CULTURAL
Bedah Buku Watu Toitou: Batu Jadi Ingatan, Leluhur Tak Sekadar Masa Lalu

27 September 2026
“Sebuah batu dapat tetap berada di tempatnya, tetapi maknanya menghilang. Seperti Watu Toitou yang bisa tetap berdiri, tetapi kisah di sekelilingnya lenyap. Bisa tetap dipahat, tetapi tidak ada lagi yang mengenali siapa yang digambarkan.”
Penulis: Filo Karundeng
ADA benda-benda yang tidak banyak bergerak, tetapi justru menyimpan perjalanan yang panjang. Batu salah satunya. Ia dapat berdiri diam selama ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun. Lumut datang menutup permukaannya. Hujan mengikis lekuk-lekuknya. Pepohonan tumbuh di sekelilingnya. Manusia datang dan pergi. Namun, sebuah batu yang telah diberi bentuk oleh manusia tidak lagi sekadar batu.
Pertanyaan kemudian muncul: apa yang sedang diingatnya? Pertanyaan itu seperti menjadi pintu masuk untuk membaca buku Watu Toitou: Batu yang Mengingat, Leluhur yang Menjaga – Jejak Megalitik, Memori, dan Identitas Kultural Tou Minahasa, karya Rikson Childwan Karundeng. Buku ini membuka kembali percakapan tentang batu, leluhur, memori dan identitas Tou Minahasa.
Buku itu dibicarakan dalam kegiatan diseminasi hasil kajian, peluncuran dan diskusi buku pada Jumat, 25 September 2026, di Kedai Kelung, Kelurahan Matani Satu, Tomohon. Tiga pembedah, Denni H.R. Pinontoan, Faiz Muhammad Anis Kaba, dan Ruth Ketsia Wangkai—membawa pembacaan masing-masing. Tiga pembaca buku ini melihatnya dari tiga pintu yang berbeda: kebudayaan, arkeologi dan ingatan masyarakat.
Mereka tidak seluruhnya berjalan pada jalan yang sama. Justru di situlah menariknya. Sebab Watu Toitou ternyata bukan hanya perkara bagaimana membaca batu. Ia juga soal bagaimana sebuah masyarakat membaca dirinya sendiri.

Waruga Bukan Lagi Satu-Satunya Cerita
Selama bertahun-tahun, ketika berbicara mengenai peninggalan megalitik Minahasa, ingatan publik lebih mudah menuju waruga. Waruga telah menjadi ikon yang begitu kuat. Tetapi Minahasa memiliki lebih banyak cerita tentang batu. Ada Watu Lesung, ada Watu Tumotowa, dan ada Watu Toitou.
Dalam materi diskusinya, Denni H.R. Pinontoan melihat kehadiran buku ini penting karena memperluas perhatian terhadap keragaman peninggalan megalitik Minahasa yang selama ini kurang dikenal.
“Kehadiran buku ini memperluas horizon pengetahuan tentang keragaman warisan megalitik Minahasa,” kata Pinontoan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada persoalan besar. Sebab sebuah kebudayaan tidak pernah hanya dibangun oleh satu jenis peninggalan. Jika waruga selama ini lebih sering menjadi pintu masuk untuk memahami kebudayaan batu Minahasa, maka Watu Toitou menawarkan pintu lain.
Pintu itu menuju hubungan antara manusia dan representasi. Antara batu dan ingatan, antara benda dan orang-orang yang telah lama tidak ada.

Membaca Batu Dengan Hati-Hati
Faiz Muhammad Anis Kaba, arkeolog dan ahli cagar budaya, tidak serta-merta menerima semua tafsir tentang Watu Toitou sebagai kebenaran yang telah selesai. Ia justru mengingatkan agar batu-batu tersebut dibaca secara kontekstual.
Dalam telaahnya, Faiz menyebut bahwa Toitou lebih aman dibaca sebagai citra/representasi; makna leluhur harus dibuktikan secara kontekstual.
Ada perbedaan penting di sana. Batu yang berbentuk manusia memang dapat disebut antropomorfik. Wajah yang dipahat pada batu memang dapat dikenali sebagai bentuk manusia. Tetapi bentuk belum otomatis menjelaskan fungsi.
“Ia belum dengan sendirinya menjawab siapa yang digambarkan. Belum pula menjawab untuk apa ia dibuat. Dan belum cukup untuk memastikan hubungan objek itu dengan leluhur,” ujarnya.
Karena itu, bagi Faiz, bentuk harus dibaca bersama konteks, sumber, tradisi dan provenans.
Watu Toitou kemudian tidak berdiri sebagai benda yang selesai ditafsirkan. Ia justru menjadi pertanyaan yang masih terbuka. Dan mungkin, sebuah peninggalan kebudayaan memang harus diperlakukan demikian. Tidak buru-buru dipaksa berbicara dengan jawaban yang kita inginkan.
Tetapi ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bentuk. Sebuah batu dapat berubah kedudukannya di dalam kebudayaan. Ia bermula sebagai benda, lalu manusia memberi bentuk, memberi nama, memberi cerita, menempatkannya dalam ruang tertentu, menghubungkannya dengan seseorang, sebuah peristiwa, atau sebuah ingatan.
Pada titik tertentu, benda itu tidak lagi hanya menjadi benda. Ruth Ketsia Wangkai menangkap perubahan ini dengan sangat menarik. Dalam catatannya atas buku Watu Toitou, bahwa ketika Toitou dipahat atau digurat, berbentuk kepala, setengah badan, atau tubuh manusia, ia tidak lagi benda mati.
“Bahkan fungsi dan pemaknaannya bergeser menjadi ‘tubuh simbolik leluhur’ atau ‘representasi leluhur’,” kata Wangkai.
Di sini kita masuk ke wilayah yang lebih sunyi. Wilayah ingatan. Sebuah batu tidak mengingat seperti manusia mengingat. Ia tidak memiliki mulut untuk bercerita, tetapi manusia dapat mengingat melalui batu.
“Nama seseorang dapat terus hidup karena sebuah batu. Cerita tentang leluhur dapat terus dituturkan karena sebuah tempat,” ujarnya.
Sebuah perjalanan komunitas dapat ditandai oleh sesuatu yang secara fisik tampak sederhana. Batu yang berdiri di tanah. Maka, barangkali bukan batunya yang sebenarnya menyimpan ingatan. Manusialah yang menyimpan ingatan itu, sementara batu menjadi tempat ingatan tersebut ditambatkan.

Watu Toitou dan Pertanyaan Tentang Kita
Itulah sebabnya Watu Toitou menjadi lebih menarik ketika ia tidak hanya dilihat sebagai artefak. Ia dapat dibaca sebagai bagian dari percakapan tentang siapa Tou Minahasa. Sebab identitas tidak selalu lahir dari buku sejarah.
Ia bisa lahir dari tempat, nama, cerita orang tua, kebiasaan, dari benda-benda yang diwariskan, dan dari kemampuan sebuah generasi untuk mengenali sesuatu yang ditinggalkan generasi sebelumnya.
Di titik ini, buku Rikson Karundeng tidak berhenti pada usaha memperkenalkan Watu Toitou. Ia seperti sedang mengajak pembaca untuk berhenti sebentar di hadapan batu, melihatnya lebih lama, lalu bertanya, “Mengapa ia dibuat? Mengapa ia ditempatkan di sana? Siapa yang mengingatnya? Dan yang paling penting: Apa yang hilang jika kita tidak lagi mengenalnya?”
Pertanyaan terakhir mungkin adalah pertanyaan paling mendesak. Sebab batu dapat bertahan lebih lama daripada manusia. Tetapi pengetahuan tentang batu bisa hilang jauh lebih cepat.
Ketika orang-orang yang mengetahui cerita tentang sebuah situs pergi, tanpa sempat menurunkan pengetahuannya, batu itu masih mungkin berdiri. Tetapi ia menjadi sunyi. Bukan karena batu kehilangan bentuk, melainkan karena manusia kehilangan kemampuan untuk membacanya.

Tiga Cara Melihat Satu Batu
Tiga pembedah buku ini justru menunjukkan bahwa Watu Toitou tidak harus dibaca melalui satu disiplin saja. Denni Pinontoan membawa kita kepada keragaman warisan megalitik Minahasa. Faiz mengingatkan pentingnya kehati-hatian arkeologis dan pembuktian kontekstual. Ruth membawa pembacaan kepada leluhur, ingatan dan kehidupan pengetahuan masyarakat.
“Tiga jalan itu bertemu pada satu titik. Watu Toitou bukan sekadar batu. Tetapi bukan pula sesuatu yang boleh diberi makna sesuka hati. Di antara dua kutub itulah penelitian kebudayaan bekerja,” kata Gerard Tiwow, menanggapi materi bedah buku yang disampaikan tiga pembedah.
Menurutnya, penelitian kebudayaan harus mampu mendengar cerita masyarakat, sekaligus menguji setiap klaim. Ia perlu menghargai ingatan kolektif, tetapi juga merawat ketelitian ilmiah. Ia perlu melihat batu sebagai benda material, tetapi tidak boleh mengabaikan manusia yang memberikan makna kepadanya.
Mungkin di situlah buku ini mendapatkan arti pentingnya. Ia tidak hanya mengajak orang melihat batu yang selama ini luput dari perhatian. Ia mengajak kita memikirkan kembali cara melihat,” tegas Tiwow.

