Connect with us

GURATAN

Kelung um Wanua Tou Mu’ung: Sejarah dan Spirit IMT Unima

Published

on

Pertemuan mula-mula, 27 Juli 2019 di Rumah Kopi Walian. (Foto: Dok. B.M. Lapong)

15 Februari 2026


“Dan pada akhirnya, sejarah IMT Unima bukan sekadar catatan organisasi. Ia adalah bagian dari denyut perjuangan pemuda Tomohon, yang terus menulis kisahnya dengan tinta keberanian, dengan warna spirit Minahasa dan dengan cahaya kebersamaan. Pemuda Tomohon adalah generasi yang menjaga akar tradisi, sekaligus menumbuhkan cabang-cabang baru menuju masa depan kota yang lebih indah, lebih berdaya dan lebih bermakna. Kelung um Wanua Tou Mu’ung.”


Penulis: Belarmino Lapong


PADA awalnya, pemikiran untuk mendirikan sebuah wadah bagi mahasiswa asal kota Tomohon yang menimba ilmu di Universitas Negeri Manado (Unima) lahir dari percakapan ringan di Fakultas Ilmu Sosial. Nama-nama seperti Glorya Karwur, Shella Mokoagow dan dua rekan lain yang kini namanya terlupa, menjadi saksi awal mula gagasan itu. Kami membicarakan betapa pentingnya membangun solidaritas antar sesama mahasiswa Tomohon di Unima. Bukan sekadar bertegur sapa, melainkan menjalin hubungan yang saling menguntungkan dalam semangat kekeluargaan.

Dari percakapan itu, disepakati pertemuan perdana pada Jumat, 22 Maret 2019, bertempat di rumah Glorya Karwur, kelurahan Kamasi. Sepuluh orang hadir dari berbagai fakultas: saya sendiri (Fakultas Ilmu Sosial/FIS), Glorya Karwur (FIS), Virginia Wowiling (FIS), Rivalda Robot (FIS), Fea Mait (FIS), Ryan Loho (FIS), Edo Pusung (FIS), Zerani Montolalu (FIS), Angel Nangon (Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam/FMIPA) dan Gian Uno (Fakultas Ekonomi/Fekon). Pertemuan itu melahirkan kesepakatan mendirikan organisasi mahasiswa Tomohon dengan nama sementara Himpunan Mahasiswa Tomohon Unima. Poin-poin penting ditetapkan, memperbanyak anggota dengan menunjuk koordinator fakultas, mengadakan pertemuan mingguan, serta menunjuk saya sebagai koordinator umum sementara hingga musyawarah besar (mubes) perdana.

Namun perjalanan awal penuh rintangan. Pemilu 2019, Perayaan Paskah dan Selebrasi Pemuda GMIM membuat pertemuan mingguan tak berjalan sebagaimana diharapkan. Meski begitu, koordinasi tetap hidup melalui grup WhatsApp. Hingga akhirnya, 25 Mei 2019, di rumah Shania Montolalu, tiga orang kembali berkumpul: saya, Grasela Pangemanan (Fekon) dan sang tuan rumah, Shania (Fekon). Walau kecil jumlahnya, semangat tetap terjaga.

Seiring waktu, semakin banyak yang bergabung. Walau pencatatan anggota masih sebatas mereka yang ada di grup WhatsApp, organisasi ini mulai menjalin hubungan dengan Himpunan Mahasiwa Tomohon Universitas Sam Ratulangi (Himato Unsrat). Pertemuan ketiga digelar pada 29 Mei 2019, di Cozy Café, Walian, dihadiri oleh saya, Grasela Pangemanan, Winny Keintjem (Fakultas Bahasa dan Seni/FBS), Anggreini Siar (FBS) dan Leonard Liu (FIS). Fokusnya tetap sama, memperluas jaringan di setiap fakultas dan membantu calon mahasiswa baru. Pertemuan keempat di rumah Leonard Liu, Kakaskasen, pada 28 Juni 2019 hanya dihadiri tiga orang sehingga tak menghasilkan keputusan berarti. Namun pertemuan kelima, 20 Juli 2019, di rumah Sergio Mantow (FBS), menjadi titik penting: disepakati deklarasi resmi organisasi pada 25 Juli 2019 di Rumah Kopi Walian.

Hari itu, Jumat 25 Juli 2019, menjadi tonggak bersejarah. Organisasi mahasiswa Tomohon di Unima resmi dideklarasikan dengan nama baru Ikatan Mahasiswa Tomohon Unima (Imato Unima). Nama lama dianggap terlalu mirip dengan organisasi serupa di Universitas Sam Ratulangi. Meski musyawarah besar ditunda karena program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang II, semangat tetap bergulir. Pertemuan ketujuh pada 30 Juli 2019 di rumah Leonard Liu, memutuskan bahwa pertemuan berikutnya akan digelar setelah KKN berakhir.

Pertemuan mula-mula, 22 Maret 2019. (Foto: Dok. B.M. Lapong)

Pertemuan mula-mula, 22 Maret 2019. (Foto: Dok. B.M. Lapong)

Agustus 2019 menjadi bulan penjaringan anggota, terutama mahasiswa baru. Anggota Imato bergerak aktif di pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB) tiap fakultas, melaporkan setiap penambahan anggota melalui grup resmi. Nama Imato semakin dikenal. Pada 26 Oktober 2019, Imato diundang dalam Forum Diskusi Grup Himato Unsrat di Elmonds Café, Kolongan, diwakili oleh saya dan Christian Ali. Di sana, Imato diperkenalkan kepada berbagai organisasi kepemudaan Tomohon. Saat itu ketua umum Himato Unsrat adalah Anugrah Pandey, yang turut juga menginspirasi saya dalam menginisiasi organisasi serupa di Universitas Negeri Manado.

Pertemuan berikutnya digelar 13 Desember 2019 di rumah Agnes Tumbol, Matani, membahas pelaksanaan musyawarah besar. Disepakati pertemuan lanjutan pada 23 Januari 2020 di rumah Steven Goni. Pertemuan itu dihadiri sekitar 12 orang, menghasilkan keputusan penting yakni pelaksanaan Rapat Umum Anggota (RUA) pada 14 Februari 2020, pembentukan Tim Formatur yang saya pimpin, serta penggantian nama Imato menjadi Ikatan Mahasiswa Tomohon Unima (IMT Unima).

Sejak itu, berbagai pertemuan digelar di Kakaskasen, Walian, Matani, dan Perum Walian demi persiapan RUA pertama. Tanggal 14 Februari dipilih bukan karena perayaan Hari Kasih Sayang, melainkan karena bertepatan dengan peristiwa bersejarah Pemuda Sulawesi Utara, Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946.

Rapat Umum Anggota ke-1, 14 Februari 2020. (Foto: Dok. IMT Unima)

Rapat Umum Anggota ke-1, 14 Februari 2020. (Foto: Dok. IMT Unima)

Tibalah saat yang dinanti, 14 Februari 2020. RUA pertama IMT Unima digelar di sekretariat Keluarga Mahasiswa Katolik Fakultas Ilmu Pendidikan (KMK FIP) Unima, dipimpin oleh Steven Goni, saya dan Agnes Tumbol. Enam belas anggota hadir dari berbagai fakultas. Agenda penting penetapan nama dan logo organisasi, pengesahan AD/ART, serta pemilihan kepengurusan periode 2020–2021. Kenapa di sekretariat KMK FIP? Kala itu, Agnes adalah ketua komunitas KMK FIP di Fakultas Ilmu Pendidikan.

Dalam suasana penuh harap dan semangat kebersamaan, pemilihan kepengurusan pertama IMT Unima digelar. Tiga pasangan calon maju dengan membawa visi dan keyakinan masing-masing, seakan menyalakan obor demokrasi di tengah lingkaran mahasiswa Tomohon. Proses pemilihan berjalan sederhana namun sarat makna. Setiap suara yang dijatuhkan adalah tanda kepercayaan, setiap pilihan adalah cerminan harapan. Dari jalannya pemilihan itu, saya bersama Stevly Tumanduk memperoleh dukungan lima suara. Pasangan Ceryl Pukul bersama Herling Tetenaung meraih satu suara. Sementara pasangan Migel Tuwaidan bersama Marcel Lumi tampil sebagai pemenang dengan sepuluh suara, meneguhkan mereka sebagai ketua dan sekretaris pertama IMT Unima.

Kemenangan Migel dan Marcel bukan sekadar angka yang tercatat, melainkan simbol kepercayaan anggota terhadap kepemimpinan yang diharapkan mampu membawa organisasi ini ke arah yang lebih kokoh dan berdaya. Suasana pemilihan kala itu bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana semangat demokrasi tumbuh di antara anak-anak muda Tomohon.

Seperti bunga yang mekar di tanah Tomohon, hasil pemilihan ini adalah harapan yang tumbuh dari akar solidaritas. Ia menandai bahwa pemuda Tomohon mampu menata dirinya, memilih jalannya dan menuliskan sejarahnya sendiri. Dari ruang sederhana di kampus, lahirlah kepengurusan resmi yang menjadi tonggak sejarah IMT Unima, sebuah organisasi yang berdiri di atas semangat kebersamaan dan tekad untuk terus bergerak maju.

Dokumen RUA (Daftar Hadir dan AD-ART) - 1 IMT Unima, 14 Februari 2020. (Foto: Dok. B.M. Lapong)

Dokumen RUA (Daftar Hadir dan AD-ART) – 1 IMT Unima, 14 Februari 2020. (Foto: Dok. B.M. Lapong)

 

IMT dari Masa ke Masa

Sejak awal berdirinya, kepemimpinan IMT Unima telah berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya, seakan obor yang berpindah tangan namun tetap menyala terang. Ketua dan sekretaris umum pertama adalah Migel Tuwaidan dan Marcel Lumi, yang kemudian dilanjutkan oleh Marcel Lumi bersama Tri Ering, lalu diteruskan oleh Zefanya Kauwoh bersama Lina Rompis, dan kini kepemimpinan berada di tangan Angely Wuisan bersama Monica Palit. Setiap periode kepemimpinan menjadi bab tersendiri dalam perjalanan organisasi, menorehkan jejak yang memperkuat fondasi solidaritas mahasiswa Tomohon di Universitas Negeri Manado.

Tidak hanya kepengurusan inti, organisasi ini juga mendapat dukungan dari para tokoh yang pernah didaulat menjadi Dewan Pembina. Nama-nama besar seperti Prof. Philoteus Tuerah, Dr. Robert Tuerah, Dr. Jones Pontoh, Joudy Aray, Fischer Mangundap, dan Wenny Lumentut menjadi penopang moral dan intelektual, memberi arahan, serta meneguhkan IMT Unima sebagai wadah yang tidak sekadar berorganisasi, tetapi juga berorientasi pada pembinaan dan pengkaderan.

IMT Unima, dalam perjalanannya, mungkin telah mengkaderkan ratusan mahasiswa. Mereka bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di lingkup organisasi, tetapi juga diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi kota Tomohon. Kader-kader yang lahir dari ikatan ini telah menebarkan pengaruhnya ke berbagai ruang gerakan. Ada yang menjabat di organisasi ekstra kampus seperti PMKRI Tomohon, di sana tercatat nama Ceryl Pukul, Wensy Loho, Queen Surentu, dan lainnya. Ada pula yang aktif di GMNI Tomohon, seperti Filo Karundeng dan rekan-rekan. Di BPAN Tomohon, hadir nama Josua Palar dan lainnya. Sementara di Ikatan Putra/Putri Pendidikan Tomohon, terdapat Tri Ering dan rekan-rekan. Bahkan, beberapa kader turut menginisiasi forum pegiat lingkungan, seperti Marcel Lumi dan Herling Tetenaung, yang menegaskan bahwa kepedulian mereka tidak hanya berhenti di kampus, tetapi merambah ke isu-isu sosial dan ekologis.

Ruang-ruang kritis di kota Tomohon tak pernah luput dari jejak kader-kader IMT Unima. Mereka hadir bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku yang memberi warna dalam dinamika sosial. Dari aksi turun ke jalan yang menyuarakan catatan kritis bagi pemerintah kota, aksi solidaritas terhadap korban bencana, diskusi hingga tulisan-tulisan reflektif yang menyingkap persoalan masyarakat, kader IMT Unima menjadikan suara mereka sebagai bagian dari denyut demokrasi lokal.

Wadah ini bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah ladang kaderisasi, tempat benih kepemimpinan ditanam, disirami dengan semangat solidaritas, lalu tumbuh menjadi pohon yang cabangnya menjangkau masyarakat luas.

IMT Unima bersama jaringan melaksanakan Upacara 17 Agustus 2021 di TPA Taratara.

IMT Unima bersama jaringan melaksanakan Upacara 17 Agustus 2021 di TPA Taratara.

 

Dari Kampus ke Kota, Dari Organisasi ke Masyarakat

Sejak ia lahir, IMT Unima berdiri tegak sebagai wadah resmi mahasiswa Tomohon di Universitas Negeri Manado. Sebuah perjalanan panjang dari percakapan ringan hingga menjadi organisasi yang berakar kuat, berlandaskan solidaritas, dan berjiwa kekeluargaan.

Sejarah IMT Unima adalah cermin kecil dari denyut nadi gerakan pemuda di kota Tomohon. Dari ruang tamu sederhana, dari meja kopi, dari percakapan ringan yang berubah menjadi tekad, lahirlah sebuah organisasi yang kini menjadi bagian dari wajah kepemudaan Tomohon.

Gerakan pemuda di kota ini selalu berakar pada semangat kebersamaan. Ia tumbuh dari rasa ingin saling menguatkan, dari keberanian untuk melangkah meski penuh rintangan, dari keyakinan bahwa suara anak muda mampu memberi warna bagi masyarakat. IMT Unima hanyalah satu bab dari kisah panjang itu, namun ia menegaskan bahwa pemuda Tomohon tidak pernah berhenti bergerak.

Mereka adalah suzu, tunas yang merupakan awal tumbuhnya gerakan, membawa harapan, solidaritas dan kebanggaan. Dari kampus ke kota, dari organisasi ke masyarakat, gerakan pemuda Tomohon adalah bukti bahwa perubahan selalu dimulai dari niat tulus dan tekad bersama.

Dan pada akhirnya, sejarah IMT Unima bukan sekadar catatan organisasi. Ia adalah bagian dari denyut perjuangan pemuda Tomohon, yang terus menulis kisahnya dengan tinta keberanian, dengan warna spirit Minahasa, dan dengan cahaya kebersamaan. Pemuda Tomohon adalah generasi yang menjaga akar tradisi, sekaligus menumbuhkan cabang-cabang baru menuju masa depan kota yang lebih indah, lebih berdaya dan lebih bermakna. Kelung um Wanua Tou Mu’ung.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *