Connect with us

Daerah

Mapatik 2026: Menuju Literasi Abadi

Published

on

14 Januari 2026


“Di Mapatik, semua didorong untuk berkarya, bahkan mendokumentasikan pikiran dan karya mereka lewat foto, film dan buku. Karya yang diharapkan bisa memotivasi, menginspirasi dan menghidupkan manusia lain.”


Penulis: Hendro Karundeng


LANGIT sore Kota Bunga terlihat tersenyum di awal tahun 2026. Di hari Sabtu, hari ketiga di bulan Januari. Betepatan dengan “Tumo’tol Un Ta’un”, hari yang dianggap sebagai “hari pertama” bagi orang Minahasa menyambut tahun yang akan berjalan. Komunitas Penulis Mapatik gelar diskusi awal tahun yang bertajuk “Literasi dan Gerakan Kebudayaan Sulut 2026”. Kegiatan yang dibuat untuk mengevaluasi, merefleksikan kerja-kerja komunitas di tahun yang baru lewat, hingga target pencapaian di tahun yang baru 2026.

Sebelum aktivitas kegiatan dimulai, kami diajak untuk Mengaley, berdoa menurut kepercayaan Minahasa yang dipimpin Melvin Makalew, pegiat budaya asal wilayah adat Tonsea. Usai doa, karya saya dipercayakan mengiring pembukaan kegiatan. Membacakan sajak, sebuah refleksi:

“Kertas mengeras, terkupas digilas pena merangkai kata
Bercak rintih, tangis berlapis mengikis lembaran tipis
Mencuri aksara dari udara yang berdansa di cakrawala
Jerit frase berjinjit di antara baris teriakan ‘kau pelit!’

Ratusan kisah, ribuan cerita bercinta dalam alinea
Ingin berucap tapi kian mulut menguap
Jemari tengkurap usap gawai miring bagai layar tancap
Tontonkan gagasan liar mencoba keluar kejar pujangga

Jangan diam seolah bungkam menyiram ide untuk ditanam
Tangkap huruf jangan dengar para filsuf
Susun kata selagi pulpen masih digenggam
Peluk setiap paragraf sebab mentari baru terbenam

120 rembulan silih berganti
3.650 senja terus berseri
10 gerhana menutup mentari
Jangan kau sudahi titik hitam dalam kanvas putih.

Kau jadi kalian, aku jadi kami
dan saya menjadi kita

Semua belum usai
Satu dekade baru tercipta, tanda kita belum selesai.”

Literasi Mapatik 2024-2025

Kegiatan kemudian dibuka oleh Belarmino Lapong, tou Tazataza, Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Pengurus Daerah (PD) Tomohon sebagai pembawa acara. Dilanjutkan dengan penyampaian Kalfein Wuisan, sinematografer yang juga penggerak Komunitas Penulis Mapatik. Ia menjelaskan tujuan serta topik yang akan dibahas dalam diskusi.

“Acara ini kemudian digagas untuk diskusi dan performance awal tahun sebenarnya, tapi kemudian dipersempit jadi diskusi awal tahun dan peluncuran buku,” ujar Wuisan yang akrab kami sapa Kale’.

Diskusi awal tahun menjadi momen yang digagas Mapatik untuk kemudian menanggapi dan menyikapi apa yang baru saja lewat dan apa yang bisa kita capai di tahun yang baru. Di tahun 2026 ini, Mapatik mengambil judul “Literasi dalam Gerak Kebudayaan Sulut 2026” sebagai sorotan tema.

“Kalau kita pandang variabelnya ada ‘literasi’ dan ‘kebudayaan Sulut 2026’. Nah, tidak ada kebudayaan Sulut, tidak ada. Karena kebudayaan itu melekat kepada ‘manusia’ yang punya ‘teritori’, punya ‘sejarah’ punya ‘nilai’ punya ‘nama’. Makanya di flyer kegiatan saya pertegas ada beberapa teman yang seharusnya menjadi narasumber dari berbagai wilayah di Sulut, serta ada juga nanti yang akan mewakili pemerintah,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan, beberapa unsur yang harusnya jadi perhatian Mapatik dalam memulai tahun yang baru, tentang menjaga konektivitas antar komunitas di berbagai daerah di Sulut serta pentingnya berjejaring.

“Kita ingin sampaikan ke teman-teman itu hanya dua pertanyaan kunci. Apa yang kita lakukan di dua tahun sebelumnya dan apa yang kita maksimalkan di tahun ini. Sehingga apa yang kita tahu tentang gerakan kebudayaan di Sulut ini sebenarnya dia intens, aktif, tapi tidak terkonsolidasi dan tidak terhubung dengan apa yang mereka sebut ‘Manado’. Karena hari ini kalau mau disebut ‘diakui’ selalu Manado. Jadi di Bolaang Mongondow yang kemudian terputus signal dengan Manado, tidak pernah mengikuti kegiatan dalam Balai Bahasa dan lain-lain, seolah mereka tidak ada, atau mati. Tapi sebenarnya bisa kita lacak dengan menanyakan mereka yang di sana, berapa sering kalian melaksanakan kegiatan di daerah kalian? Banyak ternyata,” papar filmaker yang telah melanglangbuana dengan karyanya di berbagai festival film internasional ini.

Tak putus, dari atas panggung kecil, Kale’ terus mendorong teman-teman Mapatik dalam berjejaring. Menutup kata pengantarnya, ia menambahkan, agar Mapatik tidak membawa benih fundamentalisme.

“Mapatik sebenarnya melakukan itu, karena Minahasa itu kan eksklusif. Dia kadang tidak memberikan wacana, gerakan terputus dengan daerah lain, dan kadang kita juga menutup diri soal itu. Nah, jangan-jangan itu ada benih fundamentalisme. Itu musuh kemanusiaan yang harus kita lawan. Sekarang kuncinya adalah berjejaring,” tegasnya.

Waktu terus berlalu, tak terasa kini mentari tak lagi terlihat, cakrawala mulai gelap, membuat lampu-lampu jalan dan hiasan Matal di dalam Kedai Kelung, tempat kami berkumpul semakin menyala. Suasana keakraban semakin terasa, banyakanya kehadiran dari kawan-kawan seniman, komunitas gerakan kebudayaan, bahkan para akademisi kini memenuhi lokasi.

Usai Kale’, diskusi kini dimulai oleh pemantik pertama, anggota Komunitas Penulis Mapatik, Novrita Karundeng. Penulis yang kini mengajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Tomohon. SMP Katolik Gonzaga.

“Komunitas Penulis Mapatik sesungguhnya sejak pertama berdiri sudah menghasilkan banyak penulis dan itu sudah tersebar di mana-mana. Ada banyak yang sudah bergabung dengan komunitas-komunitas literasi lain, membentuk komunitas literasi baru, tapi merek tetap menulis dan berjejaring dengan kawan-kawan di Mapatik, karena mereka alumni kelas menulis Mapatik,” katanya.

Menurut Novrita, semua anggota komunitas Mapatik sudah pernah mengikuti kelas pelatihan menulis dari Mapatik. Ada banyak kegiatan rutin yang dilakukan Mapatik sejak ia berdiri tahun 2015.

“Misalnya, sudah tiga tahun terakhir ini kita membuat kegiatan Literasi Sastra Akhir Tahun atau Pesta Sastra Akhir Tahun seperti yang baru-baru kami laksanakan di akhir tahun 2025 kemarin. Pelatihan menulis sastra, jurnalistik, sejarah, menulis karya ilmiah, termasuk diskusi, rutin digelar setiap bulan,” ujar Karundeng.

Ia juga mengatakan, ada kegiatan rutin yang Mapatik buat terkait upaya mendokumentasikan, menghidupkan dan melanjutkan tradisi warisan leluhur di Minahasa yaitu lumales. Lumales adalah kegiatan ziarah kultura, menelusuri jejak yang pernah ditapaki para leluhur, pergi melihat situs-situs budaya di berbagai penjuru. Kita mau mencari tahu Kembali kalau ada yang kita tidak tahu lagi. Kemudian mencari narasumber yang tahu dengan situs-situs dan tradisi budaya yang ada, dibuat domumentasi video atau tulisan, kemudian dipublikasikan melalui berbagai media. Buat dalam bentuk berita, artikel kemudian juga buku.

Komunitas literasi Sulawesi Utara yang dikenal sangat aktif ini juga menurut Karundeng tak luput dengan pribahasa orang Minahasa “Si Tou Timou, Tumou Tou”, yang berarti manusia hidup untuk menghidupkan orang lain. Jadi Mapatik terus berbagi, berusaha mengedukasi sesama pegiat literasi, untuk saling menghidupkan.

“Mapatiik ini juga membuat kegiatan rutin seperti pelatihan dalam bentuk online ataupun pertemuan tatap muka secara langsung. Kalau membuat pelatihan menulis online, yang mengikuti itu dari berbagai daerah. Ada dari Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Jawa, Bolaang Mongondow Timur, Kotamobagu, dan berbagai daerah lainnya. Ya, banyak yang mengikuti kelas online, contohnya saat pelatihan bersama Anthropo Celebes di tahun yang baru lewat. Dari pelatihan itu mereka kemudian bergabung dengan komunitas-komunitas penulis lainnya, saling memperkaya dan menghidupkan dengan komunitas lain,” paparnya.

Karundeng menegaskan, Mapatik bukan gerakan eksklusif Minahasa. Ia lahir dan digerakkan dari tanah Minahasa, untuk dunia. Ia jadi wadah dan jembatan para pegiat literasi di wilayah lain di Nusantara, bahkan mancanegara, untuk menggerakkan gerakan literasi di daerah masing-masing.

“Mapatik sudah sering diundang dalam forum-forum literasi yang ada di Sulawesi Utara, sampai ke mancanegara. Kawan-kawan diundang untuk hadir dan bercerita bagaimana budaya Minahasa itu, bagaimana gerakan literasi kami dalam kaitan dengan upaya menjaga dan mewariskan tradisi budaya. Jadi, dari Minahasa kami berbagi untuk dunia. Lihat saja, anggota komunitas Mapatik itu ada di berbagai daerah di Indonesia,” jelasnya.

Di Mapatik, semua didorong untuk berkarya, bahkan mendokumentasikan pikiran dan karya mereka lewat foto, film dan buku. Karya yang diharapkan bisa memotivasi, menginspirasi dan menghidupkan manusia lain.

“Ada penulis seperti Kalfein Wuisan, Rikson Karundeng, yang menulis apa saja. Ada beberapa penulis Mapatik yang saangat produktif dan sudah membuat banyak buku seperti Meidy Tinangon. Ada Abraham Lintong yang menulis dan buku sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan-kebutuhan yang ada. Misalnya, Abraham itu teolog jadi buku yang dihasilkan buku-buku teologi,” tandasnya.

Dalam upaya pewarisan tradisi budaya Minahasa, Mapatik yang baru saja menginjak usia 10 tahun terus berjejaring dengan berbagai pihak. Salah satunya Pemerintah Proivinsi Sulawesi Utara. Selain dalam resonansi yang sama, Mapatik ingin adanya keterlibatan pemerintah dalam menanggapi serta serius terhadap isu-isu kebudayaan dan pentingnya gerakan berbasis literasi.

Kejar Kolaborasi Pemerintah Sulut

Di dikusi awal tahun Mapatik kali ini, hadir Eric Dajoh. Seniman senior yang kini dipercayakan sebagai Staf Khusus Gubernur Sulut bidang Seni dan Budaya. Ia merespons harapan kawan-kawan pegiat literasi dan budaya yang tercurah dalam ruang itu. Dajoh berbagi banyak cerita. Ia juga menyampaikan pesan Gubernur Sulut.

“Sesuai perintah dari Gubernur Yulius Selvanus, saya harus hadir. Bukan hanya sekadar memberi perhatian, tapi harus terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Jadi sekali lagi saya sampaikan bahwa gubernur menyampaikan salam ke teman-teman sekaligus ucapan selamat Natal dan Tahun Baru, juga selamat merayakan satu dekade berdirinya Komunitas Penulis Mapatik. Beliau terus mengetahui dan memantau kegiatan ini,” ucap pria yang hingga kini masih terus berkarya sebagai seniman.

Dajoh, aktor yang kini hatam akan manis dan pahitnya dunia kesenian, berbagi cerita tentang pengalamannya yang sempat mengalami kesulitan mendapatkan informasi serta jejak literasi dalam merangkai sebuah lakon.

“Saya punya pengalaman di tahun 1984, ketika persiapan dalam naskah lakon yang bercerita tentang perebutan kekuasaan dalam kehidupan Minahasa purba. Pada saat itu sangat sedikiti literasi yang bercerita tentang kebudayaan Minahasa. Lakon itu berjudul ‘Lelak’,” ujar Dajoh yang akrab dikenal dengan Bung Eric.

Dalam selah pahit kopi yang masih manis membelai lidah, dalam ruangan kedai minimalis kawan-kawan Kelung, berhias berbagai buku, alat musik, serta ragam instrumen penyeduh kopi, telinga masih sulit berpaling dengar dorongan serta dukungannya untuk terus semangat dalam literasi. Seolah tangan ingin langsung mengambil kertas dan pulpen atau menyalakan komputer untuk kembali menulis.

“Menyambut animo yang begitu besar dari kawan-kawan Mapatik ini, adalah sesuatu yang perlu kita rayakan setiap saat dan perlu kita terima dengan sukacita dan kegembiraan. Kenapa saya ada di sini? Bukan karena saya seperti yang Rikson selalu lebih-lebihkan atau kerena saya sebagai staf khusus lalu saya punya apresiasi terhadap kebudayaan Minahasa. Bahkan jauh sebelum kalian lahir, saya sudah ada di situ. Saya dukung apapun. Bahkan apa yang disampaikan oleh Rikson akan mencetak buku dan lain-lain, saya akan bicarakan itu dengan Pak Gubernur. Saya akan berupaya supaya keinginan kita, bukan hanya kalian, termasuk keinginan Pak Gubernur memajukan kebudayaan di daerah ini. Biar kebudayaan kita tumbuh, tumbuh dan terus bertumbuh,” tutur Bung Eric.

Setelah Bung Eric kembali ke tempat duduknya, satu tenggukan kopi membawanya kembali memegang mikrofon. Seolah tak ingin berhenti beri suntikan adrenalin bagi para pegiat literasi yang hadir.

“Jadi apa yang jadi teman-teman Mapatik punya mimpi, bikin! Kita berupaya, mau pemerintah hadir atau tidak, apapun kegiatan kebudayaan, pemerintah ada atau tidak, kebudayaan tetap berjalan terus,” sambungnya. Ungkapan ini masih terus terngiang hingga kini.

Pernyataan Kalfein tentang pentingnya berjejaring, jawaban Novrita soal proses yang dilakukan Mapatik, serta dukungan dan dorongan Bung Eric, bawa malam seolah tak ingin lewat begitu saja. Rentetan acara masih berlanjut, tak luput bawa para peserta diskusi untuk hanyut dalam harumnya kopi yang diseduh barista Kelung.

Tantangan dan Harapan Generasi Muda

Malam terus bergulir mengejar hari yang baru. Jam di dinding menunjukkan pukul 8 lewat beberapa menit. Dinginnya langit Tomohon mulai terasa. Belaian angin sudah menusuk dalam sela-sela baju. Tapi udara malam itu seakan tak mengusik forum diskusi ini. Mungkin salah satunya karena kehadiran seniman dan influencer muda sebagai pemantik. Perempuan asal Minahasa bagian Tenggara, Kezia Rantung bersama sineas yang berkarya di ibu kota, Natasha Tontey.

Dalam sesi ini, mereka memutuskan untuk berbicara Bersama. Seperti menyaksikan “live podcast” tapi di sini kami bisa berkomunikasi langsung dengan host dan narasumbernya. Sebuah curhatan hati serta kegelisahan mereka dalam berkarya.

“Kemarin saya dimintai puisi mau dibuat buku, tiba-tiba besok lusanya sudah mengirimkan flyer. Gila memang, Mapatik keren. Biasa kan proses pembuatan buku itu memakan waktu satu sampai tiga bulan, bahkan bisa bertahun-tahun, tapi ini memang langsung. Ada flyer, diskusi, launching. Sangat Minahasa sekali, langsung-langsung,” respons Rantung dengan ekspresi dan gestur santai, mencoba larutkan suasana diskusi menjadi dialog.

Vokalis band Sajak Minor ini melanjutkan dengan refleksinya di tahun 2025 yang mempertemukan ia dengan berbagai rintangan dalam melepaskan dahaga akan kehausannya terhadap dunia literasi, serta kurangnya pandangan serta ruang gerak dalam kacamata geografisnya.

“Nah, untuk refleksi 2025 banyak yang terjadi dan kontemplasi-kontemplasi yang saya lewati selama 2025. Sebenarnya, saya agak kesulitan karena ekosistem kesenian itu terlihat sekali kalau hanya di Tondano, Tomohon dan Manado. Jadi mau tidak mau, saya sebagai anak asal sebelahnya Gunung Potong atau Ratahan, Mitra, harus pergi ke Tondano, Tomohon, Manado. Dan jujur sangat melelahkan karena harus bolak-balik demi kehausan mencari, berproses dan diskusi-diskusi pengkayaan kesenian di tahun 2025,” lugasnya.

Di tahun 2025, Rantung memutuskan untuk membuat suatu komunitas dengan nama “Bukan Pulpen Pilot”. Ia mengajak teman-teman pemuda untuk menonton film, berliterasi, dan membangun relasi dengan teman-teman yang ada di Tondano. Ia juga sudah memerankan beberapa film, salah satunya film dari sineas di sampingya, Natasha. Filmnya berjudul “Garden Admist The Flame”. Ia mengaku, duduk berdiskusi bersama, melakukan agenda-agenda relasi seperti dengan teman-teman Utopia atau Lokatana.

“Sebenarnya kenapa namanya Bukan Pulpen Pilot? Ini dimulai dengan kegelisahan saya waktu di Jogja ketika ditanya soal identitas, orang mana? Orang Minahasa Tenggara. Itu di mana? Di Kalimantan ya? Bukan. Ketika saya bilang di Sulut, mereka langsung bilang Manado. Saya jelaskan, ya tapi tidak juga, karena dua jam dari Manado. Jadi semua membranding kalau saya orang Manado. Maksud saya kan saya tinggal di kampung di Ratahan, bukan di perkotaan seperti kota Manado. Jadi nama itu saya pilih selain untuk bisa lebih cair dan bisa masuk dalam rana apa saja, misalnya di literasi, film, teater, apapun itu karena bermain-main sambil serius, jadi peilihan,” jelasnya.

Diakui, ada susuatu yang baik bisa dirasakan di tahun baru lewat. Namun perlu sesuatu yang lebih untuk mendorong geliat kesenian di Sulawesin Utara.

“Sebenarnya di tahun 2025 ini merupakan suatu pencapaian yang bagus untuk kesenian di Sulawesi Utara, namun ada beberapa yang perlu kita baca ulang lagi dan kita terka lagi,” curhat Rantung.

Keresahan yang kini mungkin masih kian dirasakan para pemuda bahkan orang dewasa yang mengadu nasib di rantau, spekulasi orang tentang keberadaan seorang individu di Sulut selalu dianggap dan dikaitkan dengan kota Manado. Hal tersebut juga jadi ungkapan Natasha Tontey yang menyambung pembicaraan Rantung. Ia membuka dengan catatan perjalanannya dalam berkarya di Minahasa.

“Kebetulan orang tua saya asli Minahasa, tapi saya lahir di Jakarta. Beberapa tahun terakhir ini riset saya memang di Minahasa, mencoba bersama komunitas teman-teman Minahasa, tapi jujur saja waktu membuat ‘Garden Admist the Flame’ saya cukup stres, PTSD. Cuma akhirnya ketemu dengan teman-teman komunitas baru, mulai lagi mencoba untuk bekerja bersama. Terus ketemu Kezia di Jogja, itu juga menimbulkan semangat lagi untuk berkarya di Minahasa. Sempat kerja bareng juga sama Om Fredy Wowor. Tidak tau bagaimana ceritanya, di tahun 2023 kita ke Singapur, terus Om Fredy menang ‘Best Actor’ padahal di letterbox review-nya jahat-jahat,” tutur Natasha.

Kegelisahan yang dirasakan Rantung, bahkan banyak pemuda, juga turut dirasakan Natasha. Ia mengatakan, perjalanannya dalam menemukan jati diri sebagai seorang Minahasa, tak luput dari menjadi stigma domisili kota Manado.

“Terus berkarya di Minahasa awalnya untuk mencari jati diri juga. Karena saya juga tersinggung sebenarnya kalau dibilang Manado, karena Manado itu adalah identitas geografis yang secara kultural adalah Minahasa dan Minahasa-nya yang mana dulu? Kayaknya saya yang terlalu sensitif sehingga kalau dibilang saya orang Manado, saya geli,” ujar Natasha sembari bercanda.

Filmmaker muda ini kemudian membeberkan tentang proyeksi garapan film yang akan dia buat di tahun berjalan ini. Dia melibatkan kawan-kawan Mapatik beserta komunitas dan tokoh pegiat literasi, tradisi budaya Minahasa lainnya.

“Kalau sekarang kebetulan lagi kerja bareng Kezia, cuma masih confidential. Kita akan syuting bulan depan. Kebanyakan sih kerja sama bareng teman-teman di Sonder, teman-teman Mapatik,” bebernya di penghujung sesi.

Peluncuran Buku “Tumorondek: Antologi Puisi Mapatik”

Jarum jam sudah menunjuk pukul 10 malam tepat, tapi adrenalin masih terus memuncak. Mendengar pembacaan puisi “Tutup Saji Anak Petani” karya Heaven Linelejan, seorang penulis asal Kakas yang kali ini bersama saya dan kawan-kawan lainnya menulis dalam buku Tumorondek: Antologi Puisi Mapatik. Buku yang judulnya merupakan ungkapan yang diambil dari bahasa Tontemboan, yang berarti sesuatu yang dipersiapkan secara cepat dengan topangan kerja sama.

Sebelum peluncuran, kami diundang untuk maju ke depan oleh Rikson Karundeng, Director Komunitas Penulis Mapatik. Saya, Heaven Linelejan, Novrita Karundeng, Kezia Rantung dan Etzar Tulung, berenam menyambut sebuah pencapaian serta kehormatan yang bisa kami persembahkan lewat peluncuran buku Tumorondek.

“Buku ini hadir untuk memberi semangat. Pertama, untuk menegaskan bahwa tou Minahasa masih berkarya dan akan terus berkarya. Tou Minahasa akan ada dan terus ada dengan suara yang terdokumentasi dalam karya-karya ini. Karya pertama di tahun ini akan menjadi semangat bagi kita untuk melanjutkan karya-karya yang lain sepanjang tahun 2026,” ujar Rikson sebelum meluncurkan buku Tumorondek secara resmi.

Menurut Rikson, tahun 2025 Mapatik banyak melakukan aktivitas ke luar daerah Sulawesi Utara karena kepentingan-kepentingan khusus untuk membangun dan mendorong gerakan literasi di wilayah lain di Nusantara. Tahun 2026 ini, buku-buku yang sekarang menumpuk, akan dicetak dan diluncurkan. Buku-buku hasil kerja para jurnalis dan peneliti di komunitas Mapatik ada sekitar lima. Buku puisi dan cerpen ada tiga buku. Buku sejarah, sejarah kampung ada dua yang belum cetak, kemudian ada novel. Ada beberapa novel dan dua di antaranya novel sejarah. Semuanya kini tinggal menunggu cetak, sebab proses editing sudah selesai dilakukan.

“Selain itu ada juga buku tentang tambang dan pelanggaran HAM. Ada satu buku tentang kasus-kasus pencemaran lingkungan di Sulut. Kemudian satu buku yang mendokumentasikan cerita-cerita rakyat yang menyimpan pengetahuan leluhur Minahasa tentang bagaimana kita menjaga lingkungan,” tandasnya.

Mapatik hingga kini masih terus berusaha menjawab kehausan para pegiat literasi dalam berkarya. Selain puluhan buku yang sudah berhasil dicetak dan beberapa yang masih menunggu peluncuran, ada juga banyak denyut nadi literasi yang masih terus dipompa dalam bentuk artikel, feature bahkan kajian yang tersebar di dunia maya. Hasil karya para pegiat literasi Mapatik yang masih terus mengudara bahkan bersemayam dalam goresan catatan pengetahuan abadi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *