Connect with us

BERITA

Solidaritas Mapalus untuk Masyarakat Desa Raanan Lama

Published

on

Sebagian bantuan yang terkumpul untuk diserahkan kepada masyarakat Desa Raanan Lama (Foto: Ferry Taroreh)
2 of 2Next
Use your ← → (arrow) keys to browse

 


Oleh Denni Pinontoan


 

SENIN, 1 Juni malam, seorang pasien yang dinyatakan positif Covid-19 meninggal di ruang isolasi RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou,  Manado. Pasien berjenis kelamin laki-laki tersebut berasal dari Desa Raanan Lama, Kec. Motoling, Kab. Minahasa Selatan. Pasien berusia 70 tahun itu dinyatakan positif Covid-19 pada 26 Mei.

Kabar itu sontak membuat warga Kec. Motoling terkejut. Bahaya virus corona  telah membuat warga khawatir selama hampir tiga bulan terakhir ini.

“Itu menimbulkan kekhawatiran bagi orang-orang kecamatan Motoling. Tapi kami terus menghimbau agar berjaga, waspada dan mengikuti himbauan dan protap kesehatan,” kata Ferry Taroreh, Hukum Tua Desa Motoling Dua ketika dihubungi via Facebook Messenger, Jumat, 12 Juni.

Tanggal 8 Juni, pemerintah kabupaten Minahasa Selatan mengeluarkan kebijakan menutup akses keluar masuk di desa tersebut selama 14 hari, yaitu dari tanggal 8 sampai 22 Juni.  Dengan begitu, terutama aktivitas ekonomi menjadi sangat terbatas.

Situasi ini kemudian membuat Pemerintah Kecamatan Motoling mesti berpikir tentang kebutuhan pokok warga desa Raanan Lama. Sesuatu mesti dilakukan demi keselamatan bersama.

“Pemerintah kecamatan lalu berpikir bagaimana kebutuhan pokok warga desa Raanan Lama. Karena dengan dinyatakan agar warga di desa Raanan Lama melakukan isolasi, maka sudah tentu mereka tidak lagi bisa beraktivitas seperti biasanya,” kata Hukum Tua Ferry Taroreh.

Pemerintah kecamatan kemudian menggelar rapat yang menghadirkan para hukum tua dari 7 desa di kecamatan Motoling. Para hukum tua di bawah koordinasi camat sebagai ketua gugus tugas kecamatan menghimbau warga untuk melakukan upaya menyatakan simpati dan solidaritas kepada warga desa Raanan Lama.

“Pemerintah desa lalu menghimbau masyarakat. Dan, masyarakat kemudian spontan mengumpulkan bantuan sembilan bahan pokok untuk membantu warga desa Raanan Lama,” kata hukum tua Ferry Taroreh.

Bantuan berupa beras, dan kebutuhan pokok lainnya dengan cepat terkumpul.

“Luar biasa. Karena masyarakat melakukan itu secara spontan. Baik individu dan juga organisasi-organisasi gereja dan kemasyarakatan,” tambah hukum tua Taroreh.

Bukan hanya dari warga yang berada di 6 desa sekecamatan Motoling (di luar desa Raanan Lama), tapi juga dari desa-desa di kecamatan sekitar.

“Juga ada dari Kumelembuai. Itu kan dulu bagian dari kecamatan Motoling,” kata Sonny Umboh, Camat Motoling ketika dihubungi via WhatsApp Messenger, Jumat, 12 Juni.

Solidaritas dari masyarakat terus meluas. Para pedagang di pasar Motoling, juga spontan mengumpulkan bantuan melalui pengelola pasar.

“Kemarin sore (Kamis, 11 Juni – red) kami dari pihak pasar Motoling juga menyerahkan bantuan melalui ketua gugus tugas kecamatan. Bantuan berupa bawang, rica, tomat, ikan laut dan supermie untuk masyarakat desa Raanan Lama. Itu bantuan dari para pedagang,” kata Henry Pinontoan, karyawan PD. Cita Waya Esa yang bertugas di pasar Motoling ketika dihubungi.

Selain yang dikoordinir oleh pemerintah atau lembaga-lembaga sosial, aksi solidaritas juga dinyatakan oleh banyak individu atau keluarga. Ikatan kekerabatan dan kekeluargaan telah mendorong mereka untuk menyerahkan bantuan secara langsung.

“Kan, orang-orang dari Desa Raanan Lama memiliki hubungan kekeluargaan dengan desa-desa lain di sekitar. Jadi, ada yang datang membawa langsung bantuannya kepada keluarga-keluarga mereka,” kata Henry.

Mengikuti protokol physical distancing, maka bantuan mereka diserahkan di ujung kampung.

“Jadi, di ujung kampung Raanan Lama ada posko. Keluarga-keluarga mereka datang ke situ. Semua sudah tahu tidak boleh kontak fisik. Jadi, bantuan ditaruh di ujung kampung, di situ ada gedung gereja Katolik. Keluarga-keluarga mereka di Raanan Lama sudah menunggu. Mereka hanya bisa saling menyapa dari jarak jauh,” tutur Henry.

Hukum Tua Ferry Taroreh mengatakan, warga desanya, Motoling Dua memberikan bantuan secara spontan karena merasa sepenanggunan.

“Tidak ada paksaan. Warga memberikan bantuan karena rasa persaudaraan,” kata hukum tua Ferry Taroreh.

Para hukum tua dan masyarakat bekerja bersama untuk pengumpulan bantuan. Bantuan yang terkumpul diserahkan kepada pemerintah desa Raanan Lama untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat. Camat Sonny Umboh mengatakan, apa yang spontan dilakukan warga kecamatan Motoling sebagai sesuatu yang patut diberi apresiasi.

Bantuan terus mengalir. Pemerintah memfasilitasi masyarakat untuk menyalurkan bantuan. Upaya-upaya mengatasi penyebaran virus corona terus dilakukan. Sudah hampir tiga bulan di masing-masing desa di kecamatan Motoling siang-malam melakukan penjagaan secara bergiliran. Tapi kesadaaran kemanusiaan yang berbasis kebersamaan mapalus telah mendorong mereka untuk menyatakan solidaritas secara lebih luas.

Selain untuk mengatasi penyebaran virus corona, kata camat Sonny Umboh, apa yang dilakukan warga rupanya didorong oleh suatu semangat kebersamaan.

“Bagi saya, apa yang dilakukan oleh masyarakat ini adalah suatu semangat solidaritas kemanusiaan. Bagi kita orang Motoling, itu adalah solidaritas mapalus atau kebersamaan dalam sepenanggungan,” kata camat Sonny Umboh. (*)

2 of 2Next
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *