CULTURAL
Dari Pelatihan Menulis Sastra Lokal: Anak-anak Belajar Menjadi Saksi Lewat Kata

24 Juli 2026
“Dari ruang sederhana itulah, mungkin beberapa tahun mendatang, akan lahir penulis-penulis muda yang bukan sekadar pandai menyusun kalimat, tetapi juga mampu menjadi saksi bagi zaman dan daerahnya sendiri.”
Penulis: Hendro Karundeng
RUANG belajar di Michi no Eki “Pakewa”, Tomohon, pada hari kedua Pelatihan Kreatif Menulis Sastra Lokal tidak dirundung suasana sunyi. Di berbagai sudut lantai dua bangunan itu, peserta saling membaca karya, berdiskusi, lalu kembali menulis. Ada yang masih menghapus kalimat berkali-kali, ada pula yang mulai berani membacakan puisinya di depan teman-temannya.
Kegiatan yang diinisiasi Sanggar Kamang Wangko Woloan bersama Armando Loho sebagai fasilitator kegiatan, membawa semangat luar biasa hari itu. Bagi sebagian besar peserta, dua hari pelatihan ini bukan sekadar belajar merangkai kata. Mereka sedang menemukan cara baru untuk mengenali diri sendiri, lingkungan, dan kampung halamannya.
Kicau burung menemani para peserta dalam mendengarkan pendapat para narasumber, kakak-kakak yang membimbing mereka. Rangkaian kata mulai tersusun rapi dalam secarik kertas, emosi dalam nada pembacaan mulai keluarkan intonasi yang beresonansi di setiap sudut ruangan, rasa malu bahkan gugup para peserta seolah lenyap dengan hangatnya pertemuan yang telah dimulai sehari sebelumnya, Selasa, 21 Juli 2026. Sontak, aula rumah panggung Michi No Eki siang itu jadi panggung sastra luar biasa.

Kesan Para Peserta
Di penghujung kegiatan, para peserta dari berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Tomohon diberi kesempatan menyampaikan pengalaman mereka selama kegiatan berlangsung. Lerin Tenda, salah satu peserta dari SMP Negeri 1 Tomohon mengaku mengikuti pelatihan ini karena ingin belajar lebih banyak tentang puisi.
“Alasan saya ikut kegiatan ini supaya saya tahu nanti kalau mau ikut lomba. Misalnya, saya jadi tahu prosesnya, bahkan bagaimana sebenarnya belajar sekaligus bersaing bersama teman-teman di sekolah lain. Alasan saya memilih puisi karena saya suka. Itu memang berasal dari diri sendiri,” ujar Lerin.
Baginya, pengalaman selama pelatihan jauh lebih berharga daripada sekadar belajar teori. Bertemu dengan kawan baru, saling berbagi pendapat, hingga sama-sama menikmati pelajaran.
“Pengalaman yang saya dapat banyak, dan semuanya baik. Tidak ada yang sombong. Teman-teman juga baik semua. Saya jadi tahu cara membuat puisi, dan saya belajar bersama Kak Greenhill serta teman-teman yang lain,” ungkapnya.
Pengalaman serupa dirasakan peserta lain. Karunia Sewow dari SMP Kristen Woloan mengatakan, pelatihan ini membuka kesempatan baginya untuk belajar menulis cerita rakyat dan legenda.
“Saya sangat senang karena boleh mendapatkan tambahan ilmu, khususnya di bidang cerita rakyat dan legenda, sehingga saya bisa belajar menulis cerita dan lebih berkembang lagi,” ucapnya.
Ia berharap semakin banyak anak seusianya tertarik mengembangkan kemampuan di bidang sastra. Sementara itu, Mikael Takaendengan dari SMP Katolik Gonzaga Tomohon mengaku memperoleh banyak teman dan pengalaman baru selama pelatihan.
“Saya juga mendapat ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat, terutama di bidang puisi,” katanya.
Melalui kegiatan ini Mikael berharap agar banyak teman yang terinspirasi untuk mengembangkan bakat mereka di bidang sastra lokal, khususnya cerita pendek, cerita rakyat dan legenda serta puisi.
“Teruslah berjuang menggapai mimpi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Yosua Rajak, pelajar SMP Negeri 1 Tomohon, yang merasa sangat senang bisa bertemu dengan sahabat baru, belajar dari para ahli hingga membawa pulang segudang ilmu pengetahuan.
“Saya sangat senang karena bisa mendapatkan teman-teman baru, bertemu kakak-kakak dan panitia yang baik, serta memperoleh tambahan ilmu dalam bidang menulis sastra,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan seperti ini tidak berhenti sampai di sini dan terus menjadi ruang kolektif untuk modal ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.
“Semoga kegiatan ini terus berkembang dan tidak pernah berhenti demi masa depan anak bangsa,” harapnya.
Di sebelahnya, Shizu Montolalu, juga dari SMP Negeri 1 Tomohon merasakan hal yang sama. Pelatihan ini mempertemukannya dengan teman-teman dari sekolah lain, sekaligus memberinya pengalaman baru.
“Saya senang karena mengikuti kegiatan ini dapat menambah ilmu dan pengalaman baru,” ujarnya usai berganti mikrofon dengan Mikael.
Harapannya, kegiatan serupa semakin berkembang dan semakin diminati generasi muda.

Pesan dan Pendapat Narasumber
Putaran jarum jam kian melaju, langit kini mulai mengeluarkan warna jingga di antara awan yang sedikit menutup mentari, seolah malu menyapa kami siang tu. Selain para peserta, para narasumber juga merasakan hal yang sama. Dalam rehat bersama, ditemani secangkir kopi, mereka mulai berbagi pendapat.
Dengan latar antusiasme para peserta, narasumber melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hasil tulisan. Di sudut teras aula, sembari menikmati kopinya, narasumber bidang puisi, Greenhill Weol, terlihat tengah mengumpulkan sebagian peserta dan mengajak mereka memahami bahwa puisi bukan hanya soal kata-kata indah.
Menurutnya, jauh sebelum manusia mengenal tulisan, puisi telah menjadi cara manusia mewariskan pengetahuan, pengalaman, bahkan kemanusiaannya kepada generasi berikutnya melalui syair dan untaian kata. Kini, ketika manusia lebih banyak menggunakan bahasa yang lugas dalam kehidupan sehari-hari, puisi tetap memiliki ruang penting sebagai tempat seseorang mengenali dirinya sendiri.
“Karena itu, sangat penting bagi generasi muda untuk tahu cara berpuisi,” ujarnya.
Namun ia menegaskan tujuan pelatihan bukan untuk mencetak semua peserta menjadi penyair tetapi paling tidak semua orang, termasuk generasi muda, melek puisi, memahami puisi, tahu cara membacanya, dan terutama cara menuliskannya.
Greenhill juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kini mampu menghasilkan puisi dengan cepat. Menurutnya, AI memang dapat menyusun kata-kata yang indah, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa digantikan.
“AI tidak pernah merasakan sendiri apa itu Tomohon. AI tidak hidup di kota Tomohon. AI tidak melihat Gunung Lokon, Gunung Mahawu, ataupun Danau Linow. AI hanya mengutip kata-kata yang sudah ada di dunia maya. AI bukan saksi,” jelasnya.
Karena itu, ia berharap anak-anak belajar menjadi saksi atas ruang hidupnya sendiri.
“Anak-anak inilah yang diharapkan menjadi saksi. Mereka menuliskan perasaan mereka tentang Tomohon. Menulis puisi melatih anak-anak untuk jujur terhadap apa yang mereka rasakan,” paparnya.

Saat angin bertiup ke arah utara, di teras depan pintu aula, terlihat narasumber bidang cerpen, Denni Pinontoan, tengah berbagi dengan para guru pendamping. Menurutnya, kemampuan dasar peserta sebenarnya sudah terlihat bahkan sebelum pelatihan dimulai.
“Saya sangat mengapresiasi karena ada beberapa peserta yang sudah mengirimkan naskah cerpen mereka, bahkan sebelum pelatihan dimulai,” ujarnya sembari menyapa para guru pendamping yang tengah menikmati coffee break mereka.
Ia menilai para peserta telah memiliki modal penting sebagai penulis. Sudah memiliki salah satu modal utama dalam menulis sastra, yaitu imajinasi dan kemampuan berimajinasi. Yang diperlukan, lanjutnya, adalah ruang belajar yang terus berkelanjutan.
“Kalau kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan memiliki keberlanjutan, saya yakin beberapa tahun ke depan kita akan memiliki generasi sastrawan muda yang lahir dari kegiatan seperti ini,” jelasnya.
Optimisme itu juga sempat disampaikan salah satu guru pendamping SMP Kristen Woloan, Vony Wengkang beberapa saat kemudian di penghujung kegiatan saat diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesannya. Menurutnya, manfaat pelatihan tidak hanya dirasakan para siswa, tetapi juga guru-guru yang ikut mendampingi.
“Walaupun ada guru yang bukan berasal dari latar belakang pendidikan bahasa, mereka tetap termotivasi. Ketika diberikan tugas membuat puisi, semua antusias,” ucapnya.
Baginya, pelatihan ini membuktikan bahwa sastra dapat dipelajari siapa saja. Bukan hanya anak-anak, tetapi guru-guru pendamping juga dengan senang hati dapat membuat karya sesuai dengan ide masing-masing.

Selesai tapi Belum Berakhir
Di dalam aula kegiatan, terlihat banyak peserta yang tengah tegang mendengar penjelasan dari narasumber cerita anak, legenda dan dongeng. Kursi mereka melingkari Rikson Karundeng, seolah tak ingin melewatkan setiap kata yang disampaikannya.
“Mengapa penting kita belajar menulis?” tanya Rikson kepada para peserta yang sedang belajar menulis cerita rakyat, dongeng dan legenda.
Menurutnya, ada sejumlah manfaat yang bisa mereka dapat. Pertama, mengasah kemampuan berpikir. Para siswa dilatih menganalisis masalah dan menyusun solusi secara runtut. Kedua, menguatkan daya ingat. Menulis tangan mengaktifkan kerja sensorik otak yang membuat anak lebih mudah paham dan ingat pelajaran. Ketiga, bekal nilai sekolah. Sebab keterampilan menulis yang baik memudahkan siswa membuat laporan, tugas, dan ujian dengan lancar.
“Apakah teman-teman sekalian tahu apa peran penting kita dalam kegiatan ini? Peran penting kita saat mengikuti pelatihan menulis, kemudian menulis cerita rakyat, dongeng, dan legenda hingga dibukukan adalah kita bisa menjadi pelestari budaya lokal, pengembang kreativitas sastra, serta agen penguatan literasi,” tegasnya.
Kata Rikson, lewat proses pelatihan hingga menghasilkan karya, mereka telah menjadi pelestari budaya Minahasa. Menggali, merawat, dan mengenalkan kembali kearifan lokal serta tradisi daerah agar tidak punah ditelan zaman.
Para siswa kini boleh disebut sebagai kreator sastra. Sebab mereka telah menuangkan daya imajinasi dan alur pemikiran ke dalam bentuk tulisan naratif yang rapi dan menarik.
“Saat buku karya kita jadi, kalian sudah menjadi kontributor buku. Menghasilkan karya nyata berupa tulisan yang terkumpul dalam sebuah buku antologi atau cetak, sehingga jejak literasinya abadi. Paling penting dari karya kita adalah pembelajar karakter. Menyerap nilai-nilai moral, pesan kebaikan, dan budi pekerti yang terkandung dalam setiap cerita yang ditulis,” ucap Rikson sembari mengungkapkan kekaguman dan optimisme terhadap para penulis muda, penyair, sastrawan yang akan hadir dari kota Tomohon.
Menutup rangkaian kegiatan, harapan yang muncul dari peserta, fasilitator, maupun guru pendamping memiliki nada yang sama. Pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan dua hari, melainkan menjadi awal lahirnya ruang belajar sastra yang terus bertumbuh di Sulawesi Utara.
Karena dari ruang sederhana itulah, mungkin beberapa tahun mendatang, akan lahir penulis-penulis muda yang bukan sekadar pandai menyusun kalimat, tetapi juga mampu menjadi saksi bagi zaman dan daerahnya sendiri. Kegiatan ini sendiri belum mencapai puncaknya, rangkaian kegiatan masih akan berlanjut dengan penerbitan buku dan pementasan karya dari para peserta pada bulan Agustus nanti.














