Daerah
Kelelondey: Tanah Syukur dan Juang Para Petani

2 November 2026
“Di saat senja mulai memudar dan matahari semakin dalam memasuki punggung pegunungan Kelelondey, Jay masih berkisah tentang makna tanah Kelelondey. Makna kehidupan di atas tanah itu.”
Penulis : Rendy Manaroinsong (Pemuda Adat Langowan)
JUMAT, 16 Juli 2021. Angin dari Gunung Manimporok berhembus lembut, turun ke tanah perkebunan Kelelondey. Bagi yang tidak terbiasa dengan angin pegunungan, dinginnya pasti terasa menusuk kulit. Namun hal itu tidak berlaku bagi Jay, sebab ia tumbuh besar di wilayah ini.
Hari itu, senja akan segera usai. Jay nampak sedang beristirahat. Ia baru selesai menyiangi tanaman kol di kebunnya, Kelelondey.
Jay duduk di tanah. Melepas lelah. Nampak asyik memainkan asap dari mulutnya. Sesekali ia berhenti, bercerita tentang tanah itu.
Ia berkisah tentang Kelelondey, sesuatu yang sangat berharga bagi mereka. Ia dan masyarakat di kampung-kampung sekitar.
“Kelelondey. Memang so dapa lia pa torang pe mata, deng muka sandiri. So torang pe hidop ini. Nyanda ada arti kalu nyanda ada Kelelondey ini,” jelasnya sambil menghela nafas panjang.
Nama lengkapnya, Wandy Bolung. Ia akrab disapa Jay. Tahun 2021, usianya 31 tahun. Sejak anak-anak, dirinya telah akrab bersama Kelelondey.
“Pekerjaan saya petani. Dari umur sebelas tahun, so ba kobong sama-sama deng orang tua. Terus umur enam belas tahun so basandiri bakerja. Batanam sandiri, mengolah lahan sandiri. Sampe sekarang masih tetap bakobong,” ungkap Jay, sambil mengarahkan pandangan ke tanaman di sekitarnya.
Jay, berhenti sekolah di usia 11 tahun. Sejak masa itu ia sudah sering ikut ke kebun Kelelondey bersama orang tuanya.
Usia 11 tahun adalah masa bagi sorang anak seharusnya menghabiskan waktunya dengan menuntut ilmu di sekolah, bermain, bergembira bersama dengan teman-teman sebayanya. Tapi itu berbeda dengan yang dilakoni Jay. Ia sering ke kebun, membantu orang tuanya.
Di umur 16 tahun, Jay sudah bisa menggarap kebun sendiri. Kebun itu berada di perkebunan Kelelondey.
Bermodalkan pengalaman yang didapat sedari kecil mengikuti orang tuanya ke kebun, ia mantap memilih mandiri. Seperti pepatah yang sering kita dengar, “Pengalaman adalah guru terbaik.”
Itulah mengapa ia sangat bersyukur atas perkebunan Kelelondey. Meski tidak sempat melanjutkan sekolah, ia bisa berkebun. Menghidupi keluarganya dari hasil bertani di tanah itu.
Namun sudah setahun lebih, Jay tidak tenang beraktivitas. Ia dan para petani Kelelondey lainnya dibuat khawatir dengan permasalahan lahan. Persoalan dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tak kunjung selesai, tengah dialami oleh petani Kelelondey.

Di pertengahan 2018, masih teringat jelas di memori warga, kejadian yang mungkin tidak terpikirkan oleh mereka. Saat itu para petani sedang berkebun, merawat tumbuhan tomat yang sebentar lagi akan dipanen.
Tomat sedang pada masa produktif dan harganya lagi naik di pasaran. Sampai kemudian petani dikejutkan dengan kehadiran personel TNI. Atas nama negara, mereka menggunakan alat berat, langsung menggusur lahan pertanian warga yang ada di perkebunan Kelelondey, hingga rata dengan tanah.
Penggusuran lahan yang terus-menerus dilakukan oleh personel TNI, dari rentang waktu 2018 sampai 2019, mencapai 8 hektare. Selama itu banyak tanaman warga ikut digusur.
Awal tahun 2020, personel TNI coba merampas lahan pertanian warga. Mematok plang dan memasang mulsa di perkebunan Kelelondey. Padahal sebagian warga memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh Kementerian Agraria.
Sama halnya dengan petani lain, Jay juga menyimpan rasa khawatir mendalam terhadap Kelelondey. Tanah yang ia kelola sejak kecil bersama kedua orang tuanya hingga sekarang.

Hak Masyarakat, Warisan Leluhur
Kelelondey adalah salah satu perkebunan penghasil hortikultura terbesar di kabupaten Minahasa, dan Sulawesi Utara. Luas wilayah pertanian di Kelelondey sekira 340-350 hektare.
Data dan informasi dari para petani di wilayah Langowan, Minahasa, pada tahun 1961 tanah Kelelondey sudah diserahkan pemerintah pusat kepada petani. Ketika itu diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961, yang berisi tentang kebijakan bekas tanah hak erfpacht Belanda yang diserahkan kepada petani yang menggarap.
Sebelumnya, perkebunan Kelelondey di masa penjajahan Belanda dikelola dalam bentuk hak erfpacht, untuk perkebunan kopi dan kapas. Usai hak erfpacht berakhir, lahan perkebunan Kelelondey kembali digarap petani secara penuh.
Alasan masyarakat, tanah ini adalah bagian dari tanah adat, yang sudah dikelola oleh para leluhur sebelum penjajah menguasai lahan itu. Di tahun 1964-1967, tanah Kelelondey telah diukur oleh Kantor Agraria seluas 342 hektare dan dibagikan kepada masyarakat. Bahkan di tahun 1984 sudah terbit sertifikat hak milik kepada beberapa petani.
Demi mempertahankan tanah Keleloney, berbagai upaya telah dilakukan para petani. Mereka telah menyurat ke pemerintah daerah, sampai ke pimpinan-pimpinan TNI. Namun tidak mendapatkan respons yang memuaskan.

Sumber Kehidupan, Dongkrak Ekonomi Petani
Perkebunan Kelelondey memiliki tanaman unggulan seperti tomat, cabe, bawang batang, bawang merah, sayur kol dan jenis tanaman lainnya. Tanaman hortikultura terbaik ada di wilayah ini.
Hasil hortikultura yang diproduksi di perkebunan Kelelondey, mampu memenuhi kebutuhan beberapa daerah di Indonesia. Seperti Ternate, Sangihe, Talaud, Siau, Sorong dan daerah Papua, serta berbagai daerah lain di Indonesia.
Sebagian petani Kelelondey, mampu memasarkan hasil pertanian dari lahan mereka ke beberapa pasar tradisional yang ada di Sulawesi Utara, maupun memasarkan langsung ke beberapa daerah di indonesia.
“Untuk saya, hasil-hasil Kelelondey ini ja sampe Sorong, Talaud, Jakarta, karena tanaman-tanaman di sini paling tahan ja kirim. So terbukti dorang minta trus, yang penting dari Langowan. Karena saya juga ini pengirim ke Talaud, Siau, samua torang ja kirim akang,” jelas Jay, sambil memainkan ranting kecil di tangannya.
Lahan Kelelondey sejak dulu dikelola oleh masyarakat di beberapa desa yang berada di sekitaran wilayah perkebunan ini. Mulai dari desa Tumaratas yang kini telah dimekarkan menjadi dua desa, desa Ampreng, desa Raringis yang telah menjadi tiga desa, dan desa Noongan yang juga sudah dimekarkan menjadi tiga desa. Kurang lebih 12 ribu jiwa tinggal di desa-desa itu.
Para petani Kelelondey boleh memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, mereka juga mampu membuat lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang tidak memiliki lahan untuk digarap. Dengan cara, mempekerjakan orang lain di kebun mereka.
“Samua torang pe keluarga hanya hidup dengan bertani, bakobong di Kelelondey,” jelas Jay.
