Connect with us

GURATAN

Tradisi Ower Akan Tetap Hidup!

Published

on

3 November 2026


“Para leluhur dan tradisi pewarisan Ower pasti punya ‘rahasia mujarab’ agar pengetahuan itu tetap terwariskan, hidup dan menghidupkan.”


Penulis: Benhard Holderman


TOU (orang) Minahasa memiliki sistem dokumentasi budaya yang adiluhung. Masyarakat Tonsea mengenalnya dengan sebutan Ower. Ower merupakan nadi kebudayaan Minahasa sekaligus sistem pewarisan lisan yang merekam hukum adat, kesenian, ritus, falsafah hidup, hingga kearifan lokal secara turun-temurun. Jadi, Ower merupakan pesan lisan, seni yang dituturkan atau yang diekspresikan secera turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Oweran adalah proses budaya lisan itu atau pengetahuan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Sementara, orang yang menerima tradisi itu disebut Noweran. Jadi, proses transmisi budaya ini disebut Oweran, sedangkan generasi yang menerima dan merawat tongkat estafet pengetahuan tersebut dinamakan Noweran.

Bagi masyarakat Minahasa, budaya ower terus terjadi. Penunjang penting oweran yang bisa dilihat hari ini, pada sub-etnis tertentu misalnya, ada tulisan-tulisan kuno dan simbol-simbol yang tertulis dalam artefak seperti waruga (sarkofagus) maupun dalam buku yang diwaris-wariskan atau kisah-kisah (Ower) yang kemudian dicatat pada suatu masa oleh para tetua dalam suatu rumpun keluarga.

Lewat tradisi yang terus hidup, cerita-cerita yang diturunkan dari nenek moyang, para tetua ke generasi-generasi selanjutnya, maka kita mengenal nilai-nilai tradisi, cerita legenda, sejarah, seni dan budaya secara menyeluruh.

Masyarakat Minahasa adalah pewaris budaya Ower dengan perjalanan budaya Oweran lintas zaman, dan generasi-generasi terdahulu sebagai Noweran. Pertanyaan lantas bermuara pada “mengapa” dan “bagaimana” perilaku manusia ketika itu, bila hanya didasarkan pada warisan benda yang dapat diraba dan dilihat secara nyata, artefak, puing dan harta karun yang berserakan maupun yang terkubur di bawah tanah?

Artefak atau segala benda warisan masa lampau yang bisa dilihat bahkan diraba, pasti menyimpan pengetahuan. Namun, ada keyakinan jika benda-benda tersebut tidak akan membawa pemahaman terhadap suatu keadaan hingga ke titik “batin melebur dengan semesta”. Para leluhur dan tradisi pewarisan Ower pasti punya “rahasia mujarab” agar pengetahuan itu tetap terwariskan, hidup dan menghidupkan.

Kalau boleh ditegaskan, meskipun Minahasa kaya akan peninggalan fisik seperti waruga (sarkofagus), simbol artefak kuno, maupun catatan genealogis keluarga, benda-benda tersebut tidak akan berbicara banyak tanpa adanya Ower.

Artefak memang menyimpan pengetahuan yang bisa diraba, tetapi tradisi lisan memberikan jiwa dan pemahaman batin yang meleburkan manusia dengan semestanya. Para leluhur Minahasa memiliki “rahasia pengetahuan” dalam merangkai peristiwa, memilih ruang-ruang kontekstual yang sakral, serta menyusun pola tutur agar nilai-nilai keminahasaan tidak luntur digerus zaman.

Sebagaimana disadari bahwa cerita-cerita yang kita dengarkan merupakan cerita turun-temurun dalam tradisi yang dituturkan melalui orang tua ke anak. Setiap cerita dirangkai dari suatu peristiwa yang terpola dan dilakukan pada ruang-ruang tertentu. Penentuan ruang-ruang “terpilih” itu telah melalui proses yang panjang dan tentu kontekstual. Gaya para penutur sangat penting. Itu mengapa pewarisan kisah yang menyimpan pengetahuan keminahasaan seperti cerita Opo Montororing, Opo Pinkan-Matindas, Hendrikus Zakarias Salassar, dengan sejarah Tonsea, melekat erat dengan gaya penuturan si penutur.

Ada pengetahuan yang diwariskan lewat lantunan lagu kuno atau yang dikenal tetambaken, ada yang melalui cerita pengantar tidur seperti uman di Tondano. Namun, suatu masa ada juga cerita-cerita tentang Minahasa yang kini dinikmati dalam tulisan, yang ditulis sejak abad ke-16 oleh para misionaris, para peneliti yang melewati jalur perdagangan. Ada cerita perang dan cerita menganai aksi perompak-perompak yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain di tanah Minahasa.

Dalam perjalanan waktu, ada begitu banyak kisah, peristiwa yang sepertinya “terabaikan”. Banyak fragmen sejarah dan peristiwa masa lalu yang sempat terabaikan hingga membingungkan generasi hari ini.

Dampaknya, di kemudian hari ketika didengar, terkesan seperti “kabur”. Kisah-kisah itu sepertinya dianggap tidak begitu menarik sehingga itu kurang diberikan perhatian. Walau demikian, di tiap wanua tetap ada orang-orang tertentu, yang “sepesial”, yang selalu hadir di setiap masa sebagai penutur yang sangat “kuat”. Fakta sejarah di tana’ yang tak bisa dipingkiri, selalu lahir sosok-sosok penutur sebagai perpustakaan hidup.

Kini, ada hal menarik serupa yang bisa kita temui. Ada sosok-sosok yang dengan konsisten mengumpulkan, menapis, menilai, membuat rekonstruksi suatu cerita, temuan sejarah walaupun “hanya” melalui penuturan (Ower/oral culture). Penelusuran demi penelusuran dibuat, semacam pembuktian, untuk kemudian disandingkan dengan berbagai temuan oleh banyak pihak yang sama.

Langkah penelusuran dan pembuktian ini menjadi bukti bahwa para penutur hari ini adalah benteng terakhir sekaligus penjaga api pengetahuan yang menghidupkan. Melalui mereka, Ower tidak akan menjadi fosil masa lalu, melainkan abadi dan tetap hidup. Saya yakin, ini kekuatan generasi hari ini yang merupakan penjaga dan pewaris pengetahuan yang menghidupkan dari para leluhur. Ower akan tetap hidup!

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *