GURATAN
Sei Si Tou Wasian?
2 Agustus 2026
Penulis: Kalfein M. Wuisan
“Kalo ndak tau, batanya. Kalo mo suka tau, bacirita. Sebab jalan mengetahui ‘siapa torang’ adalah jalan mencapai kinaeneyan”.
SEI re’ si tou? (Siapakah manusia itu?-dalam konteks Minahasa). Pertanyaan ini selalu muncul dalam benak tou Minahasa yang ingin mencari tahu identitas serta nilai hidupnya sebagai orang Minahasa. Pertanyaan ini pun melandasi sebuah usaha sadar generasi muda di desa Tombasian untuk mencari tahu identitas keminahasaannya serta menemukan kembali jati diri sebagai orang Tombasian. Usaha sadar ini pun mewujud pada sebuah diskusi yang diprakarsai sejumlah pemuda Tombasian, yang bekerja sama dengan jaringan Mawale Movement pada Kamis, 17 Mei 2012, di sebuah senja menjelang malam di roong Tombasian Atas, Kawangkoan.
Dari Sonder, saya dan saudara dalam komunitas Mawale Movement, Fredy Wowor, bergerak dengan dua buah motor yang menjemput kami menuju tanah tinggi Tombasian Atas. Indra Lumantow, seorang kawan pegiat budaya asal Tombasian dengan senyum khas yang selalu melekat di dirinya, menjadi pencetus ide undangan diskusi ini. Sehingga dia memberikan waktu bersama Gery Mundung menjemput dan mengantar kami ke desa Tombasian dengan selamat dalam waktu tempuh begitu singkat.
Sesampainya di sana, kami langsung disuguhkan dengan sebuah diskusi kecil di kantin dekat gereja, di belokan jalan Tombasian. Karena terik matahari dan lokasi yang sempit, kami akhirnya berpindah tempat ke konsistori gedung GMIM Kalvari Tombasian untuk memulai diskusi yang lebih nyaman. Di ruangan tersebut telah duduk 20-an pemuda yang sudah haus dan tak sabar lagi untuk berdiskusi tentang tou Minahasa, terlebih khusus topik “Tou-Wasian‟. Sebelum akhirnya diskusi dimulai, sebuah doa dipanjatkan kepada Apo Amang Kasuruan Wangko sebagai sumber segala pengetahuan untuk menilik jalannya diskusi.
Fredy Wowor memulai diskusi dengan memberikan pengetahuan tentang Sejarah, baik kronologis serta landasan filosofis mengenai cerita asal-usul dan terminologi Minahasa, kisah Karema-Lumimuut-Toar sampai perjalanan dari Tu’ur in Tana’ ke Watu Pinawetengan.
Seusai bercerita mengenai itu, munculah berbagai pertanyaan dari peserta diskusi terkait materi yang disampaikan terkait topik “Identitas Keminahasaan”. Tanggapan, pertanyaan yang keluar dari mulut peserta diskusi membuat suasana semakin hangat dan menarik.
Salah satu hal yang menarik ketika muncul sebuah pertanyaan mengenai terminologi Minahasa dari seorang peserta diskusi, kemudian Fredy menjelaskan bahwa persoalan istilah Minahasa terkait dengan kolonial yang mengacu pada istilah “minhasa” sebagai laporan seorang petinggi Belanda yang artinya merujuk pada “rapat atau pertemuan”. Tapi istilah “Minahasa” memiliki arti yang lebih dalam dan lebih tua, yang tekait dengan istilah “maesa”, berarti “usaha untuk bersatu”.
Penjelasan mengenai istilah Minahasa ini juga menyinggung soal Karema-Lumimuut-Toar, Tu’ur in Tana’, sampai Watu Pinawetengan. Pada sebuah momen bicara, saya mengutarakan mengenai pemahaman kontekstual tentang identitas Minahasa yang saya dapat dari diskusi bersama orang lain dan dari refleksi pribadi. Minahasa adalah semangat. Minahasa adalah sebuah benih filosofis yang ada di tiap jiwa yang hidup di tanah ini.
Terkait dengan hal itu, definisi tou Minahasa hari ini ialah orang yang hidup di tana’ Minahasa, tanpa lagi memandang garis keturunan darah tapi memilih bereksistensi hidup dan berkomitmen untuk membangun tana’ Minahasa di mana dia hidup dan tetap terus hidup (tumou tou dan mamuali tou). Sehingga dalam penjelasan dan diskusi ini telah terjawab persoalan siapakah tou Minahasa dalam perspektif masa lalu dan masa kini.
Diskusi kemudian meruncing ke pertanyaan “Sei re’e si tou Wasian? (siapakah orang Tombasian itu?). Pertanyaan ini menggelinding ke tiap hati peserta diskusi yang ada sehingga membuat pemuda Tombasian yang hadir berpikir dan memberikan jawaban tentang identitas mereka sendiri sebagai tou Tombasian.
Sebuah jawaban bersifat sejarah terkait pertanyaan itu menyatakan bahwa orang Tombasian adalah orang-orang yang dulunya tinggal di sekitar pohon Wasian, di Wale Ure. Karena di pohon wasian tersebut burung manguni hinggap untuk memberi tanda setelah tonaas-tonaas meminta kepada Amang Kasuruan Wangko sebuah tempat untuk didirikan ro’ong. Sehingga Tombasian dahulu disebut Tou Wasian, secara harafiah berarti menyatakan tempat dan orang yang memilih bermukim di sekitar pohon wasian.
Cerita ini pun berkembang terkait dengan kisah robohnya pohon wasian ke arah timur. Hal ini di dalam diskusi coba dikaji, terutama makna filosofis mendalam dari cerita tersebut dikaitkan dengan kontekstualitas Tombasian sekarang ini. Akhirnya pencarian pemahaman itu berujung pada sebuah pendapat bahwa orang Tombasian-lah yang seharusnya mencari dan mengerti lebih mendalam mengenai sejarah desa Tombasian. Sampai diusulkan bahwa kami bisa berdialog dengan seorang tetua yang tahu tentang cerita Tombasian lebih mendalam.
Indra bersama-sama kami pun pergi untuk berdialog seputar kehausan mengenai sejarah Tombasian. Orang tua yang kami tuju sekarang tinggal di desa Tombasian Bawah.
Opa Andrie Paisa, begitu ia dikenal. Seorang mantan Hukum Tua desa Tombasian. Ia menyambut kami dengan ramah dan santun ketika kami berkunjung ke rumahnya untuk berdiskusi. Setelah semuanya memperkenalkan diri, dia mulai bercerita penjang lebar mengenai sejarah Tombasian sesuai yang dia dapatkan sejak masa kecil dari penuturan orang-orang tua Tombasian.
Dari tuturannya, dahulu ada rombongan orang dari selatan yang dikepalai oleh seorang walian perempuan bernama Tumeintemang Rampawene, datang ke daerah Wale Ure. Di sana dia bersama mereka yang dianggap hebat lewat kelebihannya masing-masing, yaitu Salewaka, Sowene, Alalem, Lipan dan Pati Sundur, meminta kepada Amang Kasuruan tanda sebagai restu untuk membangun sebuah wanua atau ro’ong. Akhirnya pada malam hari, diberilah tanda lewat bunyi burung manguni di sebuah pohon besar yang pada keesokan harinya pohon di mana burung manguni memberi tanda diketahui sebagai pohon wasian.
Sejak itulah rombongan orang itu bermukim di sekitar pohon tersebut dan mendirikan kampung di situ. Maka kemudian munculah istilah Tou Wasian.
Cerita yang sama pula terkait kisah pohon wasian roboh yang muncul di diskusi. Dikisahkan juga oleh Opa Andrie sebagai sebuah cerita yang memang ada dan dikisahkan turun-temurun.
Tidak hanya membahas sejarah Tombasian, diskusi dengan Opa Andrie juga mengupas cerita tua, syair tua serta makna filosofis di balik cerita dan pengalaman hidup dari orang Tombasian maupun dari Opa Andrie sendiri. Diskusi dengan sosok bijaksana ini akhirnya berakhir dengan sebuah ide, rencana untuk mendokumentasikan penuturan sejarah Tombasian ke dalam video dokumenter.
Diskusi pun berlalu oleh sebab malam dan waktu yang menghimpit. Akhirnya kami harus pergi ke rumah penginapan untuk mengisi perut serta beristirahat. Mengingat besok harinya kami juga akan berziarah ke Watu Tomotowa, Wale Ure dan Wubu Licu (batu berlobang di punggungnya), untuk melihat dari dekat penanda peradaban Tou Wasian yang dikisahkan dalam diskusi-diskusi sebelumnya.
Sebuah akhir dari tulisan ini hanyalah sebuah provokasi dari sebuah pepatah tua di Minahasa: “Kalo ndak tau, batanya. Kalo mo suka tau, bacirita. Sebab jalan mengetahui ‘siapa torang’ adalah jalan mencapai kinaeneyan”.
Cat: Tulisan ini pernah dimuat dalam buku “Wanuata” yang diterbitkan Komunitas Mapatik tahun 2015.