Connect with us

CULTURAL

Quo Vadis Kalelon Wakan

Published

on

2 of 5
Use your ← → (arrow) keys to browse

Kalelon dan Maka’aruyen adalah musik tradisi Minahasa yang dilantunkan dengan petikan gitar yang khas. Syairnya berisi cerita tentang hubungan antara manusia dengan Sang Penciptanya, hubungan antara manusia dengan alam, dan relasi antara manusia dengan sesamanya. Cerita tentang relasi antar manusia banyak ditemukan dalam syairnya. Misalnya, cerita lika-liku kehidupan manusia, pergulatan batin seorang anak dan orang tua, asmara, kisah persaudaraan, dan persahabatan banyak ditemukan dalam syair-syairnya.

Secara terminologi, kata Kalelon dan Maka’aruyen memiliki beberapa arti dan makna. Pemahaman mengenai arti Maka’aruyen tergantung pada konteks kata ini dipakai. Di dalam kata Maka’aruyen tersimpan kata aruy. Secara harafiah, aruy berarti sikap, kondisi atau keadaan yang baik, nyaman, senang, dan tentram. Aruy juga bisa berarti luapan rasa cinta dan rindu. Sehingga Maka’aruyen adalah gambaran sikap ataupun kondisi yang baik, nyaman, dan tentram. Sikap dan kondisi ini adalah pemaknaan dari manusia terkait rasa, cinta, dan rindu yang begitu kuat terhadap sesama manusia, alam, dan Sang Pencipta. Sementara, Kalelon berasal dari kata ‘lelo’. Secara harafiah lelo berarti rindu. Kalelon dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang teringat dan merindukan sesuatu yang berkesan dan penting bagi dirinya. Misal, kerinduan kepada orang tua, sahabat, kekasih hati, kampung halaman, alam dan tanah kelahiran, dan bahkan kepada Sang Pencipta. Kalelon juga dapat dimengerti sebagai suatu cara untuk untuk tetap terhubung dengan ingatan yang membuat rindu.

Ada banyak anggapan bahwa Maka’aruyen dan Kalelon lahir nanti ketika Minahasa telah berinteraksi dengan orang barat yaitu sekitar abad 15, saat mengenal juk ataupun gitar yang dibawa saat itu. Namun, jauh sebelum gitar dikenal di tanah Minahasa, Maka’aruyen dan Kalelon telah mewujud dalam tradisi marei’ndeng; ketika orang Minahasa, terutama Tonaas dan Walian, menemukan ‘gitar satu tali’ atau lebih dikenal dengan nama Swassa. Menurut penuturan Tonaas Rinto Taroreh, “Swassa” adalah semacam gitar dengan satu tali yang digunakan untuk Ritual Marei’ndeng dan Masambo. Talinya terbuat dari urat tulang belakang ular hitam (wai). Sementara menurut, Agus Mamoto, seniman Maka’aruyen asal Wuwuk, Swassa merupakan alat petik satu tali yang terbuat dari urat ular yang dicampur emas.

Dari sini dapat dilihat bahwa benih dari Maka’aruyen & Kalelon adalah musik ritual. Hal ini juga bisa terlihat dari syair-syairnya. Di kemudian hari, seiring waktu berlalu, syair dan musik tersebut, mengalami perjumpaan dengan budaya barat yaitu dengan alat musik gitar. Tradisi menggunakan gitar dalam Kalelon dan Maka’aruyen kemudian bertahan sampai sekarang. Penggunaan gitar menghantarkan Kalelon dan Maka’aruyen lebih memiliki ciri khas dan menjadi sebuah identitas yang kuat. Sehingga ketika orang mendengar bunyi petikan gitar khas Minahasa, mereka langsung tahu bahwa itu Kalelon atau Maka’aruyen.

2 of 5
Use your ← → (arrow) keys to browse