CULTURAL
Perspektif Baru untuk Membaca Manado Hari Ini

26 Januari 2026
“Setiap generasi menuliskan sejarahnya sendiri. Kita kan hidup di masa kini, bagaimana kita melihat sejarah atau masa lampau Manado dalam perspektif kekinian?”
Penulis: Rikson Karundeng
GARIS batas kota Manado dan kabupaten Minahasa Utara baru mulai sejuk. Matahari yang sepanjang hari penuh semangat menyinari teluk Wenang, mulai bergerak masuk di ufuk barat. Seduhan kopi dan gorengan pisang goroho akhir pekan telah tersaji, menanti untuk dinikmati.
Sejumlah seniman, sastrawan, sejarawan, dan budayawan dari berbagai lembaga dan komunitas kajian, terlihat duduk bersama di Wale Kaunang-Mende, Malendeng Residence. Mereka berkumpul karena diundang Manado Institute untuk berdiskusi seputar tema “Manado Doeloe, Kini dan Masa Depan”.
Direktur Manado Institute, Ivan Kaunang, menjelaskan alasan hadirnya undangan Sabtu, 24 Januari 2026 ini. Pertama, untuk memberitahukan kehadiran sebuah lembaga studi yang baru saja mereka bidani.
“Kelompok-kelompok studi di jaringan Mawale Movement rata-rata ada di ‘gunung’. Makanya kali ini kami bikin di Manado,” kata Kaunang sembari menjelaskan jika undangan diskusi ini sebelumnya telah disebar ke beberapa grup media sosial yang berkaitan dengan seni budaya seperti: Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), grup dosen FIB Unsrat, Dewan Kebudayaan Manado, Komunitas Seni Budaya Nusa Utara, termasuk jaringan Mawale Movement.
“Terima kasih karena jaringan yang diundang rata-rata datang. Termasuk teman-teman dari Talaud dan Sangihe. Ini penting, sebab Manado hari ini kan bukan hanya orang-orang Minahasa. Kita sangat beragam,” ujarnya.

Alasan Kehadiran Manado Institute
Sederet pertemuan santai-serius sebelumnya telah menjumpakan beberapa orang yang kemudian sepakat mendirikan Manado Institute. Seperti apa dan mau ke mana lembaga ini, hingga nama yang akan digunakan, telah disepakati dari diskusi-diskusi awal.
“Jaringan kita kebanyakan memakai kata Minahasa di ‘ekor’ sebagai nama komunitas atau kelompok studi. Kami sengaja menggunakan kata Manado. Tentu bukan karena hanya untuk sekadar berbeda. Nama Manado juga bukan mau menjelaskan bahwa fokus kita hanya soal Manado,” kata Ivan Kaunang.
Kedua, kenapa mereka menggunakan kata institute? Karena itu sesuai hasil kesepakatan mereka yang terlibat dalam diskusi awal. Sudah dipikirkan, aktivitas orang-orang di lembaga ini nanti selain diskusi, mengkaji sesuatu, menganalisis sesuatu, memberi pendapat, dan aktivitas belajar lainnya.
Manado Institute juga lahir dari perasaan-perasaan bahwa masih perlu ada kajian-kajian fokus tentang Manado yang sangat banyak dan luas.
“Institut kan itu sekolah, jadi mengkaji banyak hal. Kalau bicara Manado bukan hanya Minahasa. Ada suku-suku bangsa lain, multikultur. Ada Sangihe, Talaud, Sitaro, Bolmong, Tionghoa, Arab, Ternate, Gorontalo, Bajo, Bugis, macam-macam yang ada di sini,” urainya.
Kemudian ada banyak aspek hitoris, budaya yang perlu juga dikaji. “Yang mana perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) hari ini sudah post, kita kadang-kadang sudah lupa dari akar sejarah. Jadi, Manado Institute tidak akan lepas dari penelitian, pendidikan, pengabdian, publikasi,” tegasnya.
Petemuan pertama sebagai launching, untuk memberitahukan kepada teman-teman yang bergelut dalam bidang yang sama tentang mereka dan aktivitas mereka saat ini dan nanti.
Akademisi FIB Unsrat ini menjelaskan, harus diakui jika minat orang-orang yang hadir dalam diskusi ini sangat menunjang banyak hal, termasuk karir mereka masing-masing.
“Kita yang senang membaca, menulis, berdiskusi, berwacana, tentu makin bergembira dan bersemangat kalau ada ruang-ruang baru lagi untuk kita. Kita kan boleh dikata sekolah di luar kampus. Kalau kampus, terlalu formal,” ucap Kaunang.
Salah satu program awal Manado Institute, mengajak para penulis yang hadir untuk menulis tentang Manado seperti tema diskusi. Kaunang berharap, semua yang berkeinginan untuk menulis tentang Manado, bisa menulis apa saja tentang Manado.
“Ini masih luas, nanti berikut kita fokus pada aspek-aspek tertentu untuk dikaji. Jadi, untuk pertama ini semacam brainstorming, silahkan tulis apa saja. Nanti beikut kita akan menulis tematik,” ujarnya.
Kata Kaunang, fokus kerja-kerja kebudayaan Manado Institute, untuk yang pertama kajian-kajian mengenai Manado pada umumnya. Menurutnya, bicara Manado tentu bicara Minahasa, mendudukkan kembali persoalan-persoalan sosial berkaitan dengan Manado, sejarah multikultur, etnik tertentu sekaligis pengembangan kebudayaan daerah, kebudayaan lokal di Manado.
Manado cukup terkenal, tapi untuk eksplor daerah ini dalam tulisan-tulisan masih kurang. Kaunang menyadari, kalau jaringan komunitas mereka juga kalau bikin buku, masih beredar di kalangan terbatas.
“Kemarin kami dan Denni Pinontoan diskusi publik di media, masih banyak yang bertanya soal tradisi pigura. Buku sudah ditulis, tapi karena penyebarannya terbatas. Kalau beredar masif, mungkin pertanyaan tidak akan banyak seperti itu,” ungkapnya.
Greenhill Weol, Sekretaris Manado Institute, menegaskan soal tiga ruang kerja atau ruang fokus yang dipilih Manado Institute. Pertama, kebudayaan. Kedua, sejarah dan ketiga seni.
“Itu tiga ruang yang sengaja dan secara sadar dipilih menjadi fokus. Topik-topik yang lain kan bisa ditarik ke kebudayaan, maha luas,” tambah Weol.

Menulis Dengan Perspektif
Malam makin jauh, namun semangat untuk mendiskusikan tentang “menulis Manado hari ini” kian memikat. Usai jedah makan malam, Ketua Pusat Kajian Kabudayaan Indonesia Timur (Pukkat), Denni Pinontoan, memantik diskusi dengan pentingnya sebuah perspektif untuk menulis Manado.
Intinya, diskursus Manado butuh perspektif baru. Jadi ketika mau menulis tentang Manado hari ini, apa yang khas? Apa perspektif mereka yang menulis? Itu mestinya didiskusikan. Masing-masing dipersilahkan menulis, tapi boleh dikatakan ada ideologi dalam tulisan itu. Bukan hanya sekadar menarasikannya saja.
“Konkretnya, sekarang apa perspektif kita atau apa pandangan kita tentang Manado hari ini? Kemudian, dia yang menjiwai tulisan-tulisan yang akan kita buat,” ujar Pinontoan, penulis aktif yang dikenal sebagai Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado.
Fredy Wowor, memberi respons lebih serius. Menulis dengan perspektif tertentu tentang Manado hari ini menurutnya sangat penting untuk membedakan tulisan saat ini dengan tulisan lain–kalau ada yang menulis–tentang Manado.
Wowor berpikir yang jadi kunci adalah persepktif. Barangkali itu yang menurutnya dibahasakan Denni Pinontoan dan Ivan Kaunang. Tetap harus ada angle, karena hari ini kalau search begitu saja tentang Manado, masih kurang.
“Kecuali yang merujuk ke dokumen tahun-tahun tertentu di masa lampau. Artinya itu data yang tidak bisa kita verifikasi. Jadi penting juga hari ini adalah merefleksikan Manado hari ini,” kata Wowor.
Kalau sejarawan dia akan merujuk ke dokumen-dokumen sebelumnya. Tapi tidak akan mengingkari juga mereka yang akan menulis memandang Manado hari ini.
“Kalau saya menulis misalnya, saya tidak akan membayangkan Manado hari ini. Saya akan menulis, seandainya Manado di masa depan ada dalam pergulatan situasi terkini. Kan titik berangkat kita hari ini,” ujarnya.
Hari ini, kalau melihat orang berdebat tentang Manado kini, seperti itu. Ada dua persepktif. Kalau orang sejarah dia pasti menggunakan dokumen, dalam artian yang tertulis. Tapi jangan lupa, dalam teori sejarah ada sejarah lisan.
“Seperti Che’ (Steve Imanuel Rumansi) kini datang, saya berharap dia akan bicara tentang Bantik dari perspektif hari ini, yang sudah dia jelaskan tadi. Sebab dia berpikir generasi hari ini ada dualitas. Yang mana kami? Karena referensi memang menunjukkan boleh ini, boleh itu. Tapi di luar boleh ini dan boleh itu, saat ini yang kita pandang bagaimana? Mungkin itu yang akan membedakan kalau sebentar kita membuat buku ini,” terangnya.
Penggerak Wale Papendangan Sonder ini mengambil perbandingan, dulu ketika ia dan kawan-kawannya menulis buku “Memerdekakan Tou Minahasa”, tetap menggunakan angle tertentu. Jadi benar, siapa saja bisa menulis apa saja tentang Manado, tapi adalah penting kedudukan hari ini.
“Misalnya, apakah kita tahu terima saja dokumen-dokumen lama atau kita membandingkan pembacaan hari ini. Misalnya seperti yang dikatakan Denni tadi, dulu disebut Wenang, kemudian Manado. Ada apa di balik itu? Jadi agak dalam sedikit, bukan hanya sekadar paparan fakta,” kata Wowor.
Karena tentu saja Manado hari ini–jangan lupa–seperti dokumen juga, hanya pendapat si orang A dan si orang B. “Adalah penting juga hari ini pendapat Eliana Gloria (Gen Z) tentang Manado hari ini, pendapat Fredy Wowor atau pendapat Steve Rumansi tentang Manado hari ini,” ujarnya.
Ruang-ruang kajian tentang Manado hari ini sangat penting ada pikiran dan pandangan generasi hari ini. “Nah, sepertinya kita perlu mengisi itu dalam ruang kajian-kajian, secara khusus tentang Manado. Karena Manado hari ini tidak bisa sembarangan lagi. Karena perkembangan terkini juga mau tidak mau membalikkan kondisi kalau dulu Atlantik sekarang Pasifik,” jelasnya.
Maksudnya, generasi hari ini yang kebetulan, suka tidak suka ada di Manado, entah masih ingin kembali ke kampung atau bagaimana, harus mendudukkan diri dalam memandang Manado hari ini. Menyediakan bukan hanya sekadar referensi dalam artian data.
“Saya pernah hidup di Manado dari tahun sekian sampai tahun sekian, tapi paling penting pandangan saya tentang Manado dan saya ingin Manado modelnya seperti ini,” tuturnya.
Wowor memberikan contoh, saat dirinya mau ke bangku perguruan tinggi di Manado, ia membayangkan Fakultas Sastra adalah fakultas yang notabenenya adalah gambaran tentang ideal seni yang ia pahami waktu SMA. Tapi ketika ia kuliah, tidak seperti itu.
“Kami berkesenian, dilarang. Tahun 1994, tidak ada kawan. Tahun 1995 bertemu Greenhill Weol, almarhum Tommy Ingkiriwang, dan lain-lain. Ah, kita harus seperti ini. Kita harus wujudkan apa yang kami bayangkan tentang sastra,” terangnya lagi.
Bayangan Wowor seperti itu. Hal yang dia bayangkan tentang Manado hari ini dan ke depan, modelnya seperti apa.
“Saya pikir seperti itu. Kalau kita mau melap-lap dokumen-dokumen, hanya akan seperti itu terus. Karena tidak akan berubah dokumennya. Tahun sekian, Manado dalam referensi ini, tahun sekian Manado dalam referensi ini. Ya, sudah seperti itu. Tidak akan berubah,” kata penyair yang lama mengajar di FIB Unsrat ini.
Jika menulis Manado tahun sekian seperti apa, ditambah referensi-referensi yang disampaikan dengan kekuatan sejarah lisan–yang disampaikan secara warisan turun-temurun–bagi Wowor itu sah saja. Tapi generasi hari ini perlu juga memandang Manado hari ini, itu jadi penting.
Karena generasi hari ini hidup hari ini. Kalau tidak mendefinisikan Manado hari ini, dengan pandangannya hari ini, mereka hanya akan habis dengan melap-lap dokumen. Jadi bukan wawasan atau pendapat, tapi dokumen. Mereka hanya akan melap-lap itu berulang-ulang.
Wowor membayangkan itu, karena di “kasus Permesta” menurutnya ada wacana seperti ini. Amelia Liwe menulis, wacana Permesta tidak lain dan sekadar catatan kaki dari Barbara Sillars Harvey yang menulis “Permesta Pemberontakan Stengah Hati” karena mereka semua menuju ke itu. Atau, tulisan Minahasa hanya sekadar catatan kaki dari tulisan N. Graafland.
“Saya pikir kita mau bercerita tentang Manado ke masa depan adalah juga sebuah refleksi. Tentu saja data-data penting. Karena itu bagaimanapun adalah jejak-jejak. Tapi bagaimana kita memandang data-data ini, itu sepertinya yang penting,” jelasnya.
Wowor berkisah, dirinya pernah menyampaikan ke sejarawan Roger Kembuan tentang Manado dalam sebuh diskusi. Itu karena ketika itu ada teman mereka dari Johannes Gutenberg University mau menulis tentang Manado yang sering banjir. Menariknya, subteks dari tesis kawan mereka adalah banjir itu dari gunung, saat pintu air di daerah aliran sungai (DAS) Tondano dibuka.
“Ah, saya menolak, sebab saya pikir bukan seperti itu sejarah dan faktanya. Itu tidak salah, tapi salah tafsir data. Ketika Roger paparkan data, teman itu eror sendiri. Sebab ketika dia datang, sudah ada perspektif sendiri. Karena dia sudah baca referensi tertentu. Jadi dia tidak salah,” kata Wowor.
Ia juga ingat seorang kawan mereka dari Jerman yang datang ke Sulawesi Utara sekitar tahun 1997-1998. Ketika dia belajar tentang Manado, saat mengikuti pertukaran mahasiswa Jerman-Indonesia, dia mau menulis Minahasa. Dia datang sudah dengan perspektif.
“Saya tanya, ‘Swen, kamu sudah baca apa saja tentang Minahasa?’ Katanya, referensi yang bisa dia akses, sudah dia baca. Kemudian saya kasih tafsir, dia kemudian bertanya kenapa demikian. Saya katakan, ‘Referensi yang sudah kamu baca, Taulu, Graafland, tidak salah.’ Tapi dia tanya, kenapa dia baca lain dan saya baca lain. Itu maksud saya tentang Manado. Itu contoh sederhana,” jelasnya.
Wowor juga mengisahkan pengalaman yang baru saja dialami akhir tahun 2025 lalu. Ada kawan mereka dari ”luar” yang kembali membaca referensi-referensi yang sama tentang persoalan banjir di Manado. Roger Kembuan memberikan dokumen-dokumen yang sama, tapi “bacaan” orang itu dianggap fatal.
“Memang bertolak belakang. Itu absurdnya data. Dia baca data yang sama dan mengambil kesimpulan jika penyebab banjir adalah ketika dibuka pintu air di DAS Tondano. Berarti subteksnya, penyebabnya dari gunung. Tapi ketika Roger kasih data-data miliknya, tentang peta pergeseran, arus air, data sejarah bagaimana peta kampung, kawan itu bingung sendiri,” ungkapnya.
Menurut Wowor, penjelasannya yang cukup “panjang-lebar” itu mau menjelaskan apa yang dia maksud. Ketika buku tentang Manado yang direncanakan ini lahir, dia akan menyumbangkan angle itu.
Diakui, referensi masing-masing orang barangkali beda. Tapi ia melihat, banyak orang memandang, entah dari angle khusus Minahasa, Manado atau Sulawesi Utara, tapi yang pasti mereka mau mencari tahu tentang daerah ini, tentu saja referensi mereka apa yang ada di dunia maya.
Temuan-temuan terbaru bisa mengubah perspektif orang. Ia beri contoh seorang profesor yang datang dari Spanyol bersama Roger Kembuan beberapa waktu lalu. Referensinya tentang perang Spanyol-Minahasa ada dalam bentuk tertulis. Sementara, para penulis di Minahasa sejak dahulu hanya menggunakan apa yang mereka lihat dari artefak, bukti yang dicatat, misalnya di Watu Pinatik Lota.
Data tertulis yang ditinggalkan Blas Palomino dan Juan Iranzo, menjelaskan jika perang Minahasa-Spanyol itu terjadi pada 10 Agustus 1644. Ini data yang jadi referensi banyak penulis. Namun dalam ingatan dan tutur para tetua Minahasa, konflik Minahasa-Spanyol sebenarnya telah pecah dua tahun sebelumnya. Informasi itu hanya tersimpan dalam leluri para tetua.
Informasi menarik disampaikan sang profesor, mereka punya data tertulis yang menjelaskan jika konflik itu memang telah pecah dua tahun sebelumnya. Referensi ini hanya ada di Spanyol dan menurut si profesor, itu tidak pernah beredar karena data khusus.
Wowor mengungkapkan, kisah yang hanya tersimpan di memori ingatan kolektif para tetua tentang perang Minahasa-Spanyol yang telah terjadi dua tahun sebelum peristiwa yang ditulis Juan Iranzo, pernah ditulis dalam dokumen sejarah penentuan nama-nama kampung di Tondano.
“Kalau tidak salah ditulis oleh Awuy. Di situ ada uraian tentang sudah ada perang yang pecah sebelum di Kali, yang terhubung dengan dua tahun sebelumnya. Itu dikisahkan para tetua turun-temurun terkait orang Spanyol yang akan mengangkat keturunannya. Itu kan paradoks, di sana (Spanyol) ada dalam teks, di sini ada dalam leluri-leluri, cerita para orang tua. Ini kan paradoks-paradoks yang mungkin kalau kita mau bercerita tentang Manado hari ini, bisa kita isi,” terangnya.
Wowor mengulang kembali carita Steve Rumansi di awal diskusi, tentang kegamangan dirinya dan generasi muda Bantik hari ini ketika bicara soal identitas. Belum lagi dokumen yang datang banyak sekali, hingga membuat mereka mengalami kebingungan ketika membacanya.
“Kita bingung mau mendudukkan seperti apa. Semua kembali ke tafsir, tapi tafsir itu tidak lepas dari perspektif tertentu. Jadi, ada perspektif yang kita taruh. Paling tidak ini refleksi generasi hari ini memandang Manado ke muka. Bukan hanya sekadar melap-lap dokumen yang lama,” tutur Wowor.
Dia mengingatkan agar tidak lupa, orang tidak pernah membahas kenapa Jepang harus masuk ke Manado? Atau kenapa Spanyol harus sampai ke Minahasa? Orang mungkin tidak pernah melihat sudut pandang itu.
“Angle seperti itu yang kita akan isi. Dan jangan lupa, kalau kita mau menulis konteks sejarah, sejarah bukan masa lalu semata. Sejarah juga adalah kita,” tegasnya.
Misalnya, mau menulis tentang sejarah teater di Manado. Angle-angle ini penting. Ada banyak orang menulis tentang topik tertentu tentang Manado, tapi perspektifnya apa?
“Ada angle-angle untuk mencukupkan perspektif dalam meletakkan dasar. Misalnya, Manado dari titik ini sekarang begini. Kita mau ke sini. Karena kalau kita hanya mau sekadar, semua punya pembenaran,” sebut Wowor.

Melihat Manado, kalau membaca referensi Fendy Parengkuan terbaru, sejarawan ini dapat dan memiliki rujukan referensialnya. Dia menceritakkan Pulau Nain dalam perspektif Minahasa. Sementara, selama ini kebanyakan orang hanya melihat dalam perspektif pulau.
“Kalau kita baca buku Fendy Parengkuan terbaru, kita akan lihat itu dan ini referensi bukan tanpa dasar. Ini sebelumnya sudah ada rujukkannya. Itu seminar tahun 1970-an atau 1980-an terkait penentuan sejarah asal-usul Tondano sebagai ibu kota Minahasa,” ungkapnya.
Menurut Wowor, itu yang penting, karena kalau hanya habis di cerita “Ini yang paling betul”, artinya tidak bergerak dari perspektif yang awal.
“Sah-sah saja. Ada yang mengatakan, ‘Pulau Bunakan asal-usul katanya ini.’ Lain katakan, ‘Asal-usulnya ini.’ Atau kata Manado asal-usulnya ini. Ya, begitu-begitu saja. Tapi kalau dari sini kita bisa membawa ke refleksi, misalnya kenapa dulu dia bisa seperti ini, kenapa dia boleh dinamai ini, kenapa begini? Mungkin itu yang dimaksud oleh Denni di awal. Angle ini yang harus kita masuk!”
Wowor menambahkan, misalnya Janny Rontinsulu mau bercerita dan mengkaji tentang waruga-waruga yang ada di Manado, sejauh mana ada kajian tentang ukirannya dan lain-lain. Itu tugas seniman rupa yang akan mengolahnya, karena pasti ada argumen.
“Karena saya tidak percaya kalau misalnya, ’Kenapa kamu bikin seperti ini?’ kemudian dia menjawab, ‘Ya, sudah seperti ini.’ Saya tidak percaya” ujarnya.
Wowor menegaskan jika dirinya tidak percaya kalau seni seperti seperti itu. Sebab selalu ada sesuatu yang menjadi tugas seniman untuk mendeskripsikan itu. Jadi ketika orang bertanya kenapa membuat pentas seperti ini, kenapa menulis puisi seperti ini, pasti ada penjelasannya.
Kalau menulis dalam ketidaksadaran, tidak akan mungkin menjadi tulisan. Karena penulis akan menggunakan istilah-istilah kunci yang dia tahu kalau dalam keadaan sadar.
“Begitu juga kalau mengolah dalam karya seni, kamu harus sadar, kamu harus bisa menjelaskan kenapa menggunakan teknik seperti ini, kenapa saya menggunakan ungkapan seperti ini? Kan seperti itu logikanya. Ini sepertinya yang jadi penting, kalau mungkin dicapai lewat menulis ini, kita meletakkan dasar ini, perspektif kekinian ini,” tandasnya.
Ivan Kaunang memberi respons lebih lanjut. Ia setuju dengan pendapat beberapa orang yang hadir berdiskusi bersama. Diskursus Manado butuh perspektif baru, karena melihat hari ini ada banyak orang menulis tentang Manado, Minahasa atau Sulawesi Utara. Tulisan itu kemudian dipublikasikan, menjadi informasi publik yang selalu ditulis-tulis, tapi belum berarti sudah benar. Dalam aspek sejarah itu disebut sejarah publik, tapi dalam aspek historis itu belum tentu benar. Walapun ada yang bilang kalau sudah diulang-ulang berarti sudah betul. Tidak demikian tentu kalau dilihat dari aspek sejarah kritis.
“Manado terus berkembang, makin majemuk, sehingga perlu juga memberi persepktif baru. Perlu memberikan makna dan nilai baru ketika kita mengkaji berkaitan dengan lampau. Karena itu, topik diskusi hari ini walaupun sederhana tapi sangat luas, ‘Manado: Dulu, Kini dan Masa Depan’,” kata Kaunang.
Mengutip pernyataan filsuf dan sejarawan Italia, Benedetto Croce, ‘Setiap generasi menuliskan sejarahnya sendiri’, Kaunang menegaskan pentingnya sebuah catatan tentang Manado dari generasi hari ini.
“Jadi seperti bahasa kita tadi, kita kan hidup di masa kini, bagaimana kita melihat sejarah atau masa lampau Manado dalam perspektif kekinian?” tegasnya.
Denni Pinontoan menyambung. Sekali lagi, sangat penting perspektif baru untuk membaca tentang Manado. Sehingga buku yang nantinya akan dilahirkan Manado Institute, bukan sekadar deskripsi saja, deskripsi sejarahnya saja, tapi ada sesuatu yang berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya.
Dalam teknis penulisan dia mungkin tidak muncul secara konkret bahwa si penulis punya perspektif seperti ini. Tapi pemilihan angle seperti yang dikatakan Wowor, itu penting.
“Misalnya, banyak yang memilih angle ini, tapi dia memilih angle sebagai pintu masuknya begini. Dari sisi pencerita itu, sisi penulisnya. Tapi penulis kan tidak lepas dari perspektifnya kemudian dia menafsir Manado,” ujarnya.
Pinontoan menjelaskan kenapa sejak awal diskusi ia sangat getol mendorong agar tulisan-tulisan dalam buku tentang Manado yang diinisiasi oleh Manado Institute ini harus punya perspektif. Ada pengalaman konkret terkait itu yang baru saja dia alami.
“Kenapa saya ngotot tadi, karena saya dan Roger Kembuan punya pengalaman di dunia birokrasi belum lama ini. Beban Roger salah satu bahwa harus ada tafsir tertentu tentang Manado sebelum dia dijadikan dokumen,” ungkapnya.
Dia berpendapat, perlu ada pembacaan yang harus dimajukan dalam diskusi ini. Karena terlalu banyak tafsir tentang Manado, karena sudah terlalu kompleks, karena itu perlu ada tafsir baru. Tapi bukan melap-lap yang sudah lewat-lewat. Persoalannya, buku ini menjawab apa untuk hari ini?














