CULTURAL
Quo Vadis Kalelon Wakan
Published
6 years agoon

Reynold Siwu, seorang pegiat Kalelon asal Wakan, mengatakan bahwa sekarang ini dapat dihitung dengan jari para pemain Kalelon Wakan yang tersisa. Di Wakan sendiri, tinggal sekitar 4 orang yang tahu teknik memetik Kalelon Wakan. 1 orang sudah lanjut usianya. 3 orang lain, masih berusia muda.

Reynold Siwu bersama rekannya Derby Lapian dan Marlon Tampemawa, sementara berlatih Kalelon Wakan
Selama ini, hanya Reynold Siwu yang dalam forum dan event adat budaya Minahasa, sering memperkenalkan Kalelon Wakan. Ia hampir menjadi satu-satunya seniman Kalelon asli dari Wakan. Namun ternyata, ia berhasil menemukan 2 orang Wakan yakni Derby Lapian dan Marlon Tampemawa yang juga paham Kalelon. Mereka kemudian saling belajar. Meneladani seniman, sang maestro Kalelon Wakan, Semuel Lonteng.
Walaupun memang, saat ini mereka masih membawakan Kalelon Wakan yang lama dan belum mencipta yang baru. Menurut mereka itu butuh proses.
Salah satu keterbatasan mereka untuk mengembangkan Kalelon Wakan, terletak pada alat musiknya, gitar. Mereka tidak punya. Hal ini menjadi kendala untuk belajar. Gitar yang ada pada mereka hanya pinjaman. Namun, ternyata kendala ini tidak memutuskan niat dan semangat mereka untuk menggali kembali Kalelon Wakan. Ini menjadi sebuah penanda positif, ke mana arah Kalelon Wakan ke depan.
Di beberapa tahun ini memang terjadi kebangkitan kesadaran dan kepedulian terhadap musik tradisi Minahasa, Kalelon Maka’aruyen. Banyak seniman Kalelon Maka’aruyen muncul lewat rekaman video yang diupload di media sosial. Begitu juga banyak orang muda yang belajar musik tradisi ini. Hasil belajarnya kemudian turut diupload dan dibagikan lewat media sosial. Hal ini bisa dilacak. Misal, di status Facebook banyak orang menulis dan memakai hastag #kalelon & #makaaruyen. Tentu ini bisa jadi penanda kebangkitan akan kepedulian terhadap musik tradisi Minahasa, Kalelon dan Maka’aruyen.
Editor:
You may like

Soal Berminahasa

Kelung um Wanua Tou Mu’ung: Sejarah dan Spirit IMT Unima

Tomohon 1946, Ketika Pemuda Merebut Kebebasan

Membaca Jalan Jurnalis di Era Tsunami Informasi

Masayouu: Perang Melawan Roh dan Ketidakseimbangan Relasi Manusia-Alam Semesta

Ironi Minahasa Utara: Bupati Akui Tambang Merusak, Konflik Agraria Tak Terselesaikan









Pingback: Kaset, Pita Penghubung Kebudayaan tahun 1980-an – Kelung