Connect with us

CULTURAL

Melihat Gastronomi Tana’ Melalui Kacamata Biru

Published

on

2 of 2Next
Use your ← → (arrow) keys to browse

Ada satu jenis kopi yang menarik perhatian Ashley, yakni kopi yang dalam proses pengolahannya menggunakan mikroba positif yang membuat kopi tersebut memiliki aroma seperti buah-buahan dan bahkan permen. Namun harga yang ditawarkan untuk satu cangkir kopi itu pun tidak murah, penikmat kopi harus merogoh kocek sekira Rp100.000 untuk merasakan kopi bakteri itu.

Kenikmatan serta keunikan kopi itu membawa berkat bagi Monci, Greg dan Ashley memborong seluruh stok kopi yang tersisa untuk dibawa. Bahkan mereka berniat untuk bekerja sama dengan monci untuk menyuplai kopi olahannya untuk dijual di restoran mereka.

GRAZIE PER TUTTO

Gumpalan batu raksasa yang bernama Bumi akhirnya berpaling dari Matahari, suasana berkabut mengingatkan mereka akan kampung halaman mereka di Italia, dan tibalah saat untuk kami berpisah. Sembilan jam kebersamaan kami terasa sangat singkat. Penulis teringat akan pernyataan dari Ashley tentang kuliner Indonesia. Ia mengatakan bahwa ada alasan kenapa kuliner Indonesia tidak memiliki kesuksesan yang sama dengan kuliner negara lain seperti Jepang, Korea, Thailand, dan lain-lainnya. Menurutnya, kuliner Indonesia itu sangat beragam dan tidak bisa diseragamkan, setiap daerah punya ciri khas masakan masing-masing, sehingga untuk membungkus semua itu dengan nama kuliner Indonesia tentunya kurang tepat.

Kami di Wale Mapantik tentu sangat bangga karena bisa memperkenalkan budaya Minahasa melalui kuliner khas. Selain itu, kami juga tidak membayangkan bahwa koki-koki rumahan seperti kami, mampu ”mengajarkan” kepada koki-koki kelas dunia seperti mereka tentang cara memasak. Pengalaman seperti ini adalah one of a kind dan tidak akan terlupakan.

Akhirnya, grazie per tutto atau terima kasih untuk semuanya, seperti yang dikatakan Armando ketika hendak berangkat. Kami segenap penulis di Wale Mapantik mendoakan kesuksesan teman-teman baru kami untuk membuka usaha baru mereka. (*)

Keterangan: Foto keempat, dan keenam adalah milik penulis. Foto-foto yang lain adalah dokumentasi pribadi Ashley dan Greg, penulis meminta mereka untuk mengirimkan foto melalui whatsapp untuk kebutuhan publikasi di artikel ini.

2 of 2Next
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *