CULTURAL

Goresan Leluhur di Tuur Kamanga dan Pinatik Kinaskas

Published

on

6 Februari 2026


“Situs Tuur Kamanga dan Pinantik Kinaskas memiliki makna yang dalam bagi tou Minahasa kini. Penanda-penanda itu adalah pancang yang menjadi pedoman.”


Penulis: Rikson Karundeng


BATU bertulis atau batu bergores adalah salah satu peninggalan budaya megalitik. Usia situs-situs zaman ini diperkirakan sudah ribuan tahun. A.N.J. van der Hoop dalam bukunya Megalithic Remains in South-Sumatra (1932) menulis jika gagasan pendirian objek megalitik selalu dikaitkan dengan tujuan sakral.

Tradisi megalitik terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama. Eksistensi tradisi ini berlangsung mulai masa neolitik, sekitar 4500 tahun yang lalu hingga “era kini”, seperti yang ditulis Robert von Heine-Geldern dalam bukunya Prehistoric Research in the Netherlands Indies (1945). Dengan adanya masa kelangsungan yang sangat panjang maka tradisi megalitik di Indonesia, Asia Tenggara bahkan sampai di Asia Pasifik, telah mengalami perkembangan yang kompleks dan terjadi variasi-variasi bentuk dan jenis peninggalan.

Ipak Fahriani, arkeolog yang banyak melakukan penelitian di Minahasa, dalam Penelitian Megalitik (2010) memastikan jika Minahasa sendiri sebenarnya termasuk salah satu gudang temuan megalitik. Di daerah ini ada beragam jenis situs megalitik yang bisa ditemui. Ada yang sangat dikenal seperti waruga (peti kubur khas Minahasa), ada juga yang masih jarang diteliti dan terpublikasi dalam catatan-catatan penelitian, seperti batu bertulis atau batu bergores.

Para peneliti menyebutkan jika masih banyak yang belum diungkapkan terkait megalitik. H.H.E. Loofs dalam buku Elements of the Megalithic Complex in Southeast Asia: An Annotated Bibliography (1967) menyatakan “La plus grande enigme de la prehistoire” (teka-teki terbesar dalam sejarah). Oleh karena itu maka banyak yang bisa digali dalam hal megalitik, termasuk di Minahasa.

Di Minahasa, Sulawesi Utara, batu bertulis banyak terdapat di berbagai tempat. Masyarakat percaya, situs-situs seperti ini merupakan jenis peninggalan masa lampau yang paling tua di wilayah mereka.

Menurut beberapa catatan sejarah, situs batu bertulis paling tua di Minahasa ada di lesung yang berada di Modoinding dan Tompaso Baru, Minahasa Selatan. Batu bertulis ini rata-rata terkait dengan musim. Musim menanam, musim panen dan terkait dengan penghitungan bulan. Dari sekian banyak batu bertulis di Minahasa, kali ini kita akan melihat secara khusus situs Tuur Kamanga dan Batu Pinantik Kinaskas.

Tuur Kamanga

Batu bertulis atau batu bergores Tuur Kamanga adalah jejak penting peradaban tou (orang) Minahasa. Sesuai namanya, tuur artinya pangkal atau pokok, dan kamanga berarti berkat dari Sang Khalik. Jadi, tuur kamanga berarti “pokok berkat dari Sang Khalik”. Letak situs ini berada di sebuah bekas pemukiman tua yang dikenal masyarakat dengan “Mawale”. Tepatnya berada di wilayah antara Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso dan Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa.

“Dahulu batu ini merupakan pusat spiritual. Mezbah utama dalam upacara yang dilakukan leluhur Minahasa untuk memohon berkat kepada Sang Khalik. Berkat kesuburan, kemakmuran, dan doa agar dijauhkan dari segala marabahaya,” kata Juan Ratu, penggerak Komunitas Akar Kanonang.

Tuur Kamanga juga menjadi tempat untuk menggoreskan perhitungan-perhitungan terkait dengan musim. Simbolisasi di goresan-goresan situs ini mengunakan daun woka atau lontar.

“Ada bentuk woka atau garis-garis yang membentuk seperti jari. Sebuah simbol permohonan berkat bagi masyarakat Minahasa,” kata budayawan Minahasa, Rinto Taroreh.

Tuur Kamanga diyakini sudah ada sebelum era waruga. Melihat posisinya, tempat itu dahulu diletakkan di ujung pemukiman yang menjadi tempat pertemuan masyarakat. “Isi situs ini terkait penghitungan musim. Mulai musim menanan hingga musim berburu. Di situs ini juga didokumentasikan batas-batas wilayah,” jelas Taroreh.

Kisah Tuur Kamanga akan menyentuh leluhur yang disebut Opo Gumigirot. Sosok yang dianggap menggoreskan catatan di batu itu. Situs ini juga terkait dengan Opo Kumokomba, karena di sini juga menjadi tempat untuk mengelar “ritual kumomba” atau ritual terkait dengan usaha untuk mendapatkan kepastian dalam menempati suatu tempat yang baru. Dalam ritus ini, juga akan digambarkan tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan mereka buat di tempat itu.

Batu Pinatik Kinaskas

Batu Pinantik Kinaskas adalah batu yang berisi tulisan kinaskas, yang menceritakan tentang lokasi yang dikaskas atau dicakar–seperti ayam yang mencakar tanah. Banyak kisah masa lampau yang masih tersimpan dalam cerita-cerita orang Minahasa, terutama di sekitar Tomohon, terkait dengan situs dan kawasan situs ini, yang dikenal masyarakat dengan Nawanua Kinaskas. Bekas pemukiman tua yang kini berada di wilayah Kakaskasen, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon. Posisinya berada dekat dengan sungai yang menuju ke wanua Kayawu.

Simbol di Batu Pinantik Kinaskas menceritakan tentang wilayah hunian. Tentang membuka sebuah awohan, wilayah yang diolah atau dikerjakan, wilayah pemukiman baru. Di “prasati pinantik kinaskas”, simbol-simbolnya terkiat pembagian-pembagian wilayah.

“Dalam ingatan masyarakat, di tempat ini pernah terjadi dua peristiwa penting. Pertama, mengenai pertikaian antara opo atau laluhur kita Rumengan dan Pinontoan, yang kemudian melahirkan kinaskas. Masyarakat menyebut, ‘Sama deng da kaskas-kaskas’. Semacam dicakar-cakar atau digaris-garis,” kata sejarawan Minahasa, Ivan Kaunang.

Dikisahkan, dalam sebuah duel, dari ketinggian Gunung Lokon, Pinontoan kemudian melemparkan api ke Rumengan atau Mahawu. Sementara, dari dalam tanah, Rumengan melempar batu sehingga tanah terbongkar seperti dicakar-cakar. Ini salah satu kisah yang mendokumentasikan awal-mula “Kinaskas”. Di lokasi prasasti ini kemudian jadi batas wilayah antara Pinontoan dan Rumengan. Kalau menarik garis lurus dari tempat ini, akan sampai ke situs lain di kaki Gunung Lokon yang disebut “Pinawelaan”.

“Satu kisah lain, terkait dengan Dotu Makiolor. Diceritakan, pada suatu masa di Kinaskas, ada satu leluhur yang disebut Makiolor. Dialah yang membuka tempat ini. Kapak batunya terlempar ketika ia ‘ba kaskas’ atau sedang bekerja di situ,” ujar Kaunang.

Saat dia memotong pohon, kapak batunya terlempar. Ia kemudian “ba kaskas”, mencari kapaknya yang terlempar.

Dari dua cerita ini, ada dua hal penting yang hendak dikisahkan. Terkait dengan batas wilayah dan membuka pemukian baru. Batu Pinantik Kinaskas menceritakan batas-batas wilayah di pemukiman paling awal di wilayah ini, di era Dotu Lumongdong. Kemudian terkait dengan batas wilayah ketika mau membuka pemukiman baru. Dari tempat itulah dibagi wilayah yang akan ditempati masing-masing taranak (kumpulan keluarga-keluarga yang terikat secara geneologis).

“Dikisahkan, proses pembagian itu terjadi setelah peristiwa pembagian wilayah awohan di Watu Pinawetengan. Masa sebelum era waruga. Ketika masyarakat mulai bekembang, penduduk semakin bertambah, para leluhur kemudian membagi wilayah itu untuk ditempati,” terang Rinto Taroreh.

Model goresan di Batu Pinantik Kinaskas ini berbeda dengan di Tuur Kamanga. Di Tuur Kamanga berbentuk karot atau garis, bentuk tulisannya lebar. Sementara di Batu Pinantik Kinaskas, model garisnya agak tajam.

Ingatan dan Pedoman Tou Minahasa

Situs Tuur Kamanga dan Pinantik Kinaskas memiliki makna yang dalam bagi tou Minahasa kini. Penanda-penanda itu adalah pancang yang menjadi pedoman.

Tulisannya bicara tentang simbol-simbol yang berhubungan dengan kehidupan, seperti soal musim. Pengetahuan ini terkait kedekatan dengan alam. “Salah satu pengetahun penting untuk hidup dan menjaga keseimbangan alam, yang diwariskan para leluhur,” kata Taroreh.

Hal penting lain, garis-garis di atasnya dibuat karena sebuah peristiwa yang telah terjadi karena kondisi atau keadaan tertentu. Ingatan ini menggambarkan bagaimana seharusnya menyikapi kondisi tertentu itu.

“Dari sini kita bisa belajar. Misalnya terkait wilayah atau tanah hunian, itu tidaklah sembarangan. Kalau ada beberapa orang, harus dibagi dengan sesuai. Tanah itu penting untuk dijaga, karena terkait dengan wilayah, tempat kita hidup,” tegas Taroreh.

Di zaman dahulu, para leluhur berjuang di tanah yang “so ba tantu akang”. Tanah pemberian Sang Khalik dan dipilih serta ditempati dengan sadar, dengan memperhatian semua aturan hidup. Di tanah pilihan itu, para leluhur akan terus berjuang. Berjuang untuk menjaga tanah tempat mereka hidup. Tak bisa seenaknya melanggar batas yang telah disepakati. Karena melewati sedikit saja batas itu, akan memicu persoalan besar. Walau demikian, dari prasasti-prasasti ini tou Minahasa dapat belajar bahwa persoalan seberat itu pun bisa diselesaikan.

Para leluhur telah berpesan, tanah tempat kita berpijak sangat penting untuk dijaga dan dikelola. Jangan gampang dijual karena ini ruang hidup. “Kalau leluhur telah mewariskan ruang hidup supaya kita bisa bertumbuh dan hidup darinya, kita harus memanfaatkan itu, berdayagunakan. Jangan hanya demi keuntungan sesaat kemudian menjualnya,” pesan Taroreh.

Tanah jadi pengikat persaudaraan. Antara generasi hari ini dan leluhur, tou dan sesama. Ibarat seseorang yang berasal dari satu kampung dan kembali ke kampungnya, tapi tidak lagi memiliki tanah, maka ia seperti pendatang. Betapa berhaganya tanah itu.

“Tanah mengikat kita dengan leluhur, mengikat kita dengan saudara-saudara yang lain. Jadi tanah bukan hanya dalam makna nilai jual, uang. Tanah melampaui itu. Sebagai pengikat dengan leluhur dan simbol persaudaraan,” tutur Taroreh.

Click to comment

Populer

Exit mobile version