperkosa seperti binatang. Tak pandang gadis ataupun sudah bersuami. Bahkan ada tante, saudara saya yang diperkosa di hadapan suaminya. Mereka benar-benar kejam,” kata Nelly Manopo.

Gunung Wenang, Desember1948. (foto: Tropen Museum)

Gunung Wenang, Desember1948. (foto: Tropen Museum)

Ladang Pembantaian dan Kuburan Tanpa Nama

Informasi sejumlah sumber menyebutkan, Minggu, 11 Januari 1942 tengah hari, tantara Jepang sudah menembus wilayah pegunungan Minahasa. Namun, data lain menulis jika Senin, 12 Januari 1942, sekira pukul 7 pagi, kendaraan-kendaraan lapis baja Jepang baru memasuki Tomohon. Ketika itu penjarahan telah terjadi di toko-toko yang ditinggalkan pemiliknya. H.A. Lolong menulis pada bukunya Sejarah Pendudukan Jepang di Minahasa 1942-1945 (1989), mereka yang berhasil dipergoki, langsung ditusuk dengan bayonet hingga tewas. Di pasar, Paslaten, ada seorang gadis ditangkap dan diperkosa.

Sejumlah warga yang ditemui di jalan, langsung ditembak. Seorang milisi Belanda ditembak di depan gereja Katolik, di Kolongan. Ada juga sopir yang memacu kendaraannya dari arah Tondano, dicegat dan ditembak di simpang tiga Matani, kompleks Tugu Patung Tololiu sekarang.

Dalam Kampleven Onder Tropenzon, catatan yang mendokumentasikan pengalaman suster-suster tarekat Y.M.Y. Tomohon, mengisahkan tentang sebuah peristiwa mengerikan. Suatu ketika, sejumlah suster sengaja dibawa oleh tentara Jepang dari biara Walterus di Kolongan ke tempat eksekusi tiga orang pribumi Tomohon. Nani Pangemanan, seorang pengusaha bus dari Talete, serta Pontoh dan Sores Randang. Mereka digiring ke sekitar perumahan dosen UKIT sekarang. Di sana mereka dieksekusi.

Penangkapan demi penangkapan terhadap warga Belanda maupun orang-orang Minahasa mulai terjadi sejak 11 Januari 1942. Orang-orang Belanda, baik militer mapuan sipil ditangkap dan digiring ke penjara. Laki-laki kemudian ditahan di kamp tawanan Teling, Manado. Perempuan dan anak-anak ditahan di Sekolah Louwerier, Tomohon.

Tak terhitung jumlahnya mereka yang mati di Teling. Pihak Sekutu memastikan 50 persen tawanan meninggal dunia di kamp tawanan terburuk seantero dunia pada masa itu. Ada yang dipukul sampai mati, ada yang dipancung kepalanya.

Hub Geurts manulis dalam bukunya Dagboek uit het Jappenkampp Tomohon 1942-1945 (2003), paling kurang ada 65 tawanan yang mati di Teling. 37 orang meninggal antara Januari-Juni 1945 dan dua orang terakhir dibunuh 19 Juni 1945. Ada yang meninggal setelah disiksa, ada yang dijemput maut melalui mata shin gunto (pedang yang digunakan Tokei-tai atau Kaigun Tokkeitai untuk eksekusi pancung pada masa Perang Dunia II).

Sementara, Sekolah Louwerier di Tomohon jadi saksi bisu bagaimana kekejaman tentara jepang yang melakukan penyiksaan hingga pemerkosaan terhadap tawanan perempuan tanpa pandang usia.

Tentara KNIL asal Minahasa yang tetap melakukan perlawanan, satu-persatu dipaksa menyerah dengan berbagai bentuk ancaman. Setelah menyerahkan diri, banyak dari mereka langsung dieksekusi.

Di tahun 1944, banyak yang ditangkap dan ditawan di markas Tokei-tai di Manado (belakang Pengadilan Negeri Manado yang kini jadi Kantor Bawaslu Sulut). Kalau Lokasi ini dapat berbicara, ia bisa menceritakan bagaimana derita orang-orang yang pernah ditawan di situ.

Masih banyak masyarakat di bumi Nyiur Melambai yang menyimpan dalam memori tentang kengerian pembantaian-pembantaian massal, termasuk lokasi-lokasi pembantaian Jepang terhadap penduduk. Medio Agustus 2014, Hendrik Pangemanan (82), mengisahkan di daerah Tomohon ada beberapa tempat yang diketahui menjadi ladang pembantaian.

“Salah satunya di kompleks Auditorium Bukit Inspirasi, di sekitar kantor PLN Tomohon. Kantor Sinode GMIM sekarang juga lokasi pembantaian. Di situ dulu banyak masyarakat yang dibantai karena dituduh sebagai mata-mata Belanda dan Sekutu,” terang Pangemanan.

Kalau di Manado, ia menyebut daerah bekas Rumah Sakit Gunung Wenang (kini berdiri Hotel Sintesa Peninsula) merupakan tempat yang paling terkenal menjadi lokasi pembantaian Jepang.

H.A. Lolong menulis tentang penangkapan dan pembunuhan orang-orang Tionghoa yang merupakan saingan bisnis paling berat dari pengusaha-pengusaha Jepang di Manado sebelum peristiwa 11 Januari 1942.

Paling terkenal adalah penangkapan pemilik firma Lie Boen Yat, orang terkaya di Manado. Lie Ceng Lok, sang pemilik firma, dijemput di perkebunan Kakaskasen, Tomohon bersama Lie Goan Oan, Lie Tek Yin dan Tan Kim Kap. Mereka berempat kemudian dibawa ke lokasi bukit Gunung Wenang, di belakang Bank Dagang Negara Manado. Di situ kemudian mereka berempat dihukum mati dengan cara dipancung kepala.

“Saya tahu lokasi Gunung Wenang itu, karena ada beberapa orang Tomohon yang diciduk dan dibantai di situ. Mereka tokoh masyarakat yang dituduh mata-mata Belanda,” ungkap Hendrik Pangemanan.

Deretan peristiwa pembantaian yang dilakukan tantara Jepang di berbagai tempat di Sulawesi Utara, masih tetap diingat sejumlah warga. Seperti yang dikisahkan Willem Manoi (81 tahun). Pria asal kepulauan Sangihe ini menceritakan bagaimana Jepang membantai Raja Sangihe hingga para zending ketika mereka memasuki Tahuna tahun 1942.

“Banyak tokoh masyarakat, termasuk Raja Sangihe, Raja Tagulandang, Raja Manganitu, Raja Talaud yang dibunuh di Bungalawang oleh Jepang. Seingat saya ada puluhan orang yang dibunuh ketika itu, di antaranya utusan injil atau zending. Mereka dituduh kaki tangan Belanda dan ditaruh di satu lubang. Sebelumnya mereka dibawa ke kantor Kempei-tai,” kata Manoi, Agustus 2014.

Goa Jepang di Tonsea Lama, Minahasa.

Goa Jepang di Tonsea Lama, Minahasa.

Darah dan Nyawa Terengut Saat Giliran

Di awal tahun 1942, 3.000 tentara Jepang di bawah Satuan Pendaratan Sasebo pimpinan Kapten Kunizo Mori dan Satuan Linud I Yokosuka dengan Komandan Toyoaki Horauchi, melakukan pendaratan di Teluk Manado dan Teluk Kema, serta melakukan terjun payung ke Langowan di tepi Danau Tondano. Sekitar 1.500 tentara Belanda berhasil dikalahkan beberapa waktu kemudian.

Sejarawan Ivan Kaunang, menjelaskan saat mengusai Sulawesi Utara, Jepang membangun goa-goa. Sarana militer itu seperti yang masih bisa disaksikan di Manado, Tonsea Lama, Kema, Tomohon dan Kawangkoan hari ini.

“Tempat seperti itu adalah salah satu bentuk pertahanan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942-1945. Mereka juga membangun beberapa pertahanan udara, seperti membangun lapangan udara Mapanget dan lapangan udara di Tawaang Minahasa Selatan. Itu dikerjakan degan sistem romusha atau kerja paksa,” ujar Kaunang.

Doktor kajian budaya ini juga mengungkapan, tak sedikit nyawa yang melayang saat fasilitas-fasilitas itu dibangun. “Mereka dipaksa bekerja tanpa makan yang cukup dan banyak yang meninggal di lokasi kerja karena kehabisan tenaga atau sakit. Tapi tak sedikit juga yang sengaja ditembak, ditusuk bayonet atau dipancung tentara Jepang di goa-goa yang mereka gali,” jelasnya.

Hendri Karundeng (85), medio tahun 2000, menceritakan jika dia merupakan salah satu orang Minahasa yang pernah merasakan pahitnya “giliran” di zaman Jepang. Saat bandara Mapanget dibangun, semua laki-laki berusia dewasa didata dan wajib kerja bergiliran. Setiap minggu ada rombongan dari beberapa kampung diangkut untuk mengerjakan berbagai proyek Jepang, terutama bandara Mapanget dengan peralatan seadanya.

“Kami sempat merasakan kerja paksa saat perluasan lapangan udara di Kalawiran. Kemudian pembuatan lapangan udara Mapanget dan Tawaang. Tapi di Tawaang tidak sampai selesai, tantara Sekutu sudah masuk ke Sulawesi Utara,” kata Kaundeng.

Kondisi terparah dialaminya saat harus kerja paksa di Mapanget. Bekal untuk dimakan harus dibawa masing-masing. Mandi dan buang hajat di tempat yang kekurangan air dan tanpa WC, di tengah himpitan ribuan orang, bukan perkara gampang. Saat tidur pun mereka harus bisa bertahan dari serangan nyamuk malaria yang bersarang di rawa-rawa Mapanget, kawasan tempat mereka bekerja.

Setiap hari Karundeng harus menyaksikan orang-orang, kenalan dan saudaranya, menderita akibat sakit parah hingga meninggal dunia.

“Hal yang paling saya ingat, kondisi di belakang pondok-pondok tempat kami tinggal. Kotoran manusia di mana-mana. Banyak yang meninggal sakit, tapi ada juga yang meninggal saat kerja. Ya, saya salah satu yang masih diperkenankan Tuhan untuk melewati masa itu,” kenang Karundeng.

Juli 2010, tua-tua masyarakat Minahasa, Pendeta W.A.Roeroe, juga menceritakan bagaimana ratusan bahkan mungkin ribuan mayat laki-laki Minahasa menjadi pondasi bandara udara Sam Ratulangi kini.

“Di zaman Perang Dunia II, ketika Jepang menduduki Minahasa di tahun 1942-1945, mereka membangun lapangan terbang di sekitar Patokaan. Bandara Samrat sekarang. Kondisi saat itu sangat sulit dibayangkan,” ujar Roeroe.

Pada awal pembangunan, dikerahkanlah banyak laki-laki di tanah Minahasa. Mereka diangkut secara bergiliran dengan truk-truk Toyota. “Kita mengenal kerja paksa itu dengan ‘giliran’. Masing-masing membawa bekal sendiri, padahal keluarganya ditinggalkan dengan kekurangan makanan,” kata guru besar UKIT yang dikenal sebagai budayawan Minahasa.

Selama satu sampai dua minggu, para laki-laki dipaksa bekerja di Mapanget untuk mengangkut pasir, tanah dan menimbun dasar utama bagi lapangan terbang. “Saat bekerja paksa, mereka juga disuruh menyayi ‘Sungguh senang, amat senang, kerja di Mapanget sungguh senang’. Padahal mereka sudah kekurusan, dihinggapi berbagai penyakit, terutama malaria tropika,” jelas Roeroe.

Kawasan pembangunan bandara Mapanget memang daerah rawa kemudian ditimbun, makanya sarang nyamuk malaria. “Di daerah itu banyak laki-laki Minahasa meninggal karena kerja paksa. Kalaupun ia masih pulang kampung, pasti ia pucat-pucat kuning karena malaria itu,” ungkap Roeroe.

Tak hanya di lokasi pembangunan bandara, sejumlah proyek perang Jepang di Minahasa juga merengut banyak korban jiwa. H.A. Lolong menulis, di proyek pembangkit listrik Tonsea Lama, manusia tidak ada harganya. Mereka yang terkena musibah tidak akan dicari, bahkan tidak pernah dicari.

Hal yang sama terjadi pada proyek penggalian terowongan dan goa-goa untuk menyimpan berbagai perbekalan dan gudang peluru Jepang. Tak sedikit manusia yang terkubur di sana. Di goa-goa tempat penyimpanan harta rampasan Jepang, banyak tengkorak manusia berserakan.

“Menurut kesaksian, mereka sengaja dibunuh usai mengerjakan tugas demi merahasiakan tempat-tempat dan isinya,” tulis Lolong.

Persekolahan Frater di Matani, Tomohon, sempat dijadikan Sekolah Rakyat I berbahasa Jepang atau Dai ichi.

Persekolahan Frater di Matani, Tomohon, sempat dijadikan Sekolah Rakyat I berbahasa Jepang atau Dai ichi.

Yang Tersisa dari Masa Pendudukan Jepang

Sejak Jepang menjatuhkan bom pertama kali di Januari 1942, masyarakat mulai memilih untuk menyingkir ke hutan-hutan. Mereka yang bertahan harus menghadapi kenyataan pahit. Sakit-sakitan, karena tidak ada obat. Beri-beri karena kekurangan makanan, kudisan dan bertuma karena kekurangan air mandi dan sabun. Pakaian hampir tidak ada lagi.

Kesaksian orang-orang tua yang pernah mengecap masa itu, sebagian besar rakyat rata-rata hanya mempunyai sepasang baju. Bahkan ada yang hanya mengenakan baju dari karung goni.

Di masa Jepang, yang tampak adalah kehancuran di sana-sini, terutama Manado. Akibat pemboman, Manado telah berubah menjadi puing-puing, di mana bersarang hama binatang dan penyakit. Di halaman-halaman rumah telah burtumbuh rumput macan setinggi manusia.

Di atas segala derita fisik itu, paling menyesakkan adalah penderitaan batin karena senantiasa diintai mite. Kampung, desa dan negeri telah berubah menjadi semak, banyak rumah telah ambruk karena tidak terawat.

Semua hasil pertanian dan ternak rakyat didata oleh petugas-petugas pribumi yang pada umumnya lebih takut kepada mite-mite Jepang daripada sayang kepada saudara-saudara sebangsanya. Sandang dan pangan pun terus berkurang dari tahun ke tahun.

Lolong juga menulis, ribuan orang meninggal dalam kurun waktu selama pendudukan Jepang yang hanya berusia tiga setengah tahun. Dari ratusan ribu penduduk yang meninggal dunia ini, di antaranya ada yang menjadi korban pemboman Sekutu, korban penyakit, korban kelaparan dan lain sebagainya. Di salah satu desa di Minahasa yang penduduknya hanya 600 jiwa lebih, setelah perang usai, tinggal hanya berpenduduk 200 jiwa lebih. Di banyak tempat lain di Minahasa, keadaan yang sama dapat disaksikan.

“Pada kala itu, bilamana kita berkunjung dari desa ke desa, kita dapat saksikan, rakyat terbanyak dalam keadaan pucat dan kurus, tetapi ada juga yang terlampau gemuk namun pucat dan buncit, disebabkan karena menderita busung lapar dan beri-beri,” tulis Lolong.

Ratusan anak balita dan bermata cipit, dapat dijumpai di mana-mana. Mereka itu anak-anak berdarah campuran, Jepang-Indonesia dan telah ditinggalkan ayah mereka, telah kembali ke Jepang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *