GURATAN
Pa’anuren dalam Ower Tou Tonsea

9 Juli 2026
“Dalam tradisi ower Tonsea dikenal adanya perbedaan antara tuturan yang ditujukan kepada Sang Khalik dan tuturan yang ditujukan kepada semesta. Meskipun dalam beberapa ritus atau prosesi adat, keduanya dapat dipadukan, konteks dan makna penggunaannya tetap berbeda.”
Penulis: Benhard Holderman (Pegiat Budaya Minahasa)
DALAM “Ower Tou Tonsea”, pa’anuren merupakan salah satu unsur penting, yaitu rangkaian tuturan yang berfungsi sebagai ungkapan penghormatan, permohonan, dan pengakuan terhadap keberadaan Sang Khalik serta tatanan semesta sebelum suatu kegiatan dilaksanakan. Tradisi lisan ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari sistem pengetahuan, spiritualitas, dan etika masyarakat Tou Tonsea.
Salah satu bentuk syair dalam tradisi ini yang masih dipakai dalam keluarga saya seperti ini:
“Sighi wangko wia ing kamu Empung Waidan, Niko si timungkep, si makadiput un tana’ wo dangit. Sighi makedaked Opo-opo Wangko si makalesar wia un tana Malesung … Yoo… (menyebutkan nama-nama dari para leluhur, nama-nama para tumani dari kampung yang dipijak serta silsilah leluhur dalam keluarga), yoo … Mapermisi lako wia kamu mbeya si nene, tete, … timayan pu’una wo muri wo se idue-due kampe yoo … kenu mo u wadun niu tua, … kenu u tewaku dutu, tewaku ipaamoko-oko, sopi … kenu u tetenggan ka’pa paanuren, manenga-nenga … sanaan sumala tanu … yoo udit ipakatotolokan lako ne tua’. Oit tikokooo lelendem u wa … ouwww esa, tedu, dima, pitu, siouw … “
Terjemahan bebasnya:
“Hormat besar untuk Sang Khalik yang besar dan Maha Mulia, Engkau yang membungkus (memeluk, melindungi) kuat kami semua (tumbuhan, hewan, manusia), Engkau yang menjadikan dan mengendalikan bumi dan langit. Hormat sehormat-hormatnya untuk samua tua-tua (leluhur) yang lebih dulu mengajarkan kami cara untuk hidup, pemilik tanah ini, yang hidup dari masa Malesung … Yoo … Bukakanlah telinga kalian dan dengar-dengarkanlah kami para tetua yang telah lebih dulu dari kami. Yoo … kakek, nenek yang sudah lebih dulu dan yang baru mau datang, yang belum jadi manusia, masih proses mau menjadi manusia. Yoo … ini semua yang kami persembahkan, lebih dahulu untuk yang lebih dulu menjadikan kami (Sang Khalik), ini “tembakau sungguh” (daun tembakau asli Tonsea), ini tembakau yang masih dipakai (tembakau yang biasa dijual di warung-warung sekarang ini), uang gobang, captikus … ini pinang, sirih, kapur dan gambir untuk batenga’ akang, ini semua yang diletakkan di meja, … Kalau ada salah yang kami letakkan, kalau ada yang kurang, nanti tua-tua saja yang “menggenapi”. Kalau ada lebih, terima kasih sudah menjaga bumi ini sampai kami boleh merasakan kelebihannya. Kalau kurang di lain (hati dan pikiran) nanti semesta yang mengatur … “.
Beberapa kalimat dalam syair di atas sengaja tidak dilengkapi karena ada bilangan turun-temurun dari garis keturunan keluarga besar saya Talumengan Worotikan wo Lilingkan Sundalagi, leluhur kami dari Nondolan ni Endo tana’ Tonsea yang bagi kami tidak bisa disebutkan (dituliskan) secara sembarang.
Setelah syair diucapkan atau dinyanyikan, kemudian diperkuat atau dipertegas dengan makna melalui pengulangan dalam bentuk nyanyian:
“Epa u dei’ kinedaokan ne pu’una, impulunokan ne muri.”
Terjemahan bebas:
“Apa yang tua-tua (yang sudah lebih dulu ke kadomeyan) sudah perbuat, dengan keterbatasan kami tetap akan coba melengkapi yang blum lengkap.”
Syair ini biasanya didendangkan usai segala persiapan untuk sebuah ritus sudah dilakukan, “meja persembahan” sudah tertata pada posisinya (sesuai kebutuhan).
Penggunaan “Wangko” dan “Daked” dalam Tradisi Tonsea
Dalam tradisi ower Tonsea dikenal adanya perbedaan antara tuturan yang ditujukan kepada Sang Khalik dan tuturan yang ditujukan kepada semesta. Meskipun dalam beberapa ritus atau prosesi adat, keduanya dapat dipadukan, konteks dan makna penggunaannya tetap berbeda.
Mangaley atau sumempung merupakan doa yang ditujukan kepada Sang Khalik. Dalam konteks ini, digunakan istilah wangko, yang merujuk kepada Sang Khalik sebagai Yang Mahabesar. Kata wangko mengandung makna besar dalam arti Yang Agung, Tertinggi, dan Tidak Terhingga.
Sementara, ower(-an) atau orai merupakan tuturan yang ditujukan kepada semesta, yaitu kepada seluruh ciptaan atau segala sesuatu yang ada. Dalam konteks ini digunakan istilah daked, yang merujuk kepada semua yang ada di semesta (tumbuhan, hewan, manusia dan lainnya). Kata daked mengandung makna banyak, luas, atau mencakup keseluruhan, tetapi tidak bermakna “tidak terhingga” sebagaimana pada wangko.
Pada beberapa upacara adat, mangaley/manginayo dapat disatukan dalam satu prosesi. Hal ini mencerminkan perpaduan antara doa kepada Sang Khalik dan tuturan penghormatan kepada semesta, degan tetap mempertahankan makna masing-masing istilah sesuai konteks penggunaannya. Jadi, wangko bermakna besar, agung, tidak terhingga, khusus merujuk kepada Sang Khalik, sementara daked berarti semua, banyak, seluruh, mencakup segala yang ada di semesta, tapi bukan “tidak terhingga”.
Tradisi yang Tetap Hidup
Dalam perkembangan masyarakat modern, terdapat anggapan bahwa tradisi ini telah hilang. Namun, pada kenyataannya, pa’anuren masih dipraktikkan di beberapa wilayah Minahasa, khususnya di lingkungan masyarakat yang tetap memelihara pengetahuan dan ingatan kolektif mengenai warisan spiritual para leluhur Minahasa. Pengalaman panjang mengajarkan bagaimana para leluhur memelihara tradisi warisan pengetahuan ini dalam stigma, “dalam diam”, dengan cara yang “cerdik”, hingga ia tetap lestari hingga hari ini. Praktik tersebut memang tidak lagi dilakukan secara luas, tetapi keberadaannya menunjukkan bahwa ower tidak serta-merta hilang, melainkan mengalami transformasi sesuai degan perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat.
Kebertahanan tradisi ini berkaitan erat degan pandangan hidup masyarakat tou Tonsea yang menempatkan penghormatan sebagai salah satu nilai fundamental dalam kehidupan. Oleh karena itu, ini dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Khalik, yang dalam tuturan tou Minahasa disebut Empung Waidan Wangko (Opo Menanatas), serta sebagai pengakuan terhadap keteraturan semesta sebagai ruang kehidupan bersama.
Penghormatan itu tidak hanya ditujukan kepada Sang Khalik sebagai Sang Pencipta, tetapi juga kepada seluruh unsur ciptaan yang membentuk keseimbangan kehidupan, meliputi: manusia, hewan, tumbuhan, dan alam semesta. Selain itu, penghormatan juga diberikan kepada para leluhur yang telah mendahului kehidupan sekarang. Bukan sebagai objek pemujaan, melainkan sebagai generasi terdahulu yang telah mewariskan nilai-nilai budaya, menjaga keseimbangan sosial, serta membangun peradaban tou Minahasa.
Dalam perspektif budaya, pa’anuren mencerminkan hubungan yang bersifat harmonis antara manusia, Sang Khalik, sesama makhluk hidup, dan alam semesta. Hubungan tersebut dibangun atas dasar rasa hormat, tanggung jawab moral, serta kesadaran bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan tatanan kosmis. Degan demikian, praktik ini memiliki fungsi yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial, ekologis, dan filosofis, karena mengandung nilai-nilai yang mengajarkan penghormatan terhadap kehidupan serta pentingnya menjaga keseimbangan semesta.
Oleh sebab itu, keberadaan pa’anuren hingga saat ini menunjukkan bahwa tradisi lisan tou Tonsea masih memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini menjadi media pewarisan nilai, identitas budaya, dan pandangan hidup yang menekankan pentingnya keharmonisan antara manusia, Sang Khalik, alam, dan seluruh ciptaan sebagai satu kesatuan yang saling menopang.
Mengharmoniskan semesta bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab setiap insan yang telah dianugerahi hikmat, makrifat, dan kebijaksanaan oleh Sang Khalik. Leos, laley, lawid, akad kaure-ure. Kedung Um’banua Nondolan ni Endo.