Hanya dengan mengandalkan peralatan seperti sekop, cangkul dan parang yang dipikul setiap hari ke kebun, bayak petani Kelelondey yang berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.
Itulah mengapa tanah itu sangat penting bagi kehidupan petani dan masyarakat di sekitarnya. Perkebunan Kelelondey menunjang perekonomian, sumber kehidupan mereka.
“Pengalaman saya, terutama tomat, untuk hasil tertinggi tahun lalu 300.000 rupiah per krat. Saya tanam lima saset dan hasil keseluruhan 500 krat. Kita kase rata-rata jo 250.000 rupiah per krat. Dalam seminggu seringkali dua kali dipanen. Harga tomat itu tidak menentu, karena seringkali naik, sering kali turun. Masa tanam, sampe masa panen sekitaran empat bulan lebih. Jadi, mo takser dalam satu masa panen itu, dalam waktu empat bulan. 500 kali 250.000 rupiah, dia pe hasil 75 juta rupiah,” papar Jay.
Sambil mengepulkan asap rokoknya, Jay menegaskan hubungan antara petani dan tanah Kelelondey. “Hubungan petani dengan tanah Kelelondey, torang so menyatu. Petani tanpa Kelelondey, kalo di Langowan dorang bilang so sama dengan penyakit sekarang. Ibarat korona. Kalo cuma berharap di kobong pece itu sulit. Karena di kobong pece kalu ujang mati tu tanaman. Tapi kalu di Kelelondey, mo ujang, mo panas, tetap hidup,” tegasnya.
Pengetahuan warisan leluhur untuk menyatu dengan alam adalah modal bagi Jay dan para petani Kelelondey. Tanda-tanda alam harus mampu dibaca dan diterjemahkan dengan baik.
“Kalu ja tanam atau ja urus tanaman, ja lia musim. Misalnya musim hujan, bulan baru. Karena kalu bulan baru, torang nyanda ja kore tanaman sama sekali,” terangnya.
Di tanah Kelelondey mereka menaruh harapan dan cita-cita. Suka dan duka telah dinikmati bersama-sama. “Untuk pencapaian terbesar, bersyukur sekali so bangun rumah sandiri. Bersyukur sekali dari ba tanam, so ada oto sandiri, motor sandiri, masih ada lei modal ja kase putar di kobong.”
Di saat senja mulai memudar, dan matahari semakin dalam memasuki punggung pegunungan Kelelondey, Jay masih berkisah tentang makna tanah Kelelondey. Makna kehidupan di atas tanah itu.
“Makna tanah Kelelondey bagi torang adalah segalanya. Torang pe hidup cuma di Kelelondey. Tanah Kelelondey arti dari kehidupan. Jadi kalu Kelelondey ini habis, samua torang habis. Torang mampu sehidop torang pe keluarga, sekolah anak, samua hasil dari Kelelondey,” ucap Jay.
Angin senja kian menusuk kulit, namun Jay masih saja bertutur. Wajahnya agak memerah, dan suaranya sedikit lebih keras, saat ia menceritakan bagaimana mereka akan menjaga tanah Kelelondey.
“Memang samua torang so pertaruhkan untuk mempertahankan torang pe tanah Kelelondey. Ya, karena tanah Kelelondey so dapa lia dari torang pe mata deng muka sandiri. Memang so torang pe hidop. Nyanda ada arti kalu so nyanda ada Kelelondey ini,” kata Jay.
Hari semakin malam. Jay pun berdiri dari tempat duduknya, memberi isyarat bahwa ia harus beranjak pulang. Perlahan kami berjalan meninggalkan perkebunan Kelelondey. Di jalan pulang, sayup terdengar suara seorang ibu menyanyikan lagu.
Lagu itu sering dinyanyikan saat sore menjelang malam hari. Ketika para petani seharian bekerja dan hendak pulang ke rumah.
“Heeee … sayang. Wengimkere. Wengimkere. Si endo yasa … ”













