GURATAN
Soal Berminahasa

17 Februari 2026
“Kalu boleh nyanda mo pake barang tajam, pake tu otak pe tajam.”
Penulis: Rikson Karundeng
“UNTUK berminahasa, cara apa saja bisa dilakukan di setiap zaman. Sesuai konteks. Ada juga cara-cara yang lintas konteks, lintas zaman. Sama seperti menulis, itu cara berminahasa semenjak dulu, sejak zaman leluhur walaupun belum mengenal pendidikan modern,” kata Greenhill Glanvon Weol.
Jumat, 1 November 2019 malam. Sebuah tulisan selesai dibuat. Meteri yang harus disajikan kepada para mahasiswa dalam seminar besok harinya di Universitas Negeri Manado (Unima). Namun terasa ada sedikit ruang kosong dalam kalbu yang mengganjal. Setelah berpikir sejenak, saya baru sadar jika ada “ritual” yang terlewatkan. Membaca, menulis sudah dilakukan. Hal yang masih kurang adalah mendiskusikan ide-ide yang tertuang dalam tulisan dengan orang lain. Sebuah proses yang harus dilalui sebelum kembali memperbaiki tulisan yang sudah dikerjakan.
Kali ini saya memutuskan untuk mengusik Greenhill. Ia seorang penulis, seniman yang men-direct komunitas budaya Mawale Cultural Center. Saya yakin, dia orang yang tepat untuk mendiskusikan topik tentang bagaimana generasi milenial Minahasa berminahasa. Panggilan telepon saya direspons. Diskusi kami pun mengalir bersama angin malam. Green memberikan pendapatnya.
“Di satu masa, ketika mereka mulai mengenal tulisan yang kita kenal kini, para pendahulu kita sudah mencontohkan, bagaimana mereka menulis tentang Minahasa. Mereka berziarah tapi terpenting bagaimana mereka menuliskan itu. Karena dalam perhitungan peradaban modern, ia selalu kembali ke tulisan,” kata Weol.
Medianya bisa berubah. Di zaman lampau batu, di kemudian hari surat kabar, tapi hari ini lebih kontekstual. Misalnya melalui sosial media. Status facebook saja yang memuat konten berminahasa sudah termasuk berminahasa. Ada yang membuat penggalan-penggalan kisah, info grafik yang berkenaan dengan Minahasa masa lalu. Itu yang di-share setiap hari.
“Salah satu cara berminahasa hari ini seperti itu. Untuk mengingatkan bahwa kita Minahasa, ngoni Minahasa. Isu itu tetap ‘panas’, digoreng terus. Ini salah satu,” ujar Weol.
Selain itu, menurutnya dengan memupuk diri menjadi mahir di bidang apapun. Kalau di bidang jurnalistik, jadilah jurnalis yang paham banyak hal. Dengan memperdalam ilmu-ilmu jurnalistik terbaru. Kalau di ruang-ruan lain, jika musisi jangan tanpa identitas. Misalnya anak-anak dari tanah Minahasa yang berkegiatan kesenian di “luar”, dia seharusnya juga mesti punya pemahaman tentang konten Minahasa.
Jadi, utamanya untuk berminahasa hari ini, orang harus punya pengetahuan yang cukup tentang apa itu Minahasa. Dan bukan cuma cukup, tapi juga akurat. Karena sering kali kita melihat ada orang yang mem-posting tentang Minahasa di medsos tetapi tidak akurat. Hanya berupa sentiment-sentimen, cuma “melap-lap” kejayaan masa lalu, padahal sudah tidak mampu menunjukkan kemampuan yang sama hari ini.
“Kita sesungguhnya sudah kalah dengan generasi yang kita banggakan. Generasi kita sudah tidak mampu seperti generasi dorang. Mereka menjadi icon, trendseter di bidangnya.
Kalau kita belajar dari berbagai informasi tentang tokoh Minahasa di masa lampau yang catatannya banyak bertebaran di medsos, orang Minahasa pada zaman dahulu adalah orang-orang terbaik di bidangnya. Mulai dari kesenimanan, ilmuan, politisi, birokrat.
“Sekarang banyak yang tinggal mamutung-mamutung, torang sudah tidak lagi mendapatkan ‘jatah’ menteri, sudah tidak ada ini, tidak ada itu, tetapi fakta memang sudah tidak ada yang mampu. Apalagi ketika dibandingkan dengan wilayah lain. Dibandingkan dengan etnis-etnis lain di Indoensia, kita memang sudah ‘miskin’. Kalaupun ada, harus berakhir di kasus-kasus aneh,” ucap Weol.
Untuk berminahasa hari ini, sekali lagi harus punya pengetahuan tentang Minahasa yang cukup, tentang sejarah, demografi, yang akurat. Itu resep berminahasa hari ini. Sementara, metodologi berminahasa bisa lewat metode apa saja. Sesuai dengan ruang yang kita pilih. Tapi modalnya terutama soal pengetahuan tentang siapa dirinya. Siapa torang?
Genarasi millenial kini sedang berada di era revolusi industry 4.0. Ada hal menarik soal identitas keminahasaan dengan era 4.0. Salah satu komponen utama untuk terjadinya 4.0 itu adalah kemampuan merelasikan diri dengan yang lain.
4.0 bukan terciptanya teknologi baru tapi bagimana teknologi yang baru itu, yang ditemukan di 3.0, bisa saling berhubungan satu degan yang lain. Termasuk juga manusianya. Hal yang menarik, kita tou Minahasa egaliter dari darahnya. Karena untuk menghubungkan komponen-komponen yang membentuk 4.0, termasuk manusianya, butuh “perataan” dan kesetaraan. Sedangkan kesetaraan tidak lagi perlu kita belajar, sebab sudah ada dalam darah. Orang Minahasa udah dari sononya setara dengan bangsa-bangsa yang lain. Itu penting sekali di era 4.0.
“Karena bangsa yang tidak mampu menyetarakan diri dengan bangsa yang lain, dia akan menjadi bangsa pekerja di era 4.0. Kalau seperti itu, kita tertinggal di abad pertengahan,” sebut Weol.
Kalau orang Minahasa sudah memiliki kesetaraan di dalam darah, kita melihat orang sama saja, sama dengan orang Jerman. Makanya kita mampu menjalin komunikasi yang setara dengan mereka. Karena misalnya bangsa tertentu, tidak mampu melakukan itu. Mereka punya keterbatasan. Karena mereka punya stratifikasi dalam masyarakat. Mereka yang akan mampu hanya yang bisa mampu naik ke tangga elit mereka.
“Kalu kita Minahasa, semua bisa. Itulah yang akan memudahkan kita memasuki era 4.0. Karena kita sudah dibekali kesetaraan,” ujarnya.
Kenapa kesetaraan? 4.0 adalah networking. Kalau dia mau menjalin network, dia tidak akan bisa menyambung kalau tidak setara. Ia akan menjalin hubungan dengan yang setara. Pada fase sebelumnya, dunia telah mampu “diratakan”. Logikanya, kalau sudah rata, dia bisa nyambung. Jadi, makanya di 4.0 ini, batas-batas negara menjadi kabur. Karena dulu batas negara berupa tembok. Tidak gampang aliran manusia ataupun aliran produk mengalir dari satu negara ke negara yang lain. Sedangkan di 4.0 itu, batas-batas negara semakin kabur. Karena tiap negara harus membongkar batas-batasnya untuk tetap survive.
Jadi, misalnya Indonesia, dia fokus memproduksi hasil alam. Dia akan fokus di situ. Dan dia tidak akan mau pusing dengan energi, karena yang produksi energi misalnya negara Malaysia. Dan energi itu akan diambil dari Malaysia. Produk kita sama, keluar juga ke sana. Jadi di era 4.0 spesialisasi produksi. Kalau tidak setara, tidak rata, akan sulit terjadi.
Konsekwensinya? Ada pendapat, di era 4.0 ini manusia akan digantikan oleh robot. Itu benar. Tapi di satu sisi, akan ada ruang-ruang baru yang muncul yang justru membutuhkan banyak pekerja. Tetapi yang tidak boleh kita lupa, otot itu kebanyakan sudah akan digantikan mesin. Karena efisiensi. Dan yang akan dititikberatkan utama adalah daya pikir, daya kreasi, dan sekali lagi, kalau mau optimis, orang Minahasa punya keuntungan di sisi itu. Kita punya keunggulan manusia-manusia yang punya kemampuan berpikir.
“Kalau baca sejarah, manusia-manusia Minahasa itu terbukti punya kemampuan berpikir di atas rata-rata. Persoalannya, apakah tou Minahasa hari ini masih sepeti itu? Ini yang perlu dipertanyakan,” kata Weol.
Jadi ada kecendrungan keliru di saat kita mengangkat keminahasaan kemudian melupakan soal bahwa keunggukan utama dari bangsa ini adalah kemampuan berpikirnya. Pada saat terlalu banyak penekanan kepada heroisme, machoisme, ke hal-hal yang berbau kekerasan, seolah-olah itu satu-satunya yang bisa dibanggakan dari bangsa Minahasa.
Jadi kalau yang ditekankan machoiseme, itu salah. Karena itu yang ditekankan hanya kulitnya. Itu keburukan penekanan heroisme melulu. Hasilnya, munculnya budaya kekerasan, patriakisme. Jangan dikira berminahasa hanya soal bisa “bakuku karas-karas kong angka peda”. Karena kalau mau jujur, kita bukan bangsa yang jago berperang secara fisik. Sejak zaman leluhur, sudah bisa dilihat kita lebih memilih “Kalu boleh nyanda mo pake barang tajam, pake tu otak pe tajam”.
*Sepenggal catatan dari sebuah diskusi bersama Greenhill Weol, 1 November 2019.














