REVIEW

King’s Speech: Pidato Gagap Sang Raja

Published

on

7 Juni 2025


“Cara mengatasi rasa takut di depan umum, jadi acuan kaum difabel untuk berani jadi pemimpin. Film ini juga seolah menjelaskan, gagap bisa disembuhkan dengan tekad dan keyakinan.”


Penulis: Hendro Karundeng


BANYAK orang di dunia sementara bergelut dengan kesenjangan sosial yang mereka hadapi. Mulai dari masyarakat adat yang terus memperjuangkan hak-haknya, mereka yang tengah memperjuangkan kesetaraan gender, ada juga yang bergerak bersama untuk memastikan hak para para difabel.

Di Indonesia, banyak orang suka menyebut mereka yang sesungguhnya ‘spesial’ dengan ‘orang cacat’. Ada yang menggunakan istilah ‘disabilitas’. Barangkali karena Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 masih menggunakan istilah ‘penyandang disabilitas. Namun, ada yang lebih memilih menggunakan istilah ‘difabel’. Dua kata yang kadang dianggap sama, tapi sebenarnya beda.  

Regulasi di negara kita mendefinisikan, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya … Sementara, difabel berasal dari kata dalam bahasa Inggris, ‘different ability’ yang berarti orang yang memiliki kemampuan berbeda dengan orang lain. Jelas berbeda dengan disabilitas atau disability yang berarti orang yang ‘tidak bisa’.

Salah satu istilah yang dikenakan untuk mereka yang spesial itu adalah stuttering. Di indonesia orang menyebutnya ‘gagap’. Seseorang yang dianggap memiliki gangguan bicara sehingga menyebabkan ia kesulitan mengucapkan kata atau kalimat dengan lancar. Bahkan ada yang menyebabkan beberapa gangguan sensorik tambahan pada bagian tubuh ketika berbicara, seperti kaki dan tangan.

Hari ini, ada banyak kajian serta karya seni yang menampilkan secara rinci bagaimana seorang difabel berjuang dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satunya sebuah film karya Tom Hooper yang menceritakan kisah seorang sosok pemimpin yang harus berjuang dengan keterbatasannya dalam berkomunikasi.

Film ini merupakan suatu karya masterpiece dari Tom Hooper yang sudah meraih berbagai penghargaan di dunia perfilman. Dari alur cerita, romansa, koneksi antar pemeran hingga akting membuat film ini sangat berhak menyandang puluhan penghargaannya.

Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan Raja George VI dari kerajaan Inggris di zaman ia berkuasa. Di sini raja George VI diperankan oleh Colin Firth, salah satu aktor terkenal yang banyak berperan dalam film-film Hollywood terkenal, serta aktor yang sudah memenangkan penghargaan Oscar. Di film ini dikisahkan tentang Raja George VI yang mengidap ‘stutter’ atau gagap.

Perjuangan yang ditampilkan adalah masalah yang harus dihadapi Raja George VI, yang harus berbicara di depan umum, seperti berpidato. Bahkan menyampaikan dorongan semangat bagi rakyat Inggris yang di masa itu tengah menghadapi darurat perang dengan pasukan NAZI Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler.

Kita sebut saja George. Sosok pangeran dari keluarga kerajaan Inggris yang dihormati di kalangan bangsawan Inggris. Ceritanya dimulai dengan George yang harus menyampaikan pengumuman lewat radio, namun dirinya tak sanggup untuk menuturkan sepatah dua kata dalam penyiaran tersebut.

Menghadapi masalah ini, dirinya beserta sang istri, Ratu Elizabeth yang diperankan oleh Helena Bonham Carter. Sosok yang terkenal dalam perannya sebagai Bellatrix dalam Sekuel Harry Potter. Mereka berupaya mencari bantuan dari berbagai dokter bahkan terapis syaraf terkenal untuk pengobatannya.

Dalam pencarian mereka, Ratu Elizabeth mendapat rekomendasi untuk bertemu dengan salah seorang therapist ‘stutter’ yang dianggap punya metode pengobatan yang unik. Saat berkunjung ke kantor si terapis, Elizabeth melihat seorang anak berumur sekitar delapan tahun menyambutnya dari dalam ruang kantor. Peristiwa itu menyentuh hatinya. Dengan tersendat-sendat, anak itu mengajak masuk untuk bertemu dengan dokter. Sekilas terbayang tentang suaminya. Tapi ia menyimak, ketika anak itu berbicara, suaranya tidak tersendat parah seperti suaminya.

Perjumpaan itu jadi dorongan besar bagi Elizabeth. Dengan penuh keyakinan ia melangkah, terapis itu pasti bisa membantu suaminya. Setelah itu, Elizabeth mempertemukan George dengan Lionel Logue yang diperankan Geoffrey Rush, terapis syaraf yang akan membantunya dalam proses penyembuhan.

Singkat cerita, hubungan George dan Logue menjadi begitu dekat. Bagaikan orang asing menjadi sahabat, sahabat menjadi saudara. Hal yang unik dalam film ini merupakan metode penyembuhan Logue. Dalam metodenya dia selalu ingin George untuk rileks, jangan membawa rasa takut ketika ingin berbicara, ayunkan badan, lengan atau kaki ketika terhenti saat bicara. Ya, metode yang mungkin sering kita temui pada penderita stutter saat ini.

Logue juga selalu menekankan, emosi merupakan faktor utama manusia dalam melepaskan amarah. Menurutnya, hal ini mungkin terjadi sebab George terlalu sering memendam amarahnya sewaktu kecil. Sebab kehidupan bangsawan, apalagi seorang pangeran pasti punya begitu banyak tantangan. Seperti yang ditunjukkan dalam potongan-potongan scene film ini.

Kehidupan pribadi tiap orang memang berbeda-beda. Setiap permasalahan yang dihadapi juga berbeda. Kebanyakan masalah yang jadi acuan berasal dari keluarga sendiri. Di sini masa kecil George memang tidak diperlihatkan. Tapi ketika remaja, dirinya selalu dianggap sebagai kegagalan dalam keluarga, akibat kekurangannya dalam berkomunikasi. 

Ada scene yang memperlihatkan di mana George, dipaksa oleh ayahnya untuk membaca pidato di salah satu saluran radio. Bahkan beberapa makian harus dia telan mentah-mentah tanpa perlawanan. Sehingga ia dianggap tak layak dalam mewarisi serta melanjutkan kepemimpinan ayahnya.

Di saat kematian sang ayah, George harus merelakan Duke of Windsor (Adipati Windsor), Edward VIII, yang diperankan Guy Pearce menggantikan ayahnya. Hubungan saudara juga sangat kental di film ini. Sangat menyentuh melihat hubungan antar dua kakak beradik ini. George sangat menyayangi adiknya. Begitu juga dengan adiknya yang sangat menghormatinya.

Momen panas kembali bisa kita rasakan ketika skandal sang adik mulai diketahui publik. Adiknya berhubungan dengan seorang bangsawan berstatus janda, kemudian menimbulkan berbagai kritikan dari banyak pihak. Tapi sekali lagi, kakaknya sangat mengenal adiknya. Di suatu momen makan malam, George menghampiri adiknya. Mereka berbincang empat mata. George menanyakan bagaimana tanggapan adiknya tentang masalah yang sedang ia hadapi.

Sempat terjadi adu mulut antara mereka. Sang adik dengan terpaksa harus berkata kasar, membuat George tersinggung dengan sindiran tentang kekurangannya. Tapi penonton pasti bisa menangkap emosi dari sang adik ketika harus berkata seperti itu terhadap George.

Ada satu scene yang sangat luar biasa di sini. Ketika George baru usai melepas kematian sang ayah, Raja George V. Di saat tak ada jadwal terapi, ia berkunjung ke kantor Logue untuk berbagi cerita yang tengah membuatnya emosi. Berteman beberapa cangkir scotch, George mulai terbawa suasana, makian mulai terdengar.

Logue kala itu tak melarang George. Ia membiarkan sang pangeran meluapkan semua amarahnya dengan menyuruhnya untuk terus memaki, teriak, bahkan mengutuk. Dalam scene ini, adrenalin pemeran sangat terlihat. Collin seakan betul-betul berubah menjadi Raja George VI, semua aktingnya sangat menegangkan. Kemampuan teatrikal yang luar biasa, bisa kita rasakan lewat scene ini.

Ending-nya pun tak kalah luar biasa. George harus menaklukan panggung puncaknya dalam pidato perang yang akan disampaikan lewat radio ke seluruh rakyat Inggris, dalam menghadapi tentara NAZI. Mengesankan. Ia berhasil menyelesaikan pidatonya tanpa tersendat.

Saat menyampaikan pidato, terlihat dalam film ini Logue terus mendampingi George di dalam ruang radio. Pendampingan terus dilakukan kata demi kata. Hal unik lain bisa kita lihat dalam teks pidato yang dibawakan George, banyak terdapat coretan garis miring di antara kata dan kalimat. Ada yang menggunakan satu garis, dua garis, bahkan tiga garis di akhir kalimat.

Pidatonya dianggap sebagai salah satu momen penting bagi rakyat Inggris kala itu. Menjadi suatu dorongan luar biasa bagi tentara, politikus, bahkan seluruh rakyat dan menjadi kelung (perisai) bagi mereka dalam menghadapi perang.

Pada tahun 1944, Raja George VI mengangkat Logue sebagai Komandan Ordo Kerajaan Victoria (CVO). Mengangkatnya dari anggota Ordo (MVO), yang telah dianugerahkan kepada Logue pada saat Penobatan George VI.

Hingga kini, film ini terus jadi inspirasi masyarakat secara luas dalam meningkatkan kepercayaan diri, bagaimana berbicara di depan publik, serta jadi dorongan semangat bagi kalangan difabel dalam meraih cita-cita serta berprestasi dalam hal yang mereka suka.

Cara mengatasi rasa takut di depan umum, jadi acuan kaum difabel untuk berani jadi pemimpin. Film ini juga seolah menjelaskan bahwa gagap tidak hanya bisa disembuhkan dengan obat, tapi juga dengan tekad dan keyakinan.

Film ini sangat rinci dalam menampilkan sikap, karakter, emosi bahkan hubungan antar tokoh pemeran. Banyak ungkapan kata yang sangat menghidupkan dialog dalam film. Berbagai gestur yang menambah kadar kekentalan setiap adegan, serta terus memacu adrenalin penonton.

Film keluaran tahun 2011 ini masih banyak ditonton oleh masyarakat luas. Setelah 14 tahun tayang di layar lebar dan layar kaca, film ini terus jadi acuan bagi mereka yang tengah berjuang dalam public speaking dan meningkatkan kepercayaan diri.

Click to comment

Populer

Exit mobile version