Connect with us

GURATAN

Mencari Jati Diri

Published

on

1 April 2026


Penulis: Fredy M.S.B. Wowor (Penyair, Budayawan Minahasa)


BEBERAPA waktu yang lalu, aku membaca sebuah buku yang berjudul, Asal-Usul/Arti Nama-Nama Kampung di Tanah Toar Lumimuut. Buku ini disusun oleh Jessy Wenas dan Djery Warokka serta diterbitkan oleh Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.

Seperti biasa, ketika menemukan buku yang berbicara tentang asal-usul serta arti nama-nama kampung, aku langsung membaca bagian yang membahas tentang Sonder. Dorongan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa aku dibesarkan sebagai orang Sonder dan tinggal di Talikuran.

“Sonder–(Songkel = Burung Moleo)”. Burung yang besarnya seperti ayam, tidak bisa terbang, bertelur di pasir dan berwarna biru tua putih (Megacphalon Maleo) yang ketika itu banyak terdapat di tempat itu. Itu seperti catatan F.S.A. De Clerg dalam buku Eene Bijdrage tot de Kennis van bet Maleisch der Minahasa (1871). Tahun 1848 negeri Sonder masih terletak di bagian sebelah atas.

Kolongan Atas–Nama tumbuhan ubi talas hutan (Alochasia Macrorrhisa). Daunnya warna bata-bata, garis-garis hitam bintik putih yang tumbuh di lembah. Nama sebenarnya Kolongan Atas adalah “Kuntung” yang berarti bukit. Dari sini kemudian berpindah menyebar ke bawah, ke arah barat.

Talikuran – Negeri yang terletak di arah sebelah barat dari bukit (kuntung), yakni Kolongan Atas sekarang ini. Talikuran artinya barat.

Ka’uneran–(uner berarti tengah) setelah turun dari bukit (kuntung) lalu meletakkan batu tumotowa negeri Sonder sebagai batu pusat titik tengah negeri.

Sendangan–Negeri yang terletak di sebelah timur batu tumotowa Sonder. Sendangan artinya timur arah matahari terbit.

Tounelet – (Selet berarti antara). “Penduduk yang mendirikan negeri di antara bukit (kuntung) Sonder lama atau Kolongan Atas dengan Sonder Bawah di lembah.” Demikian tercatat pada lembar ke delapan puluh satu hingga delapan puluh dua dalam buku tersebut.

Aku mendadak terpaku. Ada yang berbeda dalam catatan di buku ini. Nama-nama kampung yang dicatat memang sesuai dengan kenyataan sekarang ini, tapi asal usulnya masih tetap misterius. Dan apa jadinya dengan generasi ini bila tidak mengenal asal usulnya?

Aku membaca kembali sebuah catatan yang ditulis oleh Jan Sendow, yang pernah dimuat dalam Palakat Nomor 49 Desember 1979 dan Sapangana Nomor 4. triwulan IV/79. Catatan ini berjudul “Asal Usul Dotu Nayoan dan Sejarah Negeri Sonder” yang kini dimuat kembali dalam Sapangana? edisi Februari 2000. Dalam catatan ini terungkap bahwa nama-nama tua dari kampung-kampung yang ada sekarang ini adalah Kekeseen, Kawel, Wawa, Kolongan dan Kuntung. Kekeseen dan Kawel di sebelah Utara, Kuntung di sebelah Timur, Kolongan di sebelah Selatan dan Wawa di sebelah Barat.

Pada masa Mayor Tololiu Dotulong menjadi kepala distrik, diadakanlah penataan kembali negeri Sonder. Penataan kembali negeri Sonder berdampak pada adanya perubahan nama-nama kampung yakni Kekeseen menjadi Talikuran, Kawel menjadi Tounelet, Wawa menjadi Kauneran, Kolongan menjadi Sendangan dan Kuntung menjadi Kolongan Atas.

Perubahan nama ini kemudian berdampak pada adanya perubahan posisi penunjuk arah. Kekeseen menjadi Talikuran di sebelah Barat, Kolongan menjadi Sendangan di sebelah Timur. Wawa menjadi Kauneran di tengah antara Talikuran dan Sendangan. Kawel menjadi Tounelet berada di antara Talikuran dan Kolongan Atas. Kuntung menjadi Kolongan Atas di bagian atas.

Apa makna dari perubahan nama, perubahan tata letak serta perubahan arah ini? Apa hakekat sebuah perubahan?

Aku termenung kali ini, ingatanku terbawa jauh ke masa lalu, ke sebuah peradaban yang dikenal dengan “Peradaban Malesung”. Pada puncak sebuah pegunungan yang dinamai “Kuntung Katoora”. Walian Rumondor bersama orang-orang yang sehati dengannya yang dikenal dengan sebutan “Sumondor” sedang melakukan “posan” atau “upacara” untuk menyatu kembali dengan alam semesta. Sebuah ritual yang kemudian dikenal sebagai ritual “Rumondor Kaiombaan”. Mereka mengadakan ritual ini karena mereka menyaksikan adanya penyimpangan-penyimpangan di tana kaaruien. Mereka adalah para waranei yang berjuang mempertahankan “Tuur In Tana” dari serbuan “Se Pasengkotan”. Mereka adalah para waranei yang harus bertempur habis-habisan untuk mempertahankan harga diri sebagai manusia: Tou Tumou Tou Wo Tou Mamuali Tou. Mereka adalah manusia yang sadar bahwa mereka hidup dan mau terus hidup. Untuk itulah mereka mengadakan poso ini. Untuk memulai hidup baru. Untuk menghadapi zaman baru. Untuk sebuah perubahan demi kelangsungan hidup di dunia ini.

Aku mengumpulkan kembali beberapa catatan tentang asal usul nama Sonder yang sempat aku catat selama ini. Ada yang mengatakan bahwa Sonder berasal dari songkel, sesuai nama burung yang dilihat Rumondor di sebuah mata air. Ada yang mengatakan bahwa Sonder berasal dari kata sondoren, yakni proses mengambil air memakai tangan di rano reindang. Ada yang mengatakan bahwa Sonder berasal dari esa rondor atau maesa rondor. Ini karena orang Sonder terkenal karena kelurusan hatinya dan karena ketetapan hatinya dalam membela harga diri manusia sesuai tiwa’ Toar Lumimuut–“Tou Peleng Masuat Mapute Waya, Cawana Si Parukuan, Cawana Si Pakuruan.

Menurutku seluruh usaha mencari pengertian akan sebuah asal usul adalah sebuah proses yang tak akan pernah selesai. Setiap generasi memiliki panggilannya masing-masing. Tapi pada akhirnya adalah soal ketetapan hati. Se Lowir Uman Se Mauri

*Catatan Medio 2011