GURATAN
Tumanda, Ipantik dan Akulturasi Borgo en Tonsea

6 Oktober 2026
“Dia yang makan dan minum dari hasil tanah ini dan yang menjadi pelindung pemelihara kehidupan di atas tanah ini, dialah yang disebut orang Minahasa, ‘Se Mahassa’.”
Penulis: Benhard Holderman
JATI diri adalah gambaran atau keadaan khusus yang meliputi kepribadian, karakteristik, nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan hidup yang membentuk siapa kita dan bagaimana kita melihat diri sendiri serta dilihat oleh orang lain.
Sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda yang dinakhodai oleh Willem C. Van Duim (Wijkmeester), tou atau orang Tonsea yang tinggal di ”Nondolan ni Endo” atau dalam catatan lama sering disebut “Niondol ni Endo”, negeri yang kini akrab dikenal dengan Kema, mengalami apa yang boleh disebut “Persilangan Tradisi”. Fenomena ketika dua atau lebih tradisi yang berbeda saling bertemu, berinteraksi, dan berakulturasi, sehingga menghasilkan bentuk tradisi baru yang unik, menggabungkan elemen-elemen tetapi tidak lupa dengan akar tradisi yang mengikat. Tak heran, di tempat ini dijumpai beberapa tradisi. Mulai dari Spanyol, Portugis, Jerman, Belanda bahkan Jepang.
Di “Negeri Terbitnya Matahari” ini pun jarang dijumpai masyarakat yang memakai marga leluhur tanah Tonsea. Hal yang sering dijumpai ialah fam (De familienaam is afgeleid van de familienaam van de vader) atau nama dari keluarga ayah, seperti Holderman, Davis, Roos, Salassar/Salassa, Cornelisz, Huevelman, Christoffel, Tapata/Tapada, dan lain-lain.
Dengan adanya persilangan tradisi tersebut, dengan penuh kecintaan terhadap tradisi Minahasa dan keresahan terhadap tradisi asing yang semakin menggorogoti jati diri tou Minahasa, saya merancang pakaian adat yang bisa dipakai oleh taranak Tonsea-Borgo dengan penuh pertimbangan serta bilangan tradisi. Simbol-simbol dan pemilihan warna serta goresan pun memiliki nilai terkait identitas. Nilai-nilai yang sangat penting bagi masyarakat Borgo-Tonsea.
Di pakaian adat ini, banyak yang tertarik dengan simbol yang ada di paporongan/capeo pria yang tidak familliar. Bagi masyarakat adat Minahasa pasti sudah tidak asing dengan simbol suru’. Yang belum tahu, mari kita sedikit bahas bersama.
Simbol suru’ adalah simbol tua orang Minahasa, banyak dijumpai di peninggalan-peninggalan megalitikum orang Minahasa, salah satunya “Watu pahwetengan i Nuwu’”. Suru’ ialah sumber kehidupan yang merupakan tunas setia yang terus bertumbuh. Untuk warna-warni yang menghiasi juga punya filosofi, dan ini nanti dibahas dengan pola head to head sambil seruput kopi dengan rokok Marlboro merah, minimal Surya lah kalo nda ada Marlboro. Hehehe …
Kemarin teman saya di Komisi Pemuda “Evlogia” GMIM Bait’el Kema 2 melaksanakan Tumanda dirangkaikan dengan Ipantik. Tradisi Tonsea yang masih melekat sampai sekarang di Kampung Taranak Borgo ini. Dalam prosesi sakral dan sangat penting itu, mereka menggunakan pakaian adat.
Ada deretan tahap yang merupakan bagian dari tata cara adat yang harus ditepuh. Setelah melewati beberapa proses dalam pernikahan seperti Ipuna, Kumewit, Iyange, Peko’an, Mewa, barulah masuk ke proses Tumanda. Pasti ini tidaklah mudah, namun ketika proses ini dilewati teman saya, tentunya dia akan berhasil menakhodai bahtera rumah tangga dengan kekuatan doa kepada Sang Khalik.

Tumanda dirangkaikan dengan Ipantik
Tumanda adalah pernikahan adat yang umum dikenal dengan sebutan “Kaweng Kampung”. Ini merupakan proses pematangan kedua insan yang diikat dengan rasa cinta sebelum berpijak di jenjang lebih lanjut.
Proses di mana kedua calon diberikan pandangan hidup dalam membina rumah tangga. Setelah diberikan petuah dari kedua keluarga, pihak gereja dan pemerintah setempat yang disaksikan oleh seluruh yang hadir, dilanjutkan dengan pembacaan janji nikah di hadapan Tunduan, Wadian, Teterusan dan Makatedu dari kedua belah pihak. Selanjutnya dilakukan proses Ipantik atau tulis nama agar dicapainya administrasi untuk kepentingan selanjutnya.
Voor tape tamang-tamang, Frendly Tuerah dan Meylan Roos, lancar sampe Makewadi neh.
“Dia yang makan dan minum dari hasil tanah ini dan yang menjadi pelindung pemelihara kehidupan di atas tanah ini, dialah yang disebut orang Minahasa, ‘Se Mahassa’.”
Tetap sehat Minahasaku, Kedung Um’banua Nondolan ni Endo.












