CULTURAL
Luka di Tepi Bendungan Kuwil

4 November 2026
“Salah satu nilai yang tergores di waruga adalah pengetahuan dan semangat para leluhur yang menyebutkan, ‘Jika orang lain bisa hidup di tanah ini, kita juga bisa!’ Sebuah gambaran etos kerja. Nilai-nilai ini masih tetap fungsional, karena itu ia tetap hidup.”
Penulis: Rikson Karundeng
PUKUL 1 siang. Musim panas hebat. Sinar mentari benar-benar sedang mengamuk. Payung tak cukup menahan sengatannya. Namun, ada waktu, ada kesempatan, untuk mampir sejenak dan menyaksikan kawasan waruga Kuwil, Minahasa Utara.
Rabu, 4 Maret 2026. Saya, Riane Elean, Filo Karundeng, Charles Somba dan Rinto Taroreh, serta sejumlah pemuda adat Tonsea, menyusuri tepi barat Bendungan Kuwil. Ada waruga-waruga yang tampak tertata rapi. Barangkali tak banyak yang tahu jika apa yang bisa disaksikan hari ini adalah buah dari kebrutalan pembangunanisme.
Daerah Minahasa, Sulawesi Utara, menyimpan harta berharga peninggalan masa lampau yang mengagumkan. Wadah untuk memakamkan manusia yang tak ada duanya di dunia. Bentuknya, bahan bakunya, hingga ragam hias yang tergores jelas di wadah dan penutupnya, merupakan hal unik, khas, karena itu selalu menarik diamati. Bukan hanya bagi para peneliti, tapi bagi setiap mata yang menyaksikannya.
“Sebuah bukti peradaban. Menyimpan ingatan pengetahuan yang teruji selama ratusan, bahkan ribuan tahun, yang bagi para arkeolog diangap sebagai level genius bangsa Minahasa,” kata Riane.
Warisan leluhur yang dianggap sangat penting bagi orang Minahasa. “Bagi sejumlah generasi muda pegiat budaya hari ini, menjaga waruga agar bisa tetap diwariskan ke generasi selanjutnya, dianggap sebagai sebuah tanggung jawab peradaban yang harus dipikul dengan penuh semangat dan cinta,” sambung Filo.

Waruga Kinangkoan
Wilayah Minahasa memang merupakan daerah yang banyak memiliki tinggalan budaya megalitik. Salah satunya adalah wadah kubur batu yang dikenal masyarakat setempat dengan nama “waruga”. Situs yang menggambarkan aktivitas, pengetahuan tertentu, kepercayaan, seni yang berkembang pada masa berlangsungnya budaya megalitik di wilayah ini.
Waruga tersebar hampir di seluruh tanah adat Minahasa. Jumlahnya ribuan. Setiap kawasan tempat situs ini berdiri dipastikan merupakan daerah pemukiman masa lampau.
Di setiap tempat di Minahasa, waruga memiliki kekhasan masing-masing. Di daerah Kabupaten Minahasa Utara, khususnya waruga yang berada di pinggir Bendungan Kuwil misalnya.
Waruga-waruga yang disatukan karena pembangunan tol dan bendungan ini sebelumnya berasal dari kawasan situs Pinandeyan yang masuk wilayah Kuwil dan Kinangkoan wilayah Kawangkoan. Waruga-waruga di sini dikenal memiliki simbol-simbol yang khas.
“Dalam memori masyarakat Minahasa, waruga-waruga ini sebenarnya berdiri di sebuah bekas pemukiman tua yang disebut Kinaako’an. Dalam perjalanan waktu, nama itu berubah menjadi Kinangkoan, dan kini menjadi Kawangkoan,” terang Rinto, budayawan Minahasa yang tampak emosional saat menyaksikan waruga-waruga di samping Bendungan Kuwil ini.
Diriwayatkan, suatu masa para leluhur awal di wilayah adat Tonsea sekarang, menyusuri sungai besar. Sungai yang dikenal masyarakat kini sebagai daerah aliran sungai atau DAS Tondano. Dalam perjalanan itu, mereka kemudian bersua dinding bukit. Akhirnya diputuskan untuk naik ke arah kanan.
“Saat pertama ‘bahoba’, melihat ke wilayah yang lebih luas, para leluhur langsung mengatakan, ‘di sini saja kita tempati’. Itulah arti kinaako’an,” tutur Rinto.

Waruga Kuwil atau Kinangkoan berdiri sejak masa penyebaran tahap kedua orang-orang Tonsea. Dari Niaranan, Kembuan (wilayah Tonsea Lama sekarang), mereka berjalan dengan patokan Makararang atau Makalentuai di Airmadidi Bawah.
“Ketika rombongan itu tiba di Kinangkoan, di sana sudah ada pemukiman. Makanya mereka terus berjalan,” ujarnya.
Tercatat, leluhur-leluhur yang dahulu mendiami pemukiman di Kinangkoan dan Pinandeyan ada sosok-sosok yang sangat akrab dalam ingatan, seperti Ramber Wenas dan Makalew. Dotu (leluhur) Makalew inilah yang dikenal dengan Kepala Walak di Kalawat Bawah dan Kalawat Atas.
Waruga di kawasan situs ini ada ciri khusus. Misalnya di waruga Makalew, ada ukiran sapi hutan yang menggambarkan keperkasaan, kekuatan dan kepemimpinan. Di Minahasa, ada sejumlah waruga pemimpin besar yang digambarkan seperti sapi hutan.
“Kekhasan lain waruga Makalew, tertulis namanya sebagai penguasa Kalawat. Di situ juga tertulis nama istrinya yang bernama Ginsawulawan. Di sebelahnya ada waruga Ramber Wenas yang digambarkan tengah berdiri tegak, dan di samping kiri dan kanan ada ukiran ular,” kata Charles.

Penjarahan dan Amuk Pembangunanisme
Pada tahun 1970-an telah terjadi penjarahan besar-besaran di kawasan situs Kinangkoan. Setelah sekian lama seperti terabaikan, tahun 2010, situs-situs ini mulai dikunjungi oleh komunitas peduli budaya Minahasa. Hingga pada awal tahun 2011, mulai ada aktivitas penataan dan perbaikan waruga-waruga yang sudah berantakan dan hancur. Menurut warga sekitar dan komunitas-komunitas budaya yang terlibat dalam penataan waruga-waruga ini, ketika itu tak ada respons dari pemerintah.
“Saya dan kawan-kawan pegiat budaya Minahasa, tahun 2010 sudah intens datang menata waruga-waruga yang sudah roboh, hancur akibat penjarahan di kawasan ini,” ungkap Rinto.
Ketegangan kemudian terjadi saat pembuatan bendungan di tahun 2016. Muncul perlawanan dari sejumlah masyarakat peduli budaya. Polemik meletup, terutama di masyarakat sekitar. Ada yang mendukung pemindahan waruga. Padahal menurut para tetua, tanah itu sesungguhnya adalah tanah adat.
“Mner Rikson dan kawan-kawan masih ingat waktu kita aksi pertama kali di DPRD Sulawesi Utara,” kata Rinto.
Reaksi perlawanan menguat. Mereka punya alasan. Arti waruga Kinangkoan sangat penting bagi masyarakat. Di Minahasa, rata-rata kawasan tempat waruga berdiri sudah menjadi tanah pasini. Berbeda dengan waruga Kinangkoan yang masih berdiri di atas tanah adat, milik bersama masyarakat. Makanya ia dianggap sagat penting. Itulah mengapa ketika terjadi pemindahan waruga di kawasan itu, terjadi ketegangan, banyak masyarakat yang berdiri “pasang badan” untuk mempertahankan tanah itu.
“Tanah adat Kinangkoan diyakini punya ikatan yang terhubung dengan leluhur. Masyarakat yang melakukan protes menegaskan, mereka tak berniat menolak pembangunan. Namun mereka meminta, jangan sampai pembangunan harus mencederai situs-situs itu,” ucap Charles.

Waruga Bagi Tou Minahasa
Waruga adalah situs peninggalan masa lampau yang tak ada duanya. Peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Ipak Fahriani menjelaskan jika di Filipina ada situs yang hampir sama, mirip tapi lain. Peneliti yang sudah lama bergelut dengan waruga ini menegaskan jika waruga satu-satunya tinggalan megalitik di dunia. Karena itu waruga adalah jati diri bangsa, kebanggaan Indonesia.
Bagi orang Minahasa, waruga punya makna yang dalam. Bukan sekedar kubur karena di dalamnya dimakamkan orang, tapi juga sebuah karya seni yang menyimpan banyak nilai-nilai menghidupkan. Dahulu, waruga diangkat secara bersama-sama dari bengkel pembuatan. Sebuah gambaran keuletan dan kerja sama.
Waruga sarat makna. Tak ada yang sama persis. Walau berada di satu wilayah sekalipun. Karena setiap waruga dibuat dan diukir sesuai dengan karakter pemilik. Apa yang tertera, itulah karakter si pemilik.
Hari ini, di tengah gempuran arus modernitas, waruga menjadi pengingat bahwa manusia selalu punya garis keterhubungan dari akar. Waruga adalah bukti peradaban, klaim kepemilikan sebuah wilayah. Penanda bahwa tou (orang) Minahasa terikat dengan tanah ini. Di wadah itulah leluhurnya dimakamkan.
“Salah satu nilai yang tergores di waruga adalah pengetahuan dan semangat para leluhur yang menyebutkan, ‘Jika orang lain bisa hidup di tanah ini, kita juga bisa!’ Sebuah gambaran etos kerja. Nilai-nilai ini masih tetap fungsional, karena itu ia tetap hidup,” ucap Rinto, sembari perlahan berjalan keluar kawasan waruga Kuwil.
“Se tu’a si makukung, ni sera si lumulukar si puyun wo se oki’ makihit maesa-esaan wo maleos-leosan.”