Batu Bisa Hilang Tanpa Pernah Dipindahkan
Sebuah batu dapat tetap berada di tempatnya, tetapi maknanya menghilang. Seperti Watu Toitou yang bisa tetap berdiri, tetapi kisah di sekelilingnya lenyap. Bisa tetap dipahat, tetapi tidak ada lagi yang mengenali siapa yang digambarkan.
Ia bisa tetap disebut Watu Toitou, tetapi generasi berikutnya tidak lagi memahami mengapa ia disebut demikian. Di situlah pekerjaan pendokumentasian menjadi penting.
“Bukan hanya untuk menyelamatkan bentuk batu. Tetapi juga untuk menyelamatkan percakapan yang mengitarinya. Nama, tempat, cerita, ingatan. Dan manusia yang masih mengetahui semuanya,” tutur budayawan Minahasa, Fredy Wowor.
Dijelaskan, pada akhirnya Watu Toitou bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah pertanyaan kepada masa kini. “Apakah kita masih cukup ingat untuk menjaga apa yang diwariskan kepada kita?,” tegasnya.
Batu itu mungkin akan tetap diam. Lumut akan terus tumbuh di tubuhnya. Hujan akan terus turun. Waktu akan terus berjalan. Tetapi selama masih ada manusia yang datang, melihat, mencatat dan bertanya, batu itu belum benar-benar kehilangan suaranya.
“Sebab terkadang, yang paling keras berbicara tentang masa lalu justru adalah sesuatu yang sejak awal tidak pernah bisa berkata-kata. Apa itu? Batu!” kata budayawan Minahasa, Rinto Taroreh,
Riane Elean yang memandu acara launching buku ini menjelaskan, kegiatan ini digelar dalam rangka mendiseminasikan hasil Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan mengenai Watu Toitou sebagai bagian dari warisan budaya Minahasa.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sosialisasi dan mendorong pemanfaatan pengetahuan mengenai situs-situs Watu Toitou kepada masyarakat, komunitas budaya, akademisi, pemerintah, dan generasi muda,” terang Elean.
“Melalui kegiatan ini diharapkan hasil kajian tersebut dapat menjadi bahan pengetahuan sekaligus membuka ruang dialog mengenai keberadaan, makna, nilai budaya, serta upaya pelestarian Watu Toitou di Minahasa,” kata Elean sembari menjelaskan jika kerja penelitian Rikson Karundeng ini mendapat dukungan penuh dari program Dana Indonesiana yang kini berubah nama menjadi Dana Indonesiaraya.

Diketahui, Dana Indonesiana adalah program pendanaan dari pemerintah Indonesia yang bersumber dari hasil pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan untuk mendukung pemajuan kebudayaan nasional. Pengelolaannya merupakan kerja sama Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP):
Tampil sebagai pembedah buku dalam kegiatan ini, tiga orang narasumber, Dr. Denni H. R Pinontoan, M.Teol. (Ketua PUKKAT, Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya LP2M IAKN Manado), Faiz Muhammad Anis Kaba, S.S., M.Hum. (Arkeolog, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Budaya Sulawesi Utara) dan Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, M. Th. (Aktivis, Pegiat Budaya).
Turut hadir dan memberikan sambutan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, Anton Hariyanto, S.Kom., M.M.S.I., Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengan, M.Tr.AP., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Kota Tomohon, Dr. Juliana Dolvin Karwur, M.Kes., M.Si. Hadir juga Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara Bidang Kebudayaan, Eric Dajoh, Kepala Sub Bagian Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, Wuisan, S.S., M.Si., Pamong Budaya BPK Sulawesi Utara, Ricky Rumagit, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Kota Tomohon, Ferry Darossa, M.Pd., Camat Tomohon Tengah, Jones Andrias Mait, S.H., Kepala Seksi Taman Budaya di UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Kebudayaan Daerah, Ivan Besouw, S.E., M.Si., Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulawesi Utara yang juga Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsrat, Dr. Ivan R. B. Kaunang, M.Hum, Budayawan Minahasa, Rinto Taroreh, Tetua Adat Tombulu dan pengurus Lembaga Adat Kebudayaan Tombulu “Tawaang”, Piet Pungus, Pegiat Budaya Tonsea, Benhard Holderman, Penggerak Kumeted Tonsea, Charles Somba, Director Smartphone Movement, Kalfein Wuisan, M.Pd., Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Tomohon, Belarmino Lapong, Gerald Tiwow dari Anthropocelebes, Hendra Mokorowu dari Komunitas Penulis Mapatik, Meine Solambela dari Komunitas Toulour Waya, Fredy Wowor, S.S., M.Teol., dari Wale Papendangan Sonder, Director Mawale Movement, Greenhill Weol, Pegiat Budaya, Pdt. Kenly Tampi, Novrita Karundeng dari Komunitas Cerita Rakyat Tomohon, Riane Elean dan Erny Jacob dari Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT), Pemuda Adat Tomohon Estevania Olongie, Josua Wajong dari Tou Mu’ung Wuaya, Pegiat Literasi Richard Ering, Vanesa Lumatauw, Leon Wilar dan Raisa Makaliwuge, Rafael Taroreh dari Sekolah Adat Waraney Wuaya, Jurnalis Kelung.co.id Hendro Karundeng, Jurnalis dan Pegiat Budaya Adi Pontoan.












