CULTURAL
Situs Telapak Kaki Kinilow dan Kisah Raksasa-Raksasa Masa Lampau
Published
3 months agoon
16 Maret 2026
“Cerita mengenai siapa pemilik jejak telapak raksasa di perkebunan Mo’mo belumlah bulat. Dalam ragam penuturan orang tua, tetua kampung dan keterangan dari berbagai litaratur, muncul perbedaan. Beberapa nama memang dipercaya sebagai pemilik jejak raksasa itu. Perbedaan penafsiran ini justru memperkaya khazanah cerita rakyat dan nilai sejarah budaya yang berkembang di tengah masyarakat.”
Penulis : Hendra Mokorowu
KABUT tebal sering menggantung di perbukitan perkebunan Mo’mo, sebuah kawasan hijau sebelah timur dari wanua (kampung) Kinilow raya, kecamatan Tomohon Utara. Tampak dari jauh, hamparan kehijauan kebun dan pepohonan terlihat biasa saja. Namun di antara bebatuan tersebar di lereng bukit sampai sungai di situ, ada tersimpan sebuah jejak yang mengundang rasa takjub, sekaligus tanda tanya. Relief tapak kaki raksasa membeku di atas batu besar pada dasar sungai kecil.
Ukuran telapak itu jauh dari skala kaki manusia biasa pada umumnya. Cekungannya jelas terlihat, seolah seseorang dengan tubuh luar biasa besar pernah melangkah dan meninggalkan jejaknya di sana. Bagi masyarakat setempat, tanda ini bukan bentuk aneh pada batu. Ia dipandang sebagai penanda bahwa kehidupan manusia raksasa Minahasa di wilayah Kinilow telah eksis sejak masa yang sangat lampau.
Batu bertapak raksasa itu bertengger seperti penjaga cerita. Tidak berbicara, tapi pasti menyimpan kisah yang belum sepenuhnya terungkap. Dalam ingatan masyarakat, jejak tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai kisah lama berupa mitologi, legenda, hingga cerita rakyat yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Sejumlah tokoh raksasa dari cerita masa lalu sering disebut sebagai kemungkinan pemilik jejak kaki tersebut. Nama-nama itu masih hidup dalam kisah yang berakar kuat dalam tradisi lisan masyarakat Minahasa. Setiap cerita memiliki versi dan penafsirannya sendiri. Akan tetapi semuanya berpaut pada satu hal, keyakinan bahwa batu bertapak itu bukan sekadar fenomena alam biasa.
Sayangnya, kisah-kisah itu kini hanya diingat oleh sebagian kecil masyarakat. Dalam perjalanan waktu, cerita tentang jejak kaki raksasa di Kinilow perlahan memudar dari percakapan sehari-hari. Banyak orang, bahkan di wilayah Minahasa sendiri, belum pernah mendengar keberadaan situs tersebut.
Padahal, bagi sebagian orang yang peduli pada sejarah dan kebudayaan, keberadaan jejak itu justru menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Bagaimana jejak itu bisa terbentuk? Apakah ia berkaitan dengan kisah leluhur Minahasa? Ataukah sekadar fenomena geologi yang kemudian terpeluk dalam cerita rakyat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menggugah sekelompok pemuda penggiat budaya, peneliti, penulis sejarah dan jurnalis. Informasi tentang jejak kaki raksasa di Kinilow yang masih samar justru menjadi pemantik semangat mereka. Rasa penasaran yang berkobar itu sedikit terobati ketika mereka dapat menjangkau langsung situs telapak kaki raksasa itu. Jejak arkeologi yang dikenal dengan istilah petrosomatoglif. Gambar yang diduga menggambarkan bagian-bagian tubuh manusia atau hewan di atas batu. Gambar-gambar ini menurut para peneliti seringkali berfungsi sebagai bentuk simbolisme penting, digunakan dalam upacara keagamaan. Beberapa di antaranya dianggap sebagai artefak yang terkait dengan orang suci atau pahlawan budaya. Paling umum dari petrosomatoglif adalah kaki.
Di tengah keterbatasan dokumentasi dan minimnya perhatian publik, mereka memutuskan untuk mencari sendiri jawabannya. Niat untuk menyaksikan langsung situs penanda sejarah kebudayaan itu pun tumbuh menjadi tekad kuat. Kekuatan pikiran mereka, perjalanan menuju perbukitan Mo’mo bukan hanya kunjungan biasa. Melainkan lebih kepada sebuah upaya menelusuri jejak masa lalu yang hampir terlupakan. Satu hal menjadi dasar anggapan, jejak kaki raksasa itu masih setia menunggu untuk kembali dibaca. Tentu bukan cuma sebagai bekas pijakan misterius di atas batu, tetapi justru memiliki bagian dalam cerita panjang peradaban Minahasa.

Relief telapak kaki raksasa pada batu di perkebunan Mo’mo, Kinilow.
Ziarah Kultura: Menelusuri Telapak Kaki di Kinilow
Dalam perspektif lokal Minahasa, menapaki jejak leluhur bukan perjalanan fisik belaka. Ini merupakan upaya menyambung ingatan, merawat kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut. Cerita yang tersimpan dari hutan ke sungai, dari batu ke batu. Orang Tombulu menyebutnya lumales, sebuah perjalanan menelusuri jalan para leluhur di tanah asal usul manusia Minahasa, negeri Toar-Lumimuut.
Pekan kedua tahun 2026, sekelompok orang muda tersebut memutuskan untuk melakukan ziarah kultura. Perjalanan lumales untuk membaca kembali jejak-jejak leluhur yang tersisa di alam. Jumat, 16 Januari 2026, menjadi hari yang dipilih untuk memulai langkah. Siang itu, sekitar pukul 13.00 Wita, beberapa pemuda mulai berkumpul di kedai sederhana bernama Kelung di Jalan Raya Tomohon-Tondano, Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Di tempat itu, ada percakapan tentang legenda, leluhur dan tempat-tempat tua, sambil bercampur dengan aroma kopi yang mengepul dari gelas.
Di rombongan kecil ini ada saya, Fernanda Montolalu, Gerard Tiwow, Belarmino Lapong, dan Filo Karundeng. Ziarah ini juga diikuti dua pelajar muda, Steinbeck Hosiowo’ Mokorowu dan Éndo Waraney Sela Mokorowu, generasi yang masih belajar mengenal tanah serta cerita leluhurnya. Sekitar pukul 14.30 Wita, perjalanan dimulai. Kami menumpangi sebuah mobil pick up Suzuki Mega Carry yang dikemudikan Gratio Rondonuwu. Kendaraan sederhana itu membawa rombongan meninggalkan keramaian jalan raya menuju jalur perkebunan yang sepi dari hingar bingar perkotaan.
Tujuan lumales, perbukitan yang berada di lereng barat laut Gunung Mahawu, tepatnya di ujung jembatan jalan perkebunan Mo’mo, wilayah Kelurahan Kinilow Satu, Kecamatan Tomohon Utara. Tempat ini dikenal warga sebagai lokasi sebuah situs yang telah lama menjadi perbincangan, yaitu jejak telapak kaki raksasa di atas batu.
Untuk mencapai titiknya, rombongan harus turun ke aliran sungai kecil yang mengalir di antara bebatuan besar. Suasananya damai. Air yang dingin mengalir pelan di sela-sela batu basal. Sementara, pepohonan hutan membentuk kanopi alami yang meneduhkan. Pencarian tak berlangsung lama. Di antara batu-batu besar yang tersebar di dasar sungai, para pemuda akhirnya menemukan apa yang dicari. Rombongan pun tiba di jejak telapak kaki raksasa yang terukir pada permukaan batu.
Jejak kaki di batu ini diketahui memiliki panjang sekitar 74 sentimeter (Cm) dengan lebar kira-kira 27 Cm. Ukurannya memang jauh melampaui telapak kaki manusia biasa. Jejak tapak kaki di batu itu tampak terdiam, namun menyimpan cerita yang jauh lebih tua dari ingatan manusia yang hidup hari ini. Situs telapak kaki ini sebenarnya pernah menjadi perbincangan luas pada 15 tahun lalu. Juli hingga Agustus 2011, ketika proyek pelebaran jalan perkebunan dilakukan di wilayah tersebut, foto jejak kaki raksasa di batu tiba-tiba menyebar di media sosial Facebook dan menarik perhatian publik.
Perhatian terhadap situs ini bahkan sempat datang dari kalangan akademisi. Harian Media Sulut edisi 1 Agustus 2011 pernah menuliskan bahwa wilayah Kinilow memiliki potensi kearkeologian yang cukup besar. Hebohnya temuan telapak kaki berukuran raksasa di media sosial kala itu, menarik perhatian para peneliti dari Balai Arkeologi Manado. Koordinator Peneliti Balai Arkeologi Manado, Ipak Fahriani, ketika itu menyatakan bahwa keaslian jejak telapak kaki ini belum dapat dipastikan sebelum dilakukan survei langsung di lokasi.
Menurut Fahriani, Sulawesi Utara memiliki banyak wilayah dengan jenis tanah basal. Masyarakat setempat menyebutnya domato, bahan yang relatif mudah dibentuk. Faktor lingkungan seperti ini menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam penelitian arkeologis. Ia juga menjelaskan bahwa Kinilow memang dikenal sebagai kawasan yang memiliki potensi peninggalan dari masa megalitik.
“Kinilow memang lokasi yang memiliki potensi kearkeologian, khususnya zaman megalitik yang ditandai dengan penggunaan batu untuk prosesi pemujaan atau penguburan, seperti waruga atau batu dakon,” ujar Fahriani, Senin, 1 Agustus 2011, seperti ditulis harian Media Sulut.
Di hadapan batu yang menyimpan telapak kaki raksasa, rombongan muda yang melakukan lumales siang itu tidak sedang mencari jawaban pasti. Mereka justru datang untuk merasakan hubungan yang lebih tua dari sejarah tertulis. Itu tentang hubungan antara manusia, cerita dan tanah yang mereka pijak. Di tempat seperti inilah, legenda, arkeologi dan ingatan kolektif masyarakat bertemu. Bahkan membentuk ruang, di mana masa lalu masih berbisik lewat batu dan air yang terus mengalir.
Lumales di situs telapak kaki perkebunan Mo’mo.
Jejak Raksasa dan Warisan Para Waraney: Legenda yang Hidup di Kinilow Raya
Di wilayah Kinilow raya, di lembah yang diapit tiga gunung, yakni Lokon, Empung dan Mahawu, cerita-cerita lama masih hidup dalam ingatan masyarakat. Kisah itu dituturkan turun-temurun, diwariskan dari para leluhur kepada generasi berikutnya. Salah satu yang paling dikenal adalah legenda tentang sosok raksasa bernama opo (leluhur) Tarandung. Seorang tokoh yang dipercaya pernah mengubah bentuk bentang alam di sekitar Kinilow.
Menurut penuturan tokoh masyarakat Kinilow, Febry Kaunang, legenda ini telah lama menjadi bagian dari memori kolektif warga. Tarandung digambarkan sebagai sosok raksasa yang memiliki kekuatan luar biasa. Dalam cerita rakyat, dialah yang memotong badan Gunung Empung dengan hanya menggunakan tiga batang lidi (batang daun pohon aren).
Setelah memotong bagian atas gunung itu, Tarandung memikulnya di pundak. Saat melangkah, kaki kirinya sudah berada di pegunungan Mo’mo, sementara kaki kanannya masih berada di wilayah yang kini menjadi kampung Kinilow. Hingga kini, masyarakat percaya bahwa jejak telapak kaki kiri Tarandung masih dapat dilihat pada sebuah batu besar di bawah jembatan perkebunan Mo’mo.
Namun potongan puncak gunung yang dipikul itu ternyata terlalu berat. Tarandung pun tersungkur. Dalam keadaan kelelahan, ia bahkan disebut sampai terkencing sebelum akhirnya tertidur lelap. Tempat di mana ia terjatuh dan tertidur kemudian dikenal sebagai perkebunan Kinakolo’an, dalam bahasa Tombulu berarti “terjatuh dan tertidur”. Di lokasi itu terdapat sebuah mata air yang dianggap unik oleh masyarakat. Mata air ini diyakini merupakan transformasi dari terkencingnya Tarandung. Menurut cerita para tetua, mata air itu akan terus mengalir jika yang melintas adalah laki-laki. Tetapi jika seorang perempuan yang lewat, airnya tiba-tiba berhenti.
“Kepercayaan masyarakat mengatakan, ketika perempuan melintas, opo Tarandung merasa malu sehingga mata airnya langsung mati,” kisah Kaunang, Senin, 9 Februari 2026.
Saat tersungkur, potongan bagian atas Gunung Empung yang sedang dipikul Tarandung terlempar jauh ke laut. Masyarakat meyakini bahwa potongan gunung itulah yang kemudian menjadi Gunung Manado Tua. Sebuah pulau yang kini berdiri megah di perairan utara Sulawesi Utara. Legenda ini juga berkaitan dengan pandangan spiritual masyarakat Kinilow pada masa lampau. Dahulu, puncak Gunung Empung dipercaya sangat tinggi hingga menjadi tempat para leluhur berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Bahkan, dalam cerita rakyat disebutkan bahwa manusia pada masa itu dapat mendaki hingga menggapai langit.
Namun kondisi itu dianggap berbahaya. Para leluhur khawatir orang-orang dapat melakukan kesalahan saat mencapai puncak gunung dan merusak hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Karena itu, para tetua “di atas” memerintahkan Tarandung untuk memangkas puncak Gunung Empung agar tidak ada lagi manusia yang naik ke langit dengan sembarangan. Jadi, dahulunya dalam ingatan kisah masyarakat, Gunung Empung besar dan Gunung Empung kecil adalah satu gunung yang tunggal, bahkan tinggi sampai ke langit.
Selain kisah Tarandung, masyarakat Kinilow juga mengenal cerita tentang raksasa lain yang tak kalah legendaris, yakni Kokali. Ia dipercaya sebagai keturunan dari raksas Makioloz/Makiolor dan dikenal sebagai leluhur yang merintis berdirinya wanua Kali Lotta atau Kali Tua di wilayah kecamatan Pineleng. Ada tuturan tetua yang menjelaskan jika jejak kaki di batu perkebunan Mo’mo merupakan kepunyaan Kokali.
Febry Kaunang, tokoh Kinilow yang juga staf perangkat pemerintah kelurahan Kinilow Satu menceritakan, Kokali dikenal sebagai pelindung negeri Kinilow sekaligus seorang waraney (sebutan bagi prajurit pemberani dalam tradisi Minahasa). Ia pernah memimpin perjuangan melawan serangan dari orang-orang wilayah Bolaang Mongondow (Bolmong). Dalam salah satu kisah yang masih diceritakan hingga kini, pasukan dari Bolmong sempat menembus hingga ke wanua Kali. Kokali bersama para waraney lainnya, turun langsung menghadang mereka. Pertempuran sengit pun terjadi.
Jejak kisah perjuangan itu dipercaya masih tersimpan dalam nama-nama tempat di sekitar Kinilow. Ada kebun bernama Kinaturaan, yang berarti tempat musuh ditumbak. Nama itu berasal dari kisah ketika Kokali berhasil menumbak salah satu penyerang. Tak jauh dari situ terdapat pula kebun bernama Pinabunbunan, yang dipercaya sebagai lokasi tempat musuh ditimbun Kokali setelah pertempuran.
Legenda bahkan menceritakan bahwa Kokali pernah membawa kepala musuhnya yang masih hidup menuju Kinilow. Dalam perjalanan, ia berhenti di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Sinambey. Di sana kepala itu dibantingkan ke batu hingga hancur berkeping-keping. Dalam kisah tutur, serpihan-serpihan tersebut berubah menjadi banyak karamkan atau lipan.
Setelah kemenangan itu, Kokali bakuku (mengangkat suara keras), sebagai tanda bahwa ia telah memenangkan peperangan. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam nama sebuah perkebunan yang disebut Pinakukukan, yang berarti tempat berteriak kemenangan.
Febry Kaunang di kompleks waruga Kinilow.
Mahalukarz, Jejak Sejarah Kokali dan Asal Usul Desa Kali
Di banyak wilayah Minahasa pada masa lampau, masyarakat memang percaya bahwa setiap wanua atau desa memiliki penjaganya sendiri yang diberi predikat pahlawan (lukarz). Ada sosok raksasa gaib atau makhluk mitologis yang melindungi penduduk dari ancaman musuh. Di etnis Tombulu, seorang penjaga yang bersifat kepahlawanan disebut mahalukarz.
Paul Richard Renwarin dalam buku Matuari wo Tonaas (2007), mengisahkan bahwa sosok-sosok raksasa penjaga ini dikenal dengan berbagai nama di setiap wilayah. Mamontororing di Tonsea, Tumalun di Tombulu, Tamowangkai di Ratahan, Pareipei di Remboken dan di desa Kali dikenal seorang penjaga raksasa bernama Kokali.
Suatu waktu di masa lalu, di kaki perbukitan hijau, sekitar delapan kilometer dari Kinilow Tua arah utara, berdirilah sebuah desa bernama Kali. Di balik nama desa ini, ada warisan cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi. Meliputi kisah tentang keberanian, kesetiaan dan penghargaan terhadap jasa.
Dahulu kala, di Kinilow Tua hidup seorang tokoh raksasa yang dikenal kuat dan berpengaruh. Namanya Makiolor. Bukan hanya pemimpin yang disegani, tetapi ia merupakan figur pemegang kendali atas kehidupan masyarakat di wilayah itu. Sebagai penyokongnya, berdiri seorang pembantu setia sekaligus “tangan kanan” bernama Kokali. Sumber lain menyebutkan jika Kokali Adalah keturunan Makiolor yang tak kalah tangguh.
Seperti sosok panutannya, Kokali dikenal sebagai pemburu ulung. Ia sangat terbiasa menjelajah hutan seorang diri dengan ditemani anjing-anjing pemburunya yang setia. Dalam setiap perjalanan, Kokali membawa 19 ekor anjing yang terlatih untuk berburu. Ini menjadikan Kokali sebagai sosok yang disegani di rimba.
Suatu hari, Kokali kembali masuk ke hutan untuk berburu. Tak lama setelah perjalanan dimulai, anjing-anjingnya mulai menggonggong keras. Mereka mencium jejak seekor babi hutan dan segera mengejarnya. Kokali pun mengikuti dengan tangkasnya, menembus semak belukar dan pepohonan.
Pengejaran panjang dalam perburuannya itu, akhirnya menibakan Kokali ke sebuah dataran yang luas. Lokasi tanah datar lebar itu terdapat lembah-lembah yang curam. Walhasil, babi hutan yang diburu tidak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri. Di sanalah Kokali berhasil menangkap buruannya dan membawa pulang ke Kinilow.
Disadari Kokali, ternyata ada hal yang lebih menarik dari hasil buruannya. Ia menemukan tempat berbeda dari wilayah lain yang pernah dijelajahinya. Dataran luas itu ia rasa layak dijadikan pemukiman. Sepulang dari hutan, Kokali langsung ke Kinilow dan menceritakan kepada Makiolor tentang tempat yang ia temukan, sebuah dataran yang luas sangat menjanjikan.
“Sesudah mendapat berita ini, Makiolor memutuskan untuk membuka sebuah desa di sana sebagai suatu balas jasa bagi Kokali,” tulis Renwarin.
Keputusan itu sekaligus menjadi bentuk penghargaan atas jasa dan penemuan Kokali. Sebagai balas jasa, Kokali diangkat menjadi pemimpin pemukiman baru tersebut. Desa itu kemudian diberi nama Kali, diambil dari namanya sendiri. Ini menjadi sebuah pengingat bahwa desa ini lahir dari keberanian seorang pemburu yang menjelajah hutan hingga menemukan tanah pemukiman baru.
Kisah tentang Kokali juga terdokumentasi pada catatan J. Louwerier, De legenden van Kali, een negerij in de Minahassa (1883). Kemudian diceritakan kembali oleh seorang warga Kali, D. Mamuaja pada tahun 1997. Cerita ini memperlihatkan bagaimana mitologi lokal menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Minahasa.
Kokali digambarkan sebagai sosok raksasa dengan ukuran tubuh luar biasa besar. Bahkan telapak kakinya disebut sebesar sebuah nyiru. Ia tinggal di dekat pintu masuk wanua Kali, tempat strategis untuk mengawasi setiap orang yang datang dan pergi. Tugasnya jelas, menjaga desa dari serangan musuh.
Sebagai balas jasa atas perlindungannya, penduduk desa memberi makan Kokali dan membiarkannya mengambil hewan peliharaan kapan saja ia ingin. Keberadaan penjaga semacam ini merupakan bagian dari sistem perlindungan spiritual, sekaligus simbol kekuatan desa. Kisah Kokali tidak saja berbicara mengenai kekuatan, di dalamya terdapat pula tentang kehancuran sebuah desa.
Suatu ketika pecah perang antara penduduk Kali dan orang Pareipei dari Remboken. Pasukan Parepei datang menyerang dalam beberapa kelompok yang bergerak menuju pintu gerbang desa Kali. Setiap kali sekelompok penyerang melewati pintu gerbang, Kokali hanya menanyakan satu hal.
“Amo si kaloku? (Mana mitraku?)”
Para penyerang menjawab, “Witi muri (Di belakang).”
Kokali pun tidak menyerang mereka. Ia menunggu pemimpin orang Parepei, lawan yang dianggapnya sepadan. Sementara ia menunggu, kelompok demi kelompok pasukan Parepei bebas masuk ke desa. Akibatnya, para penyerang dengan leluasa membunuh penduduk dan membakar rumah-rumah hingga desa Kali hancur.
Sebagian warga berhasil melarikan diri. Ada yang menyusuri Sungai Sario, menuju tempat bernama Limembet (berjembatan). Ada yang lari ke tebing batu Pina’awuan (sudah menjadi abu). Ada pula yang menyeberang melalui jembatan bergoyang yang dikenal sebagai Pinapoipoian (sudah bergoyang). Nama-nama tempat ini masih dikenal dalam ingatan masyarakat hingga kini.
Setelah seluruh desa dihancurkan, pemimpin pasukan Parepei akhirnya kembali untuk menghadapi Kokali. Ia menancapkan tombaknya ke kaki Kokali hingga raksasa itu terpaku di tanah. Sambil melakukan itu, ia berkata, “Akulah pemimpin mereka!”
Walau dalam keadaan tertusuk dan terjebak, Kokali masih berusaha melawan hingga membunuh banyak musuh. Namun pada akhirnya ia dikalahkan dan kepalanya dipancung. Kepala Kokali kemudian dibawa pulang oleh para penyerang. Perjalanan pulang itu ternyata tidaklah mudah. Di tengah jalan, kepala raksasa tersebut menggigit para pemikulnya hingga mereka jatuh di sebuah tempat curam yang kemudian disebut Totongkoren.
Karena takut, mereka memotong kepala itu menjadi beberapa bagian. Potongan-potongan itu dikuburkan di tempat bernama Pinabunbunan, sementara sebagian lainnya dilempar ke bukit Kentur Kiniar. Beberapa potongan bahkan dibawa kembali ke desa Parepei. Akan tetapi menurut cerita, potongan itu justru membawa penyakit bagi penduduk di Parepei.
Cerita Kokali ini menjadi menarik bukan lantaran kisah heroiknya saja. Nilai pentingnya, yaitu jejaknya yang masih hidup dalam nama-nama tempat. Banyak lokasi yang disebut dalam cerita. Misalnya Limembet, Pina’awuan, Pinapoipoian, Totongkoren dan Pinabunbunan, tetap mencair dalam ingatan masyarakat, bahkan nama-nama tempat ini masih eksis hingga hari ini.
Realitasnya itu menunjukkan bagaimana legenda sering kali berfungsi sebagai “peta ingatan budaya”. Melalui cerita, masyarakat tidak hanya mengingat tokoh-tokoh mitologis, tetapi juga menandai ruang dan sejarah di sekitar mereka. Antara mitologi dan sejarah, Kokali barangkali belum tentu pernah hidup sebagai raksasa seperti yang digambarkan dalam cerita. Namun, tradisi lisan Minahasa menegaskan, ia adalah simbol penjaga wanua, keberanian dan sekaligus tragedi.
Legenda ini juga menggambarkan nilai budaya yang penting, yaitu kehormatan dalam bertarung dengan lawan sepadan. Keputusan Kokali menunggu pemimpin musuh, meskipun berakibat fatal bagi desanya, ini menunjukkan prinsip kehormatan dalam menghadapi lawan. Cerita rakyat tentang Kokali merupakan bagian dari warisan budaya Minahasa. Ini sebuah narasi yang menghubungkan mitos, sejarah dan toponimi lanskap geografis dalam satu ingatan kolektif masyarakat.
Tampak Gunung Empung Besar dilihat dari kelurahan Kakaskasen Dua.
Raksasa Tampi Pelindung Negeri Kinilow
Di sebuah kampung tua, wilayah negeri Tombulu juga pernah tercatat sebagai tempat tinggalnya seorang raksasa yang bergelar lain. Dari Kniliow, lahir sebuah legenda tentang seorang raksasa penjaga negeri bernama Tampi. Ia tokoh yang disebut-sebut pernah mengguncang wilayah-wilayah di sekitarnya daratan Malesung. Kisahnya terabadikan dalam catatan seorang penulis dari Belanda pada abad ke-18.
Cerita tentang Tampi tidak hanya hidup dalam tradisi lisan. J.N. Wiersma dalam bukunya berjudul De geschiedenis van Ratahan en Pasan (1871), mengurai legenda raksasa Tampi yang ditakuti banyak walak. Di catatan itu, Wiersma menuliskan bahwa di Kinilow pernah hidup seorang raksasa, Tampi yang dikenal sebagai penjaga wanua atau pelindung negeri. Ia bahkan kerap pergi berperang ke wilayah lain.
Menurut kisah yang beredar, Tampi memiliki tubuh yang luar biasa besar. Dadanya dikatakan memiliki lebar tujuh jengkal. Sosoknya tinggi menjulang dan dikenal sangat kuat. Ia tidak hanya menjaga wilayahnya sendiri, tetapi juga sering melakukan perjalanan jauh ke berbagai negeri untuk bertarung.
Nama Tampi pun mulai menyebar dari satu wilayah ke wilayah lain. Cerita tentang keberaniannya terdengar hingga ke Ratahan. Ada kabar yang tersiar, Tampi juga akan datang menyerang Ratahan. Kabar itu membuat penduduk Ratahan diliputi ketakutan. Mereka membayangkan kehancuran jika raksasa dari Kinilow itu pasti datang.
“Jika Tampi datang ke sini, kota kami pasti akan hancur,” demikian kisah itu mengekspresikan kekhawatiran yang beredar di kalangan warga.
Namun demikian, tidak semua orang memilih untuk takut. Sejumlah pemberani justru merasa tersinggung dengan kabar ancaman tersebut. Mereka memutuskan untuk menghadapi kemungkinan itu dengan membentuk sebuah pasukan kecil. Pasukan itu dipimpin seorang tokoh bernama Tamowangkai. Ia mengumpulkan beberapa orang yang bersedia ikut bersamanya menuju Kinilow, tempat tinggal Tampi.
Perjalanan mereka bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap anggota pasukan hanya membawa sembilan buah biraro (kecipir sebagai bekal makanan tradisional). Setiap orang hanya boleh memakan satu biraro per hari. Tiba di dekat Kinilow, Tamowangkai mendirikan perkemahan kecil di sebuah hutan. Dari sana, mereka merencanakan langkah untuk memata-matai. Untuk mengetahui keadaan di Kinilow, Tamowangkai bersama dua orang rekannya memutuskan melakukan pengintaian.
Mereka bergerak diam-diam, mencoba melihat dari dekat seperti apa negeri yang dijaga oleh raksasa bernama Tampi. Saat malam hari, Tamowangkai diam-diam mendatangi rumah Tampi. Ia menumpuk sekam padi di bawah tangga rumah Tampi dan menjadikan itu sebagai tempat persembunyiannya bersama senjata. Dalam keheningan malam, ia menunggu saat yang tepat. Sementara, suasana di wanua Knilow berubah menjadi kacau. Perang telah pecah dan orang-orang berlarian datang kepada Tampi, membawa kabar genting.
“Wahai Tampi! Tampi! Semua rakyatmu akan dibunuh!” teriak mereka dari luar rumah Tampi.
Namun Tampi menjawab dengan tenang, seolah perang itu bukan ancaman yang mendesak.
“Pergilah dan saksikan perang itu, aku belum memanggil para opo,” jawab Tampi.
Tak lama kemudian, gelombang orang datang kembali dengan kabar yang sama, bahkan lebih panik. Kali ini Tampi menjawab singkat, “Pergilah, aku akan datang.”
Ketika Tampi akhirnya keluar dari rumahnya, suasana berubah menjadi mencekam. Langkahnya berat bergema. Tanah ikut bergetar ketika tombaknya diturunkan di dekat tangga. Gagangnya terbuat dari pohon nibong tua yang keras dan kokoh. Tubuhnya beratribut daun woka (sejenis daun pohon palem), yang dalam tradisi lama sering digunakan sebagai simbol kekuatan atau pelindung. Ketika ia berjalan menuruni tangga, bunyinya digambarkan seperti makhluk besar yang melangkah di malam hari.
Namun, Tampi tak tahu bahwa di bawah tangga rumahnya, seseorang sedang menunggu saat-saat yang paling menentukan. Tidak disadari, di belakangnya ada bahaya yang mengancam nyawanya. Tamowangkai pun tak melewatkan kesempatan emasnya, tanpa ragu ia melemparkan tinelingan (tombak bersuara) melesat dan menancap di punggung Tampi. Raksasa yang selama ini menjadi pelindung rakyatnya itu jatuh. Dalam kondisi sekarat, ia masih berteriak kepada rakyatnya, “Larilah, larilah, penduduk Kinilow, Tampi sedang sekarat!”
Teriakan Tampi itu memicu kepanikan. Penduduk berlarian meninggalkan kampung dengan suara yang digambarkan seperti raungan badai. Sepanjang hari orang-orang meninggalkan pemukiman mereka, mencoba menyelamatkan diri dari kekacauan perang. Banyak yang terbunuh. Kinilow kemudian dijarah dan dibakar pihak penyerang. Meski begitu, perlawanan tetap terjadi. Sebagian orang Kinilow tidak menyerah begitu saja; banyak penyerang, juga tewas dalam pertempuran sengit itu.
Kisah raksasa Tampi mungkin terdengar seperti legenda. Ceritanya bukan cuma menampilkan sisi hikayat saja. Keberadaan Tampi justru mencerminkan gambaran tentang keberanian, pertahanan wilayah, serta semangat masyarakat yang siap menjaga negeri mereka dari ancaman apa pun. Di balik sosok raksasa yang menakutkan ini, tersimpan hikmah yang lebih dalam, tentang bagaimana masyarakat masa lampau memaknai kekuatan, perlindungan dan perjuangan dalam menjaga tanah kelahiran mereka.
Situs batu telapak kaki raksasa di Kinilow.
Kisah Dotu Mo’mo’, Raksasa Penjaga Tanah Tombulu
Sebuah batu bercap kaki raksasa di perkebunan Mo’mo, secara terang-terangan disebut memang menyimpan kisah lama tentang leluhur masyarakat Tombulu. Sebagian masyarakat Tombulu, mempercayai bahwa telapak kaki raksasa di batu itu merupakan jejak dari dotu (leluhur) Mo’mo’, sosok raksasa yang konon pernah hidup untuk menjaga wilayah tanah Tombulu.
Jantje Lontoh, salah satu praktisi budaya Minahasa di Tomohon menyebutkan, telapak kaki raksasa yang terdapat di kawasan perkebunan Kinilow itu diyakini sebagai bekas pijakan dotu Mo’mo’, leluhur tou (orang) Sarongsong. Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Mo’mo’ dikenal sebagai sosok raksasa yang berkeliling wilayah Tombulu, dari selatan ke utara, barat ke timur, hanya untuk menjaga tanah dan masyarakatnya.
Setiap perjalanannya, ia sering singgah di beberapa tempat. Salah satu tempat persinggahan yang paling dikenal adalah lokasi batu dengan jejak telapak kaki berada di kawasan perkebunan Mo’mo. Penamaan perkebunan tersebut diyakini berkaitan erat dengan kisah sang leluhur. Sejak dahulu kala, masyarakat telah mengenal kawasan itu dengan nama Mo’mo, merujuk pada keberadaan jejak yang diyakini sebagai peninggalan dotu Mo’mo’. Dalam cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Tombulu, Mo’mo’ digambarkan sebagai sosok yang pendiam dan sangat jarang berbicara. Ia lebih dikenal melalui tindakan dan keberadaannya sebagai penjaga wilayah.
“Memasuki masa tuanya, dotu Mo’mo’ tidak lagi berkeliling seperti sebelumnya. Ia memilih tinggal dan berdiam diri di wilayah selatan, tepatnya di perkebunan Tawoa (suatu lokasi di wilayah kelurahan Lansot, dekat perbatasan dengan Katinggolan/Woloan),” ungkap Lontoh, Sabtu, 14 Februari 2026.
Kisah tentang dotu Mo’mo’ dan jejak telapak kaki raksasa ini hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat Sarongsong. Sebagian orang sangat meyakini, jejak tersebut bukan hanya bentuk kaki pada batu semata-mata. Melainkan simbol dari hubungan masyarakat dengan leluhur serta penanda sejarah lisan yang terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Jejak Raksasa di Mo’mo: Menyibak Ingatan Kolektif Orang Kinilow
Sebagian orang barangkali memandang situs telapak kaki di perkebunan Mo’mo hanya sekadar bentuk alam yang unik. Akan tetapi bagi masyarakat Kinilow, jejak ini merupakan bagian dari ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun. Memori yang menyimpan kisah tentang leluhur, penjaga tanah dan asal-usul kampung Kinilow.
Tokoh masyarakat Kinilow raya, Alain Pusung, menuturkan bahwa cerita mengenai sosok raksasa telah lama hidup dalam tradisi lisan masyarakat setempat. Menurut cerita para leluhur, sebelum wilayah Kinilow menjadi pemukiman seperti sekarang, tempat ini pernah dihuni lebih dari satu manusia dengan postur tubuh raksasa.
“Kalau ada sosok raksasa, tentu ada orang tuanya. Tidak mungkin raksasa itu ada tanpa asal-usul. Karena itu, kami yakin bahwa orang tuanya juga adalah raksasa,” tutur Pusung saat rombongan peneliti bertandang ke kediamannya pada Senin, 9 Februari 2026.
Kepercayaan ini menjadi salah satu dasar keyakinan masyarakat bahwa jejak telapak kaki yang ditemukan di batu di kawasan perkebunan Mo’mo bukan cuma fenomena alam biasa. Namun, lebih cenderung merujuk pada peninggalan dari masa lampau yang berkaitan dengan sejarah awal Kinilow. Ada keyakinan, jejak itu merupakan tanda kaki Siouw Kurur.
Untuk menelusuri lebih jauh jejak sejarah tersebut, panitia penetapan hari ulang tahun Kinilow raya sedang berupaya merumuskan titik awal sejarah negeri Kinilow, berencana mengunjungi sejumlah situs sejarah dan budaya yang ada di wilayah itu. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah situs jejak telapak kaki di perkebunan Mo’mo.
Kunjungan ke situs-situs ini diharapkan dapat membuka kembali tabir sejarah orang-orang Kinilow. Ada asa besar untuk sebuah sejarah yang selama ini lebih banyak hidup dalam cerita lisan daripada catatan tertulis. Menariknya, jejak telapak kaki yang terlihat pada batu di Mo’mo tidak utuh satu pasang. Hanya telapak kaki setengah saja yang kelihatan. Masyarakat meyakini bahwa bagian lainnya atau jejak kaki kanan pasti ada, namun hingga kini belum ditemukan.
“Kalau ada satu jejak, tentu ada pasangannya. Kemungkinan jejak kaki yang satunya masih tersembunyi di sekitar lokasi Kinilow,” sebut Pusung optimis.
Masyarakat Kinilow beranggapan, keberadaan jejak tersebut menjadi bukti simbolik bahwa kehidupan orang-orang di wilayah itu pada masa paling silam adalah nyata. Meskipun kisahnya kini bercampur antara sejarah, legenda dan mitologi. Dalam cerita yang berkembang, Siouw Kurur dikenal sebagai sosok penjaga tanah sekaligus pelindung masyarakat Kinilow. Ia diyakini merupakan keturunan dari leluhur yang berasal dari wilayah mereka. Kisah perjalanannya yang dituturkan para tetua, Siouw Kurur disebut turun ke wilayah Kema, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kakas dan Langowan.
Perjalanan itu dipercaya sebagai bagian dari tugasnya menjaga wilayah. Meski menjelajah ke berbagai tempat, masyarakat meyakini bahwa asal-usulnya tetap dari Kinilow. Keberadaan Siouw Kurur bahkan diyakini jauh lebih tua sebelum zaman perang Tasikela (1700-1800), periode ketika orang-orang Eropa mulai memasuki tanah Malesung, wilayah yang kini dikenal sebagai Minahasa.
Di masa itu, menurut cerita para leluhur, kehidupan masyarakat sering diwarnai konflik antarsuku. Termasuk pula, kepercayaan terhadap kekuatan roh-roh gaib, sangat kuat. Dalam konteks itulah sosok penjaga seperti Siouw Kurur dipercaya memiliki peran penting.
“Siouw Kurur berperan sebagai pelindung negeri, penjaga tanah dan masyarakat yang hidup di dalamnya. Siouw Kurur juga dipercaya mampu melawan gangguan roh-roh jahat yang bisa mengancam keselamatan kampung,” kata Pusung.
Jejak telapak kaki di batu perkebunan Mo’mo menjadi lebih dari sekadar situs alam. Ia menjelma sebagai symbol relasi antara masyarakat Kinilow dengan masa lalu mereka. Suatu era ketika legenda, kepercayaan dan sejarah berpadu membentuk identitas sebuah negeri.
Satu hal penting bagi masyarakat Kinilow, merawat cerita mengenai jejak raksasa itu sama artinya dengan menjaga ingatan tentang asal-usul mereka sendiri. Sebab dalam setiap kisah yang dituturkan kembali, tersimpan harapan bahwa generasi berikutnya tetap mengenal dan menghargai akar budaya yang telah membentuk Kinilow hingga hari ini.
Alain Pusung (berkaos merah)
Ketika Penunggang Kuda Jadi Mitos di Tanah Minahasa
Di masa ketika jalan-jalan terjal di pedalaman Minahasa hanya dilalui kaki manusia, muncul sosok yang membuat penduduk kampung gemetar ketakutan. Ia datang seperti angin (penilaian ukuran kecepatan di masa lalu), menunggangi seekor binatang yang konon belum pernah dilihat sebelumnya. Dari kejauhan, tubuh penunggang dan hewan itu seakan menyatu, berlari dengan kecepatan yang sulit dijelaskan. Bagi penduduk yang hidup dalam dunia sederhana tanpa pengalaman melihat kuda, sosok itu tampak seperti makhluk aneh, berkaki banyak, cepat dan menakutkan.
Menurut goresan H.B. Palar dalam buku Wajah Lama Minahasa (2009), masyarakat di waktu itu menyebut sosok manusia yang menunggangi kuda sebagai Siouw Kurur. Istilah itu berasal dari bahasa Tombulu. Siouw berarti sembilan (metafora untuk jumlah yang banyak), sementara kurur merujuk pada ruas atau buku kaki. Dalam bayangan masyarakat, penunggang kuda itu tampak seperti makhluk dengan sembilan kaki yang berlari menembus hutan dan lembah. Tampak bagi penduduk, ia merupakan sesuatu yang terasa melampaui kemampuan manusia biasa.
Namun di balik mitos itu, tersimpan kisah sejarah yang getir. Palar menuliskan, legenda Siouw Kurur bermula pada masa perdagangan Portugis di wilayah yang kini dikenal sebagai Minahasa. Saat itu agen-agen dagang Portugis berkedudukan di Wenang, sebuah kawasan yang kemudian berkembang dan kini telah menjadi kota Manado.
Para pedagang ini menguasai sistem perdagangan beras dengan pola ijon yang menjerat petani pedalaman. Untuk memastikan pasokan beras tetap mengalir ke pelabuhan, mereka menugaskan seorang juru tagih yang memiliki kuasa nyaris tak terbatas. Ia bersenjata bedil, dikawal serdadu dan menunggang kuda, binatang yang saat itu konon belum dikenal masyarakat Minahasa.
Setiap kali kapal dagang Portugis berlabuh di pelabuhan seperti Wenang, Kema atau Uwuren (Amurang), penagihan besar-besaran dilakukan. Dari kampung-kampung di pedalaman, beras dipikul oleh penduduk melewati jalur curam, jurang dan pegunungan menuju tempat penimbunan di Wenang. Di masa itu, Minahasa belum memiliki hewan angkut. Semua beban masih dipikul manusia.
Dalam perjalanan panjang itu, juru tagih berkuda menjadi sosok yang ditakuti. Ia bisa muncul tiba-tiba di tikungan jalan hutan, di lereng gunung atau di tengah jalur pengangkutan. Bila para pemikul dianggap berjalan terlalu lamban, siksaan pun tiba ke tubuh mereka. Bagi masyarakat desa, ia seperti hantu yang berkeliaran di antara wanua. Ia memaksa para ukung (kepala kampung) atau kepala walak (wilayah) untuk mempercepat pengumpulan beras.
Dalam ingatan rakyat, penunggang kuda yang menakutkan itu bukan lagi manusia biasa. Ia menjadi makhluk gaib yang datang bak angin ribut. Terkadang terdengar suara seramnya di malam hari. Ia akhirnya berkembang disebut sebagai salah satu opo/leluhur, sosok supranatural dalam kosmologi tradisional Minahasa.
Legenda pun berkembang. Sosok juru tagih penunggang kuda yang dipersonifikasikan sebagai Siouw Kurur akhirnya terbunuh oleh penduduk yang tidak lagi sanggup menanggung penderitaan. Mereka memilih melawan daripada terus hidup dalam teror. Kisah itu kemudian diwariskan dari generasi sebagai simbol keberanian melawan penindasan.
Di balik catatan Palar terkait mitos tentang makhluk “berkaki sembilan” yang melesat seperti angin, tersimpan jejak sejarah. Intinya tentang perdagangan kolonial, penderitaan rakyat dan perlawanan yang lahir dari naluri untuk mempertahankan kehidupan. Pun setiap kekuasaan yang menindas, suatu saat akan menghadapi perlawanan dari orang-orang yang dipaksa memikul beban sejarah.
Salah satu sudut wanua Kinilow dengan latar Gunung Lokon.
Siouw Kurur Sang Penjaga dari Perbukitan Minahasa
Di sejumlah cerita lisan di tanah Minahasa, nama Siouw Kurur kerap muncul dengan beragam tafsir. Ada yang menggambarkannya sebagai sosok menyeramkan, bahkan dikaitkan dengan figur penunggang kuda yang datang menagih upeti pada masa kolonial. Namun bagi sebagian penutur tradisi dan peneliti budaya lokal, pemaknaan itu dianggap melenceng dari akar kisah sebenarnya.
Salah satu suara yang menentang tafsir tersebut datang dari parapsikolog Minahasa, Rinto Taroreh. Jumat, 13 Maret 2026. Ia mengisahkan, Siouw Kurur bukanlah gambaran sosok menakutkan atau penjajah berkuda dari masa Portugis. Dalam tradisi Minahasa, sosok itu justru dikenal sebagai leluhur tua, figur pelindung tanah dan penjaga masyarakat. Apalagi, dalam ritus budaya Minahasa, Siouw Kurur kerap hadir dalam upacara-upacara adat.
“Tidak masuk akal jika simbol penjajah Portugis atau Spanyol dimasukkan ke dalam upacara adat yang sakral. Bagi masyarakat Minahasa, ritual adat selalu berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, bukan kepada sosok yang mewakili penindasan,” tegas Taroreh.
Dalam cerita rakyat, Siouw Kurur diyakini berasal dari masa silam prakedatangan pedagang Eropa ke wilayah Minahasa. Jauh sebelum abad ke-17, ketika kapal-kapal Portugis dan Spanyol mulai merapat di pesisir utara pulau Sulawesi. Di era antara tahun 1700 hingga 1800, ketika pengaruh kolonial mulai terasa, kisah tentang Siouw Kurur masih tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Namun sosoknya sering disalahpahami. Nama Siouw Kurur sendiri disebut lantaran sosoknya merupakan manusia dengan ukuran tinggi badan yang melambangkan postur raksasa dan kekuatan luar biasa.
Dalam tradisi Tonsea, sosok ini dikenal dengan nama Dangkai Waani. Julukan itu merujuk pada leluhur sakti yang dihormati sebagai penjaga tanah Minahasa. Karena itulah, menurut Taroreh, keliru jika penjajah penunggang kuda, yang dalam cerita kolonial kerap digambarkan menakutkan, kemudian disamakan dengan dotu Siouw Kurur.
“Bagi orang Minahasa, Siouw Kurur adalah pelindung tanah dan penjaga penduduk. Bukan penindas,” lugasnya.
Lokasi ujung jembatan perkebunan Mo’mo.
Mitos Kaki Sembilan Buku
Salah satu sumber kekeliruan tafsir, mungkin berasal dari gambaran manusia yang menunggang kuda. Bagi masyarakat yang belum terbiasa melihat kuda dari luar wilayah, sosok penunggang itu bisa tampak seolah memiliki kaki panjang hingga “sembilan buku”. Padahal, menurut penuturan sejarah lokal, hewan kuda sebenarnya sudah dikenal di Sulawesi sejak lama, tapi ukurannya lebih kecil. Di dataran pulau Selebes, dari utara hingga selatan, kuda dan kerbau telah hidup berdampingan dengan manusia sejak masa purba.
Hanya saja, masyarakat Minahasa pada masa lampau tidak menjadikan kuda sebagai alat transportasi atau pengangkut utama seperti yang dilakukan bangsa Eropa. Hewan itu lebih dipandang sebagai makhluk hidup yang hidup bersama manusia dalam keseimbangan alam.
Kisah Siouw Kurur Muda
Selain sosok Siouw Kurur Tua, Taroreh mengungkapkan cerita lain yang menyebut adanya Siouw Kurur Muda. Ia hidup pada zaman Tasikela atau masa kedatangan Portugis dan Spanyol. Dalam kisah lisan, ia dikenal sebagai pembawa berita bagi masyarakatnya. Akan tetapi, di dalam cerita ingatan itu, ada gambaran tentang ketegangan antara penduduk lokal dan kekuatan kolonial.
Suatu ketika, ia tertangkap oleh serdadu Spanyol. Gerangan, meski ia disiksa, dipotong dan ditembak, tetap tidak mati. Hingga akhirnya para serdadu itu meminumkannya air panas yang mendidih. Peristiwa tragis itu kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Kumaraka’ (air mendidih), sebuah kawasan di wilayah Tikala, kota Manado.
Penjaga dari Atas Bukit
Adapun Siouw Kurur Tua, dipercaya berdiam di perbukitan wilayah Tonsea dan Tombulu. Dari ketinggian itulah ia menjalankan peran sebagai makatembo (pengawas wilayah). Dalam kepercayaan tradisional, makatembo adalah penjaga yang mengawasi tanah pertanian, hutan perburuan dan permukiman dari ancaman. Ia digambarkan berdiri di puncak bukit, memandang ke lembah, memastikan tidak ada kekuatan jahat yang memasuki wilayah masyarakatnya.
Di tengah perubahan zaman, kisah tentang Siouw Kurur menjadi pengingat bahwa legenda bukan hanya sebuah cerita masa lalu. Ia menyimpan cara pandang masyarakat Minahasa terhadap alam, leluhur dan perlindungan terhadap tanah tempat mereka hidup. Di balik bayangan sosok raksasa yang berdiri di punggung bukit, tersimpan pesan sederhana. Tanah dan manusia selalu membutuhkan penjaga, baik dia terlihat maupun yang hanya hidup dalam ingatan budaya.
Pandangan masyarakat Kinilow, cerita-cerita ini bukan sekadar dongeng masa lalu. Kisah-kisah tentang sejumlah raksasa ini menjadi bagian dari identitas dan ingatan kolektif tentang asal-usul tempat, keberanian para leluhur serta hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Di antara batu-batu tua, mata air dan nama-nama tempat atau kebun yang tersebar di perbukitan wilayah negeri Kinilow, narasi tentang raksasa tetap bertumbuh melegenda. Raksasa yang pernah hidup, belum tentu seorang tunggal. Bedasarkan namanya, raksasa penjaga di Kinilow ada beberapa orang, yaitu Tarandung, Makiolor, Kokali, Tampi, Mo’mo’ dan Siouw Kurur. Kisah-kisah mereka tetap abadi dituturkan kembali sebagai warisan budaya yang mengikat generasi hari ini dengan masa lalu mereka.
Meski demikian, cerita mengenai siapa pemilik jejak telapak raksasa di perkebunan Mo’mo tersebut, belumlah bulat. Dalam ragam penuturan orang tua, tetua kampung dan keterangan dari berbagai litaratur, muncul perbedaan. Beberapa nama memang dipercaya sebagai pemilik jejak raksasa itu. Perbedaan penafsiran ini justru memperkaya khazanah cerita rakyat dan nilai sejarah budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Setiap versi cerita membawa sudut pandang berbeda mengenai tokoh-tokoh yang diyakini pernah hidup dan berperan dalam menjaga, bahkan melindungi wilayah Kinilow di masa lampau.