Connect with us

CULTURAL

Mahrani Ne Tou Warembungan

Published

on

23 Maret 2026


“Sekarang tinggal orang-orang tua yang masih ber-mahrani. Berharap, akan ada anak-anak muda yang boleh melanjutkan tradisi sarat pengetahuan ini. Pengetahuan tentang tata cara hidup, ingatan terhadap para leluhur dan Sang Khalik, pengobatan tradisional Minahasa, hingga hubungan kekeluargaan.”


Penulis : Rikson Karundeng & Rafael Taroreh


LANGKAH Fadli Zon perlahan memasuki Pahumungan Ne Waraney (Tempat Bertemu Para Ksatria), Warembungan, Minahasa. Suara syair-syair tua mengiringi perjumpaan Menteri Kebudayaan bersama budayawan Rinto Taroreh, sore itu. Matanya serius menatap setiap koleksi pusaka, artefak peninggalan leluhur Minahasa masa lampau yang ada di museum mini Sang Tonaas. Nyanyian para tetua wanua yang mengalun merdu seolah membuatnya masuk lebih dalam pada ingatan dan pengetahuan leluhur tou Mahasa.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon bersama Budayawan Rinto Taroreh menikmati syair-syair mahrani di Pahumungan ne Waraney, Warembungan.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon bersama Budayawan Rinto Taroreh menikmati syair-syair mahrani di Pahumungan ne Waraney, Warembungan.

“Saya merasa terhormat berada di sini. Bisa langsung menyaksikan pusaka yang diwariskan turun-temurun dari para leluhur Minahasa. Tradisi di tempat ini luar biasa, lumayan terawat. Termasuk ibu-ibu dan bapak yang masih menghafal syair-syair yang dibawakan dalam satu nyanyian yang sangat harmoni. Ada suara satu, suara dua, suara tiga. Masyarakat di sini menyebut tradisi ini mahrani,” kata Fadli Zon saat datang ke Tanah Minahasa, 26 November 2025.

Kepada Rinto Taroreh dan para pelestari budaya yang turut hadir, ia menegaskan jika seni tradisi sangat penting. Karena itu ia meminta agar mahrani bisa terus dijaga dan diwariskan kepada anak-cucu selanjutnya.

“Luar biasa. Saya kira ini memang harus kita rekam sebagai warisan budaya agar tidak hilang. Isinya kebanyakan berkisah atau terkait dengan ritus yang dilakukan sehari-hari di kampung. Terima kasih banyak, suatu kehormatan buat saya bisa menyaksikan ini,” ucap Fadli Zon sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman satu-persatu dengan para tetua yang mendendangkan syair-syair mahrani.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memberi salam kepada para personel tumpukan Mahrani Warembungan di Pahumungan ne Waraney.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memberi salam kepada para personel tumpukan Mahrani Warembungan di Pahumungan ne Waraney.

Dipelihara Keluarga Penjaga Tradisi

Masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), memang memiliki tradisi dalam mendendangkan syair dengan menggunakan bahasa tana’ (tanah Minahasa). Tou (orang) Minahasa menyebutnya dalam beragam ungkapan atau istilah. Di wilayah Tombulu misalnya, dikenal dengan mahzani/mazani.  Tapi, khusus di wanua (desa) Warembungan, yang merupakan anak keturunan percampuran orang Tombulu, Tontemboan, Tonsea dan Tondano, menyebutnya mahrani.

“Mahrani itu menyanyi. Menyanyi lagu-lagu budaya warisan leluhur kita,” kata Oma Rosa, 9 Maret 2022.

Perempuan ini bernama lengkap, Rosalina Sumarauw. Umurnya saat ini sudah menginjak 85 tahun. Dia lahir di tanah Tombulu, tepatnya di wanua Warembungan.

Dalam cerita Oma Rosa, awal mula ia terlibat dalam kelompok mahrani di kampungnya, ketika umurnya masih 20 tahun. Tetapi, pengetahuan tentang syair-syair mahrani sebelumnya telah diwariskan langsung dari ayahnya.

“Masih umur 20-an, Oma sudah ikut. Sekarang umur 80-an. Tetapi awalnya dari ayah saya,” kata Sumarauw, salah satu anggota Mahrani Warembungan yang masih aktif di usia yang tak lagi muda.

Mereka sebenarnya keluarga penjaga seni tradisi Minahasa. Ayahnya pemimpin kawasaran yang terkenal pada masanya. Ia juga aktif dalam berbagai aktivitas seni tradisi seperti musik bambu dan maengket.

“Ayah saya, bernama Marsela Sumarauw. Dia (penari) kawasaran. Dahulu saat kawasaran Warembungan tampil di mana-mana, dia di muka. Ta angka-angka dia ja bermain. Selain itu dia juga main musik bambu deng maengket. Tiga seni tradisi dia ja aktif akang,” kata Sumarauw, menganang masa kejayaan ayahnya sebagai tokoh seni tradisi di kampungnya.

Mahrani sendiri dalam penjelasannya, serupa dengan maengket. Mahrani selalu memakai gerakan. Pengiringnya tambur dan tetengkoren (alat musik khas Minahasa yang terbuat dari bambu).

“Mahrani deng maengket sama jo. Ini deri tradisi yang sama. Ja pake gerakan. Dia ada depe lagu, diiringi dengan tambor deng tetengkoren,” jelas Sumarauw.

Di Warembungan, mahrani sering dipentaskan dalam berbagai acara syukur. Dahulu, di kampung ini terdapat tiga kelompok mahrani yang aktif dan sering diundang untuk pentas.

“Tiap acara-acara, orang besar datang, torang ja tampil noh. Apalagi di pesta-pesta syukur. Dulu kalo hiburan di pesta-pesta, ja mahrani. Ada kelompok-kelompok. Dan itu torang so latihan-latihan. Di sini dulu tiga kelompok. Di Sendangan, Tenga dang Talikuran,” aku Sumarauw.

Walau ada beberapa tumpukan mahrani di Warembungan, kelompok Oma Rosa selalu tampil sebagai juara dalam berbagai festival dan lomba.

“Karena torang so ada pelatih. Tu Titus Loho itu pernah melatih torang. Ada le yang lebe dulu ja datang selatih syair-syair Tombulu pa torang dari Woloan. Mereka semua jago-jago (bahasa) Tombulu,” ungkapnya.

Mahrani Ne Warembungan dan Kama (Kalelon-Makaaruyen) bersama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut serta sejumlah kepala daerah di Sulut usai tampil dalam malam kebudayaan di Graha Gubernuran, Manado.

Mahrani Ne Warembungan dan Kama (Kalelon-Makaaruyen) bersama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut serta sejumlah kepala daerah di Sulut usai tampil dalam malam kebudayaan di Graha Gubernuran, Manado.

Sebuah Tradisi Warisan Leluhur

Mahrani sesungguhnya adalah tradisi tua di Warembungan. Kisah panjang itu masih kuat dalam ingatan budayawan Minahasa asal Warembungan, Rinto Taroreh.

“Di mahrani itu isinya syair-syair dari muda-mudi, tentang pergaulan, sampai syair mangundam (pengobatan). Contoh syair pengobatan, ‘Ko’ko’ Liawa’. Ayam laka’ (jantan) yang warnanya semua ada, lengkap. Di syair ini disebutkan tentang sirih, pinang, yang biasa digunakan dalam pengobatan,” ujar Taroreh yang dikenal sebagai sosok pewaris seni tradisi di Warembungan.

Selain itu, syair-syair mahrani juga berisi tentang gambaran hubungan kekeluargaan di wanua Warembungan.

“Ada juga cerita tentang kampung, silsilah kekeluargaan. Istilah mahrani itu lebih dekat ke Tontemboan. Makanya torang ja bilang, ‘Raranian ne Opo Pu’una’. Kidung para leluhur yang lebih dulu. Leluhur yang mendahului kita,” jelas Taroreh.

Mahrani sebenarnya berakar dari banyak foso (ritus) yang dilakukan para leluhur di masa lampau. “Misalnya soal syair pengobatan, itu dari foso rumages. Soal posisi, kekeluargaan, dijelaskan dalam syair soal bagaimana Warembungan masih memiliki hubungan keluarga dengan orang-orang Pineleng (Tombulu), dan Tinoor (Tontemboan). Warembungan dikisahkan berada di tengah kampung-kampung itu. Kita masih satu garis keturunan, satu keluarga,” paparnya.

Seiring perkembangan zaman, tradisi mahrani di Warembungan mengalami transformasi. Mulai dari syair dan musik untuk ritual, sarana hiburan dalam acara-acara syukur, hingga menjadi pertunjukkan, bahkan bagian dari liturgi di rumah-rumah ibadah.

“Awalnya syair-syair mahrani didendangkan dalam upacara adat. Ada juga nyanyian-nyanyian kegembiaran. Kemudian syair yang banyak ini diekspresikan dalam apa yang kita sebut maengket. Tradisi ini kemudian dibawa dan diterima dengan baik di gereja-gereja. Di gereja Katolik misalnya, syair-syair tua mereka kumpul mendendangkannya, dan menyebutnya tari jajar. Di gereja lain menyebut maengket. Tapi di kampung tetap menyebutnya mahrani. Jadi sama sebenarnya semua,” terangnya.

Taroreh bersyukur, mahrani masih bisa tetap terpelihara hingga kini. Sayang, pengetahuan ini seperti terputus. Tak ada lagi anak muda yang mau ber-mahrani.

“Sekarang tinggal orang-orang tua yang masih ber-mahrani. Berharap, akan ada anak-anak muda yang boleh melanjutkan tradisi sarat pengetahuan ini. Pengetahuan tentang tata cara hidup, ingatan terhadap para leluhur dan Sang Khalik, pengobatan tradisional Minahasa, hingga hubungan kekeluargaan,” ucap Taroreh.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *