CULTURAL
Dari Cangkir Kopi ke Hati: Pemuda dan Pelestarian Budaya di Era Modern

28 September 2026
“Kita harus terus menjaga tradisi dan budaya. Jangan hanya menunggu dan membiarkan waktu untuk menjawab.”
Penulis: Hendro Karundeng
KIASAN atau pepatah tua “Biar waktu yang menjawab” memang mencerminkan kesabaran, kelugasan serta ketekunan. Buah pemikiran yang membuat seorang individu untuk terus hidup menikmati setiap proses dalam perjalanan hidupnya. Bahkan kadang menjadi mindset yang menggentayangi pikiran akan segala hal. Saat menghadapi masalah kadang muncul pemikiran itu, saat mengharapkan sesuatu, bahkan suatu momen yang tengah ditunggu.
Tapi, apakah bisa itu berlaku dalam konteks menjaga tradisi dan budaya? Apakah kita hanya akan menunggu dengan berpegang pada pepatah itu? Memang ada begitu banyak adat dan tradisi budaya di Minahasa, beberapa sudah dikenal di berbagai tempat dan di berbagai kalangan. Kiasan itu mungkin berlaku di beberapa wilayah adat Minahasa yang masih aktif dan menjalani tradisinya. Tapi bagaimana dengan wilayah lain? haruskah menutup mata dan membiarkan waktu untuk menjawab?
Pokok ini jadi bahan diskusi panjang beberapa orang di sudut ruangan Wale Pahumungan Ne Waraney, Warembungan, Minahasa. Suasana itu tersaji usai makawale atau pemilik rumah, Tonaas Rinto Taroreh menggelar Focus Group Discussion, ‘Upacara Adat di Minahasa Modern’, 26 September 2026. Di sudut meja yang berumur hampir 200 tahun, duduk merapat Kadis Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Lesawengen, seorang pemuda pegiat budaya dari ‘Nondolan Ni Endo’, Kema, Wilayah Adat Tonsea, Benhard Holderman dan aku, Hendro Karundeng.
Mereka Harus Jadi Ambassador Kebudayaan
Beberapa saat sebelumnya, di atas meja berderet empat gelas kopi. Tepat di sebelah gelas kopi yang aku minum, sudah nampak ampas kopi di dasar gelas yang tadinya diminum salah seorang kawan yang juga mengikuti diskusi dan berbagi pendapat dengan kami. Seorang jurnalis senior serta pegiat budaya Tonsawang yang masih aktif dalam melestarikan tradisi budaya di wilayahnya. Namanya, Hendra Mokorowu.
Sebelum ia pamit undur diri, ia meneguk sisa kopi di gelasnya. Lalu menjabat tangan kami satu persatu. Saat tangannya merangkul tangan Yorry, dengan senyum sopan ia pamit untuk pulang terlebih dahulu.
“Saya duluan pulang, Pak. Seperti yang saya ceritakan tadi, ada anak tengah menunggu di acara Duta Budaya. Saya sudah janji datang tepat waktu untuk mendampingi,” ujar Hendra.
Sekitar setengah jam sebelumnya, kami berempat berbagi pendapat tentang peran penting pemuda atau remaja dalam menjadi ujung tombak pelestari budaya dan tradisi Sulawesi Utara yang beragam. Sembari menikmati kue cucur dan panada berteman kopi pahit, Hendra mulai berbagi pendapat tentang ajang pemuda dan dunia pendidikan seperti Nyong-Noni Sulut, Putra-Putri Pendidikan, hingga ajang nasional seperti Putri Indonesia dan Miss Indonesia.
“Sebenarnya pelestarian budaya kita itu bisa diperdalam. Mungkin para praktisi budaya di wilayah tertentu tidak bisa secara gambling untuk mempublikasikan adanya bentuk tradisi atau seperti yang baru kita diskusikan bersama tadi yaitu upacara adat. Tapi kan kita sudah punya banyak celah untuk menembus itu. Salah satunya ajang pendidikan seperti Nyong-Noni Sulut,” ujar Hendra.
Hal ini langsung di tanggapi Yorry. Sembari menyeruput kopi, ekspresinya langsung menyambut serius. Sedikit kritik juga ia sampaikan mengenai ajang pendidikan untuk menentukan figur representasi di Sulut yang menurutnya tidak hanya memiliki penampilan menarik tetapi juga harus memiliki wawasan, kemampuan berkomunikasi dan kepedulian terhadap daerahnya.
“Ini juga tengah jadi perhatian saya. Saya sudah beberapa kali menyampaikan ini ke yayasan yang bertanggung jawab terhadap kegiatan seperti Nyong-Noni Sulut. Saya bilang alangkah baiknya saat proses penyaringan dan karantina, unsur sejarah dan tradisi budaya di daerah mereka seharusnya diperdalam, sebab mereka ini yang nantinya akan lebih sering menerima pertanyaan terkait itu,” kata Yorry.
Saat meletakkan gelas kopinya di atas meja, sembari memandangi kami bertiga satu-persatu, ia menyambung cerita. Ia menjelaskan, ajang seperti Nyong-Noni Sulut seharusnya melahirkan tokoh representasi daerah yang paham betul tradisi dan budaya mereka masing-masing.
“Memang tidak akan mudah, tapi ini penting. Karena saya sendiri ketika nanti ada kegiatan daerah, yang akan terlintas di pikiran, ya menghadirkan mereka. Karena saya yakin mereka punya wawasan luas, terlebih soal tradisi dan budaya mereka,” sambungnya.
Aku menanggapi dengan sedikit santai, sebab mulai muncul pikiran membayangkan kami baru saja mengikuti diskusi umum selama kurang lebih empat sampai lima jam lamanya. Waktu itu pikiran berbisik, “Hebat dan luar biasa sekali mereka ini, masih lanjut berdiskusi. Padahal tadi baru saja menyelesaikan diskusi panjang,” pikirku. Tak mau ditinggal hangatnya forum kecil kami, aku turut berbagi pendapat.
“Tepat sekali, Pak. Mereka sudah menjalani berbagai proses bahkan sebelum memasuki masa karantina, seleksi panjang sudah mereka lalui. Dan menurut ku mereka ini seharusnya menjadi ambassador budaya. Sebab bekal mereka seharusnya cukup atau bahkan melebihi pengetahuan kita pada umumnya,” sambungku.
Tak lama, Hendra berdiri dan pamit undur diri terlebih dahulu. Kini forum kami menciut, meninggalkan Aku, Yorry dan Benhard yang akrab kami panggil Joy. Topik berpindah pada nilai tradisi budaya yang tengah terjadi di era modern.

Tak Ternilai
Berbicara ‘nilai’ memang kadang membingungkan. Sebuah kata yang sering hadir di berbagai forum. Termasuk forum kecil kami malam itu. Hal ini terdengar samar dalam perkataan rekan dari Tonsea. Joy berbagi pendapatnya tentang lika-liku yang kerap ia temui dalam proses menjaga tradisi hingga sekarang.
“Tadi, dalam diskusi panjang, saya sempat menangkap apa yang disampaikan, Pak Kadis. Tentang keragaman dan representasi budaya yang dikenal secara umum yang menurut saya juga memang terbatas,” ujar Joy.
“Memang. Karena coba kita lihat yang kita temui sekarang, paling sering hanya maengket, kawasaran. Sedangkan untuk musik hanya kolintang dan musik bambu atau masamper dari Sangihe. Untuk situs paling waruga. Sekelas tumotowa saja masih jarang diperbincangkan,” jawab Yorry.
Dialog mereka mengingatkan saya dengan perkataan salah seorang kawanua, diaspora Minahasa dari Wyoming, Amerika, Paul Tirajoh yang sempat kembali ke tanah Minahasa untuk melakukan penelitian pada dua tahun yang lalu. Paul sempat menyebutkan tradisi Minahasa seperti kawasaran memiliki nilai eksotisme budaya yang kental. Yang dianggap unik dan mempesona.
“Ya, betul sekali Joy. Memang seperti yang dikatakan Pak Erick Dajoh (Staff Khusus Gubernur Sulut bidang Kebudayaan, yang turut hadir di diskusi panjang sebalumnya) kadang budaya dan tradisi yang seharusnya jadi perhatian hanya menjadi bahan tontonan dan hiburan terbatas. Mungkin memang betul kalau nilai eksotisme kita terlalu kental,” sambungku sambil mengacungkan jempol ke arah Yorry.
Joy lalu menggeser topik diskusi ke arah para pegiat tradisi muda yang ia temui, yang lagi-lagi tak luput dari makna ‘nilai’. Ia berbagi cerita tentang kegelisahannya saat menghadapi momen ketika ia mengakomodasi beberapa penari kawasaran di wilayahnya.
“Ada beberapa kali saya temui ketika mangakomodir pegiat budaya, Ndo. Salah satunya seperti para penari kawasaran, karena saya juga memang pelatih kawasaran di Tonsea. Kadang banyak yang punya semangat kuat untuk terus tampil, tapi kadang susah untuk berbagi kesempatan karena terhalangnya pekerjaan,” jelas Joy sembari memandang tajam ke arahku.
Ia menjelaskan, berbeda dengan yang masih muda atau yang menghidupi budaya dan tradisi, sambil mencontohkan kami yang masih hadir hingga akhir acara waktu itu. Yang mungkin bisa dengan sukarela untuk hadir di berbagai kegiatan untuk tampil bersama ketika diundang.
“Beda dengan kita, Ndo. Yang mungkin ketika diundang di salah satu kegiatan atau upacara adat dari kawan luar, kita gas-gas kan saja, iya kan?” ujar Joy sembari bergurau denganku.
Terlihat, Yorry dengan tegang menyimak pendapat Joy yang sesekali terlihat membuka catatan di gawainya untuk mencatat beberapa poin yang tengah kami bahas. Tak ingin percakapan kami berakhir, Joy menyambung obrolannya sendiri.
Dengan menutup gawainya di atas meja, ia berpaling kanan ke arah Yorry, dan sedikit mencurahkan kegelisahannya saat mendengar respons dari beberapa penari kawasaran yang sangat ingin turut mengikuti kegiatan tapi terhalang pekerjaan mereka.
“Pak, ada beberapa yang tidak muda lagi seperti kami. Ada yang sudah berkeluarga. Kadang mereka menghampiri saya, apalagi waktu saya pulang dari kegiatan yang tak bisa mereka ikuti. Mereka melampiaskan rasa kecewa mereka karena tidak bisa hadir, bahkan meminta maaf,” ungkap Joy.
“Dan saya paham akan itu, Pak. Karena saya juga melihat, contoh ada penari yang bekerja sebagai tukang bangunan atau petani. Di mana ketika mereka meninggalkan pekerjaan mereka untuk tampil, kadang juga menurunkan kepercayaan yang mempekerjakan mereka karena meninggalkan pekerjaan. Dan saya juga tau mereka butuh transportasi. Yah, kasarnya minimal uang pengganti untuk mereka meninggalkan pekerjaan mereka karena mengikuti kegiatan. Tapi kadang, Pak, yang didapat tidak sesuai ekspektasi. Bahkan mereka merasa itu jauh dari pendapatan mereka selama seharian dari bekerja. Jadi dari situ saya punya beban sendiri, dan saya mengerti akan itu,” ungkap Joy.
Hal ini direspons baik oleh Yorry. Ia menjawab dengan serius. Dirinya tengah mengupayakan berbagai cara agar nilai kebudayaan, terutama para praktisi budaya tidak hanya dipandang sebelah mata. Tapi juga mendapat apresiasi secara sadar oleh masyarakat, terlebih khusus ketika menghadiri kegiatan-kegiatan seperti yang kami hadiri hari itu.
Yorry mengakui, akan mengupayakan dan meramaikan kegiatan budaya, apalagi yang melibatkan Dinas Kebudayaan Provinsi.
“Ke depannya saya juga tengah mengupayakan ketika nanti ada ajakan atau undangan untuk dinas, seperti kegiatan ini, saya akan berkomunikasi dengan mereka yang berjejaring dengan kami untuk turut hadir dalam kegiatan itu. Setidaknya itu akan mengurangi beban penyelenggara kegiatan untuk mengakomodasi transportasi,” sambung Yorry.
Lolongan anjing peliharaan makawale kadang membuat kami menoleh ke dalam rumah beberapa kali. Suasana hangat di perbukitan Warembungan malam itu terus memeluk kami yang masih asik berbincang. Forum kami memang paling kecil waktu itu. Sebab usai diskusi panjang, beberapa mulai memperbincangkan hasil diskusi secara terpisah. Tapi tetap beratap yang sama di Wale Pahumungan Ne Waraney.
Tongkat Estafet
Beberapa tradisi memang memiliki unsur kultur yang tidak bisa diekspos, apalagi di publikasikan. Beberapa ritus yang diharuskan hanya untuk dilakukan di suatu wilayah tertentu, yang diketahui kehadirannya tapi prakteknya hanya boleh dilakukan warga lokal. Tapi di beberapa wilayah, hal ini membawa kebiasaan yang akhirnya mengorbankan generasi muda, yang harus menghadapi pembatasan pengetahuan akan tradisi mereka sendiri.
Hal ini dikisahkan Joy. Ia bercerita tentang bagaimana forum kebudayaan di wanua atau kampung, kadang membawa perasaan kecewa. Di mana para tetua kadang tertutup untuk generasi muda. Atau bahkan mengorbankan hak berpendapat generasi muda ketika kuota forum dibatasi.
“Sekarang yang paling terjadi begini, Pak. Kadang dalam beberapa forum ada yang sengaja mengorbankan generasi muda. Misalnya ketika ada musyawarah atau diskusi budaya di kampung, karena kuota dibatasi, orang tua kadang mengatakan, ‘Kami saja, mereka juga belum lama di budaya. Nanti saja mereka’,” jelas Joy.
Mendengar itu, amarah Yorry terlihat sedikit terpancing. Ia dengan lugas menegakan posisi duduknya, meletakkan gawainya di atas meja dan menanggapi cerita Joy. Sontak saya pun ikut mendekatkan kursi agar menyimak lebih dalam diskusi kami malam itu.
“Saya juga kadang ketika menghadiri kegiatan dan saya lihat para peserta tanpa generasi muda, saya sering sampaikan di sambutan untuk terus melibatkan generasi muda. Seperti yang saya ucapkan di sambutan saya tadi. Saya menanyakan, kapan kita akan melakukan regenarasi kalau begini? Kapan tongkat estafet akan diterima generasi muda?” terang Yorry.
“Betul sekali itu, Pak. Saya setuju sekali,” jawabku dengan lugas waktu itu, karena terbawa suasana.
Ia kemudian mencontohkan museum, yang menurutnya saat dibuka yang akan berkunjung hanyalah para arkeolog, akademisi dan mereka yang menempuh studi di bidang Sejarah. Faktanya ternyata berbanding terbalik. Menurutnya kurang lebih tujuh puluh persen pengunjung yang datang ke Museum Provinsi Sulut merupakan anak muda. Baik siswa SMP, SMA dan mahasiswa.
“Ini membuktikan yang Joy bilang tadi kan, bahwa memang betul kalau sekarang ini generasi muda juga sangat tertarik akan sejarah dan budaya. Walaupun itu tidak luput dari improvisasi museum yang mampu beradaptasi dengan era modern sekarang dan menyediakan display yang mengikuti trend sekarang,” jawab Yorry.
“Dulu mungkin kita susah payah menarik perhatian mereka terhadap tradisi dan budaya, tapi sekarang faktanya yang saya lihat seperti yang Joy bilang tadi. Bahwa generasi muda justru punya semangat tinggi dalam budaya dan seharusnya lebih dilibatkan. Susah kalau kita tidak mau beradaptasi,” sambungnya.
Di tengah keramaian obrolan malam itu, gawai milik Yorry berbunyi. Kami bertiga pun secara bersamaan spontan melihat arloji kami masing-masing. Jarum menunjuk pukul delapan lebih beberapa menit. Yorry pun berdiri dan mulai pamit undur diri untuk pulang. Kami pun ikut berdiri dan bersiap untuk pulang. Walaupun harus tertahan dengan ajakan foto bersama dari makawale.
Usai foto Bersama, kami berjabat tangan dengan makawale dan pamit untuk pulang. Malam itu tak hanya membuka wawasan tentang pentingnya tradisi dan budaya bagi saya. Tapi juga merupakan momen perjumpaan yang tak terganti.
Saat berpamitan, makawale sempat mengantar kami dengan sebuah ungkapan: “Kita harus terus menjaga tradisi dan budaya. Jangan hanya menunggu dan membiarkan waktu untuk menjawab.”












