Connect with us

GURATAN

Negeri Aertembaga: Rumampor wo Rumaghes Umbanua Mataingkere

Published

on

24 September 2026


“Mataingkere dengan demikian bukan hanya sebuah tempat yang memiliki sumber air. Ia adalah ruang yang menyimpan ingatan, perjalanan, doa, kemenangan, dan penghormatan terhadap para pendahulu.”


Penulis: Benhard Holderman (Pegiat Budaya Tonsea)


 

MATAINGKERE, 14 September 2026.

Rumampor berasal dari kata dampor, yaitu suatu foso untuk memohon perlindungan kepada Opo Menanatas (Sang Khalik) agar manusia dijauhkan dari marabahaya, sakit-penyakit, serta kegagalan dalam hasil pertanian. Sementara, rumaghes berasal dari kata dasar rages, bermakna persembahan yang diberikan dengan keutuhan dan ketulusan hati. Kata ini merujuk pada tindakan membawa hasil bumi terbaik untuk dipersembahkan kepada Empung Waidan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar) sebagai wujud penghormatan dan ucapan syukur.

Rumampor wo Rumaghes kemudian menjadi simbol hubungan manusia dengan Sang Khalik melalui hasil bumi yang diberikan sebagai persembahan. Di dalamnya terkandung pengakuan atas kuasa Tuhan sekaligus penghormatan terhadap keseimbangan antara manusia dengan tumbuhan, manusia dengan binatang, dan manusia dengan seluruh tatanan kehidupan.

Nilai inilah yang dalam perjalanan waktu bertransformasi dan berkembang menjadi tradisi Pengucapan Syukur, yang kemudian dirayakan secara meriah oleh setiap kampung.

Namun, makna Rumampor wo Rumages tidak berhenti pada dimensi vertikal antara manusia dan Tuhan. Di dalamnya terdapat pula nilai kehidupan “Tumou Tou” (memanusiakan manusia lain) serta Mapalus, yaitu semangat kebersamaan dan gotong royong.

Setelah rangkaian ritual selesai, biasanya masyarakat berjalan mengelilingi kampung dan mendatangi Pasela-pasela (Batu Penanda), membawa doa serta harapan bagi keselamatan, kesejahteraan, dan masa depan kampung. Setelah itu, masyarakat berkumpul untuk makan bersama, menikmati hasil panen, serta membagikan berkat kepada keluarga, kerabat, maupun para pendatang. Tidak ada batas antara yang memiliki dan yang menerima; berkat menjadi milik bersama.

Semua rangkaian tersebut tidak terlepas dari Foso Pa’anuren, yaitu rangkaian tuturan yang disampaikan oleh para Tunduan, Wadian, Teterusan, Tutu’n Mbanua, Paendon Tua’, serta seluruh yang hadir, termasuk pendeta dan masyarakat.

Foso Pa’anuren merupakan ungkapan penghormatan kepada mereka yang akan datang dan mereka yang telah mendahului, permohonan kepada semesta, serta pengakuan atas keberadaan Sang Khalik dan keteraturan tatanan semesta.

Tradisi lisan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Ia bukan sekadar rangkaian kata dalam sebuah upacara, tetapi merupakan bagian dari sistem pengetahuan, spiritualitas, etika, dan cara pandang hidup Tou Tonsea, bahkan menjadi bagian dari kekayaan kebudayaan Makatana Minahasa.

Doud Mataingkere

Bagi Tou Minahasa, air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Bahkan, banyak foso Tou Minahasa bertemu dalam satu pusaran elemen kehidupan yang disebut air.

Di Tana’ Tonsea, kita mengenal berbagai tempat dan peristiwa yang memiliki hubungan erat dengan air, seperti Rumamu’us, I Roros si Koki, Sempetan si Keted, Mahwuwuringen, dan berbagai ritual adat lainnya.

Keberadaan mata air atau sumber air memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan Tou Minahasa, termasuk bagi Tou Tonsea. Doud Mataingkere, sejak dahulu, dipercaya sebagai salah satu pusat kegiatan spiritual masyarakat, terutama ketika warga hendak melaksanakan ritual adat setelah menghadapi berbagai peristiwa penting dalam kehidupan.

Dalam cerita lama Tou “Nondolan ni Endo”, tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi dilaksanakannya Upacara Adat Sempetan wo Rumampor.

Sempetan wo Rumampor

Dalam oweran Tonsea, ritual adat Sempetan wo Rumampor dilakukan untuk menyambut dan mensyukuri kepulangan para Kedung Umbanua (Penjaga Negeri) yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan bagi negeri.

Salah satu tradisi yang masih dikenang hingga kini adalah kebiasaan Tou Tonsea mendatangi Mataingkere untuk melakukan penyucian diri setelah selesai berperang—baik dalam menghadapi Kalewoan Lata-lata, Mangindano, bahkan hingga Loloda.

Mataingkere dengan demikian bukan hanya sebuah tempat yang memiliki sumber air. Ia adalah ruang yang menyimpan ingatan, perjalanan, doa, kemenangan, dan penghormatan terhadap para pendahulu.

Air menjadi saksi perjalanan manusia: tempat kembali untuk membersihkan diri, mengucap syukur, memohon keselamatan, sekaligus menghubungkan manusia dengan alam dan ingatan leluhur.

Sebagai salah satu keturunan dari para Kedung Umbanua, saya bersyukur bahwa pada tahun ini saya kembali lagi ke tempat ini, Mataingkere atau Negeri Aertembaga. 2014, bersama Otu Fransina Kalalu Jansen, bersua dengan Opa Tololiu Kuntel yang adalah Tona’as Negeri Aer tembaga.

Di tahun ini, saya bersama Opa Pontoh Supit Karundeng, Tona’as Rindengan Taroreh, saudara saya Charles Somba, serta seluruh Makatampa Mataingkere.

Setiap kedatangan bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, tetapi seperti membuka kembali lembaran ingatan yang diwariskan oleh mereka yang telah lebih dahulu berjalan.

Sighi Leos Endo Ghenang Naduas Mataingkere ka’apa Negeri Aertembaga. Pakatuan Pakalawiden kita imbaya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *