KISAH

Siapa yang Diajak Pulang: Tentang Tubuh, Peneriman dan Ruang Sosial di Sekolah

Published

on

22 Januari 2026


“Dalam ruang sosial seperti sekolah, perbedaan fisik sering dibaca lebih cepat daripada hal lain. Nama, minat, dan kepribadian datang belakangan—atau tidak sempat datang sama sekali.”


Penulis: Novi Haryono


SELAMA tiga tahun di SMP, Vi dikenal sebagai siswa berprestasi dan sering dibutuhkan di kelas. Namun hampir setiap sore, ia berjalan pulang sendiri—atau bersama adiknya. Di jam pulang, sekolah yang terlihat baik-baik saja menyisakan pengalaman yang jarang dibicarakan.

***

Bel pulang berbunyi di sebuah sekolah menengah pertama di Tomohon. Suaranya memantul di koridor, disusul bunyi kursi diseret dan ritsleting tas dibuka-tutup. Anak-anak bangkit hampir bersamaan, seperti sudah hafal urutannya.

Di bangku depan, Vi menutup bukunya. Ia merapikan alat tulis satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam tas punggung yang tampak kebesaran di tubuhnya. Talinya sedikit kepanjangan. Tas itu menggantung rendah di punggungnya. Vi berdiri dan melangkah keluar kelas. Ia tidak menunggu siapa pun.

Pada tahun pertamanya di SMP, Vi hampir selalu pulang sendirian. Ia melewati koridor yang mulai lengang, menuruni tangga, lalu keluar gerbang sekolah tanpa ajakan, tanpa percakapan lanjutan. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada konflik terbuka. Tidak ada penolakan yang diucapkan. Yang ada adalah kebiasaan yang dibiarkan berjalan: Vi pulang sendiri.

“I do have friends,” kata Vi. “I’m just not really invited.”

Kalimat itu ia ucapkan tenang. Tidak terdengar getir. Lebih seperti menyebut sesuatu yang sudah lama ia pahami sebagai bagian dari hari-harinya.

 

Tubuh yang Datang Lebih Dulu

Vi hidup dengan akondroplasia, kondisi genetik yang memengaruhi pertumbuhan tulang. Tingginya sekitar 120 sentimeter. Di ruang sekolah, tubuhnya sering kali hadir lebih dulu daripada dirinya sebagai individu.

“People see me first,” katanya. “Then they listen.”

Tatapan datang sebelum sapaan. Di kelas, di lorong, di halaman sekolah. Setelah itu, pertanyaan menyusul—mengapa ia pendek, berapa usianya, komentar tentang tubuhnya. Pertanyaan yang sama, dari orang yang berbeda. Sebagian besar tidak dimaksudkan untuk menyakiti. Vi paham itu.

Namun karena terus berulang, pertanyaan-pertanyaan itu membentuk pola: tubuhnya selalu menjadi pintu masuk. Orang merasa sudah mengenalnya, bahkan sebelum tahu namanya.

Menurut National Organization for Rare Disorders (NORD), akondroplasia terjadi pada sekitar satu dari 15.000 hingga 40.000 kelahiran. Penyebabnya mutasi gen yang menghambat pertumbuhan tulang panjang. Penjelasan itu ada di buku medis. Di sekolah, jarang relevan.

Dalam ruang sosial seperti sekolah, perbedaan fisik sering dibaca lebih cepat daripada hal lain. Nama, minat, dan kepribadian datang belakangan—atau tidak sempat datang sama sekali.

 

Di Kelas, Vi Dibutuhkan

Di kelas, Vi bukan anak yang diabaikan. Ia duduk di depan, cepat memahami pelajaran, dan sering diminta membantu teman. Kepala sekolah dan guru-guru mengenalnya sebagai siswa rajin dan konsisten. Vi bahkan kerap diberikan panggung untuk berdiri di hadapan seisi sekolah, pun di hadapan para tamu–ketika ada kunjungan, untuk berpidato, berpuisi, bahkan bermain biola.

Salah satu keunggulan Vi adalah bahasa Inggris. Ia fasih berbicara dan menulis. Namanya kerap muncul ketika sekolah memilih perwakilan lomba. Berkali-kali, Vi pulang membawa piala.

“Academically, I’m confident,” katanya. “I know my stuff.”

Di ruang belajar, Vi dibutuhkan. Ia menjelaskan ulang materi, membantu teman menyusun jawaban, dan kerap menjadi rujukan ketika yang lain kebingungan. “I thought helping a lot would make us closer.” Namun kebersamaan itu berhenti di kelas.

Begitu bel pulang berbunyi, Vi kembali menjadi anak yang berjalan sendiri.

“In class, I’m needed,” katanya. “After that, it’s done.”

Relasi yang dibangun atas dasar fungsi—kepandaian, bantuan—tidak selalu berlanjut menjadi relasi setara. Ada batas yang tidak pernah dibicarakan, tapi terus terasa. Batas itu muncul di jam pulang. Juga di sela-sela hari sekolah. Siang hari, di jam istirahat, batas itu bekerja dengan cara lain.

 

Jam Istirahat yang Sunyi

Siang itu, Vi duduk bersandar di dinding sekolah. Ia mengeluarkan bekal makan siang dari dalam tas. Nasi dan telur goreng, dicampur sedikit kecap manis.

Ia makan perlahan. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya. Sesekali, pandangannya melirik ke arah teman-temannya yang duduk berkelompok tak jauh dari tempatnya. Mereka makan bersama. Tertawa. Saling menyahut.

Di samping Vi, tidak ada siapa-siapa.

Bukan karena ia tidak ingin bergabung. Beberapa kali ia mencoba. Namun penolakan yang datang membuatnya berhenti berharap. Menyendiri terasa lebih aman.

Pernah suatu kali, seorang teman mengajaknya makan bersama saat jam istirahat. Vi menunggu waktu itu dengan tidak sabar. Begitu lonceng berbunyi, ia menuju tempat yang sudah mereka sepakati. Ia berdiri di sana, menunggu.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Ia menahan diri untuk tidak membuka bekalnya. Beberapa menit sebelum jam istirahat berakhir, orang yang berjanji makan bersamanya tidak datang. Dalam perjalanan kembali ke kelas, Vi melihat temannya itu—sedang makan bersama teman-teman lain.

Vi mulai bertanya pada dirinya sendiri: apa yang salah? Mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya? Apakah tubuh yang pendek membuat seseorang tidak layak punya teman?

 

Langkah yang Sama, Setiap Sore

Tas Vi sering melorot. Langkahnya pendek, kadang dipercepat untuk menyesuaikan ritme orang lain. Ia melewati kelompok siswa yang masih mengobrol di koridor, lalu menuruni tangga.

Ia terbiasa tersenyum kecil. “I just laugh it off,” katanya. “So it doesn’t look awkward.”

Namun tidak setiap hari mudah. Ada hari-hari ketika jarak itu terasa lebih panjang. Ketika langkahnya melambat, meski ia tahu tidak ada yang menunggu.

Tahun pertama SMP, Vi pulang sendiri hampir setiap hari. Memasuki tahun kedua, adiknya mulai bersekolah di tempat yang sama. Sejak itu, Vi tidak lagi berjalan sendirian. Ia pulang bersama adiknya.

“Still not with friends.”

Di koridor sekolah, Vi tetap berjalan sendiri. Baru di depan gerbang ia berhenti dan menunggu adiknya. Setiap sore, pemandangannya hampir sama: Vi berdiri di dekat gerbang, memperhatikan siswa lain yang pulang berkelompok. Teman pulangnya tetap satu: adiknya sendiri.

Selama tiga tahun di SMP, tidak ada satu pun teman yang benar-benar mengajaknya pulang bersama.

 

Sekolah yang Tidak Bermasalah

Sekolah tempat Vi belajar bukan sekolah yang bermasalah. Kegiatan belajar berjalan tertib. Tidak ada ejekan terbuka. Tidak ada laporan perundungan. Namun pengalaman sosial tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasatmata.

Psikolog klinis Hanna Monareh menyebut pengalaman seperti yang dialami Vi kerap tidak tercatat sebagai persoalan resmi. Tekanannya tidak selalu berupa ejekan atau kekerasan terbuka, melainkan pengulangan pengalaman sosial yang sunyi: tidak diajak, tidak disertakan, tidak dianggap bagian.

Menurut Hanna, anak dengan kondisi medis yang memengaruhi tumbuh kembang—termasuk keterbatasan fisik—sering langsung dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus. Padahal, kategori tersebut tidak otomatis berarti keterbatasan intelektual.

“Banyak anak justru sangat mampu secara akademik, bahkan bisa melampaui teman-temannya,” katanya. Berdasarkan lebih dari 13 tahun praktik sebagai psikolog klinis, anak-anak dengan kemampuan intelektual memadai direkomendasikan bersekolah di sekolah inklusi atau sekolah reguler.

Namun, penerimaan di sekolah umum tidak berhenti pada ruang kelas. “Sekolah yang sudah menerima anak berkebutuhan khusus bertanggung jawab bukan hanya pada aspek akademik, tetapi juga interaksi sosial,” ujar Hanna. Edukasi kepada siswa lain perlu dilakukan berulang, agar inklusi tidak berhenti sebagai kebijakan administratif.

Dalam praktik klinisnya, Hanna kerap menangani remaja yang mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa ditolak, diabaikan, bahkan mengalami perundungan—bukan selalu karena kata-kata kasar, melainkan karena terus-menerus tidak diajak masuk ke lingkaran pertemanan.

Peran guru, menurutnya, sangat penting. Guru dapat menjadi teladan bagi siswa lain dalam menerima dan melibatkan siswa dengan kebutuhan khusus dalam aktivitas sosial sehari-hari. Di usia remaja, orang tua juga berperan membantu anak memahami lingkungannya dan membangun rasa percaya diri dari kemampuan yang dimilikinya.

“Lingkungan tidak selalu bisa kita ubah,” kata Hanna. “Tapi cara pandang anak terhadap dirinya bisa diperkuat.”

Dalam kebijakan pendidikan, inklusi sering dibahas sebagai akses: apakah anak bisa masuk sekolah, mengikuti pelajaran, dan dinilai setara. Dalam praktik sehari-hari, inklusi juga bekerja di wilayah yang lebih sunyi—di lorong, di jam istirahat, di jalan pulang.

Sekolah Vi menjalankan pembelajaran sebagaimana mestinya. Vi hadir di kelas yang sama, mendapatkan materi yang sama, dan dinilai dengan standar yang sama.

Relasi sosial, bagaimanapun, tumbuh dari kebiasaan kecil: siapa yang diajak duduk bersama, siapa yang diajak pulang.

 

Ketika Rasa Ingin Tahu Mendapat Ruang

Ananda Bhuana, seorang YouTuber Indonesia, pernah menghabiskan empat hari menginap di rumah Vi dan keluarganya. Dalam perjumpaan itu, Vi berada di ruang yang berbeda dari sekolah—ruang di mana ia tidak perlu menjelaskan tubuhnya lebih dulu.

Pertemuan pertama tetap canggung. Vi banyak diam. Tatapannya penuh rasa ingin tahu, tapi tertahan. Di awal, bukan Vi yang bertanya. Ananda yang membuka percakapan—tentang sekolah, tentang keseharian, tentang hal-hal kecil yang jarang ditanyakan orang padanya.

Pelan-pelan, suasana berubah. Vi mulai bertanya balik. Tentang perjalanan. Tentang tempat-tempat yang pernah didatangi. Tentang pengalaman yang berkesan. Pertanyaannya datang tanpa susunan rapi, tapi jelas arahnya: ingin tahu. Untuk pertama kalinya setelah lama, rasa ingin tahunya tidak berhenti di kepalanya sendiri.

Di sekolah, Vi sering dibutuhkan karena kepandaiannya. Di sini, ia didengarkan karena dirinya.

Ananda menyadari, yang paling menonjol dari Vi bukan sekadar kecerdasannya. Bukan juga kondisinya. Melainkan rasa ingin tahu yang terus hidup—tentang orang lain, tentang dunia di luar pagar sekolah. Curiosity yang jarang mendapat ruang, karena terlalu sering tertutup oleh cara orang melihat tubuhnya lebih dulu.

Di rumah itu, Vi tidak perlu menunggu diajak. Percakapan terjadi karena ada yang benar-benar hadir. Dan dari situ terlihat jelas: ketika seseorang berhenti menilai dan mulai mendengarkan, Vi tidak kekurangan apa pun untuk terhubung.

 

Ketika Waktu Bergerak

Semua itu terjadi ketika Vi masih SMP. Kini Vi sudah SMA. Perubahan itu tidak datang sebagai lompatan. Ia bergerak pelan, nyaris tak terasa, seiring waktu yang memberi jarak dari pengalaman lama.

Di SMA, Vi juga bertemu Andrew. Salah seorang yang kini menjadi teman baiknya. Ia adalah kakak kelas yang pertama kali menyapanya selepas ia menyaksikan Vi berpidato Bahasa Inggris. Andrew tidak memulai percakapan dengan pertanyaan tentang tubuh atau kondisi Vi. Ia bertanya tentang kelas, tentang pelajaran, tentang hal-hal ringan yang biasanya ditanyakan kepada siswa baru.

“She’s cool,” kata Andrew kemudian. “Santai. Easy to talk to.”

Bagi Andrew, Vi bukan sosok yang perlu diperlakukan berbeda. Ia melihat Vi sebagai adik kelas yang pintar, lucu dengan caranya sendiri, dan tidak banyak drama.

Pertemanan mereka tumbuh tanpa agenda. Kadang berbincang singkat sebelum masuk kelas, kadang berjalan beriringan sampai gerbang sekolah. Andrew tidak merasa sedang “menemani” atau “mengasihani”. Ia berteman karena merasa cocok. “I don’t see why not,” katanya. “She’s just… Vi.

Bagi Vi, kehadiran Andrew menandai sesuatu yang sederhana tapi penting: untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilih berteman dengannya bukan karena ia dibutuhkan, melainkan karena ia dianggap menyenangkan untuk diajak berteman.

Di sekolah ini, Vi tidak lagi pulang sendiri. Kadang ia menunggu teman. Kadang ia yang ditunggu. Namanya dipanggil, bukan karena diminta membantu, melainkan karena seseorang ingin berjalan bersamanya.

“I have friends now,” katanya. “They know my condition. It’s not a big deal.”

Vi masih duduk di depan. Masih cepat memahami pelajaran. Tubuhnya tetap sama. Yang berubah adalah posisi dirinya di antara orang lain.

Bel pulang berbunyi.

Vi menutup bukunya.

Ia keluar kelas—bersama yang lain.

 

Catatan: Kisah dalam tulisan ini disusun berdasarkan wawancara dan pengamatan langsung penulis. Beberapa nama, lokasi, dan detail personal telah diubah untuk melindungi privasi narasumber, tanpa mengurangi esensi peristiwa yang diceritakan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi individu maupun institusi tertentu, melainkan untuk merekam pengalaman-pengalaman sosial yang kerap luput dari perhatian.

 

Click to comment

Populer

Exit mobile version