Connect with us

GURATAN

Wuwuk dalam Sebuah Doa:  Makna Kontekstualitas dari Filosofi Syair di Ruru’men

Published

on

25 Juni 2026


“Berikut sepenggal kisah di balik syair tersebut. Suatu masa, pada sebuah hari penting di Wuwuk, seorang tonaas (pemimpin negeri) selesai tumani in doong berlari ke Sungai Ruru’men. Ia kemudian mengambil pasir dan menengadah ke langit serta berdoa sambil mengucapkan sebuah syair. Entah apa sehingga Tonaas Sion Korotei Rompas mengucapkan syair itu.”


Penulis : Kalfein Wuisan


“Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tanak wo langit, paka kamang kamangen nai kami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami andoong anio, wo we an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo le’na  asi nendo anio wo endo maai”.

Syair di atas, bagi sebagian orang ataupun kebanyakan orang Wuwuk, masih lazim di kalangan orang tua namun hampir tak pernah terdengar sama sekali oleh orang muda. Apalagi bahasa yang dipakai agak sulit dimengerti oleh sebagian besar generasi di zaman ini. Memang apa yang penting dari kalimat ini? Apakah ini mantra, kutukan ataukah hanya sesuatu yang tidak berarti penting? Atau ini cuma kalimat yang tak bisa diterjemahkan dan tak berguna?

Bagi saya dan beberapa orang muda yang sadar bahwa tou (orang) Wuwuk hebat di masa lalu-kini dan nanti, dalam sebuah diskusi menganggap syair ini sebagai sebuah “filsosofi semangat Wuwuk” yang menjadikan roong (kampung) di Minahasa Selatan ini seperti sekarang. Hal ini juga terkait dengan nama Wuwuk yang menjulang sebagai sebuah romatisme bahwa di sebuah zaman, Wuwuk disebut sebagai gudang sarjana. Gudang? Sarjana? Gudang Sarjana? Ini juga menyangkut mengapa beberapa tou Wuwuk bisa menjadi “orang besar” dalam eksistensinya sebagai manusia di manapun dia pergi dan berada.

Begini terjemahan syair tersebut: “Tuhan Yang Maha Besar yang menciptakan langit dan bumi, berikan berkat bagi kami sampai anak-anak dan cucu-cucu yang ada di negeri ini, berikanlah pengetahuan dan hati yang jujur dan lemah lembut pada masa kini dan yang akan datang.” 

Berikut sepenggal kisah di balik syair tersebut. Suatu masa, pada sebuah hari penting di Wuwuk, seorang tonaas (pemimpin negeri) selesai tumani in doong berlari ke Sungai Ruru’men. Ia kemudian mengambil pasir dan menengadah ke langit serta berdoa sambil mengucapkan syair tersebut. Entah apa sehingga Tonaas Sion Korotei Rompas mengucapkan syair itu.

Semenjak pertama kali membaca syair itu, terbesit berbagai macam pertanyaan tentang latar belakang dan subtansi dari syair itu. Kenapa harus di sungai dan tidak di tempat tumani saja? Kenapa harus segenggam pasir? Kenapa syair itu? Jawaban pertama yang tersingkap dalam dunia tafsiran sadar saya yaitu syair tersebut sebagai doa yang visioner, sebagai bentuk rasa cinta terhadap Wuwuk dan keturunannya di masa depan. Namun sekarang ini saya menggapnya sebagai sebuah “Tumotowa Filsosofis” yang didirikan di tiap jiwa dan semangat orang Wuwuk, tumotowa (batu penanda pendirian sebuah kampung) yang tak kelihatan tapi terus bereksistensi sampai Wuwuk  lenyap dalam kiamat dunia.

Makna syair tersebut secara sempit di saat itu, dalam benak Tonaas Rompas, dia tidak ingin kampung yang di-tumani-nya bersama tonaas lain hanya akan memiliki sedikit penduduk ataupun akan ditinggali oleh orang-orang yang bodoh, kasar dan tidak memiliki nate rondor atau “hati lurus”. Syair ini tentu saja tidak hanya memberi arti seperti itu, tetapi memberi makna sangat mendalam bahwa di masa lampau pun para pendiri roong Wuwuk peduli akan nasib Wuwuk di masa ini dan akan datang. Bagi saya kemudian syair ini adalah alasan kenapa di sebuah masa, Wuwuk disebut sebagai “desa gudang sarjana”, bahkan menjadi alasan eksistensi hidup tou Wuwuk itu sendiri di zaman sekarang ini.

Sementara makna “doa di sungai” dan “segenggam pasir” tentu juga memiliki makna lain yang dalam. Sungai terkait dengan aliran air dan air. Air secara terbatas bermakna sebagai pembersih. Dalam kisah itu dapat dilihat bahwa selesai bekerja (tumani doong Wuwuk), Tonaas Rompas berlari ke sungai dan mengucapkna syair itu. “Berlari” di sini dapat bermakna “secara cepat untuk sebuah kerinduan.” Sedang sungai yang terkait dengan air sebagai pembersih, bermakna untuk menghanyutkan serta membersihkan diri dari kotoraan yang melekat di badan. Pembersihan diri dan pikiran ini penting dilakukan, karena akan melakukan sebuah ritual suci, yaitu berbicara dengan Amang Kasuruan Wangko lewat doa. Karena itu berlari kesungai lebih bermakna sebagai sebuah kerinduan untuk berbicara dengan Apo Ang Dangka dengan terlebih dahulu membersihkan diri serta seperti layaknya sebuah aliran sungai doa yang diucapkan tak akan pernah putus-putusnya.

Sedangkan untuk “segenggam pasir” bisa memaknakan “jumlah” sehingga bisa diartikan dengan sejumlah besar angka menyangkut keturunan Wuwuk. Bisa juga bermakna kuantitas dan kualitas pengetahuan yang banyak di kepala setiap tou Wuwuk. Makna “segenggam pasir’ ini telah terwujud lewat jumlah tou Wuwuk yang begitu banyak. Buktinya, kini Wuwuk telah dimekarkan menjadi dua desa yaitu Wuwuk dan Wuwuk Barat. Di sisi lain bisa bermakna “berpengetahuan banyak”. Itu dibuktikan dengan hampir semua orang Wuwuk bersekolah hingga sarjana serta menjadi orang-orang penting dalam pekerjaaanya, baik dalam bidang pendidikan, pemerintahan, dan berbagai profesi lainnya. Pengetahuan yang banyak ini pula yang menjadikan tou Wuwuk terpandang karena ditinjau darisegi pengetahuannya.

Wuwuk memang sangat terkait sebagai nama sebuah desa, namun juga lewat ini bisa ditarik makna filosofis tetang Wuwuk itu sendiri, tentang manusianya dan tentang eksistensinya. Memang segala hal tentang sesuatu, pada dasarnya harus diharapkan. Secara sederhana bisa berarti dimintakan. Tonaas Rompas telah berharap dan meminta sampai doanya terkabul, sehingga ini alasan yang tepat bagi keberadaan Wuwuk sekarang ini. Ini alasan mengapa saya menyebut “Wuwuk telah di-IYA-kan oleh Amang Kasuruan”. Doa ini sudah dan akan terus terkabul bagi Wuwuk dan semua keturunannya. Kini tinggal kita generasi yang hidup dan mau terus hidup di tanah ini untuk memaknai sesuatu sebagai sebuah pemberian yang telah dimintakan sebelumnya dan direstui Amang Kasuruan pencipta semesta.

Sebuah pesan di akhir tulisan yang kerap saya dengar dari tua-tua Wuwuk untuk diketahui semua orang: “Eh … Poow-poowku, wukaan emberen wo natemu, wo camu mekampet-kampetan si esa wo se walina, eh weta cita imbaya mepoow.”

Cat: Tulisan ini pernah dimuat dalam buku “Wanuata” yang diterbitkan Komunitas Mapatik tahun 2015.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *