CULTURAL
Jejak Pertama Menjaga Tradisi dalam Kuliah Kerja Nyata

Rabu 29 Juli 2026
Penulis: Hendro Karundeng
Hari itu Rabu, 29 Juli 2026 dimulai dengan dering alarm telepon yang berbisik lamban membuka mata. Ayam tak lagi berkokok sebab jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh pagi menyisakan keheningan pagi yang perlahan digantikan hangatnya cahaya matahari yang menembus celah jendela. Udara segar khas pegunungan Kota Tomohon menyelinap masuk membawa semangat baru bagi kami yang baru saja terlelap dalam istirahat yang cukup nyenyak.
“Tabea pagi bae” terdengar salam lembut namun tegas dari salah seorang kawan yang turut membangunkan kami. Leon Wilar namanya sosok yang selalu hadir dengan senyum menenangkan yang kini membawa kami berbagi dan belajar bersama sembilan mahasiswa yang tengah mengadakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi erat antara kawan-kawan di Kelung Sedetik dan Anthropocelebes bersama Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). Hari itu sudah masuk hari ketiga kami berkumpul berbagi ruang dan waktu untuk merajut harapan bersama.
Semua ini bermula dari pertemuan hangat dua hari sebelumnya tepatnya Senin, 27 Juli 2026. Di hari pertama itu kami saling berkenalan menyapa satu sama lain dengan tulus dan perlahan membangun rasa nyaman yang begitu mendalam. Tidak ada jarak antara kami yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi dan sejarah dengan para mahasiswa yang baru melangkah masuk ke dunia pengabdian. Semuanya terasa setara berdiri di atas niat yang sama, ingin mengenal lebih dekat tanah tempat kami berpijak serta menjaga apa yang telah diwariskan leluhur.

Pelatihan Jurnalistik Dasar dari Hendra Mokorowu.
Doc. Kelung
27 Juli 2026
Mengenal Dunia Jurnalistik
Di hari kedua Selasa, 28 Juli 2026 pelatihan mulai dilaksanakan secara serius namun tetap penuh kehangatan. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh salah satu senior kamii Hendra Mokorowu, Pemimpin Redaksi Inatara.com serta salah seorang redaktur di kelung.co.id. Di bawah langit cerah Kota Bunga yang terkenal dengan kesejukan dan keindahannya, kami berkumpul di Kedai Kelung, Matani Satu, Kota Tomohon. Tempat yang sederhana itu seolah berubah menjadi ruang ilmu yang luas tempat di mana suara-suara baru mulai diberi ruang untuk tumbuh.
Mokorowu yang akrab kami panggil Hendra menjelaskan bahwa materi yang dipaparkan dalam pelatihan ini bukan sekadar teori semata melainkan dasar pengetahuan yang kokoh dalam dunia jurnalistik. Hal ini sejalan dengan undangan resmi dari panitia pelaksana pelatihan menulis mahasiswa KKN UKIT yang menginginkan bekal kemampuan agar para mahasiswa mampu merekam dan menyampaikan apa yang mereka temui di tengah masyarakat dengan cara yang benar bertanggung jawab dan bermanfaat.
“Kalau dilihat sekilas ini adalah pelatihan di mana peserta dilatih untuk barangkali bisa menulis karya jurnalistik. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa yang sudah dalam tahap melaksanakan KKN dan dibantu oleh pemateri untuk membagikan ilmu serta pengetahuan yang dimiliki. Pemateri sendiri mendapat undangan dari teman-teman jejaring untuk datang dan berbagi,” jelas Hendra dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa pada Selasa, 28 Juli 2026.
Hari itu membawa kesan luar biasa bagi kami semua. Hendra bahkan sempat mengatakan bahwa para peserta sangat antusias dalam menyambut setiap materi yang disampaikan, menanggapi dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang menunjukkan ketertarikan mereka yang mendalam. Kami pun seolah hanyut dalam arus diskusi yang mengalir melupakan waktu yang terus berjalan.
“Peserta yang mengikuti kegiatan itu responsif sekali dan saya sangat positif teman-teman pasti pulang sesudah KKN boleh membawa banyak pengetahuan yang berguna bukan hanya untuk tugas kuliah melainkan untuk kehidupan mereka selanjutnya,” ungkap Hendra di sela-sela istirahat sejenak.
Di sudut ruangan yang lain, hal senada terdengar dari percakapan beberapa mahasiswa yang masih asik berdiskusi. Indah Manopo, salah satu peserta KKN yang tampak bersemangat turut memberikan kesannya yang mendalam akan perjumpaan dan kegiatan belajar kami bersama.
“Kegiatan ini sangat membantu saya memahami cara menulis berita yang benar serta keberanian untuk menyuarakan kebenaran yang selama ini sering terabaikan. Bahkan kami diajarkan untuk lebih peka terhadap persoalan di lingkungan sekitar serta mampu menjadi jembatan yang kokoh antara masyarakat dan informasi yang akurat dan benar,” ujar Indah dengan mata berbinar penuh harap.
Sesi berikutnya dipandu oleh Filo Karundeng, Penanggung Jawab Media Sosial Kelung, yang turut berbagi pengetahuan mendalam terkait dunia sinematografi. Mulai dari cara menentukan topik yang menarik dan penting melakukan curah pendapat atau pertukaran gagasan materi secara mendalam hingga langkah-langkah praktis menyiapkan konten yang tidak hanya menarik di media sosial melainkan juga berbobot. Khususnya terkait materi penelitian yang akan mereka lakukan selama masa pengabdian nanti.
“Kelung itu berada di satu jaringan yang sama kemudian kami berjejaring luas dengan teman-teman peneliti sejarah budaya dan isu demokrasi di Sulawesi Utara. Terlebih lagi teman-teman peneliti di UKIT termasuk beberapa dosen di sana memiliki komitmen yang sama besar untuk melakukan penelitian yang bermanfaat bagi daerah. KKN ini sejatinya punya tujuan utama pengabdian terhadap masyarakat dan oleh karena itu dalam pola-pola kegiatan ini kami ingin agar teman-teman mahasiswa ini melakukan pengabdian yang lebih dalam terutama dalam upaya-upaya pelestarian sejarah serta penguatan narasi tentang budaya asli Minahasa yang mulai terkikis,” jelas Filo panjang lebar.
Hari itu berjalan cukup cepat, dimulai dari pukul sepuluh pagi hingga tujuh malam, seakan berlalu dalam sekejap mata tanpa terasa. Kehangatan persaudaraan tak kunjung habis bahkan ketika satu persatu mereka mulai meninggalkan lokasi pelatihan. Masing-masing menyalami kami dengan rasa hormat dan senyum tulus membawa semangat baru untuk melangkah.
Malam itu setelah para peserta pulang kami pun masih duduk bersama. Filo Karundeng yang tengah sibuk mempersiapkan beberapa konten untuk media sosial kami perlahan mendatangi tempat kami duduk. Ikut serta Gerard Tiwow Penanggung Jawab Anthropocelebes., Hendra Mokorowu selaku Penanggung Jawab Kelung., Leon Wilar selaku Penanggung Jawab Sedetik., serta Josua Wajong dan saya sendiri selaku penulis di Kelung. Kami duduk melingkar menikmati rehat sejenak ditemani secangkir kopi hangat merenungkan apa yang telah kami lalui seharian penuh.

Lumales/Ziarah Kultura Waruga Ngantung-Palar.
Doc. Kelung
28 Juli 2026
Menjaga Tradisi
Kini berlanjut di hari ketiga, Rabu pagi itu dengan semangat yang tak kalah membara berteman pelukan hangat mentari yang perlahan naik di langit Kota Tomohon, kami kembali berkumpul. Kali ini bukan di ruangan tertutup melainkan di salah satu situs sejarah paling penting di Wilayah Walak Mu’ung, Kota Tomohon. Waruga Ngantung-Palar tepatnya di samping bundaran patung Opo Tololiu Tua, Matani, Kota Tomohon. Tempat ini menyimpan ribuan kisah masa lalu, menjadi saksi bisu, perjalanan leluhur yang begitu gigih menjaga tanah ini.
Di sana mereka mulai diperkenalkan dengan apa yang disebut ziarah kultura, suatu bentuk penghormatan tulus kepada leluhur atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Lumales. Kegiatan ini adalah warisan berharga yang kami jaga dan lakukan secara rutin sebagai wujud rasa syukur dan pengakuan bahwa keberadaan kami saat ini adalah berkat perjuangan mereka yang telah mendahului. Kami mengenalkan sejarah tempat itu, kisah-kisah yang mungkin belum pernah mereka dengar sebelumnya, mengajak mereka merasakan kedamaian yang terpancar dari setiap dirinya waruga yang berdiri kokoh.
Leon kembali berbagi pandangannya mengenai pentingnya momen ini. Menurutnya kegiatan ini menjadi awal yang luar biasa bagi para peserta yang akan melaksanakan penelitian terkait sejarah dan budaya sekaligus mengajarkan mereka untuk selalu memulai segala sesuatu dengan menghormati asal-usul memberi salam dan penghormatan saat mengunjungi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.
“Ini merupakan tradisi yang kami jaga sedari dulu hingga sekarang yang membuat kita terus mengakar kuat dengan sejarah dan budaya bangsa kita sendiri. Saya sangat berharap momen ini menjadi jembatan awal bagi teman-teman untuk juga lebih mengenal tradisi luhur ini dan turut melestarikannya kalian semua luar biasa,” tutur Leon sembari menepukan tangannya tiga kali di salah satu atap Waruga.
Waktu pun tak mampu menahan keinginan kami untuk terus berbagi namun sekitar jam sebelas siang, kami melanjutkan perjalanan berkunjung ke Wale Mapatik, tempat kami yang tergabung dalam Komunitas Penulis Mapatik biasa berkumpul dan belajar bersama. Di sana kami berjumpa dengan Rikson Karundeng, Pemimpin Redaksi Kelung sekaligus Direktur Mapatik. Dengan sopan dan ramah para mahasiswa mulai memperkenalkan diri satu per satu.

Diskusi bersama topik penulisan mahasiswa KKN UKIT. Doc. Kelung 28 Juli 2026
Diskusi, Belajar dan Berbagi
Di atas meja kecil berbentuk persegi panjang, kini tersusun rapi berbagai camilan khas Tomohon, kopi yang baru diseduh dengan aroma menggugah selera serta beberapa kantong bekal yang dibawa oleh para mahasiswa. Suasana terasa begitu akrab seolah kami sudah lama saling mengenal. Kami pun memulai diskusi yang mendalam membuka ruang bagi setiap pertanyaan dan gagasan yang muncul.
Sekitar setengah jam berlalu tempat itu dipenuhi tawa lepas, candaan yang segar bahkan sesekali terjadi perdebatan kecil yang sehat saat mendengarkan cerita-cerita menarik dari Rikson. Para mahasiswa tampak sangat tertegun tak bergeming semua mata terpaku menyimak setiap kata yang keluar dari mulut pria yang juga pernah menjadi dosen di UKIT itu, seolah tak ingin melewatkan satu informasi pun yang disampaikan.
Harum kopi yang menyebar menjadi aroma manis yang menyelimuti suasana saat kami menyambut waktu makan siang kala itu. Meski perut mulai mengeluarkan gemuruh, semangat untuk terus mendengar penjelasan tak surut sedikitpun. Rikson mulai membimbing para mahasiswa dengan teliti mengenai materi dan topik yang akan mereka teliti dalam program pengabdian masyarakat KKN tahun 2026 ini.
“Saya sudah membaca beberapa topik yang sudah dipilih teman-teman dan saya sangat salut akan kegigihan serta keinginan kuat teman-teman untuk melakukan penelitian ini. Nanti kita akan saling berbagi bersama untuk belajar memperkaya sudut pandang dan memastikan hasil penelitian ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Rikson membuka sesi diskusi dengan penuh semangat.
Beberapa mahasiswa pun mulai mengajukan pertanyaan mendalam terkait topik yang mereka pilih. Di antara pertanyaan yang muncul terdengar keinginan untuk memahami lebih dalam mengenai Kawasaran, tanaman obat-obatan herbal, serta tradisi pengobatan tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat Minahasa.
Dengan sabar dan penuh gairah belajar, Rikson mulai memberikan tanggapan yang komprehensif. Menurut pandangan beliau ketiga topik tersebut sebenarnya saling berkaitan erat dan tak dapat dipisahkan sebab dalam tradisi hidup masyarakat Minahasa dahulu ada satu kesatuan pandangan dunia yang menyatukan segala aspek kehidupan.
“Kawasaran itu bukan hanya sekadar tarian dan gerakan yang indah dipandang mata. Mulai dari istilah atau penyebutannya saja sudah menyimpan makna mendalam nilai-nilai luhur serta sejarah panjang perjuangan leluhur yang bisa teman-teman telusuri lebih dalam” jelas Rikson mempertegas makna Kawasaran.
Sedangkan untuk topik tanaman herbal serta tradisi pengobatan tradisional menurut Rikson, hal itu merupakan suatu praktik budaya yang berjalan berkesinambungan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ada tradisi khas Minahasa yang namanya Mangundam sebuah upacara dan praktik pengobatan yang dilaksanakan oleh seorang Tonaas pemimpin rohani sekaligus ahli pengobatan tradisional. Alat serta bahan yang digunakan dalam prosesi tersebut sebenarnya sebagian besar merupakan tanaman herbal yang tumbuh subur di sekitar kita. Di antaranya seperti Goraka Jahe hingga daun Sese’ Wanua yang khas,” papar Rikson memberikan penjelasan rinci yang membuka wawasan para mahasiswa.
Kegiatan masih terus berlanjut penyampaian materi dari Rikson semakin menguatkan hati dan semangat para mahasiswa. Bahkan ketika waktu makan siang telah tiba dan perut mulai meminta asupan kami seolah tak kunjung ingin berhenti mendengarkan penjelasan berharga itu. Kami sadar momen berharga seperti ini tidak terjadi setiap hari dan ilmu yang didapatkan akan menjadi bekal tak ternilai bagi perjalanan panjang mereka ke depan dalam menjaga tradisi sekaligus melangkah bersama zaman.














