CULTURAL
Quo Vadis Kalelon Wakan
Published
6 years agoon

Bila dilihat dari karakteristiknya, maka senandung Maka’aruyen agak lebih ‘keras’ dan lantang dari pada Kalelon. Hal ini bisa disebabkan karena memang Kalelon lahir dari kultur orang Minahasa di pegunungan yang dekat hutan, dengan tradisi hidup Tontemboan yang terkenal lembut dengan tradisi ‘maere’. Kalelon mengambil bentuk lebih lembut dan syahdu. Salah satu alasan lain yaitu dalam tradisi Minahasa,terutama di Tontemboan, orang tidak boleh membuat suara yang berisik saat berada ataupun tinggal di gunung, lembah, sungai, dan hutan. Oleh karena itu Kalelon memiliki nilai tradisi ini. Sementara menurut Budayawan Minahasa, Fredy Wowor, Makaaruyen tumbuh dalam sebuah perjalanan. Bahkan ia menjadi lantunan di masa sulit, misal di masa perang, yang membutuhkan nada yang lebih keras untuk memberikan semangat. Selain itu musik Maka’aruyen lahir di daerah pinggiran pantai ataupun jalur ke pantai sehingga musik yang diciptakan seolah lantang dan lebih keras dari suara ombak ataupun angin. Hal ini seperti tergambar seperti dalam syair Minahasa berikut:
Seperti Masuk hutan. Diam, menenangkan jiwa.
Seperti ke pantai. Berteriak, menenangkan jiwa.
Quo Vadis Kalelon Wakan
Kalelon Wakan memang punya ciri khas sendiri dibandingkan grup Kalelon lain, apalagi Maka’aruyen. Selain karena ia berasal dari Wakan dan lahir dari kultur orang Minahasa di pegunungan, Kalelon Wakan punya nuansa yang lebih lembut dengan syair cerita yang panjang. Satu lagu Kalelon bisa memiliki durasi selama 11 menit.

Rosye Poluan (Kaos Kuning) bersama seniman muda Kalelon Wakan
Menurut Oma Ros, Grup Kalelon Wakan sendiri sudah menghasilkan beberapa album. Namun ada dua album yang beredar luas.
Memu, menjadi seniman dibalik terciptanya syair-syair Maka’aruyen termasuk petikannya. Namun sayang, sebelum berpulang ke Sang Pencipta, hampir tidak ada orang yang secara serius belajar musik tradisi Kalelon darinya.
Oma Ross Poluan, masih ada. Tahun 2020, ia berusia 77 tahun. Saat diwawancari tahun 2017, oma Ross sudah lupa beberapa syair dari lagu Kalelon yang dulu ia senandungkan sejak tahun 1950-an. Namun ingatan tentang perjuangannya dengan Memu mengenalkan Kalelon Wakan kepada publik tetap ia ingat.
Ia bercerita bagaimana ia dan Memu merintis Grup Kalelon Wakan. Mereka sering merekam karya mereka, kemudian di jual di kampung. Bahkan mereka juga sering diundang tampil. Memu juga begitu, karena ia memang mahir memetik Kalelon. Ia sering diundang pentas solo, di kampung sekitar Wakan. Perjungan mereka ini kemudian berujung, ketika ada studio rekaman yang mengontrak mereka dan memproduksi lagu mereka secara professional.
“Napa dank itu depe kertas lagu. Kita masih ada simpang”.
Oma Ross keluar dari kamar. Ia membawa secarik kertas kecil yang nampak sudah usang. Kertas itu pun sudah sobek dan berlubang sebagian. Rupanya itu adalah sampul album Kalelon Wakan.
“Ini dank, Qta deng Memu pe gambar. Mar so barobek reen”
Mata Oma Ross berkaca-kaca. Mungkin ia sedih karena kertas yang ia simpan sudah rusak dimakan rayap. Bisa juga karena ia terharu melihat kembali wajah sahabatnya yang telah tiada di sampul tersebut.
Sampul album miliknya itu, berisi foto ia dan Memu. Tulisan ‘Group Kalelon Wakan’, nampak mencolok dengan warna kuning dan merah muda. Di situ juga tertulis, pemimpin dan pencipta lagu adalah Semuel Lonteng, alias Memu. Di sampul itu juga tertera informasi bahwa Happy Sound Studio merupakan pihak yang mengeluarkan album mereka itu. Album itu dilabeli harga Rp. 6.500,00.
Ada 8 lagu dalam album tersebut. Di bagi ke dalam side A dan side B kaset. Lagu Tumembo Meko, Minta Doa, Sa Aku Tumengi, Di Bawah Sinarnya, ada di side A kaset. Sementara Si Pisok, Sungguh Ibu, Bila Malam, Saaku Cabow I Mama, ada side B kaset. 
Sampul album Group Kalelon Wakan yang dimiliki Rosye PoluanKalelon Wakan, telah direkam dan telah menghasilkan 2 edisi album. Edisi pertamalah yang banyak beredar di kalangan masyarakat Minahasa. Beruntunglah, Kalelon Wakan punya dua album rekaman yang beredar. Dari rekaman itulah, banyak orang, khususnya orang Wakan belajar kembali seni tradisi Minahasa, Kalelon.
You may like

Soal Berminahasa

Kelung um Wanua Tou Mu’ung: Sejarah dan Spirit IMT Unima

Tomohon 1946, Ketika Pemuda Merebut Kebebasan

Membaca Jalan Jurnalis di Era Tsunami Informasi

Masayouu: Perang Melawan Roh dan Ketidakseimbangan Relasi Manusia-Alam Semesta

Ironi Minahasa Utara: Bupati Akui Tambang Merusak, Konflik Agraria Tak Terselesaikan









Pingback: Kaset, Pita Penghubung Kebudayaan tahun 1980-an – Kelung